The Irregular At Elite High School

The Irregular At Elite High School
Bab 10 Bet


__ADS_3

Sebuah email masuk ke handphone-ku di malam tepat sebelum semester baru dimulai. Itu adalah sebuah email dari pihak sekolah mengenai kelas yang akan aku tempati di tahun pertama ini.


'Kepada Shunsaku Tomo. Selamat, anda akan menempati kelas D.'


Di email itu terdapat kata 'selamat'. Namun aku ragu apakah berada di kelas D ini memanglah sesuatu yang patut untuk diselamati. Bagaimana tidak? Kita semua tahu bahwa abjad itu dimulai dari huruf A, dan sebelum ke D itu pun masih ada dua huruf lagi di bawahnya.


Yah, meskipun tidak suka, anggap saja itu sebagai pemanis untuk membuat peserta yang lulus menjadi bersemangat. Mengesampingkan hal itu. Sekarang, yang jadi masalahku justru apakah aku berada di kelas yang sama dengan Ichiji?


Di email itu tak terdapat informasi mengenai kelas yang didapat oleh siswa lainnya. Satu-satunya cara yang mungkin untuk mengetahuinya hanyalah dengan menanyakannya langsung kepada siswa tersebut. Menanyakannya kepada Si Ichiji? Yang benar saja.


Benar. Buat apa repot-repot memikirkannya. Besok aku tinggal datang ke sekolah saja dan semuanya akan menjadi jelas.


***


"Masih sepi ya?"


Ucap Kitagawa setelah mendapati kelas yang baru hanya dihuni oleh segelintir orang tersebut. Mereka adalah wajah-wajah asing yang juga baru pertama kali kutemui hari ini.


"Baguslah. Jadinya lebih bebas milih tempat duduknya kan."


Aku pun langsung bergerak. Targetku adalah sebuah bangku yang ada di sudut belakang dekat dengan jendela yang menghadap ke halaman sekolah. Ya, itu adalah spot yang terbaik untuk bersembunyi dan juga melihat pemandangan di luar sana.


"Oh.. lumayan juga di sini."


Ucap Kitagawa yang juga mengikutiku sampai ke sudut belakang kelas. Awalnya aku tak mengerti dengan apa yang ia lakukan di sini. Namun setelah melihatnya menarik bangku di sebelahku dan duduk di sana aku pun langsung menyadari maksudnya itu.


"Kamu mau duduk di belakang sini juga?"


"Seperti yang kamu lihat kan. Apa ada masalah?"


Ucapnya ketus. Wajahnya yang tadi secerah cuaca di pagi ini pun mendadak berubah kelabu.


"Kukira kamu lebih suka duduk di depan."


"Sebelumnya mungkin begitu. Tapi setelah kupikir-pikir lagi, rasanya di belakang sini lebih bagus."


Ia pun kemudian menggantungkan tasnya di samping meja dan mencoba duduk sambil membayangkan sedang menyimak pelajaran.


Aku tak mengerti apa yang dipikirkannya. Namun apa pun itu.. firasatku mengatakan kalau ia akan mengganggu selama berada di sini.


"Apa kamu yakin..?"


"Iya. Ga masalah."


Tampaknya pendirian orang ini sudah tertanam dengan kuat. Kalau begini aku harus menggunakan cara lain mengusirnya.


"Kalau duduk di belakang sini kamu malah jadi ga kelihatan lho.. Uda ga mau jadi pusat perhatian lagi ya?"

__ADS_1


"Ha? Haah?! Si-Siapa yang suka jadi pusat perhatian coba?!"


Responnya ternyata jauh lebih baik dari yang kuduga. Bagus, marah sajalah. Aku memang sengaja mengatakannya untuk membuatnya emosi.


"A-Apa aku kelihatan seperti itu? Beneran kelihatan begitu?"


Kenapa ia malah jadi khawatir. Aku yang mau membuatnya marah malah sekarang jadi kelihatan seperti sedang membulinya.


"Iya, seperti waktu ujian kemarin. Diskusi itu sebenarnya bisa tetap berjalan tanpa adanya ketua tim kan. Tapi waktu itu.. kenapa kamu mencetuskannya dan bahkan kamu sendiri juga yang mengajukan diri?"


"A-Apa salahnya? Aku kan cuma mau membantu.."


"Apa benar cuma itu?"


Kitagawa merapatkan bibirnya. Aku pikir ini adalah pertanyaan yang berat untuk seorang yang idealis dan juga polos seperti dirinya itu.


