
Hal kecil dalam pandangan kita bisa jadi hal besar untuk orang lain. Maka jangan remehkan dan jangan rendahkan, tiap orang punya nilai atas sesuatu dengan berbeda-beda.
Kedua sahabat yang berpisah tadi pagi, akan bertemu lagi sepulang sekolah. Mereka tidak berada di kelas yang sama. Padahal sangat disayangkan oleh Haniya. Seharusnya ia tinggal menyalin tiap kali ada tugas atau ulangan di kelasnya. Namun, bila terdesak haniya terpaksa menyuruh Milli untuk mengerjakan PRnya.
Sebelum berpisah tadi, Milli sempat bilang pada Haniya terlebih dahulu bila setelah pulang Milli minta antar ke bakul ronsokan. Dirinya ingin menjual beberapa buku, alat lainnya yang sudah tidak layak pakai lagi dan beberapa tumpuk koran hasilnya dari memungut koran tetangga yang sudah dibuang. Lumayan, uangnya bisa ditabung.
Kedua orang itu tak akan menolak bila disuruh, asalkan ada imbalannya. Tak harus susah payah dan mengeluarkan uang banyak, Haniya hanya meminta dibelikan 3 es pepaya coklat. Dan satuannya cuma 2 ribu. Entah kenapa Haniya begitu suka dengan es itu, padahal buat sendiri asal ada pepaya dan coklatnya bisa.
Milli berjalan menuju kelas Haniya yang ada diujung peradaban. Menggendong tas ranselnya seraya dipandang dengan hina oleh sekitaran dan beberapa ada yang menutup hidungnya. Sebisa mungkin mereka menghindari Milli dan jangan sampai mereka bersentuhan dengannya. Padahal Milli tidak berbau badan, dia juga rajin. Hanya dirinya memiliki kulit yang kusam, dekil, dan hitam. Tapi semua orang menganggap dirinya bau. Terlebih orang-orang pada heran anak kaya Milli bisa sekolah di sekolahan yang lumayan elit. Pikir mereka, kan masih banyak sekolahan yang sebanding dengan dirinya kenapa harus bersusah payah mengimbangi yang sulit ia raih ?
Milli bukan tak pernah memikirkan omongan orang lain, ia hanya berusaha untuk tidak peduli saja. Baginya, mengungkapkan pendapat tidak akan ada gunanya. Mengutarakan alasan tidak akan ada yang mendengar, jadi diam dan seolah tidak tau saja.
Milli terus berjalan seraya menundukkan pandangannya sampai di kelas Haniya. Ia menunggu di depan kelas, guru masih tengah berdiri di depan kelas Haniya. Ucapan terakhirnya untuk mengerjakan pr yang sudah diberikan. Dari kejauhan Milli melihat Haniyalah yang paling besar menghela napasnya. Benar saja, dia paling benci dengan tugas.
Pandangan mereka bertemu satu tatapan, Milli yang melambaikan tangannya direspon dengan tatapan tajam.
"Baiklah, ibu akhiri perjumpaan kita hari ini. Hati-hati di jalan ya. Wassalamualaikum warohmatullahiwabarokatu, selamat siang" Guru geografi itu pun berlalu dari kelas Haniya setelah jawaban dari muridnya yang serempak.
Anak-anak kelas Haniya bergegas pergi, berhamburan seraya dorong-dorongan. Ingin cepat dan yang pertama keluar kelas.
"Hiiii... " Seorang pria yang tengah asik berjalan keluar kelasnya, perlahan mundur melihat Milli yang berdiri di depan kelas.
"Apa sih !!" protes yang di belakang karna tertabrak dengan yang di depan.
"Hihh, lo duluan aja lah. Ada hihh," ucapnya geli seraya bergidik tubuhnya lalu menarik teman yang di belakang. Milli meremas jemarinya dan menundukkan pandangannya.
Segera Haniya beranjak dari duduknya setelah mengintip dari celah yang ia dapat.
"Kenapa ?" Haniya menarik punduk temannya yang bernama Rama itu.
"Mil, masuk." Suruh Haniya dengan tegas pada Milli.
Milli hanya menggeleng tak berani menggerakkan bibirnya. Segera Haniya menarik tangan Milli dan mendekatkan dirinya pada teman sekelas Haniya.
