The Beautiful End

The Beautiful End
Persiapan yang akan terjadi


__ADS_3

Kita tidak akan pernah tau bagaimana seseorang menjalankan hidupnya. Kita tidak akan pernah memahami sesakit apa mereka bertahan. Untuk itu, hargai dan jangan berbuat semena-mena.


Setelah pulang sekolah, Haniya bergegas pulang untuk bekerja paruh waktu di cafe dekat rumahnya. Sehabis Milli pulang bersama sepeda kesayangannya, Haniya segera masuk ke rumah untuk mengganti pakaiannya.


Terlihat seseorang paruh baya terbaring di atas sofa ruang tengah Haniya yang langsung nampak ketika membuka pintu depan. Wajahnya terkejut bukan main.


"Nenek ..." Teriak Haniya tanpa memikirkan suaranya akan membangunkan nenek yang sedang tertidur pulas.


Mendengar jeritan Haniya, nenek segera bangun dan menoleh ke arahnya.


"Nenek, kapan sampai." Peluk Haniya yang terlihat sangat merindukan neneknya.


"Baru pulang cu. Nenek sampai jam 10 tadi pagi," ucapnya yang sedikit gemetar sebab ia sudah tua.


"Nenek gak bilang kalo pelatihannya udah selesai." Protes Haniya.


"Buat kejutan dong." Neneknya tertawa memperlihatkan gigi depannya yang beberapa sudah ompong.


"Ah, nenek.. Gimana disana. Aku bolos kerja aja deh hari ini," ucapnya memeluk nenek lagi.


"Huss, gak boleh gitu. Kamu nantikan pulang lagi. Bisa liat nenek lagi. Kerjaan kalo ditinggal mau diganti dengan apa ?" Jelas nenek seraya menasehati cucunya.


"Tapi nenek... "


"Gak boleh, tapi..tapi.. Sana ganti baju dan pergi ke tempat kerja." Suruh nenek yang sedikit mendorong Haniya untuk beranjak dari duduknya. Haniya menghela napasnya panjang seraya berjalan menundukan kepalanya.


---


"Selamat datang, semoga menikmati hidangannya," ucap Haniya dengan sopan dan senyum semringah pada pelanggan yang keluar masuk cafe.


"Ssstttr, Haniya... "Bisik Jeje teman Haniya, memanggilnya.


"Selamat datang, semoga menikmati hidangannya."


"Ha - ni - ya.." Panggilnya lagi dari kejauhan seraya melambaikan tangannya.


Segera Haniya menoleh ke arahnya. "Anter pesanan, yang lainnya full." Haniya mengedipkan matanya seraya berjalan mengambil pesanan pelanggan.


"Dua hot coffee, satu green latte, tiga steak, dan 2 kentang goreng," ucap Haniya seraya menghidangkan makanannya.


"Pesanannya lengkap, ada yang ingin ditambah?" tanya Haniya pada ketiga pria yang kira-kira masih kuliah itu.


"Cantik juga ya waitressnya," ucap salah satu dari mereka.


"Sikat bim." Timbal temannya.


"Mbak, boleh tambah no hp aja gak ?" tawarnya seraya tertawa dan disusul oleh tawa teman-temannya. Haniya menghela napasnya panjang, setelahnya mengangkat satu alisnya.


"Terimakasih bila tidak ada pesanan tambahannya. Jika ada yang bisa dibantu, boleh panggil salah satu waitrees kami. Selamat menikmati hidangannya," ucap Haniya dengan fasih.

__ADS_1


"Huahahah, jiaah dikacangin lo." Ledek kedua temannya.


Pria itu menatap tajam punggung Haniya yang sudah berlalu seolah penuh dengan dendam terhadap Haniya.


"Main-main sama Bima." Gerutunya.


"Wihh, selow geh coy. Tenang, di kampus masih banyak perempuan kaya gitu," ucap temannya menenangkan.


20 menit berlalu, pengunjung silih berganti. Sementara ketiga pria tadi masih disana, menurunkan makanan yang baru selesai mereka habiskan. Tak lama dari itu, ketiganya berpenat dari sana.


Haniya yang bertugas menyambut tamu, melihat ke arah mereka yang sedang berjalan. Tatapan sebal terlontarkan dari mata Haniya.


"Terimakasih sudah berkunjung. Jangan lupa untuk datang kembali," Ujar Hanya dengan terpaksa harus ramah.


"Liat aja, nyesel lo." Gerutu Bima dengan kesal dihadapan Haniya. Ia hanya mengangkat satu alisnya seraya melengos tak peduli. Ketiga pria itu pun berlalu tak terlihat lagi.


