
[Sudut Pandang Haruka Sensei]
Kalau kuhitung, mungkin sudah ada sekitar lima tahun aku menjadi seorang sensei di Akademi Golden Star. Ini adalah pekerjaan yang menyenangkan, mengingat gaji dan fasilitas yang diberikan tidaklah main-main.
Namun seperti kata orang-orang, rasa manis yang berlebihan itu terkadang justru akan membuatmu mual. Ya, sama seperti hidupku di tempat ini yang rasanya mulai kehilangan gairahnya.
Para siswa di sekolah ini mungkin memang pintar-pintar. Bahkan ada juga yang mencapai level seorang jenius. Meski begitu, bagiku mereka masihlah belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan level seorang Sensei.
Para siswa itu terlalu fokus hanya pada sisi akademiknya saja. Padahal, untuk bertahan hidup di dunia yang keras ini kita harus menjadi lebih pintar dalam sesuatu yang lain.
Sesuatu itu mungkin seperti bagaimana kita bisa memprediksi masa depan. Sedetik, semenit, sejam, atau bahkan setahun ke depan sekali pun.. Jika bisa membaca itu atau bahkan kemudian mengubahnya menjadi seperti yang kau inginkan, kau tak akan perlu takut pada 'seribu pertempuran' sekali pun.
Derrt Derrt
Suatu hari, disaat aku sedang menghabiskan waktu senggang di taman sekolah, handphone-ku tiba-tiba bergetar.
'Quest ujian masuk jalur khusus telah terbuka.
Jumlah penantang: 1 orang.'
Di layar muncul sebuah pemberitahuan yang menyebutkan bahwa ada seorang anak yang berhasil membuka 'quest' ujian masuk melalui jalur khusus. Aku yang saat itu mendapat giliran untuk menguji pun terpaksa menjalankan tugasku.
Ah, kalau kuingat-ingat lagi.. Jumlah orang yang bisa lolos sampai ke tahap ini sangatlah sedikit. Lalu jumlah yang bisa lolos dari mereka setelah berhadapan denganku sebagai penguji.. adalah nol.
Tidak ada peserta ujian khusus yang pernah mengalahkanku. Terlebih, kali ini aku memilih satu games yang paling kukuasai diantara yang lainnnya. Games itu.. adalah catur
Aku yang seorang sensei di sekolah ini sebenarnya juga menyandang gelar 'Grand Master' dalam bidang catur. Jadi maaf saja..
'Ujian ini, mungkin akan berakhir dengan sangat cepat.'
Itu yang sebelumnya aku pikirkan sampai tersadar bahwa ada sesuatu yang tidak wajar dengan lawanku.
'Orang ini..'
Aku merujuk pada seorang siswa laki-laki yang ada di depanku. Ia mengambil satu bidak yang ada di atas papan lalu memindahkannya. Langkah demi langkah ia lakukan sambil memasang ekspresi yang dingin di wajahnya.
'Apa-apaan langkahnya itu?!'
Saraf-saraf di kepalaku perlahan mulai menegang. Berapa kali pun aku mencari, tak ada satu pun celah yang kutemukan dari formasinya. Aku merasa seperti mengitari sebuah benteng yang kokoh hanya untuk menemukan sebuah lubang kecil pada dindingnya.
Pertandingan berjalan dengan alot hingga akhirnya aku pun harus sampai pada batasku.
__ADS_1
'Kalah..?'
Aku yang seorang Grand Master ini kalah dari seorang anak SMA? Aku tidak bisa mempercayainya.
Meskipun begitu, apa yang lebih tidak bisa kupercayai lagi adalah bibirku ini, yang terpaksa harus kutahan agar tidak tersenyum di hadapannya.
'Shunsaku Tomo.'
Melihat ekspresinya yang tak banyak menunjukan antusias dengan kemenangannya itu membuatku jadi merasa benar-benar dikalahkan.
Tatapan yang seperti mengatakan bahwa, kau ini tidak ada apa-apanya dibanding denganku itu.. Sepertinya memang adalah karma yang harus kuterima.
***
Sreek
Pintu ruang kelas D tiba-tiba terbuka dan kemudian seorang wanita berjalan memasuki ruangan.
"Selamat pagi semua."
Ia pun menyapa setelah berhenti tepat di depan kelas.
Itu adalah sebuah wajah yang cukup familiar. Meski hanya baru sekali bertemu, tapi aku masih mengingatnya dengan jelas. Terutama permainan catur miliknya yang begitu apik saat itu.
"Pertama-tama, biar aku jelaskan dulu mengenai sistem pendidikan yang ada di sekolah ini."
