THE LEGEND OF KING EDWARD

THE LEGEND OF KING EDWARD
Ch 9 : Taruhan


__ADS_3

Setelah melihat tangan Kiri Edward terluka, akibat serangan rubah itu... thalia mengerahkan salah satu burung Phoenix kematiannya agar cakar tajam yang bersarang ditangan kiri Edward daapat dilepaskan.


"Manipulasi sihir, Burung Phoenix kematian... hei putri angelica, perintahkan rubah jelek mu itu untuk melepaskan cakarnya dari tangan kiri Edward" teriak thalia sembari Melancarkan serangannya.


"Dasar pengganggu... Setelah ini akan ku pastikan, kau akan mati ditangan rubah kesayangan ku" ujar putri angelica sembari memerintahkan rubah itu untuk melepaskan cakar tajamnya.


"Bagaimana... Kalau kita berduel putri Angelica" ujar Edward.


"Baiklah, jika itu keinginan mu sebelum mati... Akan tetapi, si putri byzantium bodoh itu harus berhadapan dengan rubah ku..." Ujar putri angelica.


Dengan perintah dari putri angelica, rubah yang selalu ia duduki berlari menuju Thalia guna memisahkannya dari Edward.


Edward tak bergeming sedikitpun, karena ia yakin thalia mampu menghadapi rubah itu.


"Edward... Kalahkan nenek sihir itu, dan jangan khawatirkan aku... Kau hanya perlu fokus akan pertarungan mu" ujar thalia yang terus menjauh.


Derap kaki thalia terdengar semakin menjauh, diikuti langkah besar sang rubah yang menggoncang seluruh desa... seketika putri angelica yang turun dari hewan buas kesayangannya, tepat berada didepan Edward.


"Setelah melihat ku dari dekat, apa kau yakin masih tak ingin pergi ke kerajaan protonium bersama ku" ujar putri angelica dengan gaya mempesona.


"Maaf putri untuk saat ini kita adalah musuh, mungkin suatu hari nanti saat kerajaan mu tak menyerang Byzantium lagi... Disaat itu kita berdua bisa berteman" ujar Edward dengan melemparkan senyum tipis.


"Hahaha... Ucapan mu itu sangat menjijikkan pria tampan, siapa juga yang mau berteman dengan mu... Orang yang tak memiliki elemen sihir apapun dan pengguna teknik rendahan" ujar putri angelica dengan disertai tawanya.


"Seseorang memang tak bisa dinilai dari luarnya saja, kau yang begitu cantik ternyata menyimpan kesombongan yang sangat besar... Hari ini akan ku hancurkan semua itu" ujar Edward.


Limpahan energi sihir yang telah Edward tutup-tutupi dari putri angelica, akhirnya ia lepaskan karena hampir tak mungkin untuk mengalahkannya dengan setengah kekuatan Edward... Melihat hal ini putri angelica bergumam dalam hatinya.


"Tampaknya, Byzantium telah menemukan sebongkah berlian kasar itu... Dan pastinya pada saat perang besar selanjutnya aku akan berada di pihak mu" gumam putri angelica.


Akhirnya terkuak elemen sihir yang putri Angelica, penggunaan elemen air bertipe menyerang... Dengan memanipulasi elemen sihir yang ia miliki terciptalah sebuah tombak yang sangat elegan.


Tak jauh dari tempat pertarungan Edward, thalia sedang berusaha sekuat tenaga untuk bisa mengalahkan sang rubah.

__ADS_1


"Kalau hanya terus menghindar, mana mungkin rubah itu dapat kalah ditangan ku... Aku harus memanipulasi elemen sihir ku menjadi sesuatu yang lebih efektif untuk melawannya" gumam putri thalia sembari mengarahkan Phoenix kematiannya kearah rubah itu.


Serangan demi serangan yang thalia lancarkan, tak berdampak besar pada rubah itu... Diwaktu seperti ini, ia hanya bisa berharap pada Edward bisa mengalahkan putri angelica.


Keadaan yang sama peliknya dialami Edward, serangkaian teknik berpedangnya terus dipatahkan putri angelica... Terlebih lagi, tangan kanan Edward yang terluka parah semakin melemahkan serangan yang ia lancarkan.


