The Beautiful End

The Beautiful End
Menginjak yang rendah


__ADS_3

Betapun rendahnya, bila seseorang memandang orang lain dengan derajat, jabatan, bahkan kastanya. Sungguh ia lebih hina dari yang terhina.


Sayup-sayup kicauan burung terdengar mengusik kepulasan tidur Haniya. Tak kalah juga hebusan angin yang menyentuh ketenangan tidurnya. Matanya tak lagi terlelap meski tubuhnya tetap ingin pulas dalam tidurnya. Mau tak mau, Haniya terpaksa membangunkan tubuhnya. Ia merenggangkan badannya seraya menguap lebar-lebar tanpa ia tutup mulut mungilnya itu.


Matanya segera mengarah pada jam yang berbaring hebat di atas meja samping tempat tidurnya. Disana, jarum jam menunjukkan angka 06.45, bagi anak sekolah bagun lewat dari jam 6, itu adalah jam yang sakral. Dimana ia akan bertemu pada keterlambatannya dan 'selamat datang masalah'. Namun, untuk Hanya sendiri itu bukan hal yang harus dipermasalahkan dan dipusingkan. Hal sepele yang demikian saja harus dipikir dengan keras, bagaimana dengan masalah yang lain ? Harus sampai bunuh diri ? Pikirnya.


Haniya beranjak dari kasurnya dan berjalan mengambil handuk yang terlantar di sofa ruang tengah Haniya. Dengan malas, ia memasuki kamar mandi.


---


"Assalamualaikum... " Salam seseorang dari bilik pintu.


Ia tak mendapati jawaban dari dalam apalagi untuk menerima bukaan pintu dari sana.


"Assalamualaikum..." Salamnya lagi seraya mengetuk pintu dengan sedikit keras.


Lagi-lagi tak ada jawaban yang ia terima. Dahinya mengerut seraya berfikir sejenak.


Sekali lagi ia mengetuk pintu itu "Assalamualaikum..." Pekiknya.


"Woy, Haniya bangun.. Udah siang." Jeritnya dari luar.


"Aihh, ngapa si Juminten. Pagi-pagi, lo ini udah teriak-teriak depan rumah orang." Protes Haniya dengan kesal membuka pintu itu. Sedang ia masih asik bersiap-siap untuk ke sekolah.


"Haha gua kira lo belum bangun Jubaidah," ucap Milli yang tertawa malu.


"Burulah, udah siang tau."


"Sabar. Gua pake kaos kaki dulu," ucap Haniya seraya duduk di sofa rumahnya seraya mengenakan satu kaos kakinya.


"Mil, gua ada pr nih."


"Ya terus ?"


"Bantuinlah, kan gua selama ini gak pernah jahat sama lo," Ujar Haniua memelas.


Milli yang memilih untuk menunggu di luar, melipat kedua tangannya di atas dada seraya mengangkat satu alisnya setelah Haniya berkata demikian.


"Gak salah? Barusan lo bukain gua pintu kaya gimana jum?"


"Aelah ten, kalo kaya gitu gua jahat apakabar gua ngerebut pacar lo ?" Haniya seraya mendongakkan wajahnya untuk menatap Milli.

__ADS_1


"Hmm, pr apasih ?" Milli melengos


"Sejarah, ayo si mil bantuin. Pilgan kok. Ada 50 soal, gua ngerjain 15 lah. Sisanya lo," ucapnya enteng yang seraya melanjutkan memakai sebelah lagi kaos kakinya.


Milli mengerutkan dahinya dan membulatkan matanya. "Itu tugas lo atau tugas gua, kenapa jadi gua yang banyak ngerjainnya ?"Protes Milli.


"Yaallah mil, tolong si. Pelajaran terakhir kok. Nolong itu gak baik mil kalo setengah-setengah," ucapnya dengan lembut seraya menggendong tasnya lalu keluar rumahnya dan mengunci pintu setelah ia merasa dirinya sudah siap untuk pergi kesekolah.


"Mil, kita temenan gak sehari dua hari, udah bertahun-tahun. Masa ia cuma kaya gini lo perhitungan." Rayu Haniya lagi seraya merangkulkan tangannya. Segera Milli menepisnya sebal.


"Udahlah deal pokoknya," ucap Haniya yang tak menerima jawaban dari Milli.


"Mau jadi apa lo Maimunah, pr aja minta kerjain." Milli menatap tajam sahabatnya itu.


"Ehh, gak boleh kaya gitu. Gak boleh ngomongin Maimunah. Nanti dia tersungging loh," ucap Haniya seraya mengacungkan telunjuknya ke arah wajah Milli dengan mimik wajahnya yang mempermainkan Milli.


