The Beautiful End

The Beautiful End
Yang dicurigai


__ADS_3

Untuk semena-mena dengan orang lain perlu bercermin terlebih dahulu agar tidak mempermalukan diri.


"Haniya... " Panggilnya dengan suara yang rintih.


"Niya... " Ketuknya pada pintu kamar Haniya.


"Hmm.." Ia hanya berdeham lemah dari dalam sana.


"Sudah siang, kamu mau sekolah jam berapa ?"


"Iya nek, 5 menit lagi." Haniya menawar.


"Ini udah 5 menit yang ke 3 kalinya Niya." Protes nenek yang satu-satunya orang memanggil Haniya dengan nama pendek Niya.


Segera Haniya mengeluarkan tangannya dari selimut yang menutupi seluruh badannya tanpa terkecuali itu. Ia meraih jam beker yang tepat di samping tempat tidurnya. Dimasukkan jam beker itu ke dalam selimutnya. Dengan sayup-sayup memandang, dilihatnya masih jam 6. Ia menghela napas. Sejak jam berapakah neneknya membangunkan dirinya ? Ingin rasanya berteriak pagi itu Haniya.


"Nenek, masih jam 6. Niya bangun itu jam 6 kurang, nenek." Teriak Haniya dari dalam kamarnya. Nenek terkekeh mendengar protesan cucunya itu. Memang sengaja membangunkannya dari jam 5 subuh tadi.


---


Udara yang sudah mengumpul di luar sana seketika masuk dengan hembusan yang cukup kuat saat Ibu Milli membuka jendela rumahnya.


"Huhh, dinginnya." Gerutu pelan Ibu Milli seraya mengeratkan lagi jaketnya.


"Mil, bangun mil udah siang." Ibunya membangunkan Milli.


"Iya bu," ujarnya.


"Nanti bawakan makanan untuk Haniya ya. Udah ibu masakin," tutur Ibunya seraya melipat baju yang sudah kering.


"Hmm..."


15 menit berlalu, Milli tak juga keluar dari kamarnya. Ibu yang sudah selesai melipat baju dan mengerjakan aktifitas yang lain juga, Milli belum terbangun dari tidurnya.


"Milli.. " Ibu menggeser gordeng kamar Milli yang tak memiliki pintu itu.


"Hmm.." Milli hanya berdeham dan menyelimuti seluruh tubuhnya.


Segera ibu masuk dan mengecek keadaan Milli. "Astaghfirullah.. Kamu sakit nak ?" terkejut ibunya setelah menyentuh dahi anaknya yang cukup tinggi panasnya.


"Kita ke dokter ya." Ajak ibunya


"Enggak usah bu, minum obat biasanya aja. Masih adakan?" tanya Milli.


"Tapi obat penurun panas aja gak cukup nyembuhin demam kamu ini mil, ini udah lumayan parah." Jelas ibunya.


"Gak perlu bu, dicoba dulu minum obat itu." Milli menolak karna ia mempertimbangkan biaya bila ia ke dokter.

__ADS_1


"Ya sudah, ibu ambilin makan sama obatnya ya."


"Bu, tolong ambilin hp ku."


Ibu memberikan hp Milli yang ia letak kan di atas lemari bajunya. Segera Milli mengirim pesan pada Haniya bila ia tidak bisa berangkat ke sekolah.


---


Seraya mengunyah cemilan meski giginya beberapa sudah ompong, nenek Haniya masih suka makan yang keras-keras. Nenek menonton TV dan melihat cucunya yang sibuk kesana-kemari sebab sudah terlambat. Nenek terkekeh meledeknya.


"Nenek, gak usah diem-diem ketawa ya." Tuduh Haniya seraya berlari ke dapur mengambil sepatunya.


"Enggak tuh." Nenek mengangkat bahunya seraya mengernyitkan bibirnya.


"Duh, Milli pake sakit segala lagi." Gerutunya setelah melihat hp.


"Sakit apa Milli cu ?" tanya nenek yang seketika memasnag wajah khawatir.


"Enggak tau nek. Ini masih Haniya telpon," ujarnya seraya menghimpit hpnya dengan bahu sambil mengenakan kaos kaki.


"Halo Maimunah.."


"Iya Marfuah..," ucapnya rintih dari bilik telpon.


"Sakit apa lo, bisa sakit juga lo."


"Aihh, temen macam apa lo Juminten..," ucapnya yang masih bisa ledek-ledekan dengan sahabatnya.


"Iya ini gua masih buru-buru, ada nenek di rumah subuh-subuh gua dibangunin pas siang gua dibiarin." Aduan Haniya pada sahabatnya, sementara nenek terkekeh puas. 


"Yaudah lah ya, nanti gua jengukin. Mau gua bawain apa lo ?"


"Gak muluk-muluk, cukup apel 2kg, jeruk 2kg, anggur 2kg, roti tawar 2 bungkus, jangan lupa ya mesis sama susunya, oh iya coklat 2 ya. Udah si itu aja."


