
Pak Ustadz Bubun, Ayah dari Wulan, merasa sangat khawatir dengan apa yang anaknya lalui akhir-akhir ini. Bukannya Ia tak percaya pada Mamet, yang telah berjanji padanya untuk menjaga putri semata wayangnya itu dengan segenap jiwa dan raga. Namun, Ia sangat khawatir karena Mamet dan teman-temannya kini tengah mendapatkan teror yang terus menerus menimpa mereka. Ditambah lagi, Ia mendapatkan kabar bahwa Gladys baru saja diculik. Ia khawatir apabila putri semata wayangnya itu terkena imbas dari teror itu. Ia pun belum bisa percaya pada Mamet seutuhnya, sebab sejauh ini pria itu belum ada i'tikad untuk menikahi putrinya. Hal itu pula yang sebetulnya menjadi beban pikiran nya selama ini.
Malam itu, setelah Roy mengantarkan Wulan pulang ke rumahnya. Baru saja Ia hendak berpamitan dengan Ustadz Bubun dan Wulan, Ustadz Bubun segera menahannya. Ia mengajak Mamet untuk makan malam bersama terlebih dahulu.
"Nak Mamet, sudah berapa lama Nak Mamet menjalin hubungan dengan Anak Saya?" tanya Ustadz Bubun. Mendengar pertanyaan itu Mamet pun merasa bingung. Entah bagaimana cara menjawabnya. Ia sudah tau pasti alur pembicaraan itu akan melaju kemana.
"Eum, sudah cukup lama Pak!" jawab Mamet, sembari tersenyum kikuk.
"Maaf sebelumnya apabila perkataan saya kurang berkenan di hati Nak Mamet, tapi ini adalah obrolan yang penting Nak!" ucap Ustadz Bubun. Ia pun menatap Mamet dan Wulan bergantian, sebelum melanjutkan ucapannya. "Jadi begini, Nak Mamet kan seorang muslim ya, dalam Islam seorang pria yang sudah mampu harus segera menikahi wanita yang dicintainya. Sebab kalau semisal kalian terus menerus seperti ini, akan semakin banyak dosa yang mesti saya tanggung." ucapnya, penuh penekanan.
Sontak, Mamet dan Wulan pun terdiam. Suasana hening menyelimuti ruangan itu. Bukannya Mamet tak mau menerima permintaan Ustadz Bubun. Ia sangat terobsesi dengan pernikahan dini. Ia sangat ingin menikahi wanita idamannya itu secepatnya. Namun, Ia pun tak dapat menyetujui permintaan Ayah Wulan untuk saat ini. Sebab, tentu ini bukan waktu yang tepat untuknya melangsungkan pernikahan. Kondisi The Big Five yang tengah terpuruk dengan berbagai teror yang mengahntui mereka. Ditambah lagi Gladys yang belum juga ditemukan. Semua hal itu mendesak nya untuk segera menyelesaikan perkara-perkara tersebut.
"Bi, Wulan minta tolong ke Abi, tolong kasih waktu untuk Mamet. Wulan juga pingin banget segera nikah sama Mamet. Tapi, ini bukan waktu yang tepat Bi!" ucap Wulan, memecah keheningan.
__ADS_1
"Iyaa lan, Abi paham betul kok. Tapi, selama belum ada ikatan yang sah diantara kalian berdua maka kalian tidak boleh bersama lagi! Itu termasuk zina Lan! Apa kamu ga kasian sama Abi, kalo semisal di alam kubur nanti Abi dicambuk karena perbuatan mu ini!" ucap Ustadz Bubun, setengah membentak.
Setelah beberapa lama terdiam, akhirnya Mamet pun angkat bicara.
"Baik Pak, saya janji saya akan segera menikahi Wulan secepatnya! Setelah semua masalah yang sedang kami hadapi selesai. Tolong beri kami waktu Pak." ucap Mamet, memohon.
