
Bagaimana seseorang menganggapmu dekat bila kau saja tak sepenuhnya bersikap lega.
"Mil, udah diminum obatnya ?"tanya ibu pada Milli seraya berdiri di depan kamarnya.
"Udah bu."
"Coba ibu periksa, udah mendingan belum." Ibu yang membawa tumpukan baju tetangganya untuk ia setrika itu masuk ke dalam kamar Milli.
"kaya dokter aja si ibu ini." Milli batuk sembari melihat beberapa baju di lengan ibunya. Milli memandang begitu dalam pada ibu. Biasanya, dia yang menyetrika sebagian baju. Ibu memang membuka jasa setrikaan. Lebih ringan daripada mencuci. Sekalinya dibayar 50rbu. Lumayan bisa menambah pemasukan.
Hari ini Milli tidak bisa membantu ibunya. Ia juga lemah tak berdaya, lebih baik istirahat dulu daripada nanti tambah parah.
"Ibu ngambil setrikaannya jangan banyak-banyak dulu, kan Milli belum bisa bantu." Jelasnya seraya menyentuh tangan ibunya.
"Iya nak. Ibu pertimbangin juga sama badan ibu," tutur Ibu Milli yang juga sering sakit-sakitan.
"Assalamualaikum.. " Salam seseorang dari luar.
"Waalaikumsalam..." Ibu segera keluar menemui tamu yang datang.
"Eehh, nak Haniya. Masuk nak." Begitu semringahnya ibu kedatangan Haniya. Jelas ibunya tau bila anaknya hanya memiliki satu teman dalam hidup. Sebabnya, ibu begitu sayang dan perhatian pada Haniya.
"Gimana kabarnya bu ?" tanya Haniya yang sudah lama tak berkunjung.
"Alhamdulilah sehat ibu, nenek udah pulang ?"
"Udah bu, 2 hari yang lalu gitu."
"Oh udah lumayan lama ya, itu si Milli ada di kamarnya," ucap Ibunya setelah menanyakan keadaan Nenek Haniya.
"Woy... "Haniya sudah mentereng di depan kamar Milli.
"Hahaha..." Segera Milli yang menoleh padanya menutup wajah dengan selimut.
"Sakit apa lo gila ?" tanya Haniya seraya masuk dan duduk di samping Milli.
Milli menyenderkan tubuhnya pada badan tempat tidur. Dilapisi dengan bantal agar lebih enak menyendernya.
"Sakit hati gua," ucapnya malah becanda.
"Panas ya, tinggi gak panas lo ?" tanya Haniya seraya menyentuh dahi sahabatnya itu.
"Lumayan si, ini udah agak mendingan."
"Nih gua bawain makanan, kurang baik apa coba gua."
"Yayaya paling baik lo mah, percaya gua." Cetus Milli yang masih terlihat pucat dan lemas itu.
"Oh iya, gua tadi dari ngamuk-ngamuk di kantin. Iya gila aja si, emosi gua." Haniya mengadu pada Milli dengan emosi yang masih tersisa.
"Kenapa Maimunah, perasaan gua hidup lo itu gak pernah ada damainya ya. Sekali gitu gua denger cerita yang membahagiakan." Jelas Milli seraya memiringkan tubuhnya agar lebih enak memandang Haniya.
"Jadi mau dengerin gak nih ?" Haniya mengangkat satu alisnya.
"Baik jum, gua dengerin."
"Lo tau Rani temen kelas gua ?" tanyanya memastikan Milli kenal atau setidaknya taulah agar proses dalam cerita semakin seru.
"Rani ? Yang pendiem banget itu bukan, oh yang duduk sendiri ya ?" tanyanya membuat pembukaan obrolan itu seolah penyembuh bagi Milli, bahkan ia sekarang terlihat sehat-sehat saja.
"Nah ia, lo tau Sasa. Pasti tau lah." Milli mengangguk.
"Rani mukanya sampe babak belur dibulli sama itu anak, emosi gua lah." Jelas Haniya.
"Gua labrak aja dia di kantin yang masih ketawa-ketiwi sama temen-temennya." Milli fokus mendengarkan.
"Udah gak bisa nahan emosi lagi gua, gua siram dia pake jus alpukat."
"Haaaa..." Seketika Milli membungkam mulutnya, terkejut.
"Marah besar dia sama gua, tapi ya bodo amat," ucapnya.
