The Church Secrets

The Church Secrets
•• 05. Gereja (3) ••


__ADS_3

Satu dari 5 keluarga penjaga Gereja, keluarga Norah memiliki keturunan yang nyaris sempurna di mata rakyat. Hanya saja.. masih ada sistem yang berlaku di keluarga mereka.


Sistem yang terpopuler di kalangan masyarakat yang akan menjadi pewaris keluarga selanjutnya.


....


Marina : "Setengah benar itu.. maksudnya.. tidak ada atau ada? "


Reagen : "Mau ku perlihatkan? "


Marina : "Hm? "


Reagen berdiri dan menuju ke arah dapur..


Livy : "Uh! "


Reagen : //memasangkan kalung rantai di leher Livy.


Livy : "Uh-huh..?! "


Reagen : "Kamu harus bisa bersandiwara di hadapannya.. " *bisik


Reagen menarik rantai dan memperlihatkan sosok Livy di hadapan Marina..


Reagen : "Bagaimana? Dia menarik kan? " *menarik dagu Livy.


Marina : "Uh?!! "


Kai : "Apa-apaan.. "


Marina : "Jadi.. dia ya, yang dibicarakan oleh semua orang? " *tatapan mengancam


Livy : //gemetar. "(tatapan itu.. sebelumnya pernah kulihat.) "


Reagen : "Aku tidak tau kalau dia akan banyak dibicarakan. Matanya benar-benar indah~ "


Livy : "Hm."


Reagen : "Pada saat keluarga Norah memungut anak selir untuk dijadikan pewaris, bagaimana reaksi para tetua? " *nada merendahkan.


Marina : " Uh! Maaf, tadi anda bilang apa? "


Reagen : "Bukan apa-apa. "


Marina : //meletakkan gelas. "Memang benar.. matanya memang sangat indah~ Kira-kira berapa harganya kalau dijual? " *mengintimidasi Livy.


Livy : //gemetar. "(apa mataku mengganggu?!) " *menunduk gemetar.


Reagen : "Dijual ya~ ? Ya~ kalau soal harga sih, sepertinya tidak ada satupun orang di dunia ini yang bisa membelinya. "


Marina : //tatapan kesal


Reagen : //memeluk Livy. "Ahh~ sepertinya lain kali anda harus melihat situasi sebelum datang, nona Marina~? "


Marina : "Saya minta maaf tuan. Tapi sejujurnya saya kemari karena ingin bertemu tuan Arthur. "


Reagen : "Tapi tadi kau bilang ingin membicarakan soal jamuan kan? Sudahlah.. ini sudah malam, kelinci kecil kami juga perlu waktu untuk tidur, kan~ ? "


Marina : "Kalau begitu, maaf mengganggu waktu anda sekalian. Saya permisi. "


Marina pergi dengan perasaan kesal..


Livy : //gemetar. "(tatapannya.. menyeramkan.) "


Reagen : "Kelinci kecil? "

__ADS_1


Livy : "Uh. "


Reagen : "Apa kamu kedinginan? "


Livy : "Uh? ti-tidak.. "


Reagen : "Lalu kenapa kamu gemetar? "


Livy : "Uh?! (saking takutnya tubuhku sampai gemetar) "


Reagen : "Kamu tidak perlu takut pada Marina. Dia hanya memanfaatkan harta rakyat dan keluarganya demi mendapat kedudukan. Tanpa uang dan harta dia bukan siapa-siapa. "


Livy : "Kakak.. "


Kai : "Aku mau tidur. "


Reagen : "Nah, kelinci kecilku juga harus tidur. " *melepaskan rantai.


Livy : "Baik. Selamat tidur, kak Reagen, kak Kai. "


Reagen : "Uh! "


Livy berbalik badan dan pergi menuju kamarnya.


.


.


.


.


.


“𝘓𝘪𝘷𝘺~ " "𝘏𝘌𝘐 𝘒𝘈𝘜!! 𝘋𝘈𝘚𝘈𝘙 𝘉𝘜𝘈𝘕𝘎𝘈𝘕!! "


Livy : "UH-HUH!! " *gemetar *keringat dingin. *hosh *hosh *hosh..


Lilyana : "Livy, aku masuk ya. "


Livy : "Uh?! "


Lilyana : "Hm? Kenapa wajahmu pucat begitu? "


Livy : " Uh?! "


Lilyana : "Lagi-lagi kamu tidak menyadarinya ya? Kenapa kamu selalu tidak sadar kalau tubuhmu gemetar atau sebagainya? "


Livy : "Entahlah.. bukankah itu normal? "


Lilyana : "Ha? Normal? "


Livy : "Habisnya, manusia tidak menyadari hal itu jika sedang syok. "


Lilyana : "Iya juga ya.. "


Livy : "Lily, apa pekerjaanku sekarang? "


Lilyana : "Ohh, hari ini tuan Arthur ingin mengajakmu keluar. "


Livy : "Uh?! "


Lilyana : "Mungkin tuan ingin mengajakmu ke Gereja. "


Livy : "Uh-huh!! " *mengingat kejadiannya dulu. "L-Li-Lily! apa boleh aku menolak permintaan tuan Arthur?! "

__ADS_1


Lilyana : "Ti-tidak bisa, kalau tuan Arthur.. "


Livy : //gemetar


....


(*setelahnya.. di ruang kerja Arthur)


Arthur : "Ha? "


Livy : "Apa.. boleh.. saya diam di rumah saja hari ini? " *menunduk gemetar


Arthur : "Apa yang membuatmu yakin aku akan mendengarkan ucapanmu? "


Livy : "Uh! Aku-. "


Arthur : "Livy, jangan bodoh. Aku punya aturan mutlak disini. "


Livy : "Saya minta maaf, tuan. "


Arthur : //menarik dagu Livy.


Livy : "Uh?! "


Arthur : "Kenapa.. cuma aku..? "


Livy : "Eh? "


Arthur : //melihat leher Livy. "Siapa yang melakukannya? "


Livy : "Kak.. Reagen. "


Arthur : "Dasar Reagen. Sudahlah.. kita pergi sekarang. "


Livy : "Baik. "


Arthur : //melirik ke arah Livy.


Setelah kedatangan Marina kemarin, membuat Livy teringat akan beberapa teman dan guru di Akademi Maria.


Marina menaruh perasaan pada Arthur. Tapi bukan hanya sekedar perasaan.


Arthur : "Livy, apa kamu akan menurut? "


Livy : "Iya, saya akan-. "


Arthur : "Kalau begitu hentikan bahasa formalmu itu. "


Livy : "Uh. Iya.. "


Arthur : "Aku pikir dengan memperlakukanmu sebagai pelayan, orang-orang tidak akan tau tentangmu. Tapi aku tidak menyangka beritanya bisa cepat menyebar. " *mendekat


Livy : "Hmp."


Arthur : "Aku rasa kamu tidak perlu membohongi orang lain lagi. Kamu tidak perlu berpura-pura menjadi pelayan lagi, jadilah dirimu yang seharusnya. "


Livy : "Iya. "


Arthur : //mencakar leher Livy //menghisap darah


Livy : "(Sakit.) " *berusaha menahan sakit.


𝓖𝓮𝓻𝓮𝓳𝓪 (3),


𝓢𝓮𝓵𝓮𝓼𝓪𝓲~

__ADS_1


__ADS_2