The Irregular At Elite High School

The Irregular At Elite High School
Bab 8 Encounter


__ADS_3

[Sudut Pandang Amasawa Yuki]


'Menurutmu, apa gunanya gengsi itu?'


Saat aku menanyakannya, aku yakin sebagian orang akan kebingungan menjawabnya. Di dalam kepala mereka tahu bahwa itu adalah sesuatu yang tidak diperlukan dan memberatkan, tapi di dalam hatinya mereka akan berkata yang berbeda. Sebenarnya itu alami, tak ada manusia yang ingin direndahkan.. terlebih lagi untuk mereka yang sudah biasa disanjung atau diagung-agungkan itu.


KIta bisa melihat contoh nyatanya pada para peserta ujian masuk sekolah elit ini. Kita bisa melihat dengan jelas keangkuhan mereka saat mengaku berasal dari sekolah yang berkelas. Semakin terkenal sekolahnya, semakin naik juga derajatnya. Bahkan jika itu masih kurang.. mereka tanpa ragu akan memamerkan harta kekayaan dan bisnis keluarganya yang menjalar. Apa pun itu yang bisa membuat mereka terlihat 'lebih', sepertinya akan mereka pamerkan di sini.


'Lucu sekali ya.'


Namun semua kekonyolan ini adalah hal yang sudah kuprediksi. Itu juga termasuk bagaimana mereka akan memandangku saat mengetahui bahwa selama ini aku hanyalah mengikuti home schooling. Mereka tidak tahu kalau aku sengaja menempatkan nilaiku di level menengah dan membuat mereka berpikir bahwa akulah yang terbodoh. Kemudian akhirnya, ujian ini akan selesai dengan didrop outnya si peringkat satu dan si peringkat kedua atau ketiga.


Selama ini prediksiku selalu sempurna sampai-sampai itu membuatku bosan. Aku pun merasa tak akan pernah ada yang bisa mengejutkanku.. bahkan untuk di sekolah elit seperti ini sekalipun..


"Heeh."


Spontan bibirku tersenyum, menyindir seseorang yang tidak lain dan tidak bukan adalah diriku sendiri. Sepertinya aku masih terlalu naif, atau mungkin juga karena aku yang terlalu meremehkan sekolah ini. Entah apa pun itu.. yang pasti kali ini aku telah kecolongan.


Prediksiku terkait hasil ujian ini sebenarnya tidaklah meleset. Namun aku tidak menyangka, perempuan berambut hitam panjang itu yang kuprediksi ada di peringkat pertama.. ternyata justru ada di peringkat terakhir.


Tim kami yang salah memprediksi pun kemudian harus mendrop out seorang peserta dengan poin tertinggi. Selanjutnya perempuan itu.. ia yang mendapat peringkat terakhir menggunakan haknya untuk mendrop out peserta di peringkat kedua dan ujian pun berakhir di sini.


'Sepertinya ada juga yang masih menggunakan otaknya.'


Aku memujinya. Strategi yang ia pilih memanglah tepat untuk situasi tersebut. Jika menjadi dirinya, aku pasti akan melakukan hal yang sama. Berbekal latar belakang keluarga konglomerat dan berasal dari SMP yang terbaik pastinya akan membuat semua orang menyangka bahwa ia akan menempati peringkat puncak.


Perkenalan dirinya diawal yang mengekspose siapa dirinya tersebut aku rasa juga adalah hal yang sudah ia rencanakan. Ia membuat peserta lain beradu gengsi lalu kemudian membuat tim mengkambing hitamkan seseorang dengan latar belakang pendidikan terendah.


'Satu poinkah?'


Aku sempat berpikir kenapa perempuan berambut hitam panjang itu tak membuat nilainya sekalian menjadi nol. Kalau itu aku, pastinya sudah kulakukan. Namun tak lama kemudian aku merasa geli setelah menyadari maksudnya membuat angka satu tersebut.


'Ichiji.'


Nama keluarga perempuan itu memiliki unsur angka satu di dalamnya. Mengisyaratkan keberadaan dan menunjukan bahwa dia adalah yang nomer satukah? Tampaknya aku menemukan orang yang sungguh menarik.


Baiklah.. kuakui sudah salah menilai sekolah ini. Namun aku tidak menyesal.. aku justru merasa benar-benar senang karena yang kucari di tempat ini adalah kehidupan sekolah yang tidak membosankan.


'Orang seperti Ichiji tadi.. ada berapa ya kira-kira di tempat ini?'


Seandainya saja.. Ya, seandainya saja sekolah ini dipenuhi oleh orang-orang seperti Ichiji atau mungkin yang lebih menarik lagi dibanding dengannya.. Ah, jika saja itu benar.. mungkin akhirnya aku akan bisa menjadi sedikit lebih serius lagi.

__ADS_1


'Ya, hanya sedikit saja.'


***


[Sudut Pandang Ichiji Sei]


Ini mungkin hal yang memalukan dimana seorang Ichiji mendapat nilai satu dalam ujian masuk sekolah. Namun aku tidak peduli dengan pandangan orang terhadap keluargaku. Selama aku lulus itu tidak masalah.


Lagi pula, hanya sebatas nilai satu dalam ujian seperti ini tidaklah seberapa jika dibandingkan dengan kami yang telah menghancurkan keluarga Shunsaku. Karena itulah, sesuatu yang disebut dengan gengsi ataupun kehormatan keluarga ini.. aku tidak mempedulikannya.


