
"Aku tahu kamu belum tidur, bisa tolong matikan lampunya, aku tidak bisa tidur jika lampunya masih menyela!" Tiba-tiba saja Gladis kembali mengeluarkan suaranya.
Zidan yang mendengar sama sekali tidak menyahut permintaan istrinya itu.
"Hey, aku tahu kamu mendengarnya. Cepat matikan lampunya, hanya tinggal meraih saklar yang di sampingmu itu!" kesal Gladis, ia sudah sangat mengantuk, tapi sejak tadi ia merasa tidak nyaman kerana terbiasa tidur dengan lampu yang tidak menyala, mematikan lampunya Gladis malas beranjak.
Jadi ia meminta tolong pada Zidan agar mematikan lampu kamarnya, akan tetapi pria yang berstatus suaminya itu sama sekali tidak menggubrisnya.
'Tidak mungkin dia sudah tidurkan? Barusan ku kita dia masih bergerak-gerak kok! Huh, dasar menyebalkan memang!' batin Gladis, terpaksa ia pun beranjak dari ranjang berjalan menuju sofa tempat di mana Zidan membaringkan tubuhnya, karena memang saklar lampu berada di sana.
Akan tetapi saat Gladis hendak menekan saklar lampu tersebut, Zidan bersuara.
"Jangan matikan lampunya! Aku tidak bisa tidur jika lampunya mati!" Ternyata berbanding terbalik, jika Gladis tidak bisa tidur tanpa mematikan lampu, sementara Zidan ia tidak akan bisa tidur jika lampu kamar di matikan.
"Ya itu derita kamu dong! Ini kamarku, jadi terserah aku dong!" Gladis keukeh ingin mematikan lampu tersebut, akan tetapi Zidan langsung menahan tangan istrinya itu agar tidak menyentuh saklar lampunya.
Gladis terkejut, untuk pertama kalinya ia bersentuhan dengan Zidan. Untuk sesaat suasana berubah menjadi hening, keduanya terdiam.
Dan beberapa saat kemudian, keduanya tersadar, Zidan langsung melepaskan tangan Gladis, Gladis langsung mengibas-ngibaskan tangannya.
__ADS_1
"Jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan ya!" kesal Gladis, namun raut wajahnya terlihat gugup.
Begitu pun dengan Zidan, tapi Zidan sangat pandai menyembunyikan kegugupannya.
"Apa maksudmu? Siapa yang mencari kesempatan dalam kesempitan, aku hanya ingin melarang kamu untuk mematikan lampunya, sudah aku bilang kalau aku tidak bisa tidur kalau gelap!" Kata Zidan menyangkal semuanya. Memang itulah kenyataannya, Zidan sama sekali tidak bermaksud apa-apa, bahkan tangannya tadi itu refleks begitu saja memegangi tangan Gladis.
"Ck, omong kosong!" gumam Gladis, lalu ia dengan cepat menekan saklar lampu tersebut.
Setalah itu Gladis kembali menuju ranjang.
Berulang kali Zidan menghelai nafas beratnya, sungguh keadaan gelap seperti ini membuat Zidan merasa pengap, mungkin kerena tidak terbiasa.
Saat itu Zidan disekap dalam ruangan gelap, tidak ada secerca cahaya yang meneranginya, Zidan kecil saat itu merasa benar-benar takut, berulang kali ia meminta tolong akan tetapi sama sekali tidak ada yang membantunya.
Hingga tiba-tiba seseorang membuka pintu ruangan tersebut, seorang laki-laki bertubuh tegap membawa sebuah benda ditangannya, lalu laki-laki tersebut mengarahkan benda tersebut pada Zidan.
"JANGAN!!!" teriak Zidan.
Gladis yang baru saja akan terlelap kembi terbangun saat mendengar teriakan Zidan, ia terkejut, dengan cepat ia menghampiri Zidan.
__ADS_1
"Kamu kenapa?" tanya Gladis panik. Dengan cepat Gladis menyalakan kembali lampu kamarnya kembali.
Gladis melihat wajah Zidan sangat pucat, keringat dingin bercucuran membasahi wajahnya yang terlihat sangat ketakutan.
"Zidan, kamu kenapa? Jangan membuatku takut!" tanya Gladis yang masih terlihat panik, apa lagi melihat kondisi Zidan seperti ini.
Tapi, lagi-lagi Zidan tidak menjawab, membuat Gladis bingung harus bagaimana. Apa ia harus memberitahu Papa dan Mamahnya saja? Tapi ini sudah malam, biasa jam segini, orang tuanya sudah terlelap. Gladis tidak mungkin juga membangunkan mereka.
Gladis pun membantu Zidan untuk bangun, dan bersandar, ia mencoba menangkan Zidan.
"Sebentar aku ambilkan minum dulu," ucap Gladis, ia langsung mengambil air minum yang ada di atas nakas.
Setalah itu Gladis memberikan air minum tersebut pada Zidan. Zidan meneguk air tersebut sampai tandas.
"Sudah, tenangkan dirimu. Semuanya baik-baik saja," ucap Gladis. Sebisa mungkin ia mencoba menangkan Zidan, walaupun sebenernya Gladis tidak tahu apa yang terjadi pada suaminya itu.
"Aku takut," lirih Zidan seperti anak kecil.
"Jangan takut, ada aku di sini," sahut Gladis. Entah dapat dorongan dari mana tiba-tiba saja Gladis memeluk Zidan, mencoba memberikan ketenangan.
__ADS_1
Bersambung ...