"Bangke lo Jubaidah.."


"Eh, gak boleh gitu. Nanti Bu Jubaidah marah lo," ujar Milli yang sedikit terhibur oleh Haniya.


"Wassalamualaikum.." Haniya mengakhiri tanpa membalas ledekan Milli, mengingat ia sudah terlambat.


---


Sejak masuk jam pertama sampai istirahat Rani menyembunyikan wajahnya. Entah ia sakit atau sedang mengantuk. Dari ujung kelas, Haniya memperhatikan Rani yang memang duduknya jauh dari Haniya. Memunggu Ibu Suti mengakhiri pelajarannya, Haniya berkali-kali melirik ke arah Rani. Segera ia beranjak setelah Ibu Suti berlalu.


"Ran, nanti gua agak terlambat kerjanya. Gua mau tempat Milli dulu, dia sakit." Jelas Haniya yang sudah duduk di samping Rani.


"Ran..." Haniya menyentuh pundaknya.

__ADS_1


"Iya, han. Kayanya gua juga mau libur sehari deh."


"Kenapa lo ? Sakit ?" Haniya segera berdiri memeriksa Rani. Namun ia lebih menguatkan tangan untuk menutupi wajahnya.


"Lo kenapa ran ?" tanya Haniya mulai curiga. Rani hanya menggelengkan kepalanya. Terpaksa Haniya menarik bahu Rani dengan paksa juga. Segera Rani menutup wajahnya dengan kedua tangan saat Haniya berhasil melihat dirinya.


"Coba gua liat, itu kenapa ?" tanya Haniya emosi.


"Gak apa-apa han," ujar Rani balik lagi merebahkan kepalanya.


Haniya masih memaksa Rani untuk bercerita, tak tahan lagi akhirnya Rani juga hilang kesabar pada Haniya.


"Mau gua kenapa juga bukan urusan lo!!" Pekiknya lantang. Haniya mengernyitkan matanya. Segera ia menarik dengan paksa tangan Rani. Menariknya sampai ke kantin dan mencari seseorang di sana. Haniya tertuju pada gerombolan orang yang sedang tertawa puas.


"Ulah lo ini ?" tanya Haniya pada Sasa dengan emosi. Seketika semua pandangan mengarah pada mereka. Rani menggenggam tangannya dengan kuat seraya menundukkan wajahnya.


"Hahh..." Sasa mendengus kesal.


"Urusan dengan gua apa?"


"Gak usah sok **** lo." Cetus Haniya.


Mata Sasa membelanga seketika. Emosinya muncul tanpa diundang. Haniya yang tak kenal takut itu hanya mengangkat satu alisnya lalu menoleh pada segelas minuman yang terlihat menggugah. Segera Haniya meraih gelas itu dan menyiramkannya pada wajah cantik Sasa.


Terkejut bukan main, tak hanya Sasa semua temannya pun ikut terkejut. Wajahnya basah oleh jus alpukat, pinggir rambutnya juga terkena. Apalagi baju dan androknya. Tak tahan lagi dengan kelakuan Haniya yang sok-sok'an, Sasa beranjak dari duduknya.


"Gila lo ya !!" Pekiknya


"Berarti lo jauh dari kata gila dong."


"******* lo Haniya !!!"


"Cuma dengan diseram lo marah besar ? Apa kabar anak orang yang lo buat kaya gini ?" ujar Haniya.


"Gua gak ada urusannya sama lo," ucap Sasa penuh dengan penekanan.


"Gua yang ada urusan dengan lo." Dengan tengil Haniya menjawab. Sementara Rani hanya tertunduk ketakutan. Mata Sasa mengarah pada Rani, terpancarkan kebencian yang luar biasa dari matanya.


"Lo bakalan nyesel punya urusan dengan gua."


"Kita liat siapa yang bakalan lebih nyesel." Tantang Haniya. Semua orang saling pandang memandang, bisik membisik, entahlah apa yang mereka sibukkan.


Lagi-lagi hot news di sekolah menyebar luas sebab menyangkut dengan Haniya, siswi yang berhasil membuat sejuta umat sibuk akan dirinya, terlebih bila itu sebuah masalah.


"Ngaca dulu lo sebelum bulli anak orang, sejauh mana diri lo udah baik," ucap Haniya yang setelahnya berlalu bersama Rani. Tak berniat berlama-lama berurusan dengan orang yang tak seberapa. Sasa mendengus seraya membuang wajahnya dengan kesal. Ia mengambil tissue dan membersikan wajahnya. Tak terpadamkan mata itu, masih membesar dan begitu emosi. Hanya satu yang bisa menyembuhkannya ' balas dendam'.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


---


Hallo readers, semoga suka ya dengan ceritanya. Boleh juga komen apa yang harus diperbaiki hehe. Jangan lupa like, vote biar aku semangat terus updatenya. Oh ya mau lebih tau info tentang kumpulan tulisan author? Yuk follow ignya @re.born_1. Salam saling mengenal ya 😘😘


__ADS_2