The Irregular At Elite High School

The Irregular At Elite High School
Bab 6 Eccentric


__ADS_3

Ada yang mengatakan bahwa jenius itu adalah mereka yang bisa menyederhanakan sesuatu yang rumit. Mereka mungkin terlihat seperti pemalas yang enggan mengambil banyak pekerjaan, namun pada dasarnya apa yang mereka lakukan itu justru adalah hal yang benar. Kita seharusnya tidak bekerja dengan keras menggunakan banyak waktu dan tenaga, melainkan dengan efisien.


Sama kasusnya seperti ujian yang barusan kami lakukan. Saat disuguhkan soal, insting utama kami sebagai seorang pelajar tentunya adalah berusaha untuk menjawabnya.


Di tempat dimana setiap orang tak saling kenal ini, semua orang akan terlihat sama pintarnya. Peluang untuk menebak seorang dengan nilai terendah adalah satu berbanding sepuluh. Seandainya.. Ya seandainya saja mereka menemukan orang dengan kemampuan akademik terendah di tim itu, apakah itu juga berarti mereka menemukan orang dengan nilai terendahnya? Seharusnya jawabannya 'iya'.


Untungnya oang-orang di timku tidak memperhitungkannya. Mereka juga tampaknya tidak pernah menyangka bahwa kemampuan akademik seseorang itu tidak selalu mencerminkan nilai mereka. Pada akhirnya.. mereka semua terkecoh dan seseorang yang justru memiliki nilai nol lah yang lulus dengan mudahnya.


***


Pengawas ujian memintaku untuk mengikutinya sampai di depan sebuah pintu. Tidak seperti ruangan lain dimana aku bisa tahu bahwa itu ruangan apa, di depan pintu itu sama sekali tidak ada keterangannya


Tok. Tok.


"Permisi."


Pengawas ujian itu mengetuk dua kali dan kemudian meminta ijin untuk membuka pintu. Di ujung dalam ruangan itu tampak sebuah meja kerja yang berlatarkan jendela kaca yang besar. Cahaya mentari masuk dengan leluasa membuat kegelapan seolah tak memilik tempatnya di ruangan ini.


Di dekat pintu masuknya terdapat juga sebuah area khusus untuk menerima tamu. Di sana terdapat sebuah meja kayu dengan ukiran antik dan beberapa buah sofa yang mengitari separuh meja tersebut.


"Oh, silahkan duduk."


Seorang laki-laki paruh baya menyambutku. Ia yang tadinya tampak sedang mengerjakan sesuatu di mejanya kerja tiba-tiba beranjak menghampiri


"Perkenalkan, saya Takeuchi Nao. Kepala Akademi Golden Star."


Sudah kuduga ia bukanlah staf biasa. Lihat saja tempat ini, sebuah ruangan khusus seperti ini pastinya hanya bisa ditempati oleh orang-orang tertentu saja. Namun satu hal yang tidak kusangka.. orang paling berkuasa di sekolah elit seperti ini ternyata adalah orang yang ramah juga.


"Saya Shunsaku Tomo, mohon bimbingan anda."


"Shunsaku tomo.. Sebuah nama yang bagus. Saya ucapkan selamat karena sudah berhasil lulus dari ujian khusus ini."


Ia mengulurkan tangannya dan kemudian kami pun berjabat tangan sesaat.


Meski sudah mendengar  hal itu secara langsung, entah kenapa rasanya seperti ada yang mengganjal di kepalaku. Lulus? Hanya dari ketiga ujian itu tadi? Bukannya bermaksud meremehkan, tapi menurutku memang ujian ini masih belum cukup. Yah, mengingat betapa rendahnya persentase kelulusan tersebut, aku yakin masih ada satu hal lain lagi yang menentukan seseorang lulus atau tidaknya.


"Bagaimana menurutmu ujiannya?"


Pertanyaan kepala sekolah itu membuatku berfokus kembali ke pembicaraan kami.


" Ujiannya menarik. Tahap pertama itu seperti menguji kemampuan membaca petunjuk dan menarik kesimpulan. Untuk tahap kedua jelas itu menguji konsentrasi dan strategi. Lalu yang terarakhir adalah gabungan dari keduanya. Bisa dibilang itu seperti memprediksi apa yang akan terjadi, namun kemudian kita mengubahnya sesuai keinginan kita."

__ADS_1


"Haa, Haa, Haa."


Sebuah rasa kepuasan tergambar di wajah kepala sekolah yang tertawa lepas.


"Padahal sangat sedikit yang bisa menebak sampai ke sana. Bagus sekali Shunsaku."


"Terima kasih."


"Terus, apa itu artinya kamu puas sama ujiannya?"


Pertanyaan itu adalah sesuatu yang telah kutunggu sejak tadi.


"Saya puas dengan ketiga ujian itu. Hanya saja.."


"Ada apa? Silahkan katakan saja. Ini tidak akan mempengaruhi kelulusanmu."


Baiklah, itu seperti sebuah lambu hijau untukku. Kalau sudah begini tak ada yang perlu kutahan ataupun takutkan lagi dari pembicaraan ini.


"Saya hanya penasaran. Selain karena sudah menyelesaikan ketiga tahap ujian tadi.. apakah ada faktor lain yang membuat anda meluluskan saya dari ujian khusus ini?"


Kepala sekolah terdiam. Ekspresinya mungkin tampak datar, namun aku justru merasakan suatu ketidaknyamanan dari tatapannya itu.


