
'Selamat. Anda baru saja menyelesaikan quest level (D).
Reward: 3 Poin.'
"Haa?!"
Keempat orang itu ternganga melihat isi dari notifikasi yang muncul di layar handphone mereka.
"Ke-Kenapa mendadak selesai?!"
Natsumi yang akhirnya pertama berespon.
"Mungkinkah ada hal yang kita lakukan secara ga sengaja dan malah menyelesaikan questnya?"
"Secara ga sengaja?"
Tanya Kitagawa yang meragukan komentar Yagami.
"Maksudmu, apa di antara kita ada yang tahu cara untuk menyelesaikan quest ini?"
"Begitulah, aku pikir cara untuk menyelesaikan quest ini memang sudah diketahui oleh seseorang. Benar kan.. Shunsaku?"
Mereka berempat pun seketika tertuju kepadaku. Rasa penasaran dan juga ketidakpercayaan itu terlihat jelas di mata mereka.. Ah, Sudah kuduga.. menjadi pusat perhatian memang tidak menyenangkan
"Hoi, apa maksudnya ini? Jadi kamu sudah tahu dari awal ya?"
Natsumi mulai menginterogasiku.
"Ga juga. Aku baru menyadari sesuatu setelah mendengar diskusi kalian."
"Bukannya diskusi tadi berujung buntu? Bagaimana kita malah bisa menyelesaikan quest ini?"
"Kamu penasaran juga ya. Kukira kamu sudah mau pulang?"
"A-Ak.. Akuu... Aku berubah pikiran! Pokoknya aku mau dengar penjelasanmu dulu!"
Jawab Natsumi sambil berusaha menahan malu.
"Baiklah, sekarang akan kujelaskan."
Meskipun hari sudah sore dan kami juga sudah melewati banyak jam pelajaran, mereka berempat masih bisa berkonsentrasi untuk mendengar penjelasanku
'Menarik.'
Sepertinya tidak masalah kalau hari ini aku harus pulang lebih larut dari yang seharusnya.
"Coba kalian ingat-ingat lagi. Tadi Kitagawa berpendapat kalau hal berharga yang dimaksud quest itu adalah teman. Menurutku ga salah. Tapi bukan teman-temannya itu yang sebenarnya kita cari."
"Haa?"
Natsumi mulai tampak kebingungan.
"Yang kumaksud itu adalah hal yang ada hubungannya dengan teman-temannya."
"Hal yang ada hubungannya.. Apa itu sebuah barang?"
Kitagawa mencoba menebak.
"Iya. Itu adalah sebuah barang yang memiliki arti bagi orang itu. Sebuah barang yang berharga yang ada hubungannya dengan teman-teman lamanya dulu. Itu adalah.. kenang-kenangan."
"Benar juga!"
"Kitagawa berespon."
__ADS_1
"Iya, masuk akal. Kalau aku kembali ke sekolah lamaku pasti aku ingin melihat kelasku yang dulu. Di sana ada sebuah papan tulis, sepulang sekolah aku dan teman-temanku biasa menggambar di sana. Itu adalah benda yang penuh kenangan."
"Asahina menambahkan."
"Kalau begitu bukannya aneh? Dalam quest, orang itu kan pergi ke sekolah lamanya. Kenapa ia malah ga menemukan apa-apa?"
Natsumi masih belum puas dengan jawabanku.
"Dia ga menemukan apa-apa karena bisa jadi tempat itu sudah banyak berubah. Di luar sana banyak sekolah yang sudah tidak beroperasi lagi. Ada juga yang direnovasi dan menjadi tempat yang sudah benar-benar berbeda dibandingkan dengan sebelumnya."
"Terus, kenapa questnya bisa selesai begitu aja? Apa kita menemukan benda yang mengandung kenangan untuk-"
Natsumi seketika berhenti. Matanya menatapku dalam-dalam penuh dengan ketidakpercayaan.
"Dalam quest, kita diminta untuk berperan menjadi orang itu. Karena itulah, selama kita menemukan benda yang mengandung kenangan bagi kita berlima.. quest ini akan selesai."
"Benda itu.. jangan-jangan?"
"Iya, itu adalah foto kita berlima yang barusan."
Semua terdiam mencoba mencerna apa yang baru saja aku katakan. Mereka tampaknya benar-benar tidak menyangka bahwa jawaban dari quest ini adalah sebuah foto yang kita ambil barusan.
"Hebat.."
Yagami menyuarakan kekagumannya.
"Kamu ini diluar dugaan ya.. Padahal dari tadi cuma diam-diam aja."
"Jangan salah. Aku sudah lama curiga kalau orang ini punya bakat terpendam."
Sahut Kitagawa membanggakan hasil penyelidikannya.
"Aku rasa dia cocok jadi rivalku."
