Tetangga Julid

Tetangga Julid
Bertamu


__ADS_3

Hari ini sesuai dengan janjinya, dia katanya mau silaturahmi ke rumahku, kita liat aja nanti, dia datang atau tidak? yang penting aku udah kelar ngerjain semua pekerjaan rumah yang tak pernah ada habisnya.


"Assalamualaikum, Bu Hana?" panggil seseorang dari balik pintu pagar.


"Walaikumsalam, eh Bu Rika, silahkan masuk Bu!" jawabku sambil mempersilahkan masuk Bu Rika.


"Wah, rumahnya adem ya Bu? perabotannya juga bagus-bagus lagi, ini beli di online semua ya Bu?" tanyanya sambil memperhatikan seluruh isi ruang tamu ku.


"Nggak juga sih Bu, kadang kalau saya lagi pergi jalan-jalan, ada yang cakep ya saya langsung beli," jawabku sengaja memancing reaksinya yang mulai kepo.


"Oh, gitu! ehm, emang kalau boleh tau suaminya kerja apa sih Bu?" tanyanya lagi.


"Ah, cuma karyawan biasa bu, tapi Alhamdulillah lah yang penting cukup buat sehari-hari sama buat pendidikan anak." jawabku.


"Oh iya, saya buatkan minum dulu ya Bu di dapur, Ibu duduk aja dulu disini" jawabku sambil beranjak menuju dapur dan membuatkan minuman.


Jujur saja sebenarnya di dalam hati ini ada perasaan yang mengganjal, tapi entah apa? aku pun tidak tau, kedatangan Bu Rika kesini seperti ada sesuatu yang ingin dia ketahui dariku.


****


Aku telah selesai membuatkan minum untuknya, saat aku menuju ke ruang tamu, kudengar dia sedang menelepon seseorang, sejenak kuhentikan langkah, bukan bermaksud ingin menguping, tapi sekalian cari informasi aja atas keresahan dalam hatiku, siapa tau dapat jawabannya.

__ADS_1


"Sah, rumahnya bagus ternyata? perabotannya unik-unik banget, takjub saya di buatnya, kamu emang belum pernah masuk ya?" ucapnya pada si penelepon di seberang sana.


"Iya, lumayan lah kalau mau dipinjemin duit, buat ATM berjalan aku aja, hahaha, sepertinya orangnya nggak enakan juga dia, lumayanlah pokoknya kalau bisa dipepet mah, hahaha," ucapnya lagi sambil tertawa cekikikan tanpa menyadari kalau aku sudah berjalan ke arahnya, tapi aku tetap memasang wajah yang polos pura-pura tidak tau.


"Ehm, silahkan diminum bu airnya, maaf ya cuma bisa bikinin teh manis aja," tegurku pada Bu Rika yang masih sibuk bertelepon ria.


"Eh, oh i-iya makasih Bu!" jawabnya dengan sedikit gugup, sambil buru-buru mematikan teleponnya dan menyimpannya di saku celananya.


Ehm, enak Bu minumannya manis, hehehe" ucapnya lagi seperti orang salah tingkah.


"Alhamdulillah Bu, kalau manis mah, namanya juga teh manis ya pasti manis lah, hehehe," jawabku sekenanya saja.


"Ya udah mending belajar di ponsel Ibu aja ya, biar sekalian kalau mau langsung pesen jadi kan nggak dua kali kerjaan" jawabku lagi.


"Duh, tapi kuota saya nggak ada lagi Bu, belum beli kuota saya tadi lupa langsung kesini soalnya," ucapnya sambil ngeles.


"Ya sudah pake ponsel saya aja deh, atau kalau gak biar jelas kita pake laptop saya aja, jadi kan enak diliat nya karena layarnya besar," jawabku sambil beranjak kekamar untuk mengambil laptop.


'Jadi dia punya laptop juga? sebenarnya apa sih kerjaan lakinya? kayanya duitnya banyak juga, lumayan kan kalau lakinya bisa dilirik, hahaha.' ucapnya dalam hati sambil tersenyum licik.


****

__ADS_1


Sengaja aku berlama-lama di kamar, menghidupkan ponselku yang sudah terhubung dengan CCTV yang terpasang di ruang tamu, aku ingin melihat gerak gerik 'tetangga aneh' itu saat aku sedang tidak disana.


Kulihat dia hanya sibuk memainkan ponselnya saja,karena tidak ada hal yang mencurigakan, lalu aku putuskan untuk segera keluar dari kamar, agar dia tak curiga kepadaku.


"Maaf ya Bu lama, tadi suami nelepon katanya pulang agak telat," ucapku sambil duduk disebelahnya dan mulai mengotak-atik laptop.


"Iya Bu gapapa santai aja, hehe, Oh iya ngomong-ngomong emang suami Bu Hana kerja dimana sih? orang penting kayanya ya? jangan merendah deh kalau deket saya mah," jawabnya yang malah kepo tentang pekerjaan suamiku, 'jadi bingung mau jawab apa? kalau bohong takut jadi doa, kalau jujur ngeri juga takut diapa-apain.' ucapku dalam hati.


"Bu, Bu Hana? yeh, dia malah bengong, ditanyain juga dari tadi," tanyanya lagi padaku.


"Kerja di perusahaan swasta Bu di daerah Pancoran, lumayanlah kalau dari sini." jawabku asal, sebenarnya suamiku tak bekerja disitu cuma karena ini tetangga kepo akut jadi aku bohongin aja.


"Oh, gitu, keren juga ya? pasti duitnya banyak ya suami Ibu?" ujar wanita bertubuh semampai itu, dan mempunyai wajah yang sebenarnya lumayan namun sifatnya tak secantik wajahnya.


"Alhamdulillah aja Bu saya mah, dikit banyak disyukuri aja." jawabku


'lumayan lah suatu saat gue bakal pepet lakinya' ucapnya dalam hati.


Terimakasih kepada para pembaca setia Tetangga Julid , silahkan kasih masukkan, kritik dan sarannya yang membangun.


masukkan nya sangat berarti kalau author lagi mentok, hehehe

__ADS_1


__ADS_2