
[Sudut Pandang Yagami Eiji]
Ada yang mengatakan bahwa dirimu sendiri itu adalah sang tokoh utama dalam cerita kehidupanmu. Untuk sebagian orang mungkin benar. Namun tidak untuk diriku
Rasanya tidak pantas jika menyebutku sebagai tokoh utama. Menurutku tokoh utama tidak ada yang berkemampuan standar. Ia juga tidak akan memiliki kehidupan yang monoton dan membosankan seperti ini.
'Sampai kapan aku akan menjadi tokoh sampingan di hidupku sendiri?'
Begitulah yang kupertanyakan sebelum akhirnya aku memutuskan pergi ke Akademi Golden Star. Itu bukanlah sebuah sekolah biasa. Itu adalah sebuah sekolah elit yang menjadi tempat berkumpulnya orang-orang elit juga.
Mendengar kata 'elit'.. siapa pun pasti tahu bahwa kehidupan mereka itu tidaklah biasa saja. Ya, Itulah yang menjadi tujuanku. Aku ingin mencoba menjalani hidup yang baru dan jauh dari kata monoton.
Ngomong-ngomong, ini adalah hari pertamaku bersekolah di Akademi Golden Star. Banyak hal yang menarik yang sebenarnya telah kusaksikan, mulai dari tahap ujian yang sulit dan tidak biasa, hingga adanya sistem poin individu seperti yang dijelaskan Haruka Sensei barusan.
Oh, Satu lagi.. Ada juga yang namanya quest. Itu adalah sebuah tugas khusus yang harus kami kerjakan untuk mendapat tambahan poin.
Semua yang kulihat di tempat ini memang sungguh menarik. Hanya saja aku tidak yakin apakah semua itu memang bisa mengubahku.
Saat ini aku masihlah menjadi Yamada Eiji, seorang anak laki-laki yang biasa saja sama seperti sebelumnya.
'Ini tidak bagus.'
Jika tidak melakukan suatu gebrakan, mau itu di sekolah elit atau lingkungan seperti apa pun.. rasanya tidak akan ada yang berubah dariku.
"Baiklah semuanya, itu tadi penjelasan mengenai sistem Poin Individu dan juga Quest. Kalian sudah ada bayangan kan?"
Tanya Haruka Sensei setelah menyelesaikan penjelasannya mengenai sistem poin individu dan quest tadi.
"Se-Sensei!"
Sahut seorang siswi perempuan yang duduk di barisan tengah. Ia memiliki penampilan yang kalem dan suara yang menunjukan jelas kegugupannya.
"Iya, Asahina."
"Anu, soal aturan mendrop out itu apakah serius?"
"Tentu saja, seperti yang kujelaskan tadi."
"Tapi Sensei.. aku ga mau sampai kehilangan teman sekelasku, apa lagi itu orang yang sudah kukenal lama dan juga dekat."
"Maaf Asahina.. Begitulah aturan sekolah ini."
"Apa memang ga ada yang bisa kulakuin? Bagaimana kalau aku membagi poinku ke teman dekatku? Mungkin dengan begitu aku bisa menolongnya kan."
Balas Asahina dengan penuh emosional. Siapa pun yang melihat ini pasti bisa merasakan ketulusan yang dimiliki oleh perempuan itu.
Bagaimana tidak? Disaat kami hanya memikirkan mengenai keselamatan diri sendiri, ia justru sempat-sempatnya memikirkan cara untuk menolong orang lain.
"Maaf.. Itu juga ga bisa. Poin itu ga bisa dibagikan ke orang lain dengan begitu saja. Kalau semua orang bisa membagikan poinnya, peringkat terendah sampai dengan yang tertinggi itu malahan bisa jadi tidak sesuai dengan kemampuannya."
Asahina yang kecewa mendengar itu seketika dihibur oleh para siswa yang ada sekelilingnya. Ia bak seorang pejuang. Tidak, mungkin lebih tepatnya seorang tokoh utama di kehidupannya.
"Baiklah.. apa ada yang mau ditanyakan lagi?"
"Sensei!"
Aku tidak ingin kalah dan kembali mengambil kesempatan untuk bertanya
__ADS_1
"Iya, Yagami."
"Seandainya dalam quest dibutuhkan dua orang atau lebih peserta untuk melakukannya. Apa kami boleh mengajak siswa dari kelas lain?"
"Boleh saja. Selama mereka masih di satu angkatan yang sama dan tentunya mau diajak."
Setelah jawaban yang terakhir itu tak ada lagi yang mau bertanya. Kepalaku pun rasanya sudah cukup menerima dengan segala informasi yang memusingkan itu.
"Kalau sudah ga ada pertanyaan lagi.. Bagaimana kalau sekarang kita memilih ketua kelas?"
Haruka Sensei tiba-tiba mengganti topik dan membuat pikiran kami beralih ke hal yang lain.
"Apa ada yang mau mencalonkan diri?"
