
Kurang lebih sudah tiga hari lamanya, Jack menjalani hukuman skorsing dari Psk Surya. Hal ini membuat Gladys merasa sangat cemas, terlebih semenjak Ia berurusan dengan Angel. Hingga pada suatu sore sepulang sekolah, Ia pun diculik oleh dua orang misterius yang tak pernah ia jumpai sebelumnya.
Sebuah pesan misterius dari nomor tak dikenal masuk ke hp Jack. Dalam pesan itu terdapat video Gladys yang tengah diikat dan didudukkan di sebuah kursi dalam sebuah ruangan yang nampak seperti gudang. Dalam pesan tersebut terdapat sebuah ancaman dari sang penculik, Jack dipaksa untuk membubarkan The Big Five untuk dapat menyelamatkan kekasihnya itu.
Jack pun semakin cemas, hampir hampir Ia frustrasi dengan segala kejadian yang telah menimpa dirinya. Satu satunya orang yang dapat membantunya menyelidiki kasus ini hanya lah Roy. Namun, hubungan persahabatan diantara mereka belum juga membaik, semenjak perkelahiannya dengan Ronald di siang itu.
Mau tak mau, Jack pun memaksa dirinya untuk lebih menurunkan egonya. Ia pun menemui Ronald dan Roy. Ia hendak meminta maaf kepada mereka berdua. Ia pun menghampiri mereka berdua di sebuah kafe yang terletak di daerah Jakarta Selatan, kebetulan dua sahabat nya itu sedang ngopi di sana.
"Roy, Ron, gue minta maaf ya. Gue sadar, gue udah keterlaluan. Gue udah bersikap tempramen kemarin. Maaf karena kesalahan gue, persahabatan kita jadi berantakan." ucap Jack.
"Iyaa Jack. Gue udah maafin kok kesalahan lo. Lagian, gue juga sadar gue juga salah Jack. Seharusnya gue bisa jadi penengah diantara kalian berdua." balas Roy.
Sebetulnya sulit bagi Ronald untuk dapat memaafkan Jack. Emosi nya belum dapat dikontrol seutuhnya. Namun, Ia juga merasa sudah bersikap kelewatan pada sahabatnya itu. Pesan Pak Surya terus menerus menghantui pikirannya. Betul, apa yang telah Pak Surya katakan tempo hari. Bagaimana pun juga mereka adalah sahabat, dan tak sepantasnya seorang sahabat bertengkar sampai seperti ini, terlebih karena sebuah permasalahan yang belum pasti duduk perkaranya.
"Iyaa Jack gue maafin. Maaf yaa, kalo sikap gue juga udah bikin lo sakit hati. Jujur, gue udah berusaha untuk kontrol emosi, dan berusaha untuk menenangkan pikiran. Tapi ternyata itu semua susah untuk gue lakuin. Apalagi setelah semua kejadian yang menimpa kita. Gue sadar sikap gue jadi semakin emosional." ucap Ronald.
"Iyaa Ron, udah gue maafin kok. Lagian, kita ini kan sahabat, bahkan lo berdua udah gue anggap sebagai keluarga gue sendiri." balas Jack.
Mereka bertiga pun saling bermaafan, dan berusaha untuk memperbaiki persahabatan yang terjalin diantara mereka. Kemudian Jack pun mengajak mereka berdua untuk kembali ke Markas The Big Five. Di sana, sudah ada Mamet yang menunggu kedatangan mereka bertiga sejak setengah jam yang lalu.
"Wuih ada Roy sama Ronald! Apa kabar bro? Wellcome back to The Big Five! Kangen banget gue sama lo berdua! Berasa hampa The Big Five tanpa kehadiran kalian!" sambut Mamet.
"Eh Met! Akhirnya kita ketemu lagi! Tumben lo ga bucin sama si Wulan!" balas Roy.
"Ini Gais diminum dulu, sorry lagi ada apa apa di markas, udah lama kita ga belanja! Hahaa.." ucap Mamet, sambil menyuguhkan tiga gelas air mineral.
Mereka berempat pun duduk bersama di atas sofa. Melihat wajah Jack yang sangat cemas, Ronald pun angkat bicara.
__ADS_1
"Jack, lo kenapa bro? Kok lo keliatan pucet banget? Sebenernya apa yang lagi lo pikirin?"
"Iyaa Ron, gimana gue ga cemas. Gladys diculik!"
Mendengar jawaban Jack tersebut, sontak Roy dan Ronald pun kaget. Mereka baru tau tentang kejadian itu.
"Loh, kok bisa bro? Perasaan tadi gue masih ketemu kok sama Gladys di sekolah! Kapan kejadiannya?" tanya Ronald, heran.
Jack pun menunjukkan video itu pada Ronald dan Roy. Tanpa ada aba aba, Roy pun langsung mengambil laptop yang Ia simpan di tasnya. Ia pun langsung mencoba untuk melacak titik koordinat nomor ponsel misterius itu. Namun sangat disayangkan, nomor telepon itu kini sudah tidak aktif. Hal itu membuat Roy kesulitan untuk melacaknya. Namun, Ia berusaha untuk menenangkan Jack, Ia terus berusaha untuk melacak titik koordinat terakhir dari nomor telepon misterius itu. Hingga pada akhirnya, setelah 30 menit Ia mengotak atik laptopnya, Ia pun menemui titik koordinat terakhir dari nomor itu.
Mereka pun bergegas untuk pergi ke lokasi tersebut. Namun sayang, sesampainya di sana, hanya menemukan tumpukan sampah. Pencarian mereka pun tertunda. Mereka pun memutuskan untuk kembali ke Markas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya, sesuai dengan apa yang telah mereka rencanakan. Ronald, Roy, dan Mamet pun mendatangi The Fantastic Four yang tengah asyik ngopi sambil merokok di Warung dekat sekolah. Tanpa basa basi, Ronald langsung membentak mereka.
