
Benar-benar tak habis pikir dengan kelakuan absurd tetangga aneh itu, kemarin seolah-olah benci banget denganku, sekarang tiba-tiba gak ada angin gak ada hujan malah negor.
Hari ini Aku ingin memasak tumis cumi asin, sengaja dari tadi Aku menunggu Kang sayur lewat.
"Yurr....Sayurr.... Ibu-ibu sayur nih masih seger-seger banget nih, ada ikan ada ayam juga, Ayo buruan Bu Ibu, kemari kemari," teriak tukang sayur dengan suara khasnya.
Aku pun segera bergegas keluar rumah untuk membeli sayur, Kang sayur sudah ramai di kelilingi oleh Ibu-ibu yang akan membeli sayurannya, Aku melihat ada Bu Rika juga disitu sedang sibuk memilih sayuran, malas sebenarnya kalau ada dia, cuma aku butuh ingin membeli sayur juga.
"Eeh...ad Bu Hana! mau beli apa bu?" sapa Bu Rika yang tumben tumbenan ramah padaku.
"Tau nih saya bingung mau beli apaan," jawabku yang masih fokus memilih-milih sayuran.
"Tumben Bu Rika ramah sama Bu Hana! hahaha" celetuk Mak Ijah yang datang tiba-tiba ikut nimbrung.
__ADS_1
"Yee, emang kenapa sih? emang aneh apa kalau saya bersikap ramah sama Bu Hana? kan kita sesama tetangga gak boleh berantem lah, harus ramah," jawabnya agak sinis.
Mak Ijah hanya menanggapi dengan senyuman, dan Ibu-ibu lainnya tidak terlalu menanggapi hanya suara bisik-bisik saja yang kudengar.
"Eh, Bu Hana, saya mau nanya dong? itu kalau mesen paketan yang tiap hari datang ke rumah Ibu itu gimana sih caranya? aku juga mau dong?" tanya Bu Rika lagi.
"Oh Itu saya beli baju bu di placemarket online Bu, ada ko di hape Ibu juga, bisa download sendiri kalau Ibu mau, terus login, masukin data Ibu terus belanja deh, gampang kan?" jawabku menjelaskan pada Bu Rika.
"Ah, saya gaptek Bu! gak paham saya, nanti saya ke rumah Ibu aja ya? ajarin saya sekalian silaturahmi, hehehe," ucapannya yang justru malah mengagetkanku, udah sebulan disini dan dia baru mau silaturahmi? dari kemarin kemana aja Bambang!
Lalu selesai belanja aku langsung bergegas untuk pulang dan masak menu yang telah aku rencanakan sebelumnya yaitu tumis cumi asin.
Selesai masak, aku beberes rumah dan hendak membuang sampah keluar rumah, namun kulihat di seberang sana tepatnya depan teras Bu Rika seperti sedang terjadi keributan.
__ADS_1
Aku melihat Bu Rika dengan seorang perempuan yang masih agak muda sedang beradu mulut, tapi entah apa yang sedang dibicarakan oleh mereka karena aku tak terlalu mendengarnya.
" Bu, Bu Hana! lagi liatin mereka ya pasti?" sapa Bu Aisah yang datang dengan tiba-tiba dan mengagetkanku karena aku pun sedang fokus melihat Bu Rika berdebat dengan perempuan muda tadi.
"Eh, Bu Aisah ngagetin saya aja! itu siapa sih bu? ko kaya lagi ribut-ribut gitu sih?" tanyaku pada Bu Aisah.
"Biasa, itu namanya 'bangke' Bu! alias bank keliling atau semacam rentenir lah, dia itu utangnya banyak Bu karena banyak gaya sih, makanya begitu," jawab Bu Aisah sambil mencebikkan bibirnya.
"Oh..gitu toh! Oh iya waktu itu saya mau balikin piring ke rumah Ibu? tapi saya dengar Bu Rika lagi marah-marah sepertinya sama Ibu, jadi saya gak enak takut disangka nguping, jadi saya pulang aja deh gak jadi ngembaliin piring Ibu," jawabku mengalihkan pembicaraan sekalian nanya sebenarnya kemarin ada apa?
"hmm..oh, itu, a-anu, duh gimana yah ko saya jadi grogi gini sih, hehehe," ucapnya yang mulai gugup seperti menyembunyikan sesuatu.
Aku yang sedari tadi memperhatikan raut wajahnya yang mulai gelisah, bersikap seolah biasa saja takut nanti dia tambah gugup, karena entah kenapa feelingku mengatakan seperti ada yang tidak beres dengan Bu Aisah.
__ADS_1
"Gapapa ko itu cuma salah paham aja Bu, oh iya saya permisi dulu ya Bu? lupa saya kalau tadi mau ke warung mau beli garam, eh malah mampir kesini, saya permisi dulu ya Bu? mari..." jawabnya lagi dan sambil berlalu pergi dengan terburu-buru.
Tak kulihat lagi ada keributan di rumah Bu Rika, entah sejak kapan selesainya, karena diajak ngobrol sama Bu Aisah jadi gak fokus sama keributan tadi.