__ADS_1
"Lo, kalo ada apa-apa di kelas. Bilang sama gua, ada yang berani nyentuh lo, gua bunuh mereka." Tambah Haniya dengan penuh emosi. Milli hanya menelan ludah seraya membulatkan kedua matanya.
"Kan jadi emosi lagi gua nginget kejadian itu." Haniya mengusap dahinya yang sedikit berkeringat.
"Sabar jum, tarik napas buang perlahan." Milli menenangkan namun terlihat meledeknya.
"Bangke lo lah, oh iya gua gak bisa lama-lama ini. Biasa mau kerja," ujarnya sok keren.
"Tuh, udah jam segini lagi." Haniya menoleh ke arlojinya.
"Yah bentar amat lo jenguk gua jum jum." Protes Milli.
"Daripada cuma gua GWSin aja, hayo?" Haniya beranjak dari tempat tidur Milli.
"Udah lo tidur aja, gak usah sok nganter gua ke depan." Cegah Haniya yang melihat gerak-gerik Milli yang mau mengantarnya ke depan.
"Apa si lebay banget," ujarnya seraya mengikat rambut.
Haniya seketika membulatkan matanya" Ini kenapa mil ?" tanyanya pada lengan tangan Milli yang terlihat memar.
"Oh, kata orang ini dari dijilat setan."
"Masa iya, kaya beda gitu."
"Ah, gak caya amat si lo."
"Bodo amatlah Milli, gua balik ya."
"Ya, hati-hati. Makasih lo ya." Milli mengantar Haniya sampai keluar rumahnya.
"Udah pulang nak ?" tanya ibu yang segera menghampiri Haniya.
"Iya bu, Haniya mau kerja."
"Oh gitu, yaudah hati-hati ya."
"Ya bu, assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam...." Haniya berlalu setelah salamnya dijawab. Hilang tertelan gang di depan sana. Milli dan ibunya masuk ke dalam rumah lalu menutup pintunya.
---
"Udah complete semua pak, cuma saya masih bingung pak penggantinya kacang panjang itu apa ?" ujarnya yang membuat Pak Lukman gemas.
"Yaampun Mutiiiii... "Pak Lukman seraya meremas tangannya.
"Kamu ganti apa kek, kangkung atau buncis atau apa. Kenapa cuma satu aja kamu pusingin." Protes Pak Lukman yang berhasil dibuat emosi oleh Muti.
"Oh gitu ya pak, saya takut salah pak. Hehe..." Muti karyawan terpolos di cafe itu menyunggingkan senyumannya.
"Ah sudahlah .."
"Assalamualaikum, maaf pak terlambat dari jenguk temen yang sakit." Salam Haniya yang membuat semua kepala menoleh ke arahnya.
"Yaudah sana-sana.."
Haniya segera duduk di samping Rani yang sudah ada di sana. Tak terlihat senyuman di bibirnya. Bahkan menatap ke arah Haniya pun tidak. Barangkali Rani marah padanya sebab terlalu ikut campur dengan urusannya.
"Sssttt..." Haniya menyikut lengan Rani.
Rani menoleh dengan ekspresi yang datar. "Dari tadi ya mulainya ?" tanya Haniya yang mencoba membuka obrolan.
"Iyaa..." Jawab Rani sekenanya.
Haniya hanya membulatkan mulutnya membentuk huruf O. Bukan dirinya, bila harus merasa canggung dan tidak blak-blakan.
"Lo kenapa ? Marah sama gua ?" bisik Haniya.
Rani masih menatap ke arah depannya.
"Emang bela teman yang gak salah itu gak boleh ?" tanyanya.
__ADS_1
Rani menelan ludahnya, perasaan tak enak muncul tiba-tiba.
"Aku masih gak enak badan aja kok." Jelasnya yang segera menoleh ke arah Haniya.
"Oh, gua kira lo marah. Gua minta maaf kalo tindakan gua salah," ucap Haniya membuat perasaan makin tak enak lagi bagi Rani.
"Oh, enggak kok. Gak perlu diingat yang udah berlalu." Rani tersenyum canggung.
"Baiklah," ujar Haniya yang segera memerhatikan Pak Lukman lagi.
"Jadi hari ini kita tidak ada jam kerja, besok jam 7 sudah kumpul semua. Ada yang masak ada yang nyiapin yang lainnya. Pokoknya bagi tugas. Jam setengah 3 kita pergi dari sini. Inget gak ada yang ngaret." Jelas Pak Lukman.
