
"Jadi.. berapa bayaran yang kamu minta?"
Tanya Natsumi sambil mengikutiku menuju ke gedung utama sekolah.
"Berapa itu.. Apa yang kamu maksud itu uang?"
"Tentu saja. Bukannya itu juga yang kamu maksudkan?"
Pikirannya benar-benar sederhana. Ya, apa boleh buat. Anak-anak seperti dirinya hanya tahu cara menyelsaikan sesuatu dengan menggunakan uang.
"Maaf, aku ga butuh uangmu."
"Ke-Kenapa?"
Natsumi seketika menghadang jalanku.
"Terus apa maumu?"
Bertanya dengan gelisah, aku bisa merasakan keputus asaannya itu.
"Menurutmu? Apa kamu ga bisa menebak?"
"Mana kutahu, dasar! Hal yang bisa kuberikan kepadamu kan cuma uang. Memangnya ada apa lagi?"
Aku menunjuk ke arahnya sambil berusaha memberikan petunjuk. Namun kemudian entah kenapa, reaksi yang muncul darinya justru di luar perkiraanku.
Kulit pipinya yang berwarna seputih salju itu tiba-tiba tampak merona kemerahan.
"K-Kk-Kkamu...?"
Bibirnya bergetar tidak karuan. Kalimat yang ia ucapkan terputus-putus dan tidak jelas.
"Ja-Jangan bilang kalau yang kamu mau itu sebenarnya adalah.. tubuhku?"
Setelah melontarkan tuduhan ekstrim itu Natsumi mengambil jarak dan memasang kuda-kuda bertahan. Ia seperti seorang atlet bela diri yang siap
"Ternyata benar.. semua laki-laki itu memang serigala."
'Hoi..! Pikir-pikir dulu sebelum bicara. Bukankah itu berlaku untuk ayahmu juga?'
"Tapi apa boleh buat ya.. Pasti sulit kan?"
Apa yang ia ucapkan? Di sini aku mulai tidak mengerti dengan isi kepala perempuan ini.
"Badan yang bagus dan wajah yang cantik ini.. pasti sulit untuk tak tergoda ya?"
"...."
Aku tak tahu harus berespon apa. DIa yang berbicara, tapi aku yang merasa malu. Sungguh.. Bagaimana bisa ada orang yang dengan begitu percaya dirinya sesumbar seperti itu.
'Ah, ini sungguh buang-buang waktu saja.'
Natsumi kembali mengejarku yang sudah hendak pergi..
"Kalau bukan tubuhku, terus apa yang kamu mau?"
"..."
"I-Itu salahmu juga yang menunjuk kesini dan membuatku jadi berpikir seperti itu kan?"
Aku pun berhenti dan menghela napas. Lebih baik kuperjelas ini sebelum ada kesalahpahaman lainnya.
"Kalau begitu aku minta maaf."
"Eh? A-Ak-Aku juga minta maaf."
"Terus.. apa kesepakatan ini masih mau dilanjutkan?"
"Tergantu hal apa yang kamu mau dariku."
"Aku pikir itu bukanlah hal yang sulit untuk orang sepertimu. Jadi kali ini biar kukatakan dengan jelas. Hal yang sebenarnya kuinginkan darimu itu.. adalah informasi."
Natsumi yang mendengar permintaanku itu pun seketika menurunkan kewaspadaannya.
"..Kamu mau informasi mengenai apa? Aku ragu punya informasi yang kamu butuhkan. Aku ini ga pintar-pintar banget dan pengetahuanku juga ga luas."
"Kalau ga punya ya tinggal dicari saja kan."
"Ha?"
"Aku mau infromasi terupdate dari salah satu siswa di sekolah ini dan berikan itu kepadaku secara rutin."
"Tunggu dulu.. bukannya itu akan membuatku jadi kelihatan seperti penguntit?"
"Oh, jadi kamu ga mau? Ya sudah.. selesaikan saja quest-nya sendiri ya."
Natsumi menahan lenganku dengan panik.
__ADS_1
"Si-Siapa bilang aku ga mau?!"
"... Terus?"
"Baiklah. Aku terima."
Natsumi akhirnya membulatkan tekadnya menerima tawaran tersebut. Dengan begini, rencanaku untuk balas dendam tampaknya akan berjalan dengan semakin mulus.
"Terus, siapa sebenarnya dia.. Siswa miserius yang harus aku kuntit ini?"
"Oh iya. Aku lupa bilang. Orang itu adalah..."
***
"..Mi."
"Natsu.."
"NATSUMI!!"
Panggilan tadi seketika menarik jiwaku kembali ke dunia nyata.
"Ah, maaf.. maaf."
"...Kenapa kamu?"
Tanya seorang siswi yang duduk di hadapnku. Tomatsu Mika, ia adalah teman satu kelasku di kelas 1-D.
"Apa lagi ga enak badan?"
Tanyanya dengan wajah yang sedikit khawatir.
"Ga apa kok. Tadi cuma lagi kepikiran sesuatu."
".. Kayaknya itu sesuatu yang berat sampai buat kamu ga sempat makan ya."
Ia menunjuk ke sepiring omelet di hadanpku yang masih belum sempat kusentuh.
"I-Iya.. begitulah. Ini memang sesuatu yang cukup membuatku bingung."
Aku mulai mengambil sesuap nasi dan memasukannya ke mulut.
"Apa itu..."
"...ada hubungannya sama laki-laki?"
Pertanyaan yang tak terduga dari Tomatsu itu membuatku hampir saja tersedak. Apa yang dia pikirkan, bagaimana ia bisa berpikir ke arah sana?
Tidak mungkin kan.. Apa ia mendengar hal yang kubicarakan dengan Shunsaku tadi?
"Eh? Jadi benar ya?"
