
Hukum di Gereja menyatakan, kalau iblis adalah mahkluk yang menyeramkan. Banyak orang tua juga menakut-nakuti anak mereka agar tidak berbuat nakal seperti layaknya iblis.
Salah satu benda pusaka milik Gereja hilang saat akademi melakukan kunjungan ke Gereja untuk berdoa bersama. Saat itu lonceng Gereja terdengar, rumornya kalau lonceng Gereja berbunyi ada iblis di dalam Gereja. Disaat yang bersamaan benda pusaka milik keluarga Anderlecht yang diletakkan di Gereja sebagai bentuk rasa hormat.
Saat benda itu hilang, satu-satunya orang yang disalahkan..
🗣️ : "Livy!! bukankah energinya berbeda?!"
🗣️ : "Tampangnya saja sudah seperti iblis."
Meskipun tidak ada bukti yang cukup. Tapi karena para guru sangat takut dengan bangsawan keluarga Anderlecht, dan juga para tetua yang menjaga Gereja, pada akhirnya mereka memaksa Livy untuk mengakuinya.
Dan karena itu juga.. akademi terpaksa ditutup sampai para tetua dan bangsawan menemukan pelakunya.
....
Livy : //menyapu halaman
Lilyana : "Dia sangat rajin ya, dia bisa bangun lebih pagi."
{ Lilyana March -- Kepala pelayan keluarga Anderlecht (34 th) }
Tom : "Kau benar."
{ Tom Rouen -- Pengasuh keluarga Anderlecht (60 th) }
Lilyana : "Aku rasa tuan Arthur sangat menyukai anak itu."
Tom : "Dia memiliki mata yang unik. Meskipun begitu, rumor tentang anak itu benar-benar kelam. Syukurlah tuan Reagen menemukannya lebih dulu daripada keluarga bangsawan lainnya."
Lilyana : "Hei Tom, dia sudah bekerja dari pagi hingga siang. Bukankah sekarang saatnya dia untuk makan?"
Tom : "Ya, kau panggil saja dia. Aku yakin tuan Arthur dan yang lainnya sudah selesai makan."
Lilyana : //tersenyum. "Hei nak..!"
Livy : "Uh?"
Lilyana : "Hari ini kamu sudah bekerja keras. Bagaimana kalau istirahat dulu? kamu masih melanjutkan pekerjaanmu nanti sore."
Livy : "Baik." *nada rendah
Lilyana : "Uh?" *ragu
.
.
.
(ruang makan)
Arthur : "Bagaimana dengan anak itu?"
Tom : "Dia bekerja dengan giat, anda tidak perlu khawatir tuan."
Arthur : "Benarkah?"
__ADS_1
Reagen : "Heh~ aku jadi menyukainya."
Tom : "Sampai kapan tuan ingin melakukan ini?"
Arthur : "Entahlah.. mungkin.. sampai dia mengerti, tentang pentingnya kejujuran dibandingkan orang lain."
Tom : "Iya, tuan memang benar."
Reagen : "Tom, tambah minuman ku."
Tom : "Baik, tuan Reagen."
Kai : "Dalam waktu dekat keluarga Grace akan datang."
Arthur : "Uh."
Reagen : "Heh~ keluarga Grace? bukankah itu bisa jadi bencana?"
Kai : "Aku yakin saat ini para bangsawan akan sering datang kemari. Setelah mereka mengetahui kalau Livy ada disini, mereka pasti akan berusaha mengambilnya."
Reagen : "Oh~ aku ingat. Bukankah yang dapat menemukan pelakunya lebih dulu.. akan mengambil alih gelar kan?"
Arthur : "Yang pasti..! bukan Livy pelakunya. Guru-guru itu sangat lemah dan bodoh. Mereka hanya mengandalkan rumor."
Reagen : "Loh kak.. apa kau sangat marah?"
Arthur : "Entahlah." *berdiri
Tom : "(Aku rasa untuk sekarang dia yang harus di khawatirkan. Berbeda dengan gadis seusianya, dia sangat polos dan penurut.)"
.
.
.
Livy : //mencuci piring
Lilyana : "Livy, sekarang berapa usiamu?"
Livy : "17 tahun."
Lilyana : "Apa kau terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah?"
Livy : " Iya. "
Lilyana : "Ngomong-ngomong Livy, apa kau nyaman berada disini?"
Livy : "Uh." *terdiam sesaat. "Tidak juga.. "
Lilyana : "Begitu ya. (kupikir dia akan bertanya balik.) "
Livy : "(aku pikir sebaiknya aku diam saja.)"
Tom : "Kalian sudah selesai mencuci piring?"
Livy : "Sudah."
__ADS_1
Lilyana : "Ada apa Tom, kenapa wajahmu kaku begitu?"
Tom : "Sebenarnya ya, tuan Kau ingin bicara dengan Livy. "
Livy : "Uh-huh?! Apa aku membuat kesalahan?"
Tom : "Uh. Aku rasa ada hal lain yang ingin dibicarakan."
Lilyana : "Kau tidak perlu takut Livy. Meskipun terlihat dingin tapi tuan Kai yang paling pengertian dan juga penyayang."
Livy : "Begitu.. ya. "
Tom : "Kamar tuan ada di lantai 2 paling ujung."
Livy : "Aku akan ke sana. Terimakasih."
Kai ven Anderlecht, ia adalah jenius dari keluarga Anderlecht. Saat usianya menginjak 7 tahun ia bisa memahami tulisan-tulisan kuno dengan cepat. Energi yang ia miliki juga berhubungan dengan kecerdasan miliknya. Diluar dia selalu bersikap dingin. Bahkan dia satu-satunya saudara yang memanggil nama kakaknya secara langsung. Para tetua sangat berharap Kai menjadi kepala keluarga selanjutnya. Tapi ada satu hal yang membuat para tetua berubah pikiran.
*tok.. *tok.. *tok..
Kai : "Masuk."
Livy : "Permisi.. "
Kai : "Duduklah."
Livy : //duduk
Kai : "Uh?" *memperhatikan goresan di pipi Livy. "ada apa dengan wajahmu?"
Livy : "Uh! ini.. tadi saya tergores ranting pohon. Jadi.. " *ragu
Kai : "hm? "
Livy : "M-maaf tuan.. apa saya membuat kesalahan?" *ragu *menunduk. "Jika saya melakukan kesalahan saya minta maaf. Saya berjanji akan lebih berhati-hati lagi. "
Kai : "Kau ini bicara apa? aku memanggilmu bukan karena kau membuat kesalahan."
Livy : "Begitu.. ya."
Kai : "Dan juga, tidak perlu bicara terlalu formal. Karena kita ini saudara."
Livy : "Uh!!"
Kai : "Naikkan wajahmu. Tidak perlu takut saat bicara denganku."
Livy : " A-apa.. maksud tuan tadi?"
Kai : "Apa kau tau kenapa kau dibawa kemari?"
Livy : "Ka.. rena.. untuk menyelesaikan kasus-."
Kai : "Bukan. Kau dibawa kemari karena kau adalah putri dari keluarga Anderlecht. "
Livy : "Uh-huh!! "
𝓚𝓮𝓵𝓾𝓪𝓻𝓰𝓪 𝓐𝓷𝓭𝓮𝓻𝓵𝓮𝓬𝓱𝓽,
__ADS_1
𝓢𝓮𝓵𝓮𝓼𝓪𝓲~