The Church Secrets

The Church Secrets
•• 00. PROLOG ••


__ADS_3

< Akademi Maria >


Livy : "Sa-saya tidak tau apapun.. saya tidak tau siapa.." *gemetar


{ Livy Grove -- ?? (17 th) }


Guru : "Itu tidak mungkin! Dasar pembohong!!"


Livy : "Saya-. Saya berani bersumpah. Saya-." *ketakutan


Guru : "Mencuri salah satu barang berharga milik keluarga Anderlecht, bukankah itu keterlaluan? Terlebih lagi sekarang kau berani mengelak."


Livy : "Uh!"


?R : "Yaampun ternyata disini."


Livy : "Uh-huh!"


?R : "Kenapa rapatnya harus diadakan disini?"


Guru : "Tu-tuan Reagan, tuan Kai?"


{ Reagen ven Anderlecht -- Putra kedua keluarga Anderlecht (25 th) }


Kai : "Jadi dia gadis yang berani mengambil barang berharga keluarga kami?"


{ Kai ven Anderlecht -- Putra ketiga keluarga Anderlecht (25 th) }


Livy : "Uh-huh!!"


Kai : "Heh! Nyalimu lumayan juga ya.."


Livy : //gemetar. "A-aku mohon percayalah..! Aku.." *gemetar *gugup ketakutan


.


.


*PLAKK!!


.


.


Guru : "KENAPA KAU MASIH BERANI MENGELAK?!!"


Guru : "DASAR TIDAK TAU MALU!! KAU BERANI BERBOHONG DI DEPAN KELUARGA ANDERLECHT!!"


Livy : Uh-huh..?!! (keluarga Anderlecht?) *ketakutan


.


.

__ADS_1


.


.


.


Reagen : //memasangkan kalung rantai.


Livy : "Uh-huh!!"


Reagen : "Tenang saja.. kita akan memeriksa kasus ini sesegera mungkin."


Livy : //gemetar


Reagen : "Tapi sebelum itu.. kau harus menjadi mainan sementara kami.. Livy ven Anderlecht." *bisik


Livy : "Uh-huh..!!"


/////////////////////////////////////////////////////////////////


Reagen : "Kak, kami sudah membawanya."


Livy : "Uh."


?A : "Kalian cepat juga."


{ Arthur ven Anderlecht -- Putra pertama keluarga Anderlecht (29 th) }


Reagen : "Adik kecil kita ini penurut, jadi aku tidak perlu susah payah memberinya pelajaran."


Arthur : "Baguslah dia penurut. Hei Livy, aku ingin tanya padamu. Apa benar kau yang mencuri benda itu?"


Livy : //ketakutan. "Ti-. Tidak.." *gemetar. "Saya-."


Arthur : "Begitu, tapi sayangnya ucapanmu tidak bisa diterima begitu saja."


Livy : "Uh!"


Arthur : "Jadi untuk memastikan hal ini. Kau harus tetap menjadi peliharaan kami. Mengerti?"


Livy : "Uh." *gemetar


Kai : "Hentikan, kau malah membuatnya ketakutan."


Arthur : "Oh, maaf. Kamu tidak perlu takut, selama kamu menurut semuanya akan baik-baik saja. Dan juga kalung rantai ini.. jangan pernah kau lepas mengerti?"


Livy : "Ehm."


Saat itu.. pertama kalinya setelah terakhir kali aku berani menatap wajah para bangsawan.


Akademi dipenuhi dengan putra putri bangsawan. Tidak, setidaknya keluarga mereka memiliki hubungan dengan bangsawan. Entah itu bekerja di pemerintahan, atau menjadi bagian dari keluarga itu sendiri seperti selir atau kerabat jauh.


Posisi Livy di akademi adalah yang terbawah. Livy tidak memiliki hubungan apapun dengan bangsawan. Kedua orang tuanya membuangnya saat usianya menginjak 5 tahun. Livy sangat mengingatnya dengan jelas, tapi saat itu juga Livy menyadari posisinya.

__ADS_1


"Gereja menolak keberadaan mu!"


Itulah yang dikatakan orang-orang.


Ada mitos yang beredar kalau ada orang yang ditolak keberadaannya oleh Gereja, dia adalah seorang iblis. Dan begitulah para murid akademi memanggil Livy.


"Iblis buangan neraka."


Orang-orang memiliki aura tersendiri. Aura itu berasal dari energi spiritual mereka, yang akan menentukan sifat dasar, dan juga tingkat kekuatan yang dimiliki. Umumnya remaja 13-19 tahun memiliki energi >250. Tapi energi Livy melebihi 250. Meskipun melebihi murid normal, karena auranya berbeda dengan yang lainnya, teman-teman mulai menjauh, para guru juga menjauhkan Livy dari yang lainnya, bahkan warga disekitar juga begitu. Hal itu karena mereka percaya kalau Livy adalah titisan iblis neraka.


Arthur : "Kalau begitu Livy, kau tau kalau keluarga Anderlecht adalah keluarga bangsawan yang ditugaskan untuk menjaga Gereja kan?"


Livy : "I-iya."


Arthur : "Tapi kenapa kau masih berani mencuri harta peninggalan milik keluarga kami?"


Livy : "Saya mohon.. percayalah."


Arthur : "Kalau begitu kita anggap saja kau tidak melakukannya. Sejujurnya aku tidak begitu peduli dengan barang yang hilang itu."


Livy : "Uh?!"


Arthur : "Para tetua itu terlalu perfeksionis dan perhitungan. Anggap saja kalau pembicaraan ini hanya sebagai formalitas saja."


Kai : "Jika saja tetua sebelumnya tidak ikut turun tangan dia pasti masih hidup."


Livy : //mengingat masa lalunya


.


.


.


.


Arthur : "Matamu.. benar-benar persis.. seperti ibu."


Reagen : "Iya kan."


Livy : "Uh-huh?!!"


Kai : "Jadi, mau kita apakan gadis ini? kita sudah mencarinya selama berbulan-bulan kan?"


Arthur : "Bagaimana ya.. untuk sementara waktu dia akan menjadi pelayan disini. Beritahu Lilyana dan Tom."


Reagen : "Kau yakin kak?"


Arthur : "Ya.. dia harus belajar, tentang bagaimana cara bekerja." *tatapan mata menyala


Livy : "Uh..?!"


Saat itu.. tatapan mata mereka menyala terang. Semerah darah, sekilau emas, secerah matahari. Menakutkan.. tapi entah kenapa.. aku merasa sangat aman.

__ADS_1


𝓟𝓻𝓸𝓵𝓸𝓰,


𝓢𝓮𝓵𝓮𝓼𝓪𝓲~


__ADS_2