
Keluarga Islwyn, terkenal karena mengimpor pasokan makanan terbesar di negeri. Keluarga mereka juga terkenal dermawan dan baik pada rakyat. Hubungan keluarga Islwyn dengan Anderlecht terbilang baik. Tidak ada dendam satu sama lain, dan berkomunikasi dengan akrab. Bisa dibilang keluarga Islwyn sudah seperti saudara bagi keluarga Anderlecht.
Dion : "Seperti biasanya anda memang hebat ya~ para warga pasti sangat menyukai anda. "
Austin : "Saya anggap itu sebagai pujian, tuan Dion. "
Dion : "Anehnya ya~ terkadang saya curiga kenapa anda bisa sebaik itu membagikan makanan pada rakyat jelata itu? "
Austin : "Keluarga Islwyn memang memiliki tujuan yang tetap. Saat orang-orang mendapatkan makanan yang cukup, maka keluarga Islwyn bisa sangat bersyukur. "
Dion : "Heh~ tujuan anda sungguh mulia."
Austin : "Tidak, kami hanya percaya kalau yang kami lakukan dapat
Apa putramu juga berfikir demikian? "
? : "Huh.. "
{ Reyner Islwyn -- Calon kepala keluarga Islwyn, putra kedua keluarga Islwyn (19 th? }
Dion : "Tuan Austin, anda memutuskan untuk mengangkat putra kedua anda sebagai kepala keluarga saat usianya 25 tahun. Jika sekarang rakyat berbahagia, sepertinya anda sangat yakin kalau putra anda bisa melakukan hal yang sama. "
Austin : "Rey-."
Reyner : "Ayah izinkan aku yang menjawab. "
Arthur : "Hmph."
Reyner : "Tujuanku dan ayah sama. " *melirik ke arah Arthur. "(siapa gadis itu?) "
Livy : "Uh? (apa barusan dia melihat ke arahku?) "
Reyner : "Tuan Dion, bukankah sebaiknya anda mengatur keluarga anda sendiri? " *menyeringai
Dion : "Uh! " *kesal
Reyner : "Ngomong-ngomong sebelumnya putri anda, Marina. Sudah mempermalukan adikku di acara jamuan keluarga Norah. "
Austin : "Reyner? "
Dion : "Heh! kenapa malah membahas hal itu? Anggap saja itu sebagai candaan wanita. "
Marina : "Mohon maaf saya menyela. "
Semua tertuju pada Marina..
Marina : "Saya mohon maaf soal adik anda, tuan Reyner. Tapi acara jamuan itu saya adakan untuk mempererat hubungan antar keluarga. Khususnya para wanita dan gadis. Ya, tentunya anggota keluarga Anderlecht tidak bisa datang karena tidak memiliki anggota keluarga perempuan. "
Arthur : "Hmph."
Marina : "Mungkin Fay kurang cocok berada di sana, saya mohon maaf bila menyinggung adik anda."
Reyner : //mengingat adiknya. "Ya, anda benar. Maaf ya, mungkin saya terlalu mengambil hati. "
Marina : "Bukan masalah tuan. "
Dion : "Terimakasih karena tuan muda Reyner mau mendengarkan putri saya. "
Tetua 2 : "Ki-kita lanjutkan.. "
Tetua 3 : "Kami berencana untuk.. "
.
.
.
.
__ADS_1
.
Rapat selesai..
Arthur : "Livy kamu lapar? "
Livy : "Tidak." *nada rendah
Arthur : "Begitu."
Thorne : "Kelihatannya kau menganggap serangga ini berbeda dari yang lainnya. "
Arthur : "Hm? "
Thorne : //tatapan sinis ke arah Livy.
Livy : //menunduk ketakutan.
Thorne : "Sampai jumpa lagi ya~ " *pergi
.
.
.
Reyner : "Kak Arthur. "
Livy : "Uh? "
Arthur : "Rasanya sudah lama kita tidak bertemu. Kau terlihat seperti pria sekarang ya. "
Reyner : "Ini berkatmu kan? Jika tidak.. aku pasti sudah lama mati. "
Arthur : Haha. //tertawa kecil
Reyner : "Ngomong-ngomong, dia siapa? "
Reyner : "Dia siap-?"
Austin : "Reyner? "
Reyner : "Oh, ayah. "
Austin : "Kalian sudah selesai berbicara? "
Arthur : "Sudah. Kita bicara lain kali lagi ya, Reyner. "
Austin : "Iya. Semoga hari kalian menyenangkan. "
Arthur : "Kapan-kapan mampirlah kerumah. "
Reyner : "Pasti."
.
.
*Cling!
.
.
Livy : //melihat gelang di lengan Reyner.
.
.
__ADS_1
Bersinar..
.
.
Saat kecil Reyner sangat mengagumi Arthur yang berani menolak aturan keluarga. Para tetua menolak Arthur sebagai calon kepala keluarga Anderlecht, tapi Arthur adalah orang yang tidak suka digugat.
(setelahnya, di dalam mobil.)
Arthur : "Kamu hanya diam saja selama rapat, apa tidak bosan? "
Livy : "Tidak.. "
Arthur : "Kamu lihat cara bicara keluarga mereka tadi? "
Livy : "Uh? "
Arthur : "Keluarga Norah dan Islwyn memiliki dendam satu sama lain. Keduanya mengincar keluarga kita. "
Livy : "Uh? kenapa? "
Arthur : "Karena keluarga kita spesial. "
Livy : "Uh? "
Arthur : "Ditambah sekarang ada kamu. "
Livy : "Aku-? "
Arthur : "Mungkin mereka belum menyadarinya. Jadi bagaimana tanggapanmu tentang kakek itu? "
Livy : "Uh? "
/mengingat kembali..
Livy : "Y-ya.. dia.. "
Arthur : "Apa sebelumnya kalian pernah bertemu? "
Livy : "Uh! "
Arthur : "Hm? "
.
.
.
Livy : "I-iya.. "
Arthur : "Heh~ ternyata tanpa kusadari kalian melakukan semacam reuni kecil ya. "
Livy : "Iya." *nada rendah
Arthur : "Bagaimana menurutmu tentang rapat tadi? "
Livy : "Seperti.. medan perang. "
Arthur : "Ungkapan yang bagus. Sepertinya kapan-kapan harus kamu yang datang kesini. "
Livy : "Uh. Tapi.. "
Arthur : "Jangan sedih, mereka hanya belum tau nilai dari sebuah berlian. " *mengelus kepala Livy.
Livy : "Ehm. " *angguk
𝓖𝓮𝓻𝓮𝓳𝓪 (5),
__ADS_1
𝓢𝓮𝓵𝓮𝓼𝓪𝓲~