"Gua tanya lo kenapa ?" tanya Haniya emosi pada Rama.
"Hah, ya gua mau lewat tapi ada dia," Ujar Rama
"Terus kalo ada dia kenapa ? Bakalan bernanah badan lo ? Bakalan virusan badan lo kalo sentuhan sama dia ?
"Dia bukan sampah, bahkan sampah pun gak merusak badan lo," ucap Haniya dengan emosi.
"Ah terserah lo, gua gak mau ada urusan sama perempuan apalagi lo dan gua gak mau deket-deket dia." Jelas Rama yang terlihat jijik saat menatap Milli.
"Ngomong apa lo ?" segera Haniya mencengkram kerah baju Rama.
Rama membuang wajahnya melihat sikap Haniya. "Lepasin tangan lo !"
"Udah han. Gua keluar aja," ujar Milli ketakutan.
"Selangkah lo pergi, putus hubungan kita sebagai teman." Haniya menoleh ke arah Milli dengan tatapan yang tajam. Milli tak bisa berkutik dengan ucapan Haniya dan memilih untuk tetap disana.
"Lo gak tau orang gila di sekolahan ini ?" tanya Haniya
"Gua cuma suruh lo buat lepasin tangan lo dari kerah baju gua! " pekik Rama dengan tegas.
__ADS_1
"Bukan gaya gua ngeladenin cewe." Tambahnya lagi
"Tapi gua gak pernah mempermasalahkan gender." Tantang Haniya yang membuat Rama menelan ludah sebab memang tak ada yang tak tau orang gila yang dimaksud Haniya itu siapa. Pasti dirinya, dan hampir semua takut pada kegilaannya.
"Lo minta maaf atau nyesel seumur hidup." Ancam Haniya masih dengan memegang kerah baju Rama.
Rama menggerakkan giginya seraya membuang wajah, pengalihan untuk sekedar berpikir harus bertindak bagaimana dirinya. Namun, jabatannya sebagai cowo harus tetap terjaga.
"Karna lo temen sekelas gua aja ya, males banget gua punya masalah." Jelasnya yang melepas dengan paksa tangan Haniya.
"Mil gua minta maaf, gak sopan sama lo." Rama mengulurkan tangannya pada Milli. Segera Milli meraihnya lalu tersenyum pada Rama.
"Hati-hati lo ya, bisa suka sama kawan gua." Segera Rama melepaskan tangannya mendengar ucapan Haniya sebelum digenggam balik oleh Milli.
"Coy.. Coy.. " Berkali-kali Rama mengetuk kepalanya menandakan ia tak ingin sumpah dari Haniya diaminkan oleh para malaikat, seraya Rama keluar dari kelasnya menghindari Haniya dan Milli, si biang masalah.
---
"Lo kenapa sok jagoan si, pake pegang kerahnya segala lagi," ujar Milli saat di atas motor.
"Lo kok sok sok an banget si, giliran depan gua ngoceh dan marah mulu pas sama orang lain, langsung tuh muka nunduk." Protes balik Haniya.
"Kan temen gua yang nerima gua apa adanya cuma lo doang, kalo gak ada lo mungkin gua gak akan pernah ngerasain punya temen itu seindah apa," ujarnya terdengar menyedihkan bagi Haniya.
"Aelah, malah melow. Seharusnya lo itu sayangin gua mil. Jangan di ocehin mulu. Temen lo kan cuma gua," ucap Haniya seraya menoleh sebentar ke belakang.
"Iya ya, walaupun gua sering marah, gua sayang kok sama lo." Milli segera memeluk Haniya dari belakang dengan kuat sampai ia susah menarik napasnya.
"Gua susah napas Jamilah." Pekik Haniya yang suaranya dihempas oleh angin.
Haniya melajukan sepeda motornya dengan cepat. Sepanjang jalan wajah mereka terkibas-kibas oleh angin. Helm hanya melindungi kepala dan tak seutuhnya menutupi wajah.
Sampailah mereka di kediaman Milli untuk mengambil barang bekas yang sudah disiapkan Milli.
"Waahh banyak amat mill," ujar Haniya setelah melihat tumpukan barang bekas hasil kumpulannya Milli.
"Iya dong." Jawabnya sok keren.
"Ibu mana mil ?"
