
Keluarga Anderlecht, salah satu dari 5 keluarga besar yang menjaga Gereja. Sebuah keluarga yang penuh dengan misteri. Keluarga ini pernah ditentang oleh beberapa pendeta karena sifatnya yang kasar. Tapi karena energi dan kekuatan yang dimiliki keluarga ini disetujui oleh para tetua.
Hal yang membuat keluarga Anderlecht bisa diterima tidak lain dari seorang wanita dari keluarga Anderlecht. Lethicia ven Anderlecht, adalah wanita yang dikagumi oleh para tetua. Ia berhasil meyakinkan orang-orang untuk percaya pada Gereja. Juga mengusir para iblis sesungguhnya, yang mencoba untuk mencuri ataupun menghancurkan Gereja karena dipenuhi oleh kebencian.
(*Lethicia adalah nenek dari Arthur, Reagen, dan Kai.)
Livy : "A-apa.. maksud tuan..? saya tidak mengerti."
Kai : "Bukankah sudah kubilang bicaranya biasa saja?!"
Livy : "Uh. Maaf.. "
Kai : "Ceritanya panjang. Kau tidak masalah jika kuceritakan?"
Livy : "Ti-tidak perlu. Tuan-."
Kai : //menarik dagu Livy. "Panggil aku kakak."
Livy : "Uh! " *gemetar. "Ka.. kak.. "
Kai : "Aku sudah tau semuanya. Tenang saja, kau bisa cerita apapun denganku, temui saja aku kapanpun kau mau. Mengerti?"
Livy : "Ta-tapi.. jika.. yang lainnya bertanya.. aku-."
Kai : "Memangnya mereka siapa bisa mengatur ku? Aku tidak peduli, yang penting kau harus berani bicara dan juga.. jangan pernah menyembunyikan masalahmu."
Sesaat.. kata-katanya mengajarkanku banyak hal. Meskipun aku masih merasa takut, tapi kata-katanya meyakinkan ku banyak hal.
Kai : "Kau.. tidak mau tau kenapa kami melakukan ini semua?"
Livy : "Uh. " *ragu. "Aku sadar.. aku tidak memiliki apapun. Aku.. tidak seharusnya mempertanyakan hal itu."
Kai : "Ck. Kau ini, ya memang kau tidak akan berubah dalam waktu singkat sih."
Livy : "Aku minta maaf.. " *nada rendah
Kai : "Sudah. Ini bukan salahmu. "
Livy : "Uh." *ragu. "Kak.. Kai.."
Kai : "Uh!"
Livy : "Apa aku.. boleh memanggil kakak begitu?" *ragu
Kai : "Boleh kok. Aku tidak akan melarang mu."
Livy : //angguk.
....
Reagen : "Kai itu tidak sabaran ya~"
Tom : "Saya rasa tuan Kai sangat ingin bicara dengan nona."
Reagen : "Dasar. Padahal saat makan tadi dia sangat dingin."
Arthur : "Meskipun terlihat dingin, Kai tetaplah Kai. Dialah yang paling bisa diandalkan dalam hal ini."
__ADS_1
Reagen : "Ya.. aku juga mau bicara dengannya sih. Tapi kurasa.. aku harus menunggu momen yang tepat." *murung
Tom : "Tuan Reagen tidak perlu khawatir, saya yakin nona hanya perlu beberapa hari saja untuk beradaptasi disini. Karena bagaimana pun, meskipun terlihat sangat penakut aslinya nona adalah anak yang mudah beradaptasi."
Reagen : "Heh~ ternyata dia orang seperti itu. Pantas saja cocok dengan Kai. Kepribadian mereka berbanding terbalik kan?"
Tom : "Anda benar, tuan Reagen. "
Arthur : "Huh.. andai saja para tetua itu tidak egois. Bagi mereka kita ini siapa?"
Reagen : "Karena kartu As nya ada di kita aku rasa akan baik-baik saja. Kita tidak perlu merahasiakan keberadaan Livy disini. " *berdiri *meminum wine. "Hah.. aku rasa ada bagusnya kalau aku turun tangan langsung. Bagaimana, kak?"
Arthur : "Hmph. Kau tidak pernah berubah ya, pergilah.
.
.
.
.
.
Livy : " Uh?! "
Reagen : " Hmph. "
Livy : "Selamat-."
Reagen : //menarik tangan Livy
Livy : "Uh-huh?!! "
Livy : "Sa-saya harus menyelesaikan tugas sore saya. Maaf.. saya-."
Kai : "Kau mau mengajaknya kemana?! "
Reagen : "Oh, Kai. Kelihatannya kau sudah akrab dengannya ya! "
Kai : " Ck. Itu bukan urusanmu! "
Reagen : "Kalau begitu kemanapun aku membawa nya bukan urusan mu. Te-ehh :p " *menarik tangan Livy
Kai : "REAGEN!! "
Reagen : "Shh.. masuk ke mobil. "
Livy : //angguk
Reagen : //naik ke mobil. "Kita pergi. "
Supir : "Baik."
Kai : "DASAR REAGEN " 💢💢
Reagen : "Haha! "
__ADS_1
Reagen ven Anderlecht, paling kuat diantara saudaranya. Selain kuat ia juga berjiwa bebas dan tidak suka dikekang. Bertindak seenaknya, dimanapun dan kapanpun. Para tetua tidak menyukainya. Tapi dia tetaplah menjadi andalan bagi keluarga Anderlecht.. sebagai petarung.
Livy : //terdiam
Reagen : "Hei."
Livy : "Uh!"
Reagen : "Aku bosan. "
Livy : "??? "
Reagen : "Aku bosan, lakukan sesuatu. "
Livy : //menunduk. "(aku.. harus melakukan apa?)"
Reagen : //senyum. "Hei coba katakan sesuatu. "
Livy : "Uh? Se.. suatu? "
Reagen : //mendekat
Livy : "Uh-huh! " //wajah memerah
Reagen : "Wajahmu memerah tuh~ "
Livy : //memalingkan wajah. "Saya minta maaf. "
Reagen : "Hm? "
Livy : "(aku.. apa aku harus keluar dengan memakai kalung rantai ini? Ini sangat memalukan tapi..)" *mengingat hak buruk yang pernah dialami di Akademi.
Reagen : " Aku bisa baca pikiranmu lo. "
Livy : "Uh! "
Reagen : //melepas rantai
Livy : "Uh-huh?!! "
Reagen : "Nah, sudah kulepas. "
Livy : "Ti-tidak boleh.. jika tuan Arthur tau beliau pasti akan marah. " *memohon
Reagen : "Hm? " *tatapan serius
Livy : "Saya mohon.. tuan Reagen. "
Reagen : "Tidak perlu khawatir, di rumah cuma ada kita. Jangan takut. "
Livy : "Tapi.. "
Reagen : "Ahh! Sudah. Sudah. Aku bosan tau."
Livy : "Uh. Saya.. minta maaf."
Reagen : "Ck."
__ADS_1
𝓐𝓼𝓪𝓵-𝓾𝓼𝓾𝓵 𝓴𝓮𝓵𝓾𝓪𝓻𝓰𝓪,
𝓢𝓮𝓵𝓮𝓼𝓪𝓲~