Membalas suatu pertanyaan dengan pertanyaan lain seperti ini biasanya ditujukan kepada mereka yang sudah mengetahui jawabannya namun tetap juga masih bertanya. Ya, dalam kondisi saat ini hal itu tidaklah salah.


'Bukannya kau sudah tahu jawabannya?'


Begitukah maksudnya? Baiklah.. jika itu maunya, dengan senang hati akan kulepaskan hal yang sudah sejak tadi mengganjal di kepalaku ini.


"Menurut saya, orang yang baru berhasil menyelesaikan ketiga tahap ujian itu belum pantas untuk lulus. Harusnya masih ada satu hal lagi.. Ya, untuk ujian khusus seperti ini seharusnya masih ada satu hal lain lagi yang menjadi pertimabangannya."


"Itu sungguh menarik. Tidak kusangka akan mendengar kesimpulan seperti itu lagi."


Kepala sekolah tersenyum sumringah. Perasaan tidak nyaman yang kurasakan tadi darinya seketika menjadi santai kembali.


"Terus apakah itu?"


Dari kata-katanya itu jelas bahwa ada satu hal lagi yang memang menjadi faktor penentu untuk lulus dari ujian khusus ini. Itu adalah satu faktor yang sangat subjektif dimana hanya dia yang bisa memberikan penilaian tersebut. Faktor itu adalah..


"Keeksentrikan seseorang. Itu kan yang anda nilai?"


"Sepertinya aku memang tidak salah menilaimu."

__ADS_1


Jika yang ia katakan itu adalah sebuah pujian, tentunya aku akan senang. Tapi.. bukankah arti lain dari 'eksentrik' itu adalah 'aneh'. Padahal aku sudah sengaja menggunakan kata itu untuk lebih membuatnya terkesan halus, namun ternyata sama saja. Rasanya malah seperti sedang merendahkan diri sendiri.


"Bukannya itu terlalu subjektif?"


Tanyaku mengubah topik pembicaraan yang jika dilanjutkan nampaknya akan semakin meruntuhkan pandanganku terhadap diri sendiri.


"Memang itu sangat subjektif. Tapi itu juga diperlukan. Belajar di sekolah itu nyatanya memang membosankan. Mengobrol, melakukan hobi, bermain games, kenapa siswa lebih menyukai itu ketimbang belajar? Alasannya jelas karena itu bersifat menarik. Siswa lebih memilih melakukan sesuatu yang seru, bukan sesuatu yang monoton dan membosankan. Karena itulah, saya berusaha membuat sekolah ini menjadi semenarik mungkin. Dan karena itu juga.. saya membutuhkan orang-orang unik seperti dirimu untuk bergabung di tempat ini."


Aku tertegun mendengar penjelasannya. Awalnya kupikir sistem pendidikan yang ia rancang beserta alasannya meluluskanku itu hanyalah kedok. Kupikir ia hanya ingin menonton hiburan dari sebuah panggung raksasa berkedok sekolah yang ia ciptakan ini.


Namun ternyata aku salah. Semua yang ia lakukan ini justru demi siswanya. Membuat sekolah yang tidak membosankan itu sepertinya boleh juga. Jika aku ingat lagi, rasanya memang tidak ada hal yang berkesan dari masa sekolahku sebelumnya. Datang dan pergi, melakukan hal yang sama berulang-ulang dan tanpa kusadari waktu pun telah berlalu.


'Sekolah yang unik dan tidak membosankan-kah?'


Tujuanku di sekolah ini hanya satu yaitu membalas dendamku ke keluarga Ichiji. Aku sebenarnya tidak peduli mau sekolah ini membosankan ataukah tidak. Namun seandainya memang bisa sedikit saja. Yah, sedikit saja itu bisa menghibur hatiku yang sudah terlanjur tenggelam dalam kegelapan ini.. mungkin aku akan mempertimbangkannya,  ajakannya itu yang terdengar seperti mimpi seorang anak muda.


"Kalau keberadaan saya justru tidak membuat jadi lebih menarik, bagaimana? Apa anda akan mendrop out saya?"


"Saya tahu kamu akan membuatnya jadi lebih menarik. Karena saya juga tahu, tujuan utamamu datang ke tempat ini."


Di situ seluruh tubuhku seketika menjadi kaku. Orang ini.. apakah ia bersungguh-sungguh? Padahal selama di sini aku tak ada sedikitpun membahas mengenai keluargaku dan juga Ichiji. Mungkinkah..background check? Sepertinya aku terlalu meremehkan sumber informasi yang dimiliki oleh orang ini.


"Tidak usah tegang seperti itu."


Kepala sekolah mencoba mencairkan suasana.


"Saya tidak akan ikut campur dengan urusan keluarga kalian. Selama itu tidak melanggar aturan yang ada di sekolah, kalian bebas melakukan apa pun."


"Heee."


Aku tak bisa menahan senyumanku saat mendengar itu. Rasanya seperti seseorang memberimu panggung lengkap dengan sepasang sarung tinju dan juga wasitnya.


"Terima kasih banyak Takeuchi sensei. Kalau begini rasanya jadi tidak sabar lagi untuk mulai hari pertama sekolah."


"Sekarang kamu kelihatannya jauh lebih bersemangat ya."


"Bagaimana tidak? Seseorang baru saja memberikanku sebuah ring tinju."


"Haa Haa Haa.. Itu perumpamaan yang menarik. Kalau begitu saya ucapkan, 'Selamat datang di Akademi Golden Star."


***

__ADS_1


__ADS_2