
[Sudut Pandang Ichiji Sei]
Pertemuanku kembali dengan Shunsaku Tomo adalah momen yang mengejutkan. Mengesampingkan adanya permasalahan di antara keluarga kami, apa yang kurasakan saat berhadapan dengannya murni hanyalah sebuah perasaan bahagia.
Sepertinya aku memang egois. Aku tak sedikitpun menunjukan wajah yang menyesal di hadapannya. Kenapa? Apakah rasa simpatiku palsu? Tidak, jelas bukan begitu. Alasan yang membuat perasaan bahagia ini begitu mendominasi mungkin adalah karena aku telah begitu lama.. Ya, begitu lama aku berharap untuk dapat melihatnya sekali lagi.
'Bagaimana kabarmu sekarang? Dimana kau tinggal? Apa kau makan dengan teratur?'
Aku ingin menanyakan semuanya. Namun sebelum itu, ada hal yang paling penting yang ingin kutanyakan.
'Apa kau mengingatku?'
Aku mengamati dulu ekspresinya sebelum membuka kartu. Sayang, ekspresinya itu sama sekali tak berubah. Kalau begini apa boleh buat. Sepuluh tahun telah berlalu dan penampilanku yang sekarang pun telah banyak berubah.
Sekarang jalan satu-satunya hanyalah dengan memperkenalkan diri. Kalau aku menyebutkan namaku, ia pasti akan mengingatnya kan? Setelah itu.. Ya, setelah itu aku akan..
'Akan apa aku setelah itu?'
Kenyataan tiba-tiba menghantam dengan keras sampai membuatku tersadar dari angan-angan kosongku itu.
'Apa yang aku pikirkan?'
Perasaan bahagia yang tadi mendominasi itu tampaknya membutakanku melupakan sebuah kenyataan. itu adalah sebuah kenyataan pahit dimana kami sudah tidak mungkin berteman seperti dulu lagi.
Mengingat apa yang keluargaku telah lakukan, aku pikir hal itu memang sudah tidak mungkin. Aku yakin saat ia mengetahui identitasku yang sebenarnya, ia tidak akan lagi melihatku sebagai seorang Ichiji Sei lagi.. melainkan hanya sebagai Ichiji ata dengan kata lain..
'Musuh.'
Mungkin begitulah aku akan terlihat di matanya.
'Kapal sudah berlayar.'
Kesempatan kami untuk kembali seperti dulu lagi memang sudah tidak ada. Namun itu bukan berarti aku akan lepas tangan darinya. Jika ia mau menganggapku sebagai seorang musuh, akan kubantu.. degan senang hati aku akan membantunya melepaskan semua amarah dan sakit hatinya itu.
***
Sebagai salah satu keluarga konglomerat, keluarga Ichiji memiliki sumber informasi yang akurat. Dari sana aku berhasil mengetahui bahwa Akademi Golden Star juga mengadakan ujian melalui jalur khusus. Aku pun menyelipkan infomasi itu dalam sebuah cerita karangan dimana setiap awal tahun ajaran barunya sekolah akan mengumumkan jumlah siswa yang diterima melalui jalur khusus. Aku terpaksa mengarang agar Shunsaku percaya bahwa ujian khusus itu bukanlah hanya sekedar rumor.
Saat itu aku berharap setidaknya ada sedikit keajaiban dimana ia bisa menemukan cara mengikuti ujian khusus itu. Siapa sangka, keajaiban itu bukanlah sesuatu yang diperlukan. Hanya dalam hitungan jam saja sejak kami berpisah, aku berhasil dibuatnya terpaku menatap sebuah nama yang muncul di layar gedung aula.
'Dia sudah di sini.'
Aku tahu dia memang orang yang sangat tidak biasa. Tapi kalau dia sudah ada di sini, itu berarti dia juga sudah tahu cara mengikuti ujian khusus itu kan? Aku yang menyewa banyak informan namun tak mendapatkan informasi apapun kini jadi terlihat seperti orang bodoh.
Kalau begini kemungkinan kami bersama di sekolah ini akan semakin besar. Bibirku pun tersenyum dan jantungku berdetak semakin cepat. Aku jadi tak sabar menantikannya, saat dimana kita akan bersama lagi.
__ADS_1
***
Setelah selesai menjawab lima puluh soal yang diberikan, para peserta ujian dibagi ke dalam sebuah tim yang masing-masing beranggotakan sepuluh orang. Aku berada di tim 'A' dan Shunsaku ada di 'J'. Sayang kami tidak satu tim, tapi tak apa. Kami tinggal lulus saja dari ujian ini dan setelah itu juga kami akan bisa bertemu di sekolah.
"Waktu diskusi kalian tiga puluh menit. Silahkan dimulai."
Pengawas ujian memberikan sinyal dimulainya ujian dimana kami akan melakukan diskusi menentukan peserta dengan nilai terendah di tim ini.
"Bagaimana kalau kita memperkenalkan diri dulu?"
Aku membuka pembicaraan dan menarik pandangan semua peserta.
"Kalau kita saling kenal mungkin diskusinya akan lebih mudah. Pertama-tama dari aku dulu, namaku Ichiji Sei dari SMP Tokiwadai."
"Hah? Dari keluarga Ichiji?"
