The Beautiful End

The Beautiful End
Tak bisa disamakan


__ADS_3

Menjadi yang beda itu tak ada salahnya. Tiap orang memang tak bisa di samakan dalam suatu hal. Namun, berbedalah dalam hal yang baik bukan buruk yang dijadikan bahan perbandingan.


Gemaan musik larut dalam dirinya. Menggeleng-gelengkan kepala seraya menggetuk meja belajarnya. Tumpukan buku bertebaran di sana namun yang dinikmatinya musik yang keluar dari earphonenya. Begitu keras suaranya sampai dunia luar tak terdengarkan.


"Tok.. Tok... Tok..." Suara ketukan pintu dari luar kamarnya.


"Bang... " Panggilnya dari luar. Sementara pria yang mendengar musik tadi masih asik seraya berjoget ala rocker.


"Bang... " Panggilnya lagi bersama dengan ketukan pintu.


Ia menyerah dan menghela napasnya. Mau tak mau, suka tak suka, bahkan nantinya diomelin, ia terpaksa membuka pintu kamar itu yang pemiliknya tak suka bila ada yang masuk kamarnya bukan dirinya yang membukakan pintu.


"Bang... " Panggilnya setelah membuka pintu kamar itu.


Dia masih saja asik berjoget seraya mengibas-ngibaskan kepalanya. Sambil memetik gitar hayalannya yang seolah sedang ia pegang.


"Bang Bima.. " Panggilnya sedikit keras dan mendekatkan dirinya.


Segera pria yang dipanggil dengan sebutan Bima tapi menoleh dengan terkejut. Lantas melepas earphonenya dengan kasar.


"Udah gua bilang, jangan masuk kalo gak dibukain." Protesnya


"Tapi dipanggil mama bang." Belanya yang tak mau disalahkan juga.


"Awas aja lo ya, sekali lagi kaya gini. Abis lo sama gua." Jelasnya yang berlalu untuk menghampiri mamanya. Adiknya itu hanya menghela napas dan tak berniat membangkang.


Kedua adik berkakak itu tidak pernah akur. Bukan karna keduanya melainkan Bima yang tak suka dengan adiknya. Terlebih orangtua dan keluarga selalu membanggakan Reno dan memojokan Bima. Reno yang memiliki sejuta prestasi jelas lebih disayang dan disenangi keluarganya. Berbeda dengan Bima yang sewaktu SMA sampai 3x pindah sekolahan. Sekarang ia melanjutkan pendidikannya dan tetap sama sering bolos dan bisanya menghabiskan uang. Orangtua juga tidak tau kendala dan masalah Bima, mengapa bisa demikian. Menyimpang terlalu jauh, padahal keluarga mereka terdidik dengan baik.


Seperti halnya Reno, sangat menuruni silsilah keluarganya. Pintar dan sopan. Sekarang Reno sedang berjuang untuk menyelesaikan masa SMAnya. Namun, meski belum lulus, ia sudah mengantongi beberapa beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya. Tinggal memilih ia ingin kuliah dimana. Dipenghujung sekolahnya pun Reno masih menjabat sebagai ketua osis, sebab prestasinya yang luar biasa sekolah tidak menyeleksi lagi untuk pemilihan ketua osis selama 3 tahun dan dilimpahkan pada Reno Aditya Mahendra.


Meski Reno menjabat ketua osis dan memiliki segudang prestasi namun dirinya tak pandai menarik simpati para wanita. Buktinya, tak banyak yang terpesona pada Reno bukan berarti Reno tak memiliki paras yang menawan. Bisa dimasukan dalam kategori pria idaman, sayangnya ia tak memiliki pesona yang bisa menghipnotis mata perempuan. Tapi, beruntung baginya, akan super ribet bila ia populer di sekolahnya terlebih di kalangan wanita. Ia lebih suka dikenal dengan sekedarnya. Sibuk dengan kegiatan dan prestasinya bukan mengurusi orang-orang yang hanya say hello, memuji, kagum sepintas saja.


Berbeda dengan Bima, meski otaknya nol tapi ia memiliki segudang pesona untuk perempuan. Dengan tampang yang nyaris sempurna, tak ada yang tak ingin menjadi kekasihnya. Sehingga Bima dijuluki Playboy cap kakap.


Dirinya juga suka mempermainkan perempuan. Baginya itu kepuasan tersendiri dan kebanggaan untuknya. Tak ada Cinta yang benar-benar setelah ia dikhianati oleh Cinta pertamanya. Benar saja, terluka bisa membuat seseorang tidak menjadi dirinya dan terlihat jahat.


Setelah memanggil abangnya Reno kembali lagi menonton TV di ruang tengah.


"Kamu apakan uang ini ?" tanya mamanya dengan emosi.


"Sampai banyak tagihan gini Bima." Tambahnya lagi

__ADS_1


"Ya biasalah mah, namanya juga anak kuliahan kan. Jangan samain Bima sama Reno yang palingan cuma 50rbu sehari." Jelasnya dengan wajah yang tengil.


