
Jangan berulah bila tak sanggup dengan konsekuensinya. Jangan bertingkah bila tak mau ruginya. Hidup itu santai, jadi jangan menciptakan bumerang pada diri sendiri.
Hari selasa yang cukup mengucurkan keringat, terlebih karna banyaknya manusia dalam satu ruangan. Ada yang berlari tak mau tertinggal, ada yang berusaha masuk untuk menyaksikan. Semua orang berbondong-bondong ingin menjadi saksi dalam kenangan masa depan, nanti.
Di kelas 11 IPA 2, seketika menjadi bising dan padat manusia. Seorang perempuan yang terlihat begitu berani dan tak kenal takut, masuk dari pintu kelas itu. Seperti biasa lengan bajunya dilipat, tidak memakai dasi, baju tidak ia masukkan, rambut diikat satu kebelakang tanpa poni, dengan simbol yang melekat pada dirinya, selalu memakai gelang hitam yang ada di sebelah tangan kirinya.
Berjalan menuju sasaran yang memang sudah ia incar. Tampang yang penuh amarah dan emosi yang campur aduk. Sampainya di salah satu tempat duduk seseorang, ia mendobrak meja sedikit kuat tapi tidak membuat tangannya panas dan merah. Sepontan, alisnya naik sebelah lalu memberikan tatapan yang tajam.
"Murahan amat lo," ucap perempuan yang memiliki nama Haniya itu.
Dengan balasan tatapan sedikit takut, seorang yang di depannya itu melihat sekeliling. "Maksud lo apa ?" meski begitu, ia juga tidak ingin terlalu menunjukkan ketakutannya.
"Gak ada cara lain buat punya pacar ? Apa memang setiap lo mau dapatin sesuatu dengan cara serendah ini ? Semua cara dihalalkan gitu !" ucapnya yang menghentakkan kedua tangannya diatas meja seraya lebih mendekatkan wajahnya.
"Sedih ya, buat bela diri sampai ngumpulin warga satu kampung," ujarnya yang justru balik menghakimi Haniya.
"Haah..." Ia mendengus dan membenarkan tubuhnya seraya membuang wajah lalu melipat kedua tangan di atas dada
Alis sebelah kirinya naik dengan begitu mudah "Yang ngangkat popularitas gua bukan sensasi yang gua buat tapi orang-orang yang kepo akan hal dalam hidup gua."
"Tanpa gua undang atau nyodorin sodokan aja mereka dateng dengan suka rela bahkan mau himpit-himpitan." Jelasnya yang tak terima Nadya menghujatnya.
"Lo gak usah gr kalo gua kesini mau ngajak lo berantem, cuma ngerebutin cowo berengsek kaya Niko. Gua cuma mau bilang lo cewe murahan." Cetusnya begitu sadis.
Nadya menggertakkan giginya, tak terima omongan pedas dari Haniya yang seolah semena-mena padanya, menciptakan emosi yang spontan hadir.
"Bukan berengsek cowonya atau murahannya gua, tapi dasar lo nya aja yang gak bisa ngejagain," ucap Nadya tak mau kalah.
Semua anak yang ada di kelas itu memasang wajah yang tegang, seolah hidup dan mati mereka sedang dipertaruhkan. Ada diantaranya yang menyaksikan seraya bergunjing, ada yang fokus dan sebisa mungkin tanpa berkedip, ada juga yang hanya menyaksikan untuk sekedar tau saja.
Gosip memang mengusung pada kehebohan tersendiri untuk sebuah cerita, terlebih bila itu dalam ranah menggunjingkan kejelekan orang lain. Seolah mereka maha benar dan semua persepsi yang ada di otak mereka masing-masing itu bersifat pasti, tanpa mencari kebenaran dan sisi dari yang dibicarakan.
Semakin lama semakin bertambah kepadatan kelas itu. Sampai berita itu pun tiba di kantor bila ada onar di kelas 11 IPA 2. Salah satu guru BK yang terkenal galak di SMA Taruna Bangsa itu segera berlari menuju kelas 11 IPA 2.
Suasana pun semakin bertambah panas. Haniya yang memang punya sifat tak mau kalah dan selalu berfikir secara logika itu pun emosinya menjadi tuntas sampai ke ubun-ubun.
"Baru nemu kebenaran, kalo **** sama Cinta itu gak jauh beda," ucap Haniya dengan menekankan suaranya.
"Baru nemu kenyataan, kalo ****** sama lo gak ada bedanya." Tambah Haniya dengan begitu sadis.