Sore ini pengunjung cafe lumayan banyak, Haniya sampai terasa begitu lelah. Saat ia sedang beristirahat seraya memijat kakinya, terlihat olehnya dari kejauhan seseorang yang tampak tidak asing di depan sana sedang mengobrol dengam bosnya. Namun, terlihat bukan seperti berbincang biasa. Wanita itu bahkan sampai mengatupkan kedua tangannya seolah sedang memohon. Haniya mengernyitkan matanya, memperhatikan dan mengingat kembali seorang wanita yang memiliki postur tubuh seperti wanita yang sedang ia lihat itu. Matanya membelanga seketika, ia teringat akan sesuatu 'Rani' gerutunya terkejut. Tanpa berpikir panjang lagi Haniya segera menghampiri Rani.


"Saya mohon pak apapun pekerjaannya gak apa-apa," ucapnya memelas.


"Saya sedang tidak menerima karyawan baru."


"Saya mohon sekali pak, ini udah yang ke 15 cafe yang menolak saya pak." Keluhnya dengan mata yang berbinar-binar.


"Rani.. " Panggil Haniya. Segera kedua kepala itu menoleh ke arahnya.


"Lo ngapain disini ?" tanyanya.


"Iya.." Ucap Haniya terheran.


"Aku daftar disini."


"Temen kamu han ?"


"Oh iya pak," ucap Haniya yang tak sadar bila ada bosnya yang sedang duduk manis disana.


"Tapi..., " ucap Rani.


"Aku gak diterima." Bisiknya.


"Pak, sebenarnya cafe kita kurang karyawan. Bapak liat deh, banyak pengunjung yang lama nunggu pesanannya. Karna karyawannya yang minim." Jelas Haniya berusaha membujuk bosnya.


Bos Haniya yang bernama Lukman itu segera memperhatikan sekitar lalu berdeham kecil.


"Coba saya liat identitas kamu lagi." Pinta Pak Lukman. Dengan sigap Rani memberikannya.


"Emm, kalian satu sekolahan ?" tanyanya.


"Satu kelas malah pak," ucap Haniya. Rani segera menoleh ke arahnya, tersenyum manis tak menyangka ada orang yang terlihat senang berteman dengannya.

__ADS_1


"Yaudah saya terima kamu, tapi gak ada lowongan buat yang lainnya. Nanti satu kelas kamu bawa semua," ujar Pak Lukman seraya melipat kaki kirinya.


"Beneran pak, makasih pak makasih banget pak," ucap Rani seolah ingin bersimpuh pada Pak Lukman.


"Iya ya ya, sana kerjalah." Usirnya yang tak menginginkan hal yang terlalu lebay menurutnya dilakukan oleh Rani. Segera Haniya menggiring Rani untuk mengganti baju dan mengajarkannya bagaimana prosedur kerja di cafe ini.


---


Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Haniya bersiap-siap untuk pulang tak sabar bertemu lagi dengan neneknya yang selama 1 bulan kemarin mengikuti pelatihan sehat lansia.


"Han, pulang bareng ya." Ajak Rani


"Boleh," ucap Haniya yang sudah siap untuk pulang.


"Tapi kita beda arah si, nanti di depan gang saja kita pisah aja." Jelas Rani.


"Kenapa gak sekalian gua anter ?"


"Gak usah han, ngerepotin."


"Gak ada yang ngerepotin kali sesama teman." Jelas Haniya tersenyum.


Namun Rani tetap menolaknya, entah benar alasannya karna takut merepotkan atau ada alasan yang lainnya.


"Oh iya, lo kalo diganggu sama Sasa and the geng ngomong aja sama gua," ucap Haniya seraya menghidupkan motornya.


"Haha, iya han. Tapi mereka baik kok."


"Gak usah takut, tiap orang berhak mengutarakan keluhannya." Jelas Haniya lagi yang sudah mengendarai motornya.


Rani hanya mengangguk-angguk di belakang Haniya. Angin malam berhembus dengan kencang, membuat bulu bergidik kedinginan. 


Hidup di Jakarta pulang jam 8 bukanlah hal yang tabu justru bisa dibilang masih sore. Kadang ada yang pulang lebih dari jam 12 malam. Untungnya, masih ada pekerjaan paruh waktu untuk anak sekolah, jadi tidak begitu malam dan bisa untuk beristirahat sepulangnya.


"Disini aja han," ujar Rani membuat konsentrasi Haniya yang membawa motor jadi buyar.


"Haa, dimana ?" tanya Haniya


"Iya di gang itu aja han."


"Serius lo ?"


"Deket kok dari situ," ujarnya. Lalu Haniya menghentikan motornya.


"Makasih ya han," tutur lembut Rani setelah turun dari motor.


"Iya, hati-hati. Duluan ya." Haniya berlalu bersama motornya. Hilang dan tak terlihat lagi oleh pandangan Rani. Ia pun berjalan pulang ke rumahnya.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


---


Hallo readers, semoga suka ya dengan ceritanya. Boleh juga komen apa yang harus diperbaiki hehe. Jangan lupa like, vote biar aku semangat terus updatenya. Oh ya mau lebih tau info tentang kumpulan tulisan author? Yuk follow ignya @re.born_1. Salam saling mengenal ya 😘😘


__ADS_2