"Mau jadi apa kamu Bima??"


"Ya didoain aja mah, semoga Bima sukses."


"Mama masih serius."


"Mau gimana mah, aku gak punya uang buat bayar itu semua." Jelasnya.


Reno hanya menghela napas dari kejauhan seraya menonton TV seolah sedang fokus padahal sembari mendengarkan omelan mamanya.


"Bener-bener kamu ya !!" Mamanya sungguh tidak tau lagi harus seperti apa menasehati dan mendidik anak sulungnya itu. Ia menghela napasnya seraya mengusap wajah.


"Yaudahlah tinggal mama bayar aja," ujar Bima seraya berjalan ke kamarnya.


"Kamu pikir cari uang itu mudah Bima !! Butuh keringat dan tenaga yang harus dikeluarkan." Mamanya yang semula duduk sampai berdiri melihat kelakuan anaknya.


Langkah Bima terhenti. Segera ia menoleh ke arah mamanya "Gak perlu kasih Bima uang lagi mah kalo cuma mau diperhitungkan." Bima berlalu setelah ucapannya. Tak ada yang bisa dikatakan lagi oleh mamanya. Hanya bisa beristighfar dan mengelus dadanya.


Reno yang sedang menonton TV memilih untuk mematikan TVnya dan keluar dari rumah.


---


"Ran, bisa tolongin buang sampah ?" tanya Haniya pada Rani yang sedang menunggu pengunjung datang di samping pintu masuk.


"Oh iya." Segera dirinya menghampiri Haniya. 


"Banyak banget si, kalo dikerjain sama-sama kan cepet selesai," ujar Haniya sembari mengangkat kantung sampah itu.


"Iyalah, cape sendiri juga han kalo gak minta bantuan," ucap Rani sambil menggeret kantung sampahnya.


"Nanti ada yang ambil ya han ? "


"Iya, tiap sore."


Setelah 2 kantong plastik sampah yang dibuang, mereka kembali lagi dan mengambil sampah berikutnya. Karna ada 4 kantung sampah yang harus dibuang.


"Bentar ya, aku kebelet, nanti yang buang ini aku aja," tutur Rani seraya melipat kaki menahan kencingnya. Haniya hanya mengangguk dan tersenyum.


Dengan cucuran keringat Haniya menggeret sampah itu. Bila tidak seperti ini bagaimana ia harus bertahan hidup dengan neneknya. Jadi pahit atau sakitnya harus ia tahan dan perjuangkan.

__ADS_1


Haniya menepuk kedua tangannya setelah melempar sampah itu. Ia tak sengaja melirik ke arah pria yang seolah sedang memperhatikannya. Haniya mengernyitkan matanya barangkali ia kenal dengan pria itu. Perasaan takut meski ia terkenal wanita yang berani muncul secara tiba-tiba.


Haniya segera masuk ke cafe lagi.


"Udah han ?" tanya Rani yang berpapasan dengannya.


"Udah kok, semangat ya." Rani tersenyum seraya menahan berat.


Dari kejauhan Rani melihat seseorang yang tak asing baginya.


"Kak Reno??" panggil Rani, setelah membuang sampah ia segera menghampiri Reno. Haniya yang tak sengaja mendengar seketika menoleh ke belakang.


"Oh, kenalannya Rani." Gerutunya. Perasaan takut tadi perlahan mulai memudar setelah tau Rani mengenalnya, jadi tak akan ada niat jahat dari pria itu.


Haniya bergegas masuk ke cafe dan mencuci piring yang banyak sekali.


Setelah berbincang sejenak dengan Reno, Rani berlari kecil menghampiri Haniya yang sedang sibuk mencuci piring.


"Udah buang sampahnya ?"


"Udah kok." Ia memperlihatkan deretan giginya.


"Banyak banget ya yang kotor," ujarnya seraya melihat piring, sendok serta gelas yang kotor.


"Tadi siapa ran ?"


"Yang mana ?"


"Yang lo samperin."


"Oh itu Kak Reno, kakak kelas kita. Yang ketua osis itu loh." Jelasnya seraya membilas piring yang sudah dicuci pakai sabun oleh Haniya.


"Oh, kirain siapa." Haniya membulatkan mulutnya.


Kedua teman itu sibuk mencuci piring tanpa ada perbincangan lagi. Sebab akan jauh lebih lama memakan waktu bila sambil mengobrol.


BERSAMBUNG.


---


Hallo readers, semoga suka ya dengan ceritanya. Boleh juga komen apa yang harus diperbaiki hehe. Jangan lupa like, vote biar aku semangat terus updatenya. Oh ya mau lebih tau info tentang kumpulan tulisan author? Yuk follow ignya @re.born_1. Salam saling mengenal ya 😘😘

__ADS_1


__ADS_2