
Saat kecil dulu aku masihlah tidak mengerti mengenai apa yang orang dewasa pikirkan. Terutama jika itu berhubungan dengan uang, martabat, maupun cinta. Semua itu adalah hal yang tidak bisa aku mengerti. Apa yang aku tahu saat itu hanyalah bersenang-bersenang.. menikmati hidup layaknya seorang anak kecil yang pada umumnya.
'Apakah itu salah?'
Bagaimana kalau seandainya dulu aku lebih banyak belajar? Bagaimana kalau waktu itu aku lebih berusaha untuk mengerti mengenai kehidupan orang dewasa.. apakah aku bisa menyelamatkan keluargaku?
Walaupun aku berusaha untuk tidak memikirkannya, pertanyaan tersebut selalu saja datang menghantui. Itu sudah seperti sebuah mimpi buruk yang bisa kapanpun muncul, bahkan disaat kau sedang terjaga sekalipun.
'Seandainya saja di dunia ini ada sedikit keajaiban.'
Ya.. seperti yang ada di cerita sebuah novel dimana sang tokoh utamanya kembali ke masa lalu dan mengubah takdirnya. Namun keajaiban seperti itu hanyalah sebuah khayalan, sesuatu yang absurd dan tidak mungkin untuk terjadi. Meski begitu.. Meskipun aku tahu bahwa itu tidaklah nyata.. aku masih saja mengharapkannya.
"Haaah.."
Aku menghela napas panjang, membuang udara sisa pernapasan sembari mengosongkan pikiran.
Kenyataannya saat ini sudah tidak ada yang bisa kulindungi ataupun selamatkan lagi. Mengharapkan keluargaku untuk kembali menjadi seperti dulu pun rasanya percuma. Namun.. bukan berarti aku hanya akan tinggal diam dan menjalani hidup seolah menerima semuanya begitu saja.
'Jangan bercanda!'
Meski sudah tak ada lagi yang bisa kulakukan kepada keluargaku, bukan berarti juga tak ada lagi yang bisa kulakukan kepada keluarga Ichiji. Mereka yang telah berbuat jahat pantas untuk mendapatkan Karmanya.
Aku percaya jika Tuhan akan membalaskan. Namun.. sepertinya aku tidak akan bisa menungguNya untuk memberikan hal itu. Biarlah aku sendiri saja, yang akan memberikan Karma itu kepada mereka.
***
Kriiing. Kriiing.
Dengan mata yang masih tertutup aku mengusapkan jariku ke layar handphone dan suara alarm itu pun menghilang. Tidurku benar-benar nyenyak. Kasur di asrama ini sungguh empuk hingga membuat tubuhku merasa rileks hanya dengan berbaring di sana.
'Ah, sudah waktunya bangun.'
Oh ya, setelah ujian kemarin itu aku langsung pindah ke asrama milik Akademi Golden Star. Ini adalah tempat tinggal khusus yang disediakan untuk siswa di sekolah ini.
Asramanya sendiri terbagi menjadi dua buah bangunan yang bersebelahan. Satunya khusus untuk siswi perempuan dan satunya lagi khusus untuk siswa laki-laki.
Di dalamnya terdapat sebuah kamar tidur, kamar mandi, dapur, dan juga sebuah ruang TV lengkap dengan sofanya. Di luar juga ada sebuah balkon kecil yang bisa digunakan untuk bersantai sambil menikmati udara segar.
Asrama ini kedengarannya mungkin biasa-biasa saja. Namun jika dilihat dari perabotan dan desain interiornya yang begitu berkelas.. Dijamin rasanya akan sungguh berbeda. Jangankan tiga tahun.. tinggal di sini lebih lama pun rasanya bukan masalah.
Aku pun beranjak dari kasur dan melakukan sedikit peregangan. Ngomong-ngomong ini adalah hari pertama dimulainya semester baru. Di hari pertama seperti ini, orang-orang pada umumnya akan sangat berhati-hati dengan penampilannya. Mereka akan berusaha untuk tampil sebaik mungkin demi membangun sebuah kesan pertama yang memukau.
Menurutku itu lucu. Apa lagi disaat mereka tidak menjadi dirinya sendiri hanya demi mendapatkan perhatian. Perilaku yang sungguh kontradiktif. Lagi pula menjadi pusat perhatian pun tidak selalu baik. Contoh nyatanya sama seperti bagaimana keluarga dihancurkan.
Jadi karena itulah.. di hari pertama sekolahku ini aku tidak ingin tampil mencolok. Aku akan bergerak bagaikan seekor serigala yang kuat, cerdik, gesit, dan tanpa disadari oleh siapa pun.. aku akan menerkam mangsaku.
'Begini saja cukup.'
Setelah mengenakan seragam dan merapikan rambut, aku pergi meninggalkan asrama. Udara pagi di awal musim semi ini ternyata masihlah dingin. Napasku pun menyembulkan asap, membuatku tampak seperti sebuah lokomotif kereta yang sedang bergerak menuju ke gedung sekolah.
Tak jauh dari tempatku ini tampak sebuah pohon sakura besar yang tumbuh di pinggir jalan. Dahan-dahannya bergoyang saat angin datang dan ratusan bunga pun kemudian menari di udara. Ini rasanya seperti alam menyambut kedatanganku.
'Perempuan itu..'
