
Zidan langsung menutup kedua telinganya dengan tangan, saat mendengar teriakan Gladis yang menggema memenuhi kamar tersebut.
Gladis sendiri langsung beranjak dari samping Zidan, dadanya naik turun bergemuruh. Lalu ia mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang seraya mengingat kembali apa yang sudah terjadi. Mengapa Gladis bisa tidur di samping Zidan? Dan kenapa pula mereka bisa saling berpelukan? Sumpah demi apa pun Gladis merasa ternodai oleh Zidan.
"Dasar kamu ya!" pekik Gladis seraya melempar bantal kearah Zidan.
Untungnya Zidan bisa menangkap bantal itu tepat pada sasaran. "Apa maksud kamu? Bukankah aku yang harusnya bertanya, kenapa kamu bisa di tidur di sofa, main peluk-peluk aku pula, malah membalikkan fakta!" balas Zidan sengit.
Tentu saja Zidan tidak terima, Zidan mencoba mengingat-ingat kembali kenapa bisa seperti ini, tapi sayangnya ia sama sekali tidak ingat apa-apa, yang ada kini kepalanya terasa pusing.
"Hey, jangan kege'eran ya! Siapa juga yang mau tidur di sofa sama kamu, aku semalam ketiduran, dan itu semua gara-gara kamu, yang tiba-tiba saja bertingkah aneh, laki-laki kok takut sama gelap, cemen!" Gladis mengingat tentang kejadian semalam, semalam ia merasa kasihan pada Zidan, karena suaminya itu bertingkah seperti orang ketakutan, hanya karena lampu kamar di matikan.
__ADS_1
"Sumpah, aku menyesal sudah membantu kamu. Bilang terima kasih enggak, yang ada malah aku di tuduh yang enggak-enggak, sakit semua lagi badanku, gara-gara tidur di sofa!" lanjut Gladis menggerutu seraya beranjak menuju kamar mandi.
Zidan masih mendengar gerutuan wanita yang berstatus istrinya itu. Apa yang dikatakan oleh dia? Memangnya dia sudah membantu apa? batin Zidan. Ia benar-benar tidak mengingat apa pun.
"Memangnya apa yang terjadi semalam?" gumam Zidan seraya menggaruk tengkuknya.
Yang ada ia kini hanya mengingat kejadian barusan, di mana saat membuka mata ia melihat Gladis memeluknya. Tak sadar sudut bibirnya terangkat, namun senyuman langsung redup saat Zidan mengingat sesuatu.
Sekitar 15 menit kemudian, Gladis terlihat keluar dari kamar mandi. Melihat Gladis yang sudah selesai, Zidan yang kini sudah berada di kursi roda pun mulai melajukan kursi rodanya menuju kamar mandi.
Zidan dan Gladis berpapasan, namun keduanya sama-sama acuh. Hingga akhirnya Zidan masuk ke dalam kamar mandi, sementara Gladis menuju ruang ganti baju.
__ADS_1
"Sumpah ya, dia itu benar-benar menyebalkan!" gerutu Gladis sambil memilih-milih baju yang akan dikenakannya.
"Eh tunggu! Tapi, kenapa dia seperti sangat takut sama kegelapan ya? Apa dia pobia gelap? Hais Cemen sekali dia! Bagaimana kalau nanti mati, di dalam kuburan kan gelap!" ejek Gladis.
"Tapi, kalau di pikir-pikir ya, melihat dari gelagat ketakutannya semalam, ia semacam orang yang terkena trauma. Sebenernya apa yang terjadi dengan dia ya? Di masa lalunya, kok aku jadi penasaran?" Gladis masih berbicara sendiri, matanya masih menelisik baju-bajunya dalam lemari besar tersebut.
"Hais, kenapa aku ribet-ribet mikirin dia! apa gunanya coba? Buang-buang waktu saja!"
"Eh tapi penasaran juga sih!"
Sungguh, Gladis dibuat bingung dengan dirinya sendiri. Antara penasaran, tapi kok gengsi!
__ADS_1
Bersambung ...