"Jika kau hanya memiliki kemampuan segini, kau tak akan mampu mengalahkan ku... Apalagi membawa Bizantium memenangkan perang kali ini" ujar putri angelica.


"Terima kasih, karena telah menilai seberapa kuat diriku... Namun tekad ku untuk membantu thalia tak akan sirna hanya karena batas kemampuan ku ini..." Ujar Edward sembari terus melancarkan serangan.


Kali ini teknik berpedangnya mampu memukul mundur putri angelica, Edward pun memperpanjang jangkauan pedangnya untuk menciptakan sebuah ledakan sihir yang besar... Namun, sesaat sebelum pedangnya mampu menghujam putri angelica, Terlihat putri itu menggunakan teknik manipulasi sihir tingkat tinggi dengan menciptakan seekor naga berkepala tiga menggunakan elemen air miliknya... Dengan mudah serangan Edward dipatahkan oleh sang naga.


"Tekad mu itu sangat bagus Edward... Namun dengan kekuatan segitu, kau hanya akan mati saat perang bergejolak.... Sekarang akan ku akhiri hidupmu disini" ujar putri Angelica.


Tampak dari ketiga kepala naga itu, sebuah energi sihir yang dipadatkan disatu titik guna menciptakan sebuah serangan mematikan... sebuah ledakan energi sihir pun menghantam tubuh Edward, bersenjatakan pedangnya Edward berusaha menahan serangan ini... Akan tetapi ia tak mampu bertahan lebih lama lagi, dan terkena serangan dari putri angelica ini.


"Selesai sudah pertarungan ini... Sekarang aku akan membawa mu ke kerajaan protonium" ujar putri Angelica.


Pada hakikatnya, sebuah kekuatan besar terlahir pada keadaan genting hal ini pun ditunjukkan Edward dan thalia.


"Baiklah, dalam keadaan begini aku hanya perlu memusatkan seluruh energi sihir ku... guna menciptakan sesuatu yang lebih berguna saat melawan rubah ini.. hyaaa... Teknik manipulasi sihir tingkat tinggi, Golem es..." ujar thalia yang akhirnya mampu menggunakan teknik manipulasi sihir tingkat tinggi dan menciptakan sebuah Golem es.


Dalam keadaan genting ini, sebuah golem es tercipta dari energi sihir thalia... Dalam sekejap ia dapat membalikkan keadaan, Serangan bola api yang terus mengarah kepadanya dapat dengan mudah dipatahkan oleh sang Golem.


"Dasar rubah sialan... Serangan mu itu hampir saja membakar baju ku tahu, dan akan ku akhiri semua ini dengan satu serangan ku..." Ujar putri thalia.


Akhirnya... Sebuah tinjuan keras bersarang di dada rubah itu, tepat mengenai luka yang ditorehkan oleh Edward... Perlahan tubuh sang rubah tumbang dihadapan kekuatan Golem es thalia.


"Fyuh... Kalau tidak ada luka yang ditinggalkan Edward di dada rubah itu, pastinya tinjuan Golem ku tak mampu menumbangkannya... Dan sekarang aku harus bertemu Edward, mungkin ia dalam bahaya saat ini" ujar thalia.


Akibat serangan putri angelica, seluruh tubuh Edward terkena dampak serangan yang sangat kuat... Akan tetapi dari tubuhnya kini memancarkan sebuah elemen sihir yang sangat langka, seluruh tubuh Edward pun dilapisi oleh elemen sihir cahaya bagaikan baju besi yang mampu menahan segala serangan.


"Tampaknya kau memiliki ketahanan yang bagus, Terlebih lagi elemen sihir yang sangat langka itu muncul diwaktu yang tepat... Dan sekarang akan aku permudah pertarungan ini dengan sebuah taruhan, yang mana jika kau dapat menjatuhkan ku walaupun hanya sekali, aku akan pergi meninggalkan kerajaan Bizantium bersama rubah ku... serta meminta ayahku untuk menunda perang kali ini sampai dua bulan lagi, akan tetapi jika kau tak mampu menjatuhkan ku kau harus ikut dengan ku kerajaan protonium dengan senang hati" ujar putri angelica.