Pandanganku beralih ke arah seorang perempuan yang sedang berdiri di bawah pohon. Ia mungkin sedang mendongak ke atas, tapi aku masih bisa melihat bagaimana kedua matanya takjub akan pemandangan di atas itu.
__ADS_1
"Shunsaku."
Ia menyadari kedatanganku dan kemudian menyapa. Kami baru saja kenal kemarin, kalau tidak salah namanya..
"Kitagawa."
"Oh.. kamu ingat namaku juga?"
"Tentu saja. Kita baru saja ketemu kemarin kan."
Kitagawa menahan senyumnya. Entah bagaimana tampaknya itu membuatnya senang.
"Baguslah kalau begitu. Oh ya, aku lupa!"
Ia tiba-tiba terkejut seakan melupakan sesuatu yang penting. Apa ada barangnya yang ketinggalan? Atau ia lupa mengunci pintu mungkin? Entah, tapi itu pasti sangatlah penting.
"Selamat pagi.. Mohon kerja samanya untuk hari ini."
"Haaah?"
"Jangan cumaa 'Hah?' harusnya balas juga sapaanku."
Gerutu Kitagawa dengan responku yang tak bisa mengikuti keinginannya.
"Baiklah.. selamat pagi. Mohon kerja samanya juga."
Mendengar itu Kitagawa pun merasa puas. Ia lalu membuka sebelah telapak tangannya, membiarkan sehelai dari sekian banyaknya bunga sakura yang berguguran mendarat di sana.
"Nee, apa kamu suka Sakura?"
"Aku cukup menyukainya."
"Begitukah.. apa kamu ga merasa sedih ? Maksudku bunga-bunga itu.. mereka terpisahkan dari dahannya dan terbang jauh terbawa angin."
"Jadi kamu tidak menyukainya?"
"Entah.. aku bahkan ga mengerti dengan apa yang kurasakan. Pemandangan bunga yang berterbangan itu sungguh indah.. Namun di sisi lain aku juga merasa bersalah karena berpikir seperti itu. Rasanya, aku seperti bahagia di atas penderitaan orang."
Kitagawa.. dibalik penampilannya yang tenang dan sifatnya yang terlihat dewasa itu ternyata tersimpan sebuah hati yang polos.
"Jadi kamu kasihan karena bunga-bunga itu terpisahkan dari pohonnya?"
"Ya.. mungkin begitu."
"Kenapa kamu harus sedih? Lepas dari dahannya.. bukannya memang itu yang mereka inginkan?"
"Bagaimana kamu bisa yakin?"
Pandapatku yang tak sejalan seketika membuatnya melirik dengan wajah kesal.
"Tentu saja aku yakin. Kalau aku yang jadi bunga itu.. sebelum mati aku ingin merasakan apa yang namanya kebebasan. Terbang di langit yang cerah dan melihat hal-hal yang baru di luar sana. Apa lagi, mendarat di tangan seorang siswi SMA sepertimu.. Kurasa ga buruk juga."
"A-AA-APA?!"
Wajah Kitagawa seketika memerah. Itu sepertinya berhasil membuatnya tersipu.
__ADS_1
"Menjijikan! Jangan menghayal yang bukan-bukan!"
"Looh.. aku kan hanya menjawab pertanyaanmu."
"Tapi bahasamu itu-"
"Sudahlah.. Lebih baik kita berangkat.."
Aku memotong pembicaraannya dan mengambil langkah untuk pergi dari sana.
"Hoi, tunggu..! Kamu sengaja mengalihkan pembicaraan!"
Meski Kitagawa masih belum terima, aku tidaklah mempedulikannya dan tetap berjalan.
"Ngomong-ngomong.."
Ia pun kembali memecah keheningan yang sempat muncul.
"Apa kamu sudah cek email?"
"Sudah.. Soal pembagian kelas kan?"
"Iya, aku ada di kelas 'D'.. kalau kamu?"
"Sama, aku juga.."
"Eh? Seriusan?!"
Kitagawa yang tercengang sampai menghentikan langkahnya.
"Kenapa kaget? Kamu ga suka?"
"Bu-Bukan ga suka.. Aku cuma bingung aja sama cara mereka menentukan kelas kita. Lagi pula, katanya kelas D itu kelas yang paling rendah di antara keempat kelas yang ada."
"Aku ragu mereka menggunakan cara yang khusus untuk membagi kita. Itu paling dilakukan secara random."
"Menurutmu juga begitu kan? Sudah kuduga.. Mereka menaruh kita di kelas 'D' itu bukanlah karena disengaja."
"Kitagawa.. kamu sebenarnya cuma ga ingin dianggap bodoh kan?"
"...."
Kitagawa langsung memalingkan wajah. Tak ada suara apa lagi jawaban yang terdengar dari mulutnya. Kalau reaksinya seperti ini, berarti jawabannya tidaklah salah lagi.
"Pendapat orang itu bukan hal yang harus kamu pedulikan.. fokus saja pada bagaimana kamu membuktikannya."
Kitagawa kembali memandang ke arahku. Ketenangan dan kepercayaan diri di wajahnya yang kalem itu akhirnya kembali seperti saat ia memimpin ujian kemarin.
"Terima kasih."
"Ya.. bukan apa-apa."
Tanpa terasa akhirnya kami sampai juga di sekolah. Itu tadi memanglah waktu yang singkat. Namun untuk sebuah perjalan.. aku cukup menyukainya.
***
__ADS_1