"Apa maksudnya hubungan yang lebih jauh?"
"Lu-Lupain aja.. Itu cuma bayanganku sendiri. He hee.."
Asahina ternyata memiliki ide yang aneh mengenai diriku dan Kitagawa. Namun untukku mereka berdua sama-sama seenaknya sendiri membawaku dalam imajinasi liarnya.
"Sudah selesai kan? Aku mau pulang duluan."
Aku masih tidak bisa membaca dengan jelas isi pikiran Natsumi. Namun entah kenapa, aku rasa ada sesuatu yang mengganggu yang ia coba sembunyikan.
Jam telah menunjukan pukul enam sore. Kami pun memutuskan untuk mengakhiri pertemuan ini dan kembali ke rumah masing-masing.
***
Keesokan paginya, ketika aku akan berangkat ke sekolah, aku mendapati seorang perempuan yang sedang berdiri di depan pintu rumahku.
"Se-Selamat pagi."
Sapa perempuan berambut merah yang tampaknya telah sejak tadi menantikan kemunculanku ini.
"Apa kamu perlu sesuatu?"
"Ga juga kok. Aku orang kebetulan lewat dan kebetulan juga kamu keluar pas aku diam di depan pintumu."
Baiklah, itu tadi pembelaan yang sungguh tidak jujur. Daripada memaksanya untuk mengaku, lebih baik aku ikuti saja dulu apa maunya.
"Heei.. Tunggu..!"
Natsumi pun mengikuti yang mulai berjalan menuju ke sekolah. Rasanya kejadian ini seperti 'deja vu'. Baru saja kemarin Kitagawa yang berjalan mengikutiku ke sekolah, sekarang giliran orang ini.
__ADS_1
"Apa ada masalah mengenai questmu?"
"Haa?!"
Ia berespon seperti yang kuharapkan. Wajah terkejutnya yang bercampur dengan perasaan tidak terimanya itu sungguh lucu.
"Kenapa kamu bisa tahu? Padahal aku belum ada bilang apa-apa."
"Mudah aja. Kalau bukan soal quest, apa lagi yang bisa membuat seorang Natsumi sampai repot-repot mencariku."
"..."
Natsumi terdiam. Kedua alisnya tampak mengerut seakan ia sedang memikirkan sesuatu yang sulit.
"Kamu benar, aku ada masalah sama questku."
"Apa level questmu terlalu tinggi?"
"Engga, itu di level D sama seperti kemarin. Petunjuk dalam quest ini jelas dan aku pun tahu apa yang harus kulakukan untuk menyelesaikannya. Hanya saja.."
"Kenapa?"
"Nih, lihat sendiri!"
Natsumi menyerahkan handphone yang di layarnya tampak sebuah quest yang telah terbuka lengkap dengan detailnya.
'Quest level (D) Olimpiade Mini.
Jumlah partisipan yang dibutuhkan: 1 Orang/Kelas.
Siswa waktu 50 Jam 15 Menit.
Dari 5 mata pelajaran yang ada. Matematika, Bahasa Inggris, Kimia, Fisika, dan Biologi, akan diacak dan dipilih 2 mata pelajaran saja.
Dari 2 mata pelajaran tersebut, siswa memilih 1 mata pelajaran yang akan diujikan.
Siswa dengan nilai ujian tertinggi akan dianggap menyelesaikan quest, sedangkan sisanya akan dianggap gagal.'
"Natsumi.. quest ini apa dari kelas lain juga ada yang punya?"
"Aku sudah memeriksanya. Dari kelas A sampai dengan kelas D, di setiap kelas ada satu orang yang punya quest yang sama seperti ini."
"Berarti dari empat orang, hanya akan ada satu orang saja yang bisa mendapatkan poin. Sisanya justru akan mengalami pengurangan."
"Karena itu Shunsaku!"
Ia tiba-tiba berhenti dan menundukkan kepalanya di hadapanku.
"Tolong, bantu memenangkan quest ini."
Ini adalah sebuah kejadian yang langka. Seorang Natsumi yang memiliki pride yang tinggi ini menundukkan kepalanya kepada seseorang.
"Kenapa kamu minta tolong sama aku? Bukannya quest ini sudah jelas dan kamu juga tahu apa yang harus kamu lakuin."
"Iya, tapi tetap saja. Setelah melihat bagaimana kamu menyelesaikan quest kemarin, aku merasa kamu bisa melakukan sesuatu dalam quest ini juga."
Entah itu hanya perasaannya saja ataukah ia memang tahu jika ada celah dalam quest ini yang bisa kumaksimalkan. Apa pun itu yang pasti ini sedikit menarik perhatianku.
"Baiklah, akan kubantu."
"Eh, benaran?"
"Iya, tapi ada bayarannya."
__ADS_1
***