
Pekerjaan mereka pun rampung dan pergi ber istirahat.
Fannia: sepertinya sholat dulu sebelum rebahan, hem nanti klo udah nempel ke kasur pasti males banget.
Fannia pun memutuskan untuk sholat dulu sebelum beristirahat. setelah sholat Fannia pun membaca novel dan pada akhirnya tertidur.
"Assalamualaikum" ucap salam Embah Fannia masuk rumah.
"Walaikumsalam" saut Bi ijah sambil berlari kecil ke ruang tamu.
Bi Ijah: eh embah, kirain siapa
Embah: Kemana nia?
Bi Ijah: "tidur mbh...kecape'an mungkin dia mbh"
Embah: "oh ya sudah, tolong buatkan kopi dua yo jah..seng satu jangan terlalu manis dan yang satu kopine kopi pahit geh.." ucap embah fannia sambil duduk dan menghidupkan tv
Bi Ijah: "satunya buat siapa geh mbah?"
Embah: buat dedemit jah, yo buat tamu lah
Bi ijah: hehehe ya kan embah sendirian makanya tanya lagi, ya sudah ijah buatin dulu kopinya
Embah: ya jan lama-lama jah
"iya mbah" jawab ijah dari dapur
"Assalamualaikum" ucap Adhimas
"walaikumsalam" jawab embah fannia dan bergegas membukakan pintu untuk Adhimas.
"eh ayo masuk Dhimas jangan duduk diluar sini duduk diruang tamu saja" ajak Embah fannia.
Adhimas mengiyakan perkataan Embah Fannia untuk masuk dan duduk di ruang tamu.
"tumben sepi nih mbah?" tanya Dhimas sambil celingak celinguk.
"iya si nia tidur di kamar nya, makanya sepi" kata si mbah sambil mengecilkan volume tv.
"looh ada mas Dhimas rupanya disini, pantes si mbah minta buatin kopi item tanpa gula" ucap Bi ijah sambil meletakkan kopi di atas meja.
"iya nih Bi tadi ketemu mbah di jalan sekalian tak anter kesini" jawab dhimas sambil membuka topi dan jaketnya.
"di minum dhimas kopinya jangan di liatin saja yo, nanti keburu dingin" kata si mbah sambil menyeruput kopinya.
__ADS_1
"njeh mbah.." mengiyakan per
katanya si mbah
30 menit Adhimas , Bi Ijah dan Mbah asik mengobrol, tawa mereka membuat Fannia terbangun dari tidurnya. Fannia merasa bingung karna ruang tamu seramai pasar dan tak biasanya seperti itu.
"ape nih? kok rame? apa ada temennya om yah di luar? tapi kok ada suara Bi ijah sama mbh juga?" ucap fannia penuh tanya.
Fannia pun beranjak dari kasurnya untuk melihat ke luar kamarnya dan hanya untuk memastikan siapa saja yang ada di ruang tamu rumahnya.
Fannia membuka pintu kamarnya perlahan dan mengintip keluar kamarnya. dia pun berjalan keluar dengan mengendap-ngendap tetapi tiba-tiba. . .
"cari siapa?" ucap orang yang berada di belakang Fannia.
"aakkhh..astaghfirullah mas Adhimas? ngagetin saja" kata fannia sambil mengelus dadanya.
"ya lagian kamu kaya maling ngendap-ngendap kyk tadi" kata Adhimas sambil tersenyum
"oh heheehe itu tadi di ruang tamu rame, aku kira temen om ku tapi ternyata gak ada orang" jelas Fannia sambil cengengesan.
"oh ya tadi mbah dan Bi ijah mengobrol bersama" jawab Dhimas.
"oh tapi kok tadi ada suara cowok yah? oh apa mungkin itu om yah?" tanya Fannia
"bukan dhek bukan om mu..tapi mas yang mengobrol bareng mbah dan Bi ijah" ucap Dhimas sambil tersenyum.
"iya, lagian kenapa emang klo mas yg ngobrol...?" tanya Dhimas pada Fannia yang tiba-tiba merasa canggung.
"kenapa dhek?" tanya dhimas lagi.
"ah..gak apa-apa kok hehe๐ " berjalan duduk di ruang tamu.
"biasa aja dhek santai saja jangan tegang gitu" ucap dhimas yang sadar dengan sikap Fannia yang tegang dan salah tingkah.
"hah? oh biasa banget ini santai malah๐" jawab nya sambil memaksakan senyum nya.
"hahaha dhekk dhek" kata dhimas lirih
"udah dari kapan ada di sink mas?" tanya fanniya sambil meminum air.
"sudah dari tadi, nganterin mbahmu tadi ketemu di jalan" jawab Dhimas sambil meminum kopinya yang masih tersisa.
"ooh" jawab Fannia singkat.
"oh ya dhek nanti tolong tandatangani data-data ini" ujar Dhimas sambil mengeluarkan beberapa lembar kertas dari tas nya.
__ADS_1
"apa ini? data apa?" tanya fannia penasaran.
"ini data buat yang menabung dhek" jawab Dhimas sambil mengulurkan kertas dan bolpennya.
"di mana yang harus di tanda tangani?" tanya Fannia lagi.
"di sini dhek (menunjuk) sekalian nomernya yah di bawa Tanda tangan mu" ujar Dhimas sambil tersenyum.
"nomer apa? nomer sepatu?" tanya Fannia lagi sambil menandatangani data tersebut.
*taakkk* Dhimas memukul jidat fannia dengan bolpen.
"bok yah nomer sepatu sih dhek?" ucapnya sambil tersenyum lebar.
"laahh yo terus opo toh mas?" tanya fannia lagi sambil tertawa kecil.
"nomer hp mu dhek, mosok mas dikasi nomer sepatumu.." jelas Adhimas lagi sambil mengeluarkan ponselnya.
"loh yah gak tau nomer hpku berapa mas๐" jawab fannia.
"udah mana nomernya.. seneng banget kamu ini ngerjain mas" ucap Dhimas sambil tertawa.
"hahaha yo sek geh..aku ambil dulu hpnya, lagian buat apa sih nomer hp ku?" ujar fannia sambil berjalan menuju kamarnya.
"buat ngabarin aja" jawab Adhimas.
"oh gitu" jawab fannia.
Fannia sedari tadi bilang mau mengambil ponsel di kamar nya tapi tidak kunjung kembali ke ruang tamu hingga mbah fannia datang lagi menemui Adhimas.
"dhimas lama ya nungguinnya?, embah soale sekalian mandi tadi..oh iya ini mana yang mau di tandatangani fannia?" ujar embah sambil duduk di sofa.
"enggak apa-apa mba... ini sudah selesai mbah di tanda tangani sama Fannia" jawab dhimas.
"oalah sudah bangun tah dia?" tanya si mbah.
"iya mbah itu lagi ke kamar nya ngambil hpnya Dhimas sekalian minta nomer hp nya dia mbah" jawab dhimas.
"oalah ya" jawab si mbah.
akhirnya mereka mengobrol lagi sedangkan fannia tak kunjung kembali ke ruang tamu.
๐๐๐
.
__ADS_1
.
Selamat membaca...