"Bukannya itu nama keluarga konglomerat ya?"
"SMP Tokiwadai juga.. Bukannya itu SMP yang paling top ya?"
Terlalu banyaknya pertanyaan yang muncul secara bersamaan membuatku bingung harus meladeni yang mana. Aku pun memotong semuanya dan mengoper giliran ke peserta di sebelah.
Perhatian mereka pun teralihkan. Perkenalan kami selanjutnya berjalan lancar, terkecuali sampai di peserta yang terakhir.
"Amasawa Yuki.. Dari SD aku sudah punya tubuh yang lemah, jadi aku tidak pergi ke sekolah manapun dan hanya menjalani home schooling."
"Cuma Home Schooling aja? Apa dia bisa bersaing sama peserta lain yang datang dari sekolah top?"
Seorang peserta laki-laki meragukan kemampuan akademik Amasawa.
"Ya, itu sih jelas ga mungkin. Home schooling itu cuma kayak sekolah yang ngajarin materi standar aja. Levelnya jelas jauh beda dari kita yang masuk ke sekolah top."
"Kalau gitu, kemungkinan dia kan yang nilainya paling rendah."
Kericuhan tiba-tiba terjadi. Para peserta mulai membangun opini bersama bahwa Amasawa adalah peserta dengan nilai terendah.
BRAK
"Tenang semuanya!"
Aku menggebrak meja dan membuat seisi ruangan terdiam. Sebenarnya aku tak suka memanfaatkan rasa segan mereka pada keluarga Ichiji, tapi saat ini aku perlu menggunakan itu.
"Kita jangan menuduh seseorang tanpa Bukti. Selain itu kalian bahkan belum memberikannya kesempatan bicara. Apa begini perilaku siswa sekolah top?"
Ini membuatku kesal. Aku tak percaya, bisa-bisanya mereka menjudge kemampuan seseorang hanya karena ia mengikuti home schooling.
__ADS_1
"Aku ga keberatan."
Amazawa pun akhirnya bicara. Meskipun ia telah menerima banyak tuduhan yang kurang menyenangkan, ia justru terdengar sangat tenang.
"Itu memang kenyataannya."
"Tapi bukan berarti mereka bisa men-judge nilaimu juga."
"Ah maaf.. Yang kumaksud bukan cuma home schooling-nya saja. Nilaiku kayaknya juga yang paling rendah di tim ini."
"Tuh kan, dia ngaku sendiri."
"Kalau gini ga usah repot lagi."
Seorang peserta lain seketika menanggapi dan ditimpali oleh yg lainnya. Keadaan mulai tak terkendali lagi.
"Hoi kalian.. bukannya ini sedikit aneh?"
Seorang peserta laki-laki menyanggah. Ia memiliki postur tubuh yang tegap dan gaya rambut yang disisir kebelakang. Kalau tidak salah, namanya adalah Ishigami Shun.
Dari penampilan dan cara bicaranya mungkin orang akan mengira bahwa ia adalah seorang berandalan. Terutama rambutnya itu yang dicat menjadi berwarna pirang terang membuatnya terlihat sangat mencolok.
"Normalnya orang ga akan ngaku kalau nilainya jelek. Itu sama aja dengan bunuh diri kan?"
Ishigami lanjut menambahkan.
"Aku ga maksa kalian buat percaya. Tapi seandainya itu bohong pun, memang siapa yang akan dirugikan?"
Amazawa membuat orang-orang berpikir apa yang akan terjadi jika tebakan kami salah. Kalau kami salah, berarti peserta yang akan di drop out ada yang memiliki nilai tertinggi. Dan siapa peserta dengan nilai tertinggi?
Aku bisa merasakan tatapan mereka sesekali mengarah kepadaku. Untuk seorang siswa Tokiwadai dan dari keluarga terpandang, mereka pasti berpikir aku memiliki kelebihan dibanding mereka. Ya, dengan kata lain.. orang yang kemungkinan besar akan di drop out jika tebakan kami salah adalah aku.
"Gimana kalau kita vote?"
Seorang peserta mengajukan ide dan kami oun berakhir melakukan voting. Dari hasil voting terdapat delapan orang yang setuju untuk memilih Amazawa, sedangkan yang menolak hanyalah aku dan Ishigami.
"Berikut akan saya sampaikan hasilnya. Tebakan dari tim 'A' untuk siswa dengan nilai terendah, dinyatakan salah."
Setelah pengumuman itu dibacakan semua orang mengalihkan pandangannya dariku. Mereka pasti puas karena aku yakin mereka lebih senang jika aku yang di drop Out ketimbang Amazawa.
Sayangnya, kesenangan mereka itu hanya berlaku sesaat. Yang ada diperingkat pertama itu bukanlah namaku, Amazawa, ataupun Ishigami.
Amazawa sendiri ada di peringkat ke-empat, sedangkan Ishigami di peringkat kelima. Diriku sendiri yang tampaknya mereka pikir ada di peringkat teratas justru ada di peringkat yang sebaliknya.
"I-I-Ichiji Sei.. Peringkat terakhir?!"
__ADS_1
Maaf saja aku menghapus senyum kalian dan membuat suasana menjadi mencekam. Tapi dengan begini.. kita bisa mulai pertunjukannya.
***