
Dari kepulan asap yang mulai menipis tampak... Siluet thalia dan Edward, walaupun mereka dapat mengalahkan mahluk setengah iblis itu, sekujur tubuh Edward dan thalia dipenuhi luka-luka.
Merasa khawatir dengan kondisi thalia, Edward bergegas menuju tempat thalia yang berdiri didekat mayat penyihir etengah iblis itu.
"Hosh...hosh... Kamu baik-baik saja kan?... Dan sebenarnya teknik sihir apa yang dilakukan penyihir ini, hingga ia mampu bangkit dari matinya dan memperoleh kekuatan yang sangat besar" ujar edward dengan nada yang terengah-engah.
"Cuman luka ringan kok, jadi kau tak perlu khawatir... Dan mengenai teknik yang digunakan penyihir ini, sering disebut sebagai menjalin kontrak dengan kaum iblis... Peri yang melakukan teknik ini kami sebut sebagai kaum dark Elf, serta pada era kegelapan dulu... Kaum dark elf bersekutu dengan raja iblis yaitu Lucifer sehingga ia memiliki daerah kekuasaan sendiri terletak didesa yonghan" ujar thalia sembari terus mengamati penyihir yang telah mati itu.
"Lantas... Apa yang dilakukan kaum dark elf itu, pada saat era kegelapan yang kau maksud itu" ujar Edward.
"Singkat cerita tiga ratus tahun yang lalu, saat perang di era kegelapan para kaum iblis dan kaum dark elf menguasai seluruh daratan didunia peri... tak puas hanya dengan menguasai Dunia peri, mereka mencoba menyerang dunia manusia... Dengan Menargetkan kerajaan Britania sebagai langkah awal mereka untuk menguasai dunia manusia, dan tak lama kemudian perang besar berkecamuk di kerajaan Britania, kaum iblis dipimpin oleh rajanya sendiri yaitu iblis Lucifer sementara itu kerajaan Britania dipimpin oleh raja pertama mereka yaitu salvandor tenoch, dengan sebuah pedangnya yang sangat legendaris bernama sword of glory... Kakek ku pun ikut andil dalam perang ini guna membantu kerajaan Britania, perang kala itu memakan banyak korban jiwa... Akhirnya Lucifer dapat dibunuh oleh raja salvandor, namun sebelum Lucifer benar-benar mati ia mengucapkan sumpah... bahwa suatu hari nanti ia akan menguasai kerajaan Britania... Karena tak menyepelekan ancaman Lucifer, raja salvandor pun menyimpan sword of glory... di suatu desa dunia peri karena hanya pedang ini yang mampu membunuh raja Lucifer" ujar thalia menceritakan segalanya yang ia ketahui.
Mendengar apa yang thalia ceritakan, Edward pun mengetahui tentang sejarah perang besar di era kegelapan yang sebelumnya tak pernah ia dengar.
Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, mereka melanjutkan perjalanan ke desa selanjutnya yaitu desa rosmeri
karena kondisi kakek Morgan semakin memburuk. terlebih lagi kemungkinan besar didesa rosmeri sudah ada putri angelica Mathew di sana.
"Hiya...hiya..." Terdengar suara teriakan kuda yang terus dipacu dengan cepat.
"Setelah kejadian didesa nercheseri, aku berharap putri dari kerajaan protonium tak menghalangi perjalanan kami... Dan kemungkinan terburuknya kami berdua harus melawan putri itu untuk melanjutkan perjalanan" gumam Edward.
perjalanan kali ini tak akan menghabiskan banyak waktu, karena jarak yang cukup dekat antara desa nercheseri dan desa rosmeri.
berbeda dari perjalanan menuju desa-desa sebelumnya, sepanjang mata memandang tak tampak sedikit pun tanda akan terjadinya pertarungan disekitar.
"aneh sekali... tak ada sedikitpun tanda pertarungan sepanjang perjalanan, apakah putri angelica sudah tak berada didesa rosmeri lagi?" gumam Edward.
dari kejauhan tampak keadaan desa tenang-tenang saja, namun... terlihat dengan jelas seekor rubah berekor sembilan yang berwarna merah terang terletak tak jauh dari pintu masuk desa. tentunya hewan buas yang satu ini memiliki level yang berbeda dari bicorn sang raja hewan buas.
"thalia... tampaknya para penduduk didesa ini dapat dievakuasi ke kerajaan byzantium, karena tak ada sedikitpun jejak pertarungan disini... dan sepertinya nanti akan ada pertarungan yang berat bagi kita berdua untuk melawan putri angelica" ujar edward.
"kau benar, dari jarak segini saja... aku sudah merasakan dua energi sihir yang besar, pastinya itu berasal dari putri angelica dan hewan buas miliknya" sahut thalia.
belum sampai mereka menginjakkan kaki didesa rosmeri, Edward menghentikan kereta kuda yang mereka kendarai dibawah pohon besar yang jauh dari pintu masuk desa agar kakek tak terkena dampak akan pertarungan nantinya.
"thalia... ayok kita ke desa itu dengan berjalan kaki, agar kakek tak terkena dampak pertarungan kita nantinya" ujar Edward sembari turun dari kudanya.