__ADS_1
Sepontan mata Nadya membelanga begitu saja, emosi yang sudah terkumpul di tubuh sampailah pada ubun-ubunnya. Tak bisa ditahan lagi ia berdiri dari duduknya.
"Maksud lo apa ?" tanyanya dengan penuh emosi.
Haniya mendorong Nadya sampai terduduk kembali. Dibalas tatapan yang sengit dari pupil mata Nadya.
"Asal lo tau ya, gua kesini bukan mau berantem. Gak level gua berantem cuma karna ngerebutin cowo berengsek kaya dia." Jelas Haniya yang berbalik badan untuk lekas pergi dari sana. Ia bertemu tatap dengan kamera-kamera dari teman satu sekolahnya. Hampir semua memvidiokan pertunjukkan yang sedang berlangsung. Haniya menarik napasnya. Tak mengerti dengan apa yang sudah ia perbuat hingga kebanyakan orang tertarik pada semua yang terjadi dengan dirinya. Terlebih bila itu adalah sebuah 'masalah'.
Haniya melangkahkan kakinya dua tiga langkah, sementara Nadya masih tidak terima dirinya dipermalukan demikian. Dan ia yakin bahwa wajahnya sudah terposting di semua media sosial. Harga diri itu prioritas utama. Terkesan terlalu lemah bila ia hanya melepas Haniya dengan begitu saja.
Emosi yang sudah terkumpul itu hanya menunggu untuk dikeluarkan saja. Mata Nadya membesar dan memerah, giginya ia gertakan, tangannya ia genggam kuat. Ia pun beranjak dari duduknya dan menyusul Haniya.
"Awwww..." Keluh Haniya yang rambutnya dijambak oleh Nadya.
Segera Haniya menoleh ke arahnya dengan tatapan yang mematikan. "Lepasin tangan lo !!" ucap Haniya yang membuat Nadya sedikit takut namun ia sudah terlanjur memulainya.
"Gua gak pernah ngemulai keributan ini, kenapa sekarang lo yang mau menyudahi ? " cetus Nadya.
"**** !!! " Haniya membuang tatapannya seraya menahan kepala yang masih dijambak oleh Nadya.
Lalu ia kembali menatap Nadya "Lo jadian sama cowo berengsek itu aja tandanya lo udah mulai semua ini." Jelas Haniya
Nadya diam membisu tak bisa menjawab sebab memang benar yang diucapkan oleh Haniya. Bila mana ia tak menjadi selingkuhan pacar orang, pertunjukan pagi ini tidak akan pernah ditonton oleh umat satu sekolahnya.
"Gua ingetin sekali lagi, lepasin tangan kotor lo !!" pekik Haniya.
Pertunjukan semakin memanas dan heboh bagi mereka yang sedang menonton. Sialnya, tak satu orang pun yang menjadi penengah antara mereka berdua. Hanya menonton dan memvidiokan lalu menyebar luaskan itu.
Memang benar, bila berkaitan dengan Haniya semua orang pasti akan segera tertarik sebab bagi mereka Haniya adalah orang teraneh, berani, santai yang ada di muka bumi ini. Sayangnya, hampir semua orang pun tak berniat berteman dengan dirinya. Hanya satu dan hanya dialah sahabat Haniya, sahabatnya dari duduk di bangku SMP. Sejak saling mengenal lah mereka menjalin sebuah persahabatan dan dipertemukan kembali di bangku SMA.
Haniya yang sedari tadi berdiam diri tak membalas perlakuan Nadya dan malah memintanya untuk menghentikan yang sudah ia mulai itu, akhirnya geram sebab Nadya tak mempedulikan ucapannya.
Dengan secepat kilat pun tangan Haniya menjambak rambut nadya. Tak ada yang ingin mau mengalah, tak ada yang mau melepas lebih dulu, tenaga justru lebih dikuatkan. Sorak sorai terdengar dari penonton.
"Ayo... ayo...ayo..." Justru dukungan untuk melanjutkan perkelahianlah yang mereka lontarkan.
"Jadi begini pemirsa, terjadi perkelahian antara pihak pacar dan pihak selingkuhan. Semula pertunjukan ini berjalan dengan baik, namun lama kelamaan emosi satu dan yang lain mulai tidak terkontrol. Akan seperti apakah akhir dari perkelahian ini, mari kita simak bersama-sama." Jelas Reno, orang yang suka membuat vidio seolah sedang siaran langsung. Setiap dan ada kesempatan ia tak akan pernah menyianyiakan untuk tidak membuat vidio. Satu sekolah tak ada yang tak mengenalnya. Sangat terkenal dengan jabatannya sebagai reporter sekolah. Mungkin, menjadi demikian memanglah mimpinya.