Orang-orang tampak membuang wajah mereka seolah tidak mendengar apa yang baru saja dibicarakan. Yah, itu wajar. Untuk sebuah posisi yang menambah pekerjaan dan tidak menggajimu itu sudah pasti akan sepi peminat.
'Mungkinkah.. ini kesempatanku?'
Aku seperti mendengar sebuah suara di kepalaku. Suara itu bagaikan sebuah sihir yang membuat tangan kananku secara tiba-tiba telah terangkat ke atas.
'Apakah aku sudah gila?'
Mungkin iya. Namun aku tidak ingin mundur. Aku yang sudah sejak lama menginginkan sebuah perubahan akhirnya memiliki kesempatan. Ya, inilah saatnya menggebrak.
"Yagami, kamu mencalonkan diri?"
Tanya haruka Sensei mengkonfirmasi.
"Iya Sensei. Aku mencalonkan diri."
"Bagus. Mulai sekarang kamulah ketua kelasnya."
***
Bel istirahat pertama berbunyi dan para sisa mulai meninggalkan tempat duduknya. Sebagian besar pergi ke kantin, sedangkan sebagiannya lagi memilih untuk memakan bekalnya di kelas.
"Shunsaku.. Kamu ga ke kantin?"
Tanya Kitagawa sambil membuka suatu bungkusan kain berwarna biru di atas mejanya.
"Ga, aku belum laper."
"Seriusan?"
Kitagawa pun mengeluarkan sebuah kotak bekal dari balik bungkusannya tadi. Aku mencoba melirik sedikit, tampak ada berbagai hidangan yang mewah dan menggiurkan di sana. Ah, itu adalah sebuah kotak bekal yang cantik dan dibuat dengan sangat baik.
"Kamu mau coba?"
"Ha?!"
Tawarannya itu membuatku terkejut. Rasanya aku seperti tertangkap basah setelah mengintip sesuatu yang tidak seharusnya.
"Makasih.. Tapi aku memang masih belum laper."
"Sayang sekali.. padahal aku buatnya kebanyakan. Coba ada yang mau bantu ngabisin.."
Kitagawa melirikku seolah menunggu sebuah belasan. Ah, orang ini mulai menyebalkan. Apa ia sebegitu percaya diri dengan masakannya? Awas kalau itu tidak enak sedikit saja, aku tidak akan segan-segan memberinya komplain.
__ADS_1
"Baiklah, boleh aku cobain?"
"Iya, tentu saja."
Raut wajahnya kini terlihat begitu puas.
"Hei.."
Aku menghentikan Kitagawa yang sedang menyodorkan sepotong telur dadar dengan sumpit ditangannya.
"Kamu ngapain?"
"Ngasi kamu nyoba bekalku kan.. Kenapa?"
Tanyanya dengan wajah yang polos dan tak berdosa. Aku heran, dia ini sebenarnya pintar apa bodoh ya? Kalau begini sih aku harus lebih berhati-hati.
"Anu.. sumpitnya, biar aku saja yang pegang."
"...."
Wajahnya tiba-tiba memerah. Ia pun mengoperkan sumpitnya dan membiarkanku makan dengan tanganku sendiri. Ah, generator di kepalanya itu akhirnya bekerja juga. Ia pasti baru sadar dengan apa yang tadi telah dilakukannya.
"Hmm.. Enak juga. Kamu sering masak ya?"
"Be-begitulah.. hee hee.."
Meskipun rasanya canggung, tadi itu merupakan sebuah review yang jujur. Membahas makanan tampaknya sudah tidak bisa lagi. Mungkin aku harus mengganti topiknya.
"Ngomong-ngomong, sistem quest dan poin individu itu menurutmu gimana?"
"Itu menarik sih. Tapi seandainya saja masalah drop out itu ga ada, mungkin aku akan lebih bisa menikmatinya."
"Apa kamu takut jadi yang di drop out?"
"Wajar kan? Siapa pun juga pasti takut."
"Kalau itu kakakmu.. apa menurutmu dia juga akan takut?"
"Kalau dia.."
Kitagawa seketika berhenti. Mungkin dia akhirnya tersadar kalau memiliki rasa takut berada di peringkat terakhir itu adalah bukti bahwa dirinya sendiri masihlah lemah.
Bagi orang yang kuat dan benar-benar berambisi untuk berada di puncak, ketakutan yang boleh dimilikinya hanyalah berada satu peringkat di bawah puncak itu.
Ah, sepertinya aku kembali membuat kesalahan. Padahal tujuanku hanyalah ingin mengganti topik, bukan untuk membuatnya menjadi murung seperti itu.
"Nee, Kitagawa.."
"A-"
Begitu ia menoleh, sepotong telur dadar langsung kumasukan ke mulutnya mengunakan sumpit.
"Hmpkh!"
Ia pun tampak kaget sekaligus kesal. Hanya kalimat tidak jelas yang bisa ia buat sambil berusaha mengunyah makanan yang ada di mulutnya itu. Ya.. ekspresinya yang seperti ini..
'Menurutku jauh lebih baik.'
__ADS_1
***