"Pak, saya kan sekolah kalo jam 7." Haniya mengacungkan tangannya seraya bertanya pada Pak Lukman.
"Kan kemaren udah dibilangin tugas kamu survey lokasi dan dekor lokasi di sana," ujar Pak Lukman.
"Oh iya ding pak, lupa.." Haniya memukul pelan kepalanya.
"Sudah selesai semua kan ? Saya juga ada keperluan mendadak ini. Jadi tak bisa lama-lama. Kita akhiri rapat kita hari ini, saya undur diri terlebih dahulu. Saya akhiri wassalamu'alaikum warohmatullahiwabarokatu..."
"Waalaikumsalam warohmatullahiwabarokatu..." Dengan serempak karyawannya menjawab.
"Pulang bareng aja ran." Haniya menawarkan.
"Oh iyaudah,"
Haniya mengantar Rani sampai di tempat biasanya, sebab Rani tak ingin mengantarnya sampai di rumah Rani. Di perjalanan keduanya terdiam, tak ada perbincangan disana. Mungkin satu dan yang lain merasa ada yang berbeda hari itu. Haniya yang fokus pada kendaraannya dan Rani fokus memandangi jalanan yang dilaluinya.
Tak harus memakan waktu yang lama, sampailah mereka di gang rumah Rani.
"Makasih ya han," ujar Rani seraya memberikan helm yang selalu ada di bawah jok motor Haniya, helm yang sering dipakai oleh Milli juga.
"Iya hati-hati ya,"ucapnya seraya mengernyitkan mata melihat seseorang yang tak asing sedang bergurau bersama di gang rumah Rani. Rani menoleh ke arah sesuatu yang sedang diamati Haniya. Ia menelan ludahnya melihat hal yang tak seharusnya Haniya liat.
"Yaudah han, sana pulang. Hati-hati ya." Rani segera melambaikan tangannya dan berlari kecil. Haniya berbenak di hatinya 'ada yang tidak beres nih'.
Ia menepikan motornya di pinggir jalan. Mengendap-endap mengikuti Rani yang berlari kecil.
"Wahhhh, yang kita tunggu akhirnya pulang juga," ucap seseorang dari sana yang terdengar oleh Haniya. Ia bersembunyi di tembok rumah orang di sekitar sana.
Sasa segera merangkul bahu Rani setelah ia datang.
"Mana hasilnya?" tanya Sasa.
"Ini yang udah buat gua malu tadi ?"
"Habisin aja sa." Timbal temennya
Belum mereka bertindak, Haniya keluar dari persembunyiannya.
"Mau lo apa sa ?" tanya Haniya yang berhasil membuat semua kepala itu menoleh ke arahnya. Segera saja, setelah melihat Haniya disana, Sasa melepaskan rangkumannya pada Rani.
"Ngapain lo pada di sini ?" tanyanya seraya melipat kedua tangan dan berjalan mendekati mereka.
"Ha-aa, kitaaa main ke tempat Ayu," ucapnya seketika menjadi gagu.
"Oh, gak salah ?" tanyanya lagi
"Iya emang ia, iya kan." Senggol Sasa pada temannya agar membantu meyakinkan.
"Iya kok, mereka mau minep tempat gua."
"Kebetulan aja ketemu sama ini anak," ucap Sasa seraya jijik menatap Rani.
"Yaudah yuk, bubar aja. Udah gak asik." Ajak Sasa pada teman-temannya. Dan mereka berlalu.
Rani masih tertunduk, segera ia mengangkat kepalanya setelah kepergian Sasa and the geng, takut Haniya bertanya yang tidak-tidak, Rani mengakhiri perjumpaan mereka.
"Han, aku pulang dulu ya," ucapnya segera. Tanpa menunggu jawaban dari Haniya, ia bergegas pergi seraya berlari kecil. Haniya menghela napasnya panjang. Setelah melihat kepergian Rani, ia kembali lagi mengambil motornya dan pulang ke rumah.
BERSAMBUNG.
__ADS_1
---
Hallo readers, semoga suka ya dengan ceritanya. Boleh juga komen apa yang harus diperbaiki hehe. Jangan lupa like, vote biar aku semangat terus updatenya. Oh ya mau lebih tau info tentang kumpulan tulisan author? Yuk follow ignya @re.born_1. Salam saling mengenal ya 😘😘