
Terkadang, seseorang hanya butuh satu (saja) untuk dia yang mengulurkan tangannya, sampai menggenggam dan terasa hangat bukan untuk saling melepas saat sudah mendingin.
Dingin masih terasa, sinar dari sang mentari belum tersampaikan. Menarik selimut adalah ide yang sangat baik untuk Haniya. Sementara waktu sudah menunjukkan angka 6. Telat adalah hal biasa bagi dirinya, bukan Haniya juga bila ia tidak datang terlambat, wajar semua guru mengenalinya sebab keterlambatannya.
Belum seutuhnya ia terlelap lagi, handphonenya berderiang "sial" gerutu Haniya dalam hatinya. Ia berusaha seolah tak mendengar apapun. Tetap meneruskan tidurnya dan menghiraukan suara telpon itu.
Namun, lagi-lagi telphonenya berdering. Haniya memang sengaja pasang volume full untuk handphonenya. Dia senang bila orang lain terkejut lalu menatapnya aneh dengan suara telphone yang cetar membahana.
Dengan kesal Haniya melepas selimut yang baru saja menghangatkan tubuhnya itu dan mengambil handphonenya.
Tertera nama di sana "Milli". Haniya menghela napasnya dengan kasar.
Segera Haniya mengangkat telphonenya.
"Woy, Jamilah. Lo ngapain subuh-subuh nelponin gua. Gak ada kerjaan lo ?" protesnya kesal.
"Woy, Marfuah. Gua di depan rumah lo. Bukain pintu, buru lah!"
"Ngapain nyubuh-nyubuh ke rumah gua. Jangan bilang lo kabur. Sorry gua gak nerima tampungan."
"Mending lo istighfar dulu, abis itu bukain pintu. Terus lo mandi deh, karna ini udah jam 7, Haniya !!!!" ucapnya dengan santai dan diakhiri dengan pekikan yang membuat Haniya menjauhkan telphonenya dari telinga.
"Nyantai woy, lebay amat baru telat." Protes Haniya seraya berjalan membukakan pintu untuk Milli.
Dengan wajahnya yang ditekuk, rambutnya yang berantakkan, memakai celana olahraganya, baju kaos, berjalan ke arah pintu seraya menguap dan menggaruk rambutnya yang kusut. Laki-laki mana pun diberi cuma-cuma gadis seperti ini tak akan ada yang mau.
"Selamat pagi sayang." Sapa Milli setelah pintu dibuka.
Haniya tak meresponnya, ia segera melipir dan berbaring lagi di sofa ruang tengah. "Haniya.... " Milli menghampiri Haniya.
"Lo niat sekolah gak si ?" tanyanya setelah ia berada di kepala sofa yang direbahkan oleh tubuh Haniya.
"Kalo bisa diwakilin mah, gua minta wakilin mil," ucapnya yang masih memejamkan matanya.
"Pukkkk"
"Aaawwww"
Segera Haniya membuka matanya. "Sakit tau." Keluhnya.
"Mau jadi apa lo gak sekolah ? Luntang-lantung gak jelas ?" tanya Milli dengan emosi.
"Hmm, ya lo juga, ngapain nanya gua kaya gitu." Haniya menundukkan kepalanya.
"Udah, buruan mandi." Milli menarik Haniya dan mendorongnya ke kamar mandi.
__ADS_1
"Gua tunggu 5 menit, gak keluar dari sana gua seret lo keluar," ucap Milli sadis. Sementara Haniya menyembunyikan setengah badannya dibilik pintu. Lalu menutup wajahnya seolah sedang berpura-pura ketakutan.
"Miaaawww.." Haniya meledek Milli dengan mengeluarkan suara kucing.
"Haniyaaa !!" pekik Milli
Segera Haniya membanting pintunya dengan kasar, ia lebih takut diterkam oleh sahabatnya itu daripada singa liar.
"Ehh.. " Haniya membuka pintunya lagi membuat Milli memutar badan dengan kecepatan penuh.
"Ya lo gila, ngasih gua waktu mandi 5 menit. Kucing aja mandi lebih dari segitu." Protes Haniya yang baru menyadari dirinya hanya diberi waktu selama 5 menit.
"Lo bukan kucing Haniya," ucapnya dengan mata yang membesar.
"Buruan atau lo gua seret tanpa mandi." Milli melipat kedua tangannya di atas dada dengan tatapan tajam yang seolah akan membunuh
"Hapunten atuh." Segera Haniya menutup pintunya setelah menatap mata Milli yang menyeramkan.
Milli Natasya Putri, gadis culun yang memiliki nama yang bagus. Namun wajahnya pas-pasan. Sebenarnya, wajah Milli tidak terlalu buruk bila sedikit dipoles tapi baginya daripada memoles wajah yang setelah itu hilang mending uangnya ia pakai untuk hal yang lebih berguna. Memiliki kulit yang dekil dan terlihat hitam, membuat Milli tidak mempunyai teman dan sering dibuli.
Untunglah dia kenal dengan Haniya dari SMP, saat Haniya sedang menangis sebab ia tersandung oleh kakinya sendiri. Di gang rumah mereka lah, tangan itu saling mengulurkan.