"Pandangan orang bukanlah hal yang harus kau pedulikan.. Fokus saja sama pembuktiannya."


"...."


Aku terkejut dengannya yang tiba-tiba mengulang kalimatku di perjalanan tadi.


"Menurutku itu ada benarnya juga. Dulu aku sengaja memilih untuk duduk di deretan terdepan supaya orang-orang mengira bahwa aku adalah seorang anak teladan. Aku terlalu peduli dengan bagaimana orang akan memandangku secara baik, bukan dengan bagaimana aku membuktikannya.


Ia menatap ke depan sambil bercerita. Jika kuperhatikan, hal terjauh yang ada di ujung pengelihatannya itu seharusnya adalah papan tulis yang ada di depan kelas sana. Namun entah kenapa, matanya yang tampak sendu itu kini seolah menatap ke sesuatu yang berada lebih jauh lagi daripada itu.


"Terus.. apa duduk di sini bisa membuatmu jadi lebih fokus untuk membuktikannya?"


Mendengar itu membuatku jadi kehilangan minat untuk mengusirnya lagi. Untuk seseorang yang sudah mencoba berubah ia patut untuk diberikan hadiah. Sebuah hadiah untuk bisa duduk di bangku sebelahku itu.


"Selamat pagi. Kepada seluruh siswa diharapakan untuk berkumpul di aula demi mengikuti upacara penyambutan tahun ajaran baru."


Setelah pengumuman itu disampaikan, seluruh siswa kelas D pun pergi ke aula dan berbaris mengikuti upacara pembukaan. 


Di panggung di depan sana tampak seorang laki-laki yang sedang berdiri di podium. Ia memiliki ekspresi yang tegas. Matanya yang berada di balik kaca matanya itu menatap tajam ke seluruh audiens di depannya.


"Hei, Shunsaku.."


Bisik Kitagawa yang berbaris di belakangku. Suaranya yang kecil dan halus itu sempat membuatku merinding.


"Ada apa?"


"Laki-laki di podium itu, ia kakakku lho."


Ucapnya dengan bangga seolah ingin memamerkan kakaknya itu.


"Oh ya. Dia palingan ketua OSIS-nya kan?"

__ADS_1


"Iya, kok kamu tahu?"


"Bukannya jelas. Yang bisa berdiri di sana palingan cuma ketua OSIS-nya saja."


Jawabku dengan penuh ketidaktertarikkan. Melihat dari bagaimana si ketua OSIS itu memimpin dan image yang diperlihatkannya itj membuatku merasa seperti melihat Kitagawa dalam versi premiumnya.


"Kitagawa.. Apa kamu mau mengikuti kakakmu itu?"


"..."


Kitagawa tak bersuara. Ia seolah membeku mendengar pertanyaanku barusan.


"Aku.. ga yakin bisa mengikutinya."


"Baguslah."


"Apa kamu mengejekku?"


Ucapnya dengan kesal. Mungkin ia merasa seperti aku menertawainya yang sedang terpuruk. Namun sungguh.. aku sama sekali tidak bermaksud demikian.


"Bukan mengejek. Maksudku baguslah kamu tidak mengikutinya. Untuk apa juga mengikuti orang seperti itu?"


"Untuk apa katamu..? Dia itu ketua OSIS sekaligus siswa peringkat pertama di tahun ketiga lho."


"Iya, terus.. Aku bahkan bisa jadi lebih daripada itu."


"Jangan bicara ngacau ya.. Bagaimana mungkin kamu bisa jadi lebih baik daripada kakakku?"


"Mau taruhan?"


"Ha? Taruhan apa?"


Kitagawa akhirnya tertarik dan memakan umpanku.


"Di awal tahun ketiga kita nanti. Kalau aku berhasil berpidato di podium itu, kau harus mengabulkan apa pun keinginanku."


"Kamu serius?"


Meski aku tak melihat ekspresinya. Namun dari suaranya itu jelas ia pasti meremehkanku.


"Apa kamu takut?"


"Mana mungkin.. Persaingan di sekolah ini berat. Jangan lupa, kamu juga harus mengalahkanku dulu."


"Ga masalah. Jadi apa kita sepakat?"


"Tentu saja, akan kubuat kamu mengabulkan keinginanku."

__ADS_1


"Iya, kita lihat saja.. Siapa yang akan tertawa di awal tahun ketiga nanti."


***


__ADS_2