
Keesokan harinya, Mamah Tia dan Papa Santoso terlihat sudah berada di meja makan untuk menikmati sarapan pagi.
"Kemana mereka Mah, kok belum pada turun ya?" tanya Mamah Tia, sejak tadi mereka menunggu anak dan menantunya untuk sarapan, tapi tak kunjung datang.
"Mungkin mereka masih tidur, tapi coba deh Mamah lihat dulu," sahut Papa Santoso.
"Emangnya gak apa-apa Mamah lihat mereka? Kalau nanti mengangguk mereka gimana, Pa? Mereka kan pengantin baru!"
"Mamah kaya gak tahu sikap Gladis bagaimana, Papa malah khawatir kalau kita hanya diam saja, cepat sana lihat, suruh mereka turun untuk sarapan!" pintanya.
Mamah Tia akhirnya menganggukkan kepalanya, lantas ia pun beranjak dari tempat duduknya langsung berjalan menuju lantai dua.
Hingga akhirnya Mamah Tia pun sampai di depan pintu kamar Gladis. Berulang kali Mamah Tia mengetuk pintu kamar tersebut, tapi tidak ada sahutan dari dalam sana.
"Apa iya mereka masih tidur? Ini udah jam tujuh loh!" gumam Mamah Tia.
Mamah Tia mencoba membuka pintu kamar tersebut.
"Eh," ia sedikit terkejut, kerena pintunya ternyata tidak di kunci. Dengan sangat hati-hati Mamah Tia pun mendorong daun pintu tersebut.
Tapi, Mamah Tia melihat ranjang di sana kosong. Lantas kemana mereka? Hingga akhirnya tatapan Mamah Tia terhenti ke sebuah sofa, dilihatnya sang penghuni kamar terlelap di sana, dan yang membuat Mamah Tia semakin terkejut adalah, ia melihat Gladis dan Zidan tidur berpelukan di atas sofa sana.
"Astaga, apa aku gak salah lihat? Waow ini kabar sangat-sangat bagus!" serunya pelan. Senyuman lebar terlihat terulas dari bibir wanita parubaya itu.
Bukannya membangunkan mereka, Mamah Tia malah kembali menutup pintu kamar itu kembali. Ia menutupnya dengan pelan agar tidak menimbulkan bunyi.
Setalah itu Mamah Tia pun kembali ke bawah menghampiri suaminya.
"Kenapa Mamah senyum-senyum begitu? Mana Gladis dan Zidan?" tanya Papa saat melihat istrinya itu kembali, sedikit merasa heran karena melihat istrinya senyum-senyum tidak jelas.
"Mereka masih tidur, Pa," jawabnya. Mamah Tia kembali duduk di samping suaminya.
__ADS_1
"Kenapa tidak membangunkannya? Eh iya, bagaimana apa mereka tidur satu ranjang?"
"Hais, kenapa pagi-pagi begini Papa sudah bahas masalah ranjang sih? Ini mau sarapan atau apa?" balik tanya istrinya.
"Tinggal menjawab saja apa susahnya toh Mah? Lagian, Mamah masa tidak mengerti maksud Papa! tahu sendirikan kalau Gladis itu ... "
"Suut! sudah jangan dilanjutkan. Ini cepat habiskan sarapan Papa, lihat ini sudah siang bukannya Papa ada meeting lagi ini hemm?" sela Mamah Tia dengan cepat, seraya menyerahkan piring yang sudah ia isi dengan menu sarapan pada suaminya.
"Masalah meeting itu gampang! Masalah Gladis dan Zidan gak bisa disepelekan!" tegasnya.
Mamah Tia memutar bolanya memalas. "Mereka gak tidur satu ranjang!" Akhirnya Mamah Tia pun menjawab pertanyaan suaminya tadi.
Helaian nafas berat terhembus dari Papa Santoso. Sudah ia duga, pasti Gladis yang membatasi Zidan. Kenapa putrinya itu keras kepala sekali?
"Tapi, mereka tidur di sofa sambil berpelukan," lanjut Mamah Tia, sambil menggambarkan ekspresi bahagia, kalau kata anak jaman now mah 'So sweet' begitulah kira-kira.
Papa Santoso yang hendak manyuapkan makanan ke dalam mulutnya sontak terhenti saat mendengar ucapan istrinya kali ini.
"Hais, apa Papa lihat kalau Mamah bohong hah?" Mamah Tia masang wajah garangnya.
Membuat Papa Santoso langsung menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah, makanya Mamah gak bangunin mereka, gak enak dong!"
"Sudah cepat habiskan makanannya," titahnya.
Lagi-lagi Papa Santoso mengangguk, ia pun kembali melanjutkan sarapan. 'Semoga saja ini awal yang baik, semoga aku bisa menyatukan Gladis dan Zidan selamanya, aku harus bisa menjalani amanah ini dengan sebaik-baiknya. Takdir memang sudah membawa jalannya,' batinnya.
"Oh iya Mah, apa Mamah masih ingat sama teman SMA kita dulu?" tanya Papa Santoso di sela menikmati makanannya.
Mamah Tia terlihat berpikir sejenak sebelum ia menjawab pertanyaan suaminya. "Maksud Papa Dian dan Salwa?"
__ADS_1
Papa Santoso menganggukkan kepalanya.
"Memangnya kenapa dengan mereka? Mamah rindu juga sama mereka, sejak mereka menikah dan di kabarkan punya anak, kita gak pernah lagi mendapatkan kabar dari mereka, bahkan sekarang gak tahu mereka tinggal di mana," jawab Mamah Tia, raut wajahnya terlihat menyimpan kesedihan.
"Tapi Mamah masih ingat rumah Salwa di mana?" tanya Papa Santoso lagi.
"Kalau rumah mereka gak tahu, kita juga pernah ke sana kan Pa, mereka sudah gak tinggal di sana lagi."
"Maksud Papa, rumah kerabat dia atau orang tuanya gitu, Mamah tau gak?"
"Emm, tahu Pa, tapi lumayan jauh, Mamah dulu pernah ikut liburan sama Salwa, kalau gak salah dulu itu kita ke rumah adiknya Mamahnya dia."
"Berarti Bibinya Salwa ya?"
"Iya, benar. Memangnya kenapa Papa tanya soal ini?" Mamah Tia menatap suaminya penasaran.
"Weekend ini kita ke sana, Mamah benaran masih ingatkan tempatnya?"
"Masih ingat sih, kalau gak berubah. Dulu sama sekarang udah jauh berbeda kali Pa. Emangnya ada apa sih Pa?"
"Udah nanti juga Mamah tahu! Papa berangkat dulu." Papa Santoso terlihat sudah menghabiskan sarapannya. Ia pun berpamitan berangkat menuju kantor.
*
Sementara itu, matahari semakin meninggi. Sinarnya mulai menembus jendela kamar milik Gladis.
Gladis pun mulai membuka matanya pelan.
"Aaaaa .... "
"Apa yang kau lakukan!" teriaknya wanita itu langsung menggema memenuhi kamar tersebut.
__ADS_1
Bersambung ...