
Kadang, orang yang terlalu benci bisa bahagia hanya dengan menindasnya.
Keesokannya, rasa kesal Sasa belum sempat terbalaskan. Kedua temannya menyeret Rani sepulang sekolah ke tempat biasa mereka membulli Rani.
Rani tertunduk ketakutan, ia menangis pelan menahan semuanya.
"Lo ngadu sama Haniya ?" tanya Sasa mendekatkan dirinya pada Rani.
"Enggak sa, aku gak bilang apa-apa ke Haniya."
"Terus ? Dia bisa tau dengan sendirinya ? Haa ?" Sasa menjambak rambut Rani hingga ia meringis menahan sakit.
"Gua udah bilang sama lo, jangan cari mati sama gua kalo enggak sanggup bunuh diri aja lo." Cetusnya tak ada kemanusiawian sama sekali.
Teman-temannya hanya mendukung dan menatap hina Rani. Tak ada satu pun yang merasa kasian. Yang mereka lakukan itu lebih dari hal yang rendah dari apapun. Benci boleh, hanya sewajarnya. Mereka yang berada di bawah juga ingin hidup tenang layaknya kehidupan yang kita inginkan. Mereka ingin berteman seperti manusia pada umumnya. Mereka ingin bebas tanpa tekanan batin dirinya.
Sebenci apapun rasa itu, jangan bertindak dengan melakukan hal yang rendah.
"Aku minta maaf sa." Mengucurlah dengan deras air mata itu. Sasa melepaskannya denga kasar. Melangkahkan kakinya dan berdiri dihadapan Rani yang sedang menangis tersedu-sedu.
"Plaaakkkk.." Sebuah tamparan menciplak pipi Rani dengan sempurna.
"Wooww.." Serempak temannya terkejut dan kemudian tertawa setelah saling menatap.
"Gua udah gatel dari kemaren-kemaren sama lo ya," ujar Sasa masih dengan emosi yang menggebu-gebu.
"Belum pernah ada cerita sepanjang gua bulli orang lain, gua dipermalukan kaya kemaren." Jelasnya.
"Haha, dan lo buat gua berurusan sama orang gila di sekolahan," ujarnya seraya menunduk untuk melihat wajah Rani.
"Habisin aja sa." Timbal salah satu temannya.
"Enaknya diapain anak ini ya." Satu alis terangkat, kemudian melipat kedua tangannya. Hanya dengan lirikan ketiga temannya itu segera menangkap maksud Sasa.
Rani disiksa habis-habisan. Mereka mengguyurnya dengan air kotor, menendang kakinya, menarik rambutnya. Bahkan Rani tak tau salahnya apa sampai Sasa sangat membencinya. Apakah terlahir dari keluarga yang miskin dan terbelakang memang harus dan pantas untuk mendapat perilaku demikian ?
__ADS_1
Deruan tangis Rani menggema di gudang itu setelah mereka berlalu dan puas menghabisi Rani. Terduduk dan meringkuk di kedua lututnya, tersedu-sedu menangis.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Tak Rani hiraukan, ia masih larut dalam tangisnya. Lagi-lagi ponsel itu berdering setelah mati. Rani mengangkat kepalanya dan meraih tas yang sudah kumel serta basah itu.
Tertera nama 'Haniya' disana. Lantas Rani melempar ponselnya dan merebahkan lagi kepalanya pada kedua lututnya. Setelah 15 menit menangis dan berfikir panjang. Rani berjalan dengan tatapan yang kosong. Tubuhnya lemah tak berdaya. Tas dan ponselnya tak ia bawa. Ia berjalan menaiki tangga sekolahan. Entahlah apa yang akan ia lakukan.
Tangga demi tangga Rani lewati sampai lah ia di Puncak gedung sekolahnya. Tak begitu tinggi hanya 3 tingkat. Namun, bila terjun dari atas ke bawah, meski kemungkinan tidak meninggal, hancur itu sudah di pastikan.
Rani berjalan pada ujung atap ini. Masih dengan tatapannya yang kosong dan pasrah. Ia memejamkan matanya seraya menghirup udara dengan panjang.
---
"Rani sudah datang ?" tanya Pak Lukman bos cafe Haniya dan Rani.
"Belum pak. Saya telponin juga gak diangkat," ujar Haniya.
"Yasudah kita tinggalkan saja dia," ucap Pak Lukman.
Hari itu semua karyawan akan pergi jalan-jalan bersama dengan bos cafe. Sebab sudah lama dan untuk mengeratkan tali persaudaraan antar karyawan. Membuang keluh kesah dan rasa cape selama bekerja.