Jati diri sesungguhnya seorang Milli adalah diam, dia seorang yang pendiam, penakut, dan penyendiri. Namun, sifatnya berubah bila dihadapan sahabatnya, Haniya. Ia sangat berani dan tidak pendiam bila dengan Haniya, sahabat satu-satunya yang ia punya dan begitu pun sebaliknya. Satu-satunya teman yang mau berteman dengan Haniya.
Milli datang dari keluarga yang tidak berkecukupan. Ayahnya seorang pembersih halaman sekolah, tapi bukan sekolahnya yang sekarang. Sedangkan ibunya sering sakit-sakitan. Milli mempunyai dua adik laki-laki, yang satu sedang SMP yang satu lagi SD.
Sewaktu Milli masuk SMA, awalnya ia tidak ingin melanjutkan namun mendengar penjelasan dan rayuan Haniya meski ia terlambat tiap harinya dan malas mengerjakan tugas, baginya ijazah itu penting apalagi di jaman sekarang yang salah satu syarat kerja adalah ijazah. Meskipun, nantinya tidak melanjutkan keperguruan tinggi yang penting sudah memegang ijazah sampai di SMA.
Setelah beberapa menit menunggu Haniya yang sudah menghabiskan waktu lebih dari 5 menit, Milli beranjak dari duduknya dan menuju kamar mandi.
"Haniyaaa... " Panggilnya seraya mengetuk pintu dengan kasar.
"Sabar Maimunah gua masih salin," ujar Haniya.
"Lo nyalin di kamar mandi, kok gua gak liat lo bawa seragam?" tanya Milli heran.
"Iya seragamnya gua tarok di kamar mandilah."
"Astakhfirullah ya karim, Haniya... Jorok amat hidup lo!!" Pekik Milli seraya mengelus dadanya. Meski wajahnya tak secantik Haniya tapi alhamdulilah dirinya tak sejorok Haniya.
"Ya ngapa sih, sama aja kan mau ditarok dimana aja," ucap Haniya seraya keluar dari kamar mandi dan memberikan handuknya pada Milli. Sepontan Milli memegangnya dengan jijik seraya menutup hidung.
"Jangan bilang ini handuk udah satu bulan gak dicuci lagi." Tuduh Milli dengan alis yang terangkat satu.
"Emm, lebih kayanya haha." Haniya membalikkan badan hanya untuk menjawab pertanyaan sahabatnya itu.
__ADS_1
"Iyuhhhh"
---
Kedua sahabat itu akhirnya keluar juga dari rumah tepat pukul 07.10. Dengan omelan Milli sepanjang jalan kenangan, gerutuannya yang tanpa henti. Haniya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja, tak memperdulikan ucapan sahabatnya.
"Nih pake helm dulu bu," ujar Haniya seraya memberikan helm pada Milli.
"Bakalan telat berapa jam kita ini." Protesnya lagi.
"Aelah mil, dari rumah gua ke sekolah itu gak kaya dari Lampung ke Jakarta kali. Lo mah lebay deh," ucap Haniya dengan urat leher yang nampak.
"Ah, udahlah. Jalan sana." Milli sudah tak ingin mendengar alasan ini itu dari Haniya, segera ia naik ke motor Haniya.
"Gua ngebut nih, pegangan. 5 menit kita sampai disana." Jelas Hanya seolah ia seorang pembalap.
"Pukk... "
"Aauuuu.."
"Sakit tau.."
"Lo kira gua punya nyawa berapa ? Kalo mau mati jangan ngajak-ngajak gua. Turun aja nih kalo mau mati." Protes Milli yang siap-siap mau turun.
"Perasaan gua, lo marah mulu dah. Pantesan cepet tua." Ledek Haniya seraya terkekeh keras.
"Ini mau tahun depan apa sekarang kita berangkat han ?" tanya Milli seolah mengintimidasinya.
"Baik boss segera meluncur." Haniya menghidupkan motornya dan menarik gas. Lalu melaju dengan cepat kendaraannya.
Memang sudah dikatakan, Milli begitu berani dengan Haniya padahal semua orang hampir tidak ada yang berani dengan Haniya yang super aneh di mata orang pada umumnya. Haniya sering dipandang tidak waras dengan apa yang ia lakukan, namun semua orang tertarik padanya.
"Han, kemaren lo dari berantem ?" tanya Milli dalam perjalanan dengan angin kencang yang menghempas wajahnya.
"Iya, seru tau." Jawab Haniya tanpa beban.
"Gila si hidup lo, bukannya putus juga ?" tanyanya
"Iyalah."
"Gak ada sedih-sedihnya lo ?"
"Ngapain ? Cowo brengsek disedihin. Masih bisa dapet cowo yang lainnya gua," ujar Haniya seraya fokus dengan kendaraannya.
"Sok banget lah hidup lo, sok cantik, sok laku lo." Protes Milli yang tak suka kesombongan Haniya yang memang berparas cantik.
__ADS_1
"Ah, udahlah diem lo. Tadi nyuruh gua cepet-cepet sekarang ngajak gua ngobrol. Gak fokus nih." Haniya balik mengomeli Milli. Seketika Milli terdiam tak bersuara lagi.
Roda dua itu melaju dengan cepat membuat Milli yang ada di belakangnya berpegangan erat sampai di sekolahnya.