Rio, Bagas, Bintang, dan Dio pun berusaha untuk melarikan diri. Namun sayang, belum sempat mereka meloloskan diri tinju dari Ronald berhasil membuat mereka berempat pingsan di tempat. Akhirnya, Roy dan Mamet pun bergegas memasukkan mereka berempat ke dalam Mobil Mamet, dan membawa mereka ke Markas The Big Five.
Sesampainya di sana Jack sudah bersiap dengan berbagai taktik dan persenjataan yang memadai untuk membuka mulut mereka berempat.
Rio, Bagas, Bintang dan Dio pun didudukkan di lantai. Baru saja mereka mampu terbangun dari pingsannya, Jack langsung mengintrogasi mereka berempat.
"Dimana lo sembunyiin Gladys?" pertanyaan Jack tak mendapatkan respon dari mereka berempat, sebab kesadaran mereka belum balik seutuhnya. "Cepet jawab!" desak Jack, sambil memukul badan Rio dengan tongkat Baseball. "Gue tanya sekali lagi, dimana kalian sembunyiin Gladys! Cepet jawab!" bentak Jack, kembali memukul badan Rio dengan tongkat Baseball.
"Sumpah kita berempat ga tau apa apa Jack!" ucap Rio, terengah engah. "Anjing lo ya, masih bisa ngeboong juga lo!" Ronald yang emosi pun mengambil sapu lidi yang ada di dekatnya, dan menyabet wajah Rio. Rio pun berteriak kesakitan. "Okee, iyaa gue ngaku! Kita yang udah kirim teror ke kalian selama ini" ucap Rio, mulai menjelaskan. "Tapi, kita ga tau menau tentang penculikan Gladys!" lanjutnya.
Hampir saja Jack memukul Rio dengan tongkat Baseballnya lagi, namun Bintang sudah terlebih dahulu. "Stop Jack! Bener apa yang dibilang sama Rio, kita berempat sama sekali ga terlibat dalam penculikan Gladys! Sejak tiga hari yang lalu, semenjak kita udah dapetin bayaran. Kita udah berhenti ganggu kalian!"ucap Bintang, menjelang.
__ADS_1
Ucapan Bintang itu pun membuat Jack, Ronald, Roy, dan Mamet pun kaget. "Bayaran apaan? Siapa yang udah bayar kalian?" tanya Mamet. "Iyaa Met, kita jujur, sebenarnya kita berempat dibayar sama Angel untuk neror kalian berempat! Dan, sebenarnya segerombolan penyusup malam itu, kita berempat bareng preman preman suruhannya dia! Kalo lo ga percaya ini gue ada buktinya!" ucap Dio, sembari menunjukkan Tato Scorpio di sekitar pergelangan tangannya.
"Ga usah bawa bawa nama Angel lo ya! Lo mau memperkeruh suasana kan? Makanya nyalahin Angel!" bentak Ronald, Ia sangat tidak terima dengan ucapan Dio yang sudah menyalahkan Angel.
"Bener Ron, apa yang dibilang sama Dio itu sesuai fakta, bahkan sebenarnya sikap gue tempo hari yang manas manasin lo, itu semua dia yang nyuruh! Lo boleh ga percaya sama kita berempat, tapi kita punya bukti akurat!" ucap Rio, Ia pun menunjukkan bukti chat nya dengan Angel.
Ronald yang mengetahui fakta itu pun sangat kecewa. Ia pun melampiaskan emosinya dengan menghajar mereka berempat.
"Bangsat! Ternyata selama ini kita ditipu Ron, sama si Angel! Gue kira dia itu baik, dia juga yang udah nolongin gue waktu itu! Tapi ternyata, semua ini cuman kedok busuk cewe bajingan itu doang!" ucap Roy, sambil meludah ke lantai.
"Niat juga yaa si Angel, nyampe bayar kalian berempat buat neror kita!" ucap Mamet.
"Udah gue duga dari awal. Pasti Angel ada sangkut pautnya sama kejadian ini semua. Tapi, yang gue heran, kenapa dia senekat itu nyampe bayar lo berempat buat neror kita?" tanya Jack.
"Sorry Jack, kita ga tau apa apa soal alasannya itu. Udah beberapa kali gue tanya ke dia, tapi ga pernah dijawab." ucap Rio. "Kita berempat minta maaf Jack, kita janji ga akan nyari masalah sama kalian lagi! Kita kapok Jack! Sebagai gantinya, kita bakal bantuin lo untuk nemuin Angel, dan kita janji bakal bantu kalian untuk usut tuntas kasus ini!" ucap Rio, sambil menangis memohon ampun pada Jack dan kawan kawan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Lspasin gue!" Gladys teriak meminta bantuan, namun sayang tak ada satupun orang yang mendengar teriakannya.
Tak lama kemudian datang seorang wanita dan seorang pria dari balik pintu.
"Bangsat lo Angel! Cewe bajingan! Dari awal gue udah curiga sama lo! Pasti lo ada niat jahat sama kita semua!" bentak Angel sambil menangis. "Lo juga! Lo kan anggota The Big Five? Kok lo tega ya ngekhianatin kita semua? Ga nyangka gue! Anjing lo semua!" bentak Gladys.
"Kalo sampe Jack ga bubarin The Big Five, jangan harap lo bisa keluar dari sini dengan selamat!" ancam Gladys. "Let's go boy! Kita keluar dari ruangan ini! Bye Gladys!" ucap Angel, sambil melambaikan tangannya pada Gladys.
Pintu ruangan itu pun segera dikunci.
__ADS_1