"Nak Mamet, kalau semisal kita tunggu sampai perkara itu selesai, maka entah kapan selesainya. Dalam Islam, sebaiknya kita lebih memilih hal yang lebih banyak kebaikan dan menghindari kemudharatan. Jadi menurut saya, sebaiknya Nak Mamet segera menikahi Wulan. Supaya kalian berdua juga selamat. Tidak ikut terkena teror itu." pinta Ustadz Bubun.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Met.. Met.. jujur ya Met, kalau boleh marah, mungkin gue bakal marah saat ini juga. Kalau boleh kecewa, mungkin gue bakal kecewa saat ini juga. Kalau boleh benci, mungkin gue bakal benci sama Lo sejak saat ini juga. Tapi untuk apa? Semua itu ga ada gunanya. Tapi gue salut sama lu bro! Lu masih bisa peduliin kita meskipun berhadapan dengan Bokapnya Wulan! Thanks Met!" ucap Jack, tersenyum ramah pada Mamet.
"Terus menurut lo, apa yang mesti gue lakuin Jack?" tanya Mamet.
__ADS_1
"Lo ga perlu tanya ke gue Met! Gue yakin lo pasti tau jawabannya. Lagian, apa yang dibilang sama Abinya Wulan ada benernya Met. Lagian ya, lo kan udah mapan, lo juga udah siap kan untuk bangun keluarga. Dan nikah muda itu juga adalah impian lo sejak lama. Lo itu orang baik, Wulan juga orang baik. Gue sebagai sahabat lo, merestui kalian untuk segera menikah!" ucap Jack, tersenyum lebar.
"Tapi Jack, masalahnya gue ga akan bisa ninggalin The Big Five di saat kita lagi terpuruk sekarang ini. Lo yang nunjuk gue sebagai Panglima Tempur The Big Five, dan gue udah berjanji untuk ga bakalan mundur dari Medan Perang sampai masalah ini bener bener kelar!" tegas Mamet.
"Dengan lo menikah sama Wulan, bukan berarti lo ninggalin tanggungjawab lo sebagai Panglima Tempur The Big Five kan Met? Gue yakin lo pasti bisa kok berusaha ngebangun keluarga, sambil berusaha untuk menyelamatkan masalah ini. Masalah ini kita urus bersama Met, tapi pernikahan lo itu yang bakal lo jalanin dengan pilihan lo sendiri kedepannya! Itu lah Medan Tempur yang sesungguhnya!" ucap Jack, meyakinkan.
Mendengar ucapan sahabatnya itu, Mamet pun terharu. Tanpa aba-aba Ia pun langsung memeluk erat sahabat nya itu. Seerat dan sekuat yang Ia mampu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah bertemu dengan Jack di Markas The Big Five, dengan mengantongi restu sahabat nya itu Ia pun segera pergi menjemput Wulan di SMA Nusa Bangsa. Kebetulan Wulan sudah keluar dari kelas, bel pulang sekolah sudah berbunyi sejak lima menit yang lalu.
Mamet pun segera mengajak Wulan pergi ke rumahnya menemui Ayah dan Ibunya. Ia menjelaskan kepada orangtuanya. Awalnya, Ayah Mamet merasa keberatan karena rencana itu teramat mendadak. Selain itu, Mamet juga sebentar lagi akan melaksanakan ujian akhir. Namun, karena bujukan dari Ibu nya akhirnya, Ayahnya pun mengizinkan mereka.
__ADS_1
Akhirnya, keluarga besar Mamet dan Wulan pun bertemu. Dan pernikahan pun berlangsung empat hari setelahnya. Mungkin pernikahan itu mampu menahkan record persiapan pernikahan tercepat di dunia! Tapi ya memang begitu adanya.
Awalnya pernikahan itu ditentang habis habisan oleh anggota The Big Five lainnya, namun Jack berusaha meyakinkan mereka. Pihak sekolah pun sebetulnya kurang menyetujui pernikahan itu, namun karena Ustadz Bubun telah meyakinkan akhirnya diizinkan, dengan syarat Wulan tidak boleh hamil selama masih bersekolah di SMA Nusa Bangsa dan tetap fokus dalam menjalani pendidikan.