Pada akhirnya mereka yang tersingkir dari ujian ini adalah yang paling menonjol dalam menunjukan gengsi dan kehormatan keluarganya. Si peringkat satu dan peringkat dua itu.. mereka mungkin pintar dan memiliki latar belakang yang mengagumkan. Namun sayang, mereka juga menonjolkan keangkuhannya. Menjudge peserta lain hanya dari latar belakangnya dan mencemooh orang-orang yang dirasa lebih rendah dari mereka.. sungguh benar-benar tidak bermoral.


"Ujian ini selesai. Delapan orang yang dinyatakan lulus, silahkan kembali ke ruang aula."


Pengawas ujian menutup sesi ujian ini dan meminta kami untuk kembali ke aula. Wajah mereka yang tadi diliputi ketegangan seketika berubah cerah. Kesenangan lulus dari ujian ini tampaknya membuat mereka seketika melupakan apa yang telah terjadi di ujian tadi.


"Seeei.."


Setiba di aula seorang perempuan langsung menghampiriku. Suaranya melengking dengan nada tinggi yang penuh keceriaan.


"Sudah kuduga, Sei pasti lulus. Gimana ujianmu.. gampang kan?"


"Biasa aja.. ujianmu lancar? Dari kamu yang duluan sampai di aula kayaknya ga usah ditanya ya.."


Dibanding mereka yang mendekatiku dengan bermuka dua, Anri adalah satu-satunya orang yang jujur dan blak-blakan yang kutemui di SMP.. mungkin karena itulah kami cocok.


"Yaah, ternyata ga semenakutkan yang kukira. Itu bahkan selesai dengan sangat cepat."


"Hebat, gimana caranya secepat itu menyimpulkan?"


Tanyaku penasaran. Yang kutahu rata-rata setiap tim pasti akan menghabiskan total waktu tiga puluh menit yang diberikan. Apa di sana juga sama seperti di timku yang tanpa pikir panjang menjudge orang dari latar belakang pendidikannya saja?


"Gampang aja.. Kami bahkan ga perlu berpikir lho."


"Maksudnya?"


"Ck, Ck, Ck,"


Anri mendecakkan lidahnya dan tersenyum sombong. Orang ini memang terkadang sedikit menyebalkan disaat ia berhasil membuatku penasaran.


"Nebak orang dengan nilai terendah itu kan sulit, bahkan mustahil rasanya karena nilai sendiri saja kita tidak tahu. Terus.. buat apa berpikir? Anggap saja kita ada di posisi yang sama. Karena sepakat seperti itu jadi timku pun menggunakan ini.."

__ADS_1


Anri menunjukan layar ponselnya. Di sana tempak sebuah lingkaran besar dengan sebuah jarum di tengahnya. Lingkaran tersebut berputar dan tak lama kemudian putaranya melambat lalu berhenti.


"....."


Aku tak habis pikir sampai tak bisa berkata apa. Sesuatu seperti 'Spin Wheel' ini.. bukannya mereka hanya melakukan gambling? Tak bisa dipercaya.. di ujian masuk sekolah elit seperti ini mereka memutuskannya melalui gambling? Pantas saja mereka selesai begitu cepat.


"Gimana.. Hebat kan? Aku yakin seorang Sei pun ga akan sampai mikir ke sini."


"Ya, aku ga akan kepikiran itu sih.. tapi aku juga-"


Pandanganku seketika tertuju pada seorang laki-laki yang baru memasuki aula. Ia melihat ke seliling sebelum akhirnya pandangan kami mengunci satu sama lain. Aku melempar sebuah senyuman dan kemudian ia pun membalasnya.


Shunsaku.. Sudah kuduga ia akan berhasil. Jadi dengan begini sudah dipastikan bahwa kami akan berada di sekolah yang sama.


"Ichiji."


Shunsaku memanggil namaku dan berjalan mendekat. Entah apa yang ia rasakan saat menyebut nama Ichiji yang telah menghancurkan keluarganya itu. Aku tak bisa menebaknya.. yang pasti itu membuatku merinding.


"Siapa kamu?"


Anri tiba-tiba menghadang Shunsaku. Ia memelototinya dan tampak tidak senang dengan kedatangan Shunsaku kemari.


"Shunsaku Tomo, aku kenalannya."


"Kenalannya? Ga mungkin.. aku tahu semua kenalan Sei."


Anri terkadang protektif saat ada seseorang yang berusaha mencari-cari perhatianku. Ini tidak bagus, suasana diantara mereka seketika menegang.


"Anri, sudah cukup! Dia memang kenalanku."


"Eh? Kok aku ga tahu?!"


"Aku baru memang tadi kenalnya.. Dan dia ini orang baik yang uda nolong aku."


"Ma-Maaf dah.. Aku kira dia cowok gatel yang kayak biasanya."


"Engga kok, tenang aja. Dia ini.. orang yang baik."


Aku pun menekankannya sekali lagi. Mengesampingkan entah perasaan seperti apa yang saat ini dimilikinya terhadapku.. Setidaknya, aku ingin dia mengetahui itu.


"Perhatian kepada delapan puluh orang peserta yang telah lulus ujian seleksi masuk. Kami ucapkan.. Selamat Bergabung di Akademi Golden Star..!"

__ADS_1


Pengumuman itu seketika disambut riuh gembira oleh puluhan peserta yang ada di aula. Dengan begini.. kami semua pun telah resmi menjadi siswa Akademi Golden Star.


***


__ADS_2