"Ga, Ga ada!"
".. Mencurigakan."
"Su-Sudah kubilang kan.. Ini bukan karena-"
Suasana kantin tiba-tiba berubah riuh. Perhatian orang-orang tampak tertuju pada seorang perempuan yang berjalan memasuki aula kantin.
Rambut hitam lurus yang berkilau. Wajah cantik yang mempesona. Kharisma kuat yang membuat siapa pun yang melihatnya seketika sadar bahwa ia bukanlah orang sembarangan.
"Ichiji Sei."
Ucap Tomatsu yang juga sedang mengamati perempuan itu.
"Eh? Ichiji.. Perempuan itu?!"
Tanyaku menolak percaya.
"Iya, dia Ichiji Sei. Lihatlah, dengan kekayaan dan penampilan yang seperti itu.. rasanya dia sudah memiliki segalanya ya. Sungguh berbeda jika dibandingkan dengan kita."
Mendengar pendapat itu entah kenapa membuat darahku menjadi naik ke kepala. Aku tidak mengenal perempuan itu dan aku bahkan tidak pernah berbicaranya dengannya.
Tapi.. Entah kenapa...
"Aku ga merasa kalah kok."
"..."
"Benar kan? Dari penampilan wajahku juga tak kalah cantik dibanding dia."
"..."
Tomatsu kembali terdiam dan tak berkedip.
"Maaf, lupakan saja yang barusan kubilang."
__ADS_1
Aku mengambil sumpitku dan mulai memakan makan siang yang telah sejak tadi ada di meja.
Ah, makanan ini rasanya tidak seenak biasanya. Semua gara-gara perempuan itu.
'Ichiji Sei."
Ia adalah orang yang diminta oleh Shunsaku untuk kumata-matai.
Awalnya aku tak mengerti apa tujuannya memintaku melakukan itu. Namun, setelah melihat seperti apa perempuan itu secara langsung.. rasanya aku jadi mengerti.
Ya, tidak salah lagi. Hanya ada satu kemungkinan. Si Shunsaku itu.. Ia pasti, jatuh cinta pada Ichiji Sei.
Ayolah.. Aku tahu laki-laki pasti akan terpikat dengan mudah pada perempuan yang seperti itu. Namun setidaknya dia harus sadar bahwa prempuan seperti itu sungguhlah jauh di luar jangkaunnya.
Dari pada Si Ichiji itu, kenapa tidak mengincar perempuan yang masih mungkin bisa ia dapatkan? Yah.. mungkin seperti seseorang perempuan yang pernah ia ajak bicara mungkin.
Benar juga. Menurutku mungkin perempuan yang seperti itulah yang seharusnya ia cari. Misalnya saja ya seperti diriku-
'Ha?!
A-A-A-Ap.. Apa? Apa yang baru saja kupikirkan??
Apa aku sudah gila?!!'
***
Perpustakaan memang adalah tempat terbaik untuk mencari ketenangan. Aroma buku yang khas dan suara kertas yang muncul disaat membalikan selembar halaman itu adalah sebuah kenikmatan untukku.
Alasanku kali ini unutk mengunjungi perpustakaan jauh berbeda dibandingkan dengan biasanya. Tidak untuk membaca buku dan menikmati ketenangan hidup, kali ini aku datang karena memiliki urusan dengan seseorang.
"Bisa kita mulai?"
Tanya Natsumi yang duduk di seberang meja. Ia melipat tangannya seolah sudah tak sabaran menungguku untuk membahas isi pertemuan ini.
"Baiklah, mari kita mulai.
Pertama, isi dari questmu itu adalah sebuah olimpiade antar kelas di tahun pertama dimana setiap penerima quest akan menjadi perwakilan dari kelasnya masing-masing.
Selanjutnya, dari lima mata pelajaran yang ada, misalnya A, B, C, D dan E.. akan diundi dua mata pelajaran saja yanag akan diujikikan dalam olimpiade.
Yang terakhir, peserta dengan nilai tertinggi saja yang dinyatakan berhasil menyelesaikan quest."
"Jadi.. dikarenakan siswa tahun pertama dibagi dalam empat kelas, berarti dengan begini hanya akan ada satu orang yang lolos dan tiga orang yang gagal dalam quest ini."
"Sampai sini sudah jelas kan?"
Ntasumi mengangguk. Namun di wajahnya tampak ketegangan dan kecemasan yang jelas
"Lalu bagaimana strategimu?"
"Strateginya sudah pasti.. Pertama-tama.."
"..."
"Ya belajar."
Aku bisa melihat urat-urat di kepalanya muncul seolah ia akan meledak mendengar jawaban itu.
"Hmm.. Jangan-jangan kamu ga ada ide ya."
"Ide ya? Coba pikir lagi.. Apa menurutmu itu bukan jawaban yang paling masuk akal dalam situasimu ini?"
"Tapi kan-"
"Aku ga nyuruh kamu untuk belajar semuanya kok."
"..."
"Natsumi, mata pelajaran apa yang paling kamu yakini dari kelima itu?"
"Bahasa Inggris.. Mungkin?"
"Baiklah. Kalau begitu mulai sekarang kamu fokus ke satu mata pelajaran itu saja."
"Bagaimana dengan sisanya? Bagaimana kalau aku dapat nilai nol pada mata pelajaran lain yang diujikan? Atau yang paling parahnya.. Bahasa Inggris itu justru malah ga diujikan."
"Itu ga masalah."
"SHUNSAKU?!"
"Sssst!"
Seorang siswi tiba-tiba muncul dari belakang kami.
"Kayaknya.. kalian lagi membahas hal yang seru ya."
Ucap Ichiji Sei sambil memberi pandangan tajam ke arah kami.
__ADS_1
***