__ADS_1


"Baiklah, akan ku terima tawaran mu itu... Dan bersiaplah untuk meninggalkan kerajaan ini" sahut Edward.


Serangan demi serangan, Terus dilancarkan putri angelica dan naga berkepala tiga kearah Edward... Target utama Edward sekarang untuk menghancurkan naga berkepala tiga.


"Hiya... Matilah kau naga bodoh, teknik berpedang... tarian pembunuh naga" ujar Edward sembari menghujam naga itu dengan pedang elemen cahaya miliknya.


Sebuah serangan kuat yang bahkan tak mampu... Dibendung oleh naga itu seketika menghancurkannya berkeping-keping.


"Perkembangan yang sangat bagus Edward... Dan sekarang giliran ku untuk melancarkan serangan" ujar putri Angelica.


Sebuah zirah yang terbuat dari elemen sihir air milik putri angelica, menyelimuti tubuhnya seperti yang Edward miliki. Suara kedua senjata mereka yang terus beradu, menggema di sekitar tempat pertarungan... Putri angelica masih mendominasi pertarungan, karena kelihaiannya menggunakan tombak.


"Jangan terlalu memaksakan diri... walaupun teknik berpedang mu sangat hebat, semua itu dapat dengan mudah ku patahkan dengan tombak ku" ujar putri Angelica.


Tampak Edward menjauh dari putri angelica yang menghunuskan tombak nya kearah Edward, sembari melemparkan pedang yang ia pegang... Elemen cahaya miliknya nya pun ia pusatkan dikedua kaki guna melesat dengan cepat, akhirnya Edward bergerak menuju tombak yang siap membunuhnya kapan pun.


"Kau memiliki satu kelemahan putri... Yaitu kau tak mampu membunuh seorang pun, karena itulah kau membiarkan para penduduk desa ini mengungsi ke kerajaan byzantium bukan?" Ujar Edward sembari mengarahkan sebuah tinjuan keras kearah putri angelica.


Seketika putri Angelica tertegun mendengar apa yang Edward katakan, sebuah tinju keras pun bersarang di bahu kiri sang putri... Seketika ia kehilangan keseimbangan dan akhirnya terjatuh.


Thalia yang baru sampai dan melihat kejadian ini, Hanya dapat mengagumi intuisi yang dimiliki Edward.


"Fyuh... Akhirnya selesai juga, sini biar aku bantu berdiri" ujar Edward sembari mengulurkan tangannya kearah putri angelica.


"Kau memang sangat kuat Edward... Maaf karena aku menghina mu tadi, itu semua kulakukan agar kau dapat mengeluarkan seluruh potensi yang kau miliki" sahut putri angelica sembari berdiri dengan menerima uluran tangan Edward.


"Hm... Tidak perlu minta maaf putri, dari pertama melihat mu aku tahu kau sangat baik" ujar Edward dengan senyum tipis.


Sebuah senyum tipis yang dilontarkan Edward membuat putri Angelica tersipu malu.


"Ehem... Disini masih ada aku lho, maaf mengganggu adegan romantis kalian... Tapi aku hanya mengingatkan Kondisi kakek sangat parah dan membutuhkan perawatan secepatnya" teriak thalia dengan wajah yang cemberut.


"Tampaknya ia cemburu pada ku bukan?... sekarang aku akan menepati janji ku, serta persiapkanlah dirimu... karena dua bulan dari sekarang saat perang bergejolak didesa ini, aku sudah menghilangkan kelemahan ku tadi... Dan sampai jumpa lagi Edward" ujar putri angelica.

__ADS_1


Dengan mengucapkan Salam perpisahannya dengan Edward, ia bergegas menuju rubah yang selama ini selalu bersamanya... Untungnya sang rubah itu dapat sadar kembali Ketika sang putri menyalurkan energi sihirnya. Dengan langkah yang besar dan cepat dari sang rubah, perlahan mereka menghilang dari pandangan Edward dan thalia.


__ADS_2