"Serah lo dah serah lo." Milli berjalan menuju motor Haniya dan memasa bodokan temannya yang kurang waras itu.


---


"Bagi contekan." Pinta Sasa yang duduk di atas meja layaknya seorang bos.


Sasa adalah anak kelas Ips 11. Ia terkenal galak dan judes. Bahkan ia tidak memperdulikan istilah 'senior' di hidupnya. Siapapun dia, bila bermasalah padanya, dengan senang hati ia tantang.


Ada satu mainannya di kelas, beberapa orang memang tau, sebagiannya tidak peduli dan tidak tau. Meski ada yang berniat untuk membela, mereka urungkan dan mencari aman. Sebab, berani membelanya itu artinya siap menerima segala konsekuensinya.


"Aku belum selesai ngerjain. Ada 10 soal yang belum diisi," ucapnya gemetar seraya menundukkan kepalanya.


"Gua bilang apa ? Jauh-jauh hari juga udah gua ingitin lo." Protesnya


"Maaf sa." Rani yang menjadi bulliannya itu tak berani sedikit pun mengangkat kepalanya.


"Terus, lo nyuruh gua ngisi itu soal ? Ha!!" pekik Sasa dengan mata yang membesar.


Tiap kali mereka ingin membulli atau malak uang Rani, mereka selalu menyeretnya ke gudang sekolah yang jarang sekali dipakai atau dikunjungi dan untungnya gudang itu tak pernah dikunci.


Namun pagi ini, Sasa mengintimidasi Rani di kelasnya. Beberapa temannya sudah ada yang datang dan seperti biasa juga mereka tak ingin tau dan pura-pura tak tau.


"Gak sa, istirahat nanti gua lanjut kerjain," ujarnya untuk membela diri.


Sasa membuang wajahnya kesal. "Bagi duit lo, keluarin semua."

__ADS_1


Ketiga teman Sasa berdiri di dekat Rani seraya melipat kedua tangan mereka dengan serempak di atas dada lalu menatap tajam Rani.


"Keluarin," ucap Dewi seraya mendorong lengan Rani.


Dengan wajah yang berat, Rani mengeluarkan uangnya dari saku baju.


"Aku cuma punya uang 85rbu sa, itu pun buat jajan selama 3 hari ke depan." Jelasnya yang percuma saja.


"Hahh, lo berharap gua kasian sama lo ? Tinggi banget harapan lo." Cetusnya begitu menyakitkan.


"Ambil semua uangnya." Suruh Sasa pada temannya.


"50 rbu aja ya." Rani berusaha menawar pada Sasa.


Segera matanya membulat, giginya ia gertakan seraya turun dari atas meja.


"Ngomong apa lo barusan ? Berani lo ngatur gua ? Ha ?" protesnya seraya mendorong bahu Rani berkali-kali hingga ia hampir menyentuh dinding kelas.


Seseorang dari belakang menahan tangan Sasa yang berniat mendorongnya lagi. Seketika Sasa kesal dan emosinya makin menjadi, ada seseorang yang dengan sok beraninya menghalangi Sasa. Ia menoleh dengan tatapan yang mematikan.


"Haahh.." Sasa melengos sebal yang ia lihat seseorang yang malas untuk ia tantang.


"Ngapa lo ?" tanyanya yang mencengkram lengan Sasa.


"Bukan urusan lo." Ia menepiskan dengan kasar tangan yang masih dicengkram itu.


Haniya tak melepaskan cengkramannya justru lebih menguatkannya lagi, Sasa tertawa kesal dengan ulah Haniya.


"Kenapo lo ? Di jahatin sama dia ?" tanya Haniya dengan emosi pada Rani.


"Enggak han, aku gak di apa-apain. Serius," ucap Rani yang mentidakkan pertanyaannya namun wajahnya memasang ekpresi yang takut. Perlahan Haniya melepas tangan Sasa.


"See, gua gak ngapa-ngapain dia." Tunjuk Sasa seraya melotot pada Haniya.


"Cabut guys, udah males." Ajak Sasa pada temannya.


Mereka berlalu tanpa menoleh sedikit pun.


"Kalo ada apa-apa bilang aja, gak perlu sungkan" Haniya yang juga berada di kelas yang sama dengan mereka. Rani tersenyum seraya menganggukan kepalanya. Haniya berlalu meninggalkan Rani setelah ia membalas senyum pada Rani.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


---


Hallo readers, semoga suka ya dengan ceritanya. Boleh juga komen apa yang harus diperbaiki hehe. Jangan lupa like, vote biar aku semangat terus updatenya. Oh ya mau lebih tau info tentang kumpulan tulisan author? Yuk follow ignya @re.born_1. Salam saling mengenal ya 😘😘


__ADS_2