__ADS_1
"ya... aku juga setuju dengan apa yang kamu lakukan, ayok kita kalahkan putri itu" ujar thalia sembari menghampiri Edward.
dari jarak Edward sekarang terlihat dengan jelas rubah dan putri itu masih tertidur, hal ini tentunya dapat menguntungkan mereka karena dapat menyerang dengan tiba-tiba...
namun thalia bukanlah orang yang sembrono dalam melakukan segala sesuatu, setiap tindakan yang dilakukan memerlukan sebuah rencana yang mampu meningkatkan persentase keberhasilan yang tinggi atas setiap misi yang dia emban.
"sebelum kita menyerang mereka, lebih baik kita menyiapkan sebuah rencana agar apa yang kita lakukan tak sia-sia" ujar thalia sembari memikirkan sebuah rencana.
"hm... aku sudah mempunyai rencana yang bagus, dengan rencana ku ini kita dapat mengalahkannya dengan cepat... dengan ini kuberi nama rencana ku, menyerang langsung tanpa memberi celah musuh untuk kabur" ujar Edward sembari berlari kearah putri thalia dengan memegang pedang sihirnya.
"hei... bodoh rencana macam apa itu... kau hanya akan membuat kita semua mati konyol
tahu..." ujar thalia sembari mengejar Edward yang hendak menyerang rubah itu dan putri angelica.
putri angelica masih tak menyadari Edward...
yang hendak menyerang dirinya, dilain pihak Edward dengan kaki yang telah diperkuat dengan energi sihirnya... melesat dengan cepat kearah putri angelica, sebuah lompatan yang tinggi disertai kuda-kuda yang kuat ia bersiap melancarkan salah satu Teknik berpedangnya.
"hiya... teknik berpedang tarian pembunuh naga" ujar Edward sembari mengayunkan pedangnya kearah putri angelica.
"duar..." suara ledakan sihir akibat serangan Edward.
"Roar..." teriakan rubah itu menggema di seluruh desa.
"wah... ternyata, ada orang-orang bodoh datang untuk mengantarkan nyawanya padaku... dengan senang hati aku akan menyambut kalian, rubah kesayangan ku bersiaplah untuk bertarung..." ujar putri angelica yang masih bersikap tenang.
"hei putri... kau akan merasakan keganasan dari rencana yang ku buat, dan akan ku pastikan dengan serangan ku kali ini akan membuat mu lari ke kerajaan protonium... teknik berpedang tarian pembunuh naga" ujar edward sembari menyiapkan lagi kuda-kudanya untuk menyerang.
tak sempat ia melancarkan Serangannya...
terasa sensasi Sangat dingin dipundaknya, seakan seluruh tubuhnya telah dikumpulkan dengan kekuatan sihir.
"dasar pria bodoh... serangan mu tadi sudah membuatnya terbangun, dan sekarang kau mau menyerangnya lagi tanpa rencana apapun" ujar thalia yang terus memegang pundak Edward.
"hahaha... hei pria tampan, daripada bersama gadis cerewet itu sebaiknya kau bersamaku dan akan ku kabulkan semua permintaan mu..." ujar putri Angelica untuk menggoda Edward.
"dasar wanita ******... jangan sembarang ngomongin orang tahu, dan apa kau tak mengenali ku lagi putri termuda dari kerajaan Byzantium" ujar thalia dengan nada kesal.
__ADS_1
"tidak kok... aku masih sangat jelas mengingat wajah bodoh mu itu, aku penasaran sihir apa yang kau gunakan sehingga mampu membuat pria setampan dia ikut dengan mu..." ujar putri angelica dengan senyum tipis.
Edward hanya diam membisu melihat cek-cok mereka berdua.
"baiklah, aku akan memaksamu ikut dengan ku pria tampan..." ujar putri angelica sembari memerintahkan rubah yang ia miliki untuk menyerang.
terlihat... sebuah bola api besar dilancarkan putri angelica, kearah Edward dan thalia... untungnya sebuah benteng es sudah thalia ciptakan disaat yang tepat.
"hahaha... kalian mau mengulur waktu ya, atau kalian sedang begituan?... dasar wanita ****** kau sengaja ingin memonopoli pria itu bukan?" ujar putri angelica dengan nada kesal.
tampak serangan demi serangan terus dilancarkan, untuk menghancurkan benteng es thalia... tak butuh waktu lama perlahan benteng es itu pun mulai kehabisan energi sihir, dan terlihat dari sisa-sisa benteng es itu Edward dan thalia berdiri dengan percaya diri.
"hm... mungkin di protonium tidak ada cowok tampan bukan?... sampai-sampai kau terus mengejar Edward" ujar thalia.
"jadi... kau bernama Edward sekali lagi, apa kau yakin tak ingin Ikut dengan ku?... dan jika itu memang benar kau akan mati disini" ujar putri angelica.
"tidak deh... aku sudah berjanji akan membantu putri cengeng ini, sekarang kau bisa membunuhku" ujar Edward.
tanpa basa-basi Edward dan thalia menyerang putri Angelica dari arah yang berbeda, Serangan yang sangat terorganisir terus mereka lancarkan.
hujan bola es terus thalia tembakan kearah rubah ekor sembilan, tampak pula tarian pedang Edward yang mampu menorehkan luka di kulit