"Pergi sama ayah"
"Adek lo belum pulang tah ?"
"Maen kali. Gak tau gua," ujarnya seraya mengangkut barang bekasnya.
"Bisa dua kali lipat nih traktirannya" ujar Haniya yang juga membantu Milli mengangkut.
"Laku dulu aja Maimunah."
"Iya pasti laku lah Jubaidah."
Setiap saat dan kesempatan kedua manusia itu selalu berdebat dan jarang sekali akurnya. Namun, mereka tak pernah diam-diaman seharian. Mereka berdebat hanya untuk saling meledek bukan serius. Selama mengenal, belum pernah mereka bertengkar hebat dan jangan sampai.
Setelaj sampai di tempat, Milli menuruni barang bekasnya dari motor, dengan keringat yang mengucur di dahinya. Mengingat besok hari minggu kedua orang itu pun tak berniat menyalin bajunya terlebih dahulu. Sampah dan barang bekas berkumpul menjadi satu di sana. Yah, namanya pergi ke bakul ronsokan, jelas banyak sampah dan bau-bau tidak sedap. Hal itu tak menjadi masalah pada keduanya, terlalu sombong bila sampah saja segan untuk ditengok.
__ADS_1
"Kang koran 1 kg berapa ?" tanya Milli
"500 neng," ujarnya masih fokus dengan kalkulator di atas mejanya.
"Yang bener aja kang, masa 500. Kan langsung ke akang jualnya gak melalui perantara." Jelas Milli.
Dari kejauhan Haniya mendengar perdebatan kecil di sana seraya membawa tumpukan yang tersisa, ia menghampiri Milli.
"Ayolah kang," Milli membujuknya.
"Gak bisa udah harganya," ucapnya tak berpaling sedikit pun dari kalkulator.
"Kenapa mil ?"
"1 kg cuma 500," ucapnya dengan lemah.
"Kang 800 ya 1 kg ?" tanya Haniya
"Gak bisa neng," ucapnya yang masih juga fokus dengan kalkulatornya.
"Kang, mau ambil 800 atau gak ada lagi yang jual disini," ujar Haniya seraya mengancam Akang Beni, si pembeli barang bekas. Yang berhasil juga mengalihkan pandangannya dari kalkulator itu.
"Gimana kang, jangan bodohin anak sekolah dong kang. Kami sampai jual kaya gini karna butuh uang. Jual lewat perantara aja masih bisa 700 masa di sini 800 gak bisa." Jelas Haniya panjang lebar membuat akang itu menarik napasnya dengan panjang.
"Yaudah.. Yaudah.., sana ditimbanglah."
"Gitu dong kang, nantikan rezekinya juga nambah lancar, " tutur Haniya seraya mengangkat barang bekas untuk ditimbang.
Milli tersenyum senang, meski Tuhan mengirimnya satu teman tapi ia berguna dalam segala hal. Ia juga bersyukur hanya memiliki satu yang benar-benar menyayanginya.
"Asikkk." Bisik Haniya setelah selesai penimbangan.
"Nih total uangnya 127.500 ya," ujar Kang Beni. Segera Milli menerima uang itu.
"Ya makasih kang," ucap Milli dengan semringah.
"Eh eh eh.. "Panggil Kang Beni pada Milli dan Haniya yang sudah berbalik badan.
"Sini sini.." Keduanya saling menatap bingung.
"Iya kang," ucap Milli dengan menggenggam kuat uangnya.
"Sini uang yang tadi." Pinta Kang Beni
Dengan polos Milli menyerahkan uangnya.
"Nihh.." Kang Beni menukar uang 27.500 itu dengan uang 50 ribu.
Milli tambah senang, Haniya yang hampir emosi tersenyum melihat Milli yang tampak senang.
"Semoga rezekinya lancar ya kang," ucap Milli
"Amin.."
Mereka berlalu dari sana dan pulang ke rumah dengan perasaan yang senang. Milli dari dulu memang sering menjual barang bekas. Ia tinggal di komplek yang terdapat orang kayanya. Mereka sering membuang barang bekas dan koran yang sudah tidak layak pakai lagi. Milli memungutnya lalu ia kumpulkan dan ia jual. Uangnya ia tabungkan, untuk keperluan yang mendadak.
__ADS_1