'Akademi Golden Star menganut sistem poin individu dimana peringkat siswa akan ditentukan hanya dengan berdasarkan jumlah poin individu tersebut.
Sumber poin individu yang pertama adalah Tes. Contohnya.. dalam sebuah tes matematika, peringkat pertama di kelas akan mendapatkan 10 poin individu. Peringkat kedua mendapat 5 poin dan peringkat ketiga sebesar 3 poin. Sedangkan untuk peringkat keempat sampai dengan peringkat terakhir.. mereka hanya akan mendapatkan 1 poin individu. Hal ini berlaku untuk semua jenis tes. Baik itu akademik, seni maupun olahraga.
Lalu, sumber poin yang kedua adalah Quest. Ini adalah sebuah tugas khusus yang diberikan kepada siswa untuk diselesaikan dalam kurun waktu tertentu. Tugasnya bisa dalam bentuk apa pun, tapi yang pasti itu bukanlah sesuatu yang tidak bermoral, mengancam keselamatan, ataupun menghabiskan uang. Contoh quest yang paling mudah, misalkan menyiram pot tanaman yang ada di halaman.
Semua quest memiliki level kesulitannya. Level kesulitan sebuah quest dimulai dari level F untuk quest yang paling mudah, kemudian lanjut ke E, D, C, B, A sampai yang paling sulit adalah level S.
Setelah mendapatkan sebuah quest, selain level dan apa tugasnya, di situ kalian juga bisa melihat batas waktu untuk menyelesaikannya. Ada juga jumlah orang yang dibutuhkan, serta besaran poin hadiahnya.
Di sisi lain, apabila kalian gagal menyelesaikan sebuah quest ataupun memilih untuk mengabaikannya.. Kalian akan diberi sebuah penalti pengurangan poin. Jumlah poin yang akan dipotong beragam. Namun yang pasti itu akan berjumlah setengah dari poin hadiahnya.
Lalu yang paling penting.. Di setiap akhir semester, siswa dengan jumlah poin individu terendah di angkatannya akan didrop out dari sekolah.
Sebaliknya, di setiap akhir semester kedua, siswa dengan poin individu tertinggi di angkatannya akan diberikan hak untuk memilih hadiah yang disediakan.'
__ADS_1
"Dari semua itu apakah ada pertanyaan?"
Tak ada yang bersuara setelah Haruka Sensei menyelesaikan penjelasannya. Orang-orang tampaknya masih tenggelam dalam ketidak percayaan dan mencoba mencerna sistem yang tidak biasa ini.
"Di-Dikeluarkan..?"
"Seriusan?!"
"Kalau begitu artinya.."
"Posisi kita masih belum aman dong?!"
Suasana kelas seketika menjadi riuh dengan berbagai reaksi yang diberikan oleh siswa. Mereka tampaknya baru selesai berpikir dan mengerti apa yang harus mereka waspadai.
"Sensi, aku mau bertanya.'
Seorang laki-laki di barisan terdepan mengangkat tangan dan membuat semua orang terdiam kembali.
"Silahkan, Yagami.."
Balas Haruka Sensei mempersilahkan.
"Untuk questnya itu kita dapat darimana? Apa itu akan diberikan juga untuk setiap orang?"
"Pertanyaan yang bagus. Namun sebelum itu, kalian harus mengganti handphone dulu dengan yang disediakan oleh pihak sekolah."
"Ha? Kenapa diganti? Aku ga mau pakai yang lebih jelek."
Protes seorang siswi dengan rambut dan kuku yang berwarna merah cerah. Penampilannya cukup berani. Seragam yang ia kenakan tampak tidak rapi. Kerah bajunya tidak dikancing dan dasi kupu-kupunya itu pun dipasangkan dengan longgar.
"Tenang saja. Handphone yang akan kalian dapat itu jauh lebih baik dari apa yang kalian punya sekarang. Di dalamnya juga sudah terinstal aplikasi mengenai poin pribadi dan segala layanan quest.
Nanti, seminggu sekali kalian juga akan mendapat satu buah quest dengan tingkat kesulitan yang acak. Ada juga quest lainnya yang berjenis Hidden Quest. Itu adalah quest yang tersembunyi dan harus memenuhi persyaratan khusus untuk membukanya."
Tanpa kusadari, sebuah senyum kecil telah tergambar di bibirku.
'Sistem poin pribadi-kah?'
Semua ini adalah sesuatu yang baru pertama kali aku dengar. Aku yang awalnya ke sini hanya untuk membalaskan dendam, tampaknya kinibmemiliki satu hal lagi yang harus kuperhitungkan.
***
__ADS_1