
Seminggu berlalu ...
Hari ini adalah hari di mana acara pernikahan antara Gladis dan Zidan dilangsungkan. Tidak ada pesta, hanya sekedar Ijab Qabul saja.
Yang menghadiri acara tersebut pun tidak banyak, hanya ada keluarga inti dari keluarga Gladis, Zidan di temani oleh ketua RT tempat tinggalnya yang dijadikan sebagai saksi.
Sebenernya kedua orang tua Gladis sudah berencana mengadakan pesta, tapi Gladis menentang itu semua, Gladis juga meminta pada orang tuanya serta Zidan yang kini sudah resmi menjadi suaminya untuk tidak memberitahu siapa pun tentang pernikahan mereka.
Tentu saja Gladis bukan tanpa alasan menginginkan itu semua, ia merasa malu mempunyai suami cacat seperti Zidan, ya walaupun sebenernya Gladis yang sudah membuat pria itu menjadi cacat.
Untuk sementara waktu pasangan pengantin baru itu tinggal di rumah orang tuanya Gladis. Rencananya setalah renovasi rumah Zidan selesai mereka akan tinggal di rumah tersebut.
"Kita memang sudah menikah, tapi ingat jangan pernah berharap kita akan menjadi pasangan suami istri pada umumnya, kita berada di posisi sekarang karena sama-sama terpaksa!" ucap Gladis tegas pada Zidan.
Entah sudah berapa kali Gladis mengatakan hal tersebut pada Zidan. Namun, reaksi Zidan sejak tadi hanya diam, bahkan sikap pria itu sangat susah di tebak olehnya.
"Hey, apa kamu tidak mendengarkan aku! Kenapa sejak tadi kamu hanya diam!" lanjutnya memekik.
Mereka kini tengah berada di dalam kamar milik Gladis.
__ADS_1
"Lalu, aku harus bagaimana? Bukankah sejak awal aku sudah menuruti semua yang kamu mau? Lantas apa yang harus dibicarakan lagi!" kata Zidan, akhirnya ia membuka suaranya.
"Emm ... baguslah kalau begitu. Aku hanya sekedar mengingatkan kamu saja!"
Setalah berkata seperti itu, Gladis berlalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sementara Zidan, ia hanya menatap punggung wanita yang sudah resmi menjadi istrinya itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
'Pak, Zidan sudah menuruti permintaan terakhir Bapak, semoga Bapak tenang di alam sana,' batin Zidan.
Jika saja ini semua bukan amanat terakhir dari mendiang Bapak Rusli, pria yang sudah merawatnya saat ini, dalam mimpi pun Zidan tidak mau menikah dengan wanita seperti Gladis. Sikapnya angkuh dan sombong menurut Zidan.
Entah apa isi map tersebut, Zidan belum melihatnya, kata Papa Santoso map itu di temukan di kamar milik mendiang Pak Rusli oleh anak buahnya saat rumah Zidan di robohkan.
Merasa penasaran Zidan pun membuka map tersebut, di sana terlihat ada beberapa berkas dan sebuah foto. Zidan pun mengambilnya.
"Punya siapa ini?" gumam Zidan, seraya membuka beberapa berkas tersebut.
Berkas tersebut seperti sebuah berkas kepemilikan. Seperti berkas kepemilikan tanah, rumah, serta beberapa perusahaan. Zidan menyipitkan matanya, saat membaca surat kepemilikan tersebut tertulis namanya, 'Zidan Prakoso'
__ADS_1
"Kenapa ada namaku tercantum di sini?" Zidan merasa bingung, selama ini Pak Rusli tidak pernah membicarakan soal ini.
Lalu Zidan mengamati sebuah foto yang terselip di sana, selembar foto pasangan suami-istri sambil menggendong bayi, terlihat pasangan tersebut sangat bahagia, mengamati dari penampilan mereka, Zidan merasa kalau mereka sepertinya bukan orang biasa.
"Siapa mereka? Apa mungkin mereka ..."
"Sedang apa kamu?"
Zidan terkejut, ia segara memasukan foto dan berkas-berkas tersebut kembali kedalam map dan memasukkannya ke dalam koper dengan cepat, saat melihat Gladis sudah keluar dari kamar mandi.
"Aku tidak,"
"Cepat mandi sana, sebentar lagi waktunya makan malam, jangan sampai Papa dan Mamah menunggu kita terlalu lama," sela Gladis memotong ucapan Zidan.
Zidan mengangguk pelan, setalah Gladis terlihat berjalan menuju ruang ganti.
"Aneh sekali dia," gumam Gladis.
Bersambung ...
__ADS_1