Terpaksa Menikahi Pria Cacat

Terpaksa Menikahi Pria Cacat
Bab 8. TMPC


__ADS_3

"Pa, apa yang Papa lakukan? Kenapa Papa jadi bertindak semua Papa begini sih?" cerca Gladis dengan kesal, kini ia sudah berada di rumah dan langsung menemui sang Papa.


"Loh, kamu ini kenapa sih, Gladis? Pulang-pulang kok marah-marah!" sahut sang Papa terlihat santai dan tidak merasa bersalah.


Gladis menghelai nafas kasarnya, ia benar tidak habis pikir dengan sikap Papanya. "Pa, apa Papa gak tahu kalau rumah itu adalah rumah peninggalan mendiang Bapaknya Zidan, kenapa Papa seenaknya main merobohkan saja! Papa tidak tahu kalau Zidan terlihat sangat kecewa!"


Lagi-lagi Papa Santoso terlihat masih santai, bahkan kini senyuman terlihat terulas dari bibir pria parubaya itu.


"Sudahlah Gladis, Zidan sendiri saja tidak protes kok! Kenapa kamu harus marah-marah sama Papa? Lagian apa salahnya Papa merobohkan rumah dia, toh Papa ingin membangunnya lagi dengan bangunan yang lebih bagus!"


Gladis hanya menggelengkan kepalanya, ia benar-benar tidak mengerti dengan pemikiran sang Papa, tanpa kata Gladis pun berlalu dari hadapan sang Papa. Tapi, baru saja ia berjalan beberapa langkah, Papanya kembali bersuara.


"Tunggu!"


Gladis pun menghentikan langkahnya, lalu berbalik menoleh kearahnya.


"Pernikahan kamu dan Zidan Minggu depan akan di langsungkan," sambungnya.

__ADS_1


Sontak Gladis langsung membulatkan matanya. Apa-apa ini? Kenapa buru-buru sekali. Ya, Gladis tahu cepat atau lambat ia pasti akan menikah dengan Zidan, tapi seharusnya Papanya merundingkan terlebih dahulu, setidaknya bertanya kapan Gladis siap. Dan Minggu depan, Gladis merasa jika itu terlalu cepat, bahkan hubungan dengan Zidan saja semakin hari malah semakin tidak karuan.


Setidaknya Papanya bisa bersabar, Gladis ingin hubungannya dan Zidan baik-baik, setidaknya Zidan bisa bersikap welcome terlebih dahulu padanya.


"Apa Papa tidak salah? Minggu depan? Itu terlalu cepat, Pa!" protes Gladis.


"Bukankah semakin cepat semakin baik, agar Papa bisa tenang karena sudah menepati janji pada mendiang Pak Rusli. Lagian Papa sudah berbicara dengan Zidan kemarin, dan dia menyetujuinya," ucap sang Papa.


Membuat Gladis mengangkat sebelah alisnya, apa ia tidak salah dengar? Zidan menyetujui semuanya. Gladis ragu rasanya mengingat sikap pria itu masih tidak bersahabat dengannya.


"Papa jangan ngaur deh!"


Gladis terdiam sesaat, bagaimana ini? Rasanya ia masih belum siap, dan entah kapan Gladis siap, sepertinya sampai kapan pun ia tidak akan siap!


"Bagaimana Gladis?" tanya Sang Papa kemudian.


"Baiklah," jawab Gladis lalu ia kembali melanjutkan langkahnya.

__ADS_1


Papa Santoso nampak tersenyum sambil bernafas lega, tapi ia merasa ada sesuatu yang aneh pada putrinya itu.


"Pa, gimana apa Papa sudah berbicara dengan Gladis?" tanya sang istri, usai kepergian Gladis, Mamah Tia datang menghampiri suaminya.


Papa Santoso menganggukkan kepalanya, "sudah Mah, hanya saja Papa merasa ada yang aneh," jawabnya.


"Aneh bagaimana maksud Papa?" Mamah Tia menatap suaminya heran.


"Ya aneh saja, awalnya Gladis protes, tapi setalah itu ia menyetujui begitu saja. Sepertinya bulan Gladis biasanya, Papa merasa Gladis mempunyai sebuah rencana," jelasnya.


"Papa ini, kenapa malah curiga gitu. Bagus dong, berarti itu tandanya Gladis sudah bisa menerima Zidan. Sudah jangan memikirkan yang tidak-tidak!"


*


Sementara itu, Gladis kini sudah berada di dalam kamarnya. Wajahnya terlihat sangat kesal.


"Baiklah, sepertinya aku tidak mungkin menghindar pernikahan ini!"

__ADS_1


"Sepertinya aku harus memakai rencana yang Zo, katakan!"


Bersambung ....


__ADS_2