"Pak saya boleh tidak ikut ?" tanya Haniya yang memiliki firasat buruk pada Rani.
Bergegas Haniya pergi ke sekolahannya, mengingat Rani tadi bilang padanya untuk berangkat terlebih dahulu sebab ada yang ingin ia selesaikan di sekolah.
Sampainya di sana, Haniya terus menelpon Rani. Tak juga ada jawaban. Ia mengelilingi seluruh kelas tapi semua pintu sudah tergembok. Haniya berlari ke kantin dan hasilnya sama saja, pintu sudah digembok. Saat Haniya menuju mading yang melewati gudang sekolahan, ia mendengar deringan handphone.
Segera ia mematikan telponnya dan menelpon kembali memastikan bahwa itu ponsel Rani. Dan benar saja telpon itu berdering kembali. Bergegas Haniya membuka pintu gudang dan hanya ada tas serta air yang sedikit bau.
Terbesit hal buruk dipikiran Haniya, entah kenapa ia pun berlari menaiki anak tangga sekolahnya. Dengan napas yang terengah-engah. Haniya melihat seseorang yang tengah berdiri diujung sana. Ia menghela napas dan mengusap wajahnya, lalu berlari mendekati Rani.
"Ran... " Panggil Haniya.
Rani menoleh dengan wajah yang begitu pucat.
"Lo ngapain di sini?" tanya Haniya
__ADS_1
"Buat mengakhiri semuanya," ujarnya
"Kenapa ? Lo nyerah dengan keadaan ? Bukan gini caranya ran."
"Aku bukan anak yang terlahir dari golongan keluarga yang kaya, aku bukan anak yang terlahir cantik dan menawan, aku juga bukan anak yang terlahir dengan penuh keberanian. Lantas siapa yang ingin berteman denganku ? Haha..." Jelasnya yang diakhiri dengan tawa penuh arti yang negatif.
"Gua temen lo ran. Lo pikirin baik-baik gimana perasaan keluarga lo kalo tau lo bunuh diri dengan alasan sekecil itu." Jelas Haniya yang berusaha merasuki dan membujuk Rani.
"Kecil ? Haha. Buat aku enggak han. Kamu enggak tau gimana tersiksa dan sakitnya aku selama ini menahan semuanya." Terdengar suara tangisan dari sana.
"Ran, gua gak akan sejauh ini bertindak kalo gua gak nganggap lo temen. Gua mau kita mulai semuanya dari sini, kita perbaiki semuanya. Kalo lo mau ran," ujar Haniya hati-hati.
"Tapi terserah lo, mau liat musuh lo tertawa terbahak-bahak dan menang atau mau buat dia ancur dan setimpal dengan lo." Rayu Haniya lagi.
"Gak perlu susah payah bantuin aku han, aku berterimakasih banget buat beberapa hari ini kita bisa berteman dengan baik." Jelas Rani tak menoleh sedikit pun pada Haniya.
Haniya mengusap rambutnya, menghela napas panjang. Memejamkan matanya dan tak ada jalan lagi selain ia menjebak Rani.
"Oke. Kita mati bersama," ujar Haniya yang melangkahkan kakinya dan sejajar dengan Rani. Seketika ia menoleh ke arah kirinya.
"Ayo kita akhiri semuanya bareng-bareng. Semoga kita bertemu dan berteman baik di alam sana." Haniya meraih tangan Rani seraya memejamkan matanya. Sementara Rani melihat Haniya sejak ia meriah tangannya.
Linangan airmata terdengar lebih deras dari sana. Ia menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Isakannya juga semakin tersampaikan. Haniya kembali membuka matanya.
"Ayooo, kita lompat bersama." Ajaknya lagi yang berharap Rani tak mengiyakannya.
"Karna gua gak mungkin bisa hidup tenang liat lo mati dihadapan gua ran, " tambah Haniya.
Nampaknya berhasil, Rani terdiam dan hanya menangis. Segera Haniya memeluknya seraya menariknya lebih jauh sedikit dari ujung atap ini.
Terduduklah kedua teman itu seraya saling merangkul. " Aku minta maaf han," ujarnya dengan sesegukan.
"Gua yang berterimakasih sama lo," ucap Haniya mengelus punggung Rani. Tangisnya pun bertambah jadi dalam pelukan Haniya.
**BERSAMBUNG.
__ADS_1
---
Hallo readers, semoga suka ya dengan ceritanya. Boleh juga komen apa yang harus diperbaiki hehe. Jangan lupa like, vote biar aku semangat terus updatenya. Oh ya mau lebih tau info tentang kumpulan tulisan author? Yuk follow ignya @re.born_1. Salam saling mengenal ya 😘😘**