"Liatlah pemirsa, keduanya tidak ingin ada yang mengalah." Lanjutnya yang sedikit mendekatkan dirinya. Reno tak sendiri ia juga memiliki asisten pribadinya yang siap siaga untuk memvidiokannya.
__ADS_1
"Oh, ada yang lebih menarik." Ia mengarahkan kameramennya untuk memutar kamera dan mengambil shoot seseorang yang baru saja datang.
"Liat pemirsa, Niko datang. Biang dari semua ini," ucapnya yang seraya menyorot wajah Niko dalam himpitan-himpitan orang.
"Gila kalian !!" ucap Niko yang sudah berada di tengah-tengah keramaian.
Seketika keduanya menoleh ke arah sumber suara. Haniya segera menatap tajam orang yang sangat amat ia benci sekarang ini. Lalu keduanya saling melepaskan tangan. Hasil dari jambakan adalah rambut yang acak-acakan, tak tertata melebihi orang yang baru saja bangun dari tidurnya.
Haniya segera melepas ikat rambut dan menyisir rambutnya dengan jari, lalu diikat kembali rambut itu. Seperti biasa ia tidak ingin terlihat buruk dan rendahan di mata orang lain. Apalagi bertengkar karna laki-laki, baginya itu norak dan menjijikan. Tapi apalah dayanya bila lawan justru menantangnya.
"Selingkuh itu yang berkelas dikit kali, cewe beginian dijadiin selingkuhan." Cetus Haniya setelah selesai merapikan rambutnya.
"Ehh Haniya sok cantik banget tampang lo." Balas Nadya
Haniya hanya mengangkat satu alisnya dan menatap Nadya dengan rendah.
"Buang jauh-jauh ya tatapan lo itu." Ancam Nadya.
"Lo pada gak malu, satu sekolahan bahkan di luar sekolahan nyaksiin kelakuan lo berdua." Niko yang sedikit malu melihat tingkah 2 perempuan yang sedang memiliki hubungan khusus dengannya itu, mencoba untuk menyadarkan keduanya.
"Haahh..." Haniya mendengus seraya melipat kedua tangan di atas dada. "Yang banyak tingkah lo, yang nantangin nih selingkuhan lo yang gak seberapa." Jelas Haniya seraya menunjuk wajah Nadya.
Tak menerima diperlakukan dengan rendah lagi, rambut yang sudah lumayan rapi itu dijambak lagi oleh Nadya. Pertengkaran yang semula sudah meredam itu pun mulai kembali.
Salah satu guru BK yang sudah mendapatkan berita itu akhirnya tiba di kelas 11 IPA 2, dengan membawa penggaris panjang dari bambunya itu. Matanya membesar dan emosi juga terlihat jelas pada diri Pak Munis.
Tanpa disuruh, seketika jalan yang padat itu merenggang dan membentuk jalan setapak. Pak Munis berjalan tanpa himpitan anak-anak muridnya. Dihempaskan penggaris itu di atas meja yang berhasil mengejutkan. Semua murid yang semula tak ada yang tak memegang ponselnya kini tak satu pun yang berani mengeluarkan ponsel masing-masing.
"Kalian kira ini di mana ? Kalo mau berantem kaya gini sana keluar dari sekolah ini," ucap Pak Munis yang emosi.
Keduanya segera melepas tangan dan merapikan rambut. Menunduk dan tak menatap Pak Munis.
"Ngapain kalian pada disini, sana ke kelas masing-masing. Kaya gini kok jadi tontonan," ujar Pak Munis yang juga marah pada murid yang menonton.
Seketika semua murid berhamburan dan sepi.
"Maaf pak, bukan saya yang salah. Saya mau balik ke kelas," ujar Haniya yang tak takut. Dan pamit undur pergi sebelum disidang oleh Pak Munis.
Haniya berjalan ke luar kelas tanpa mempedulikan Pak Munis.
__ADS_1
"Haniya !! Saya belum selesai berbicara !! Haniya !!" pekik Pak Munis yang tak berhasil membuat Haniya berbalik arah.
Pak Munis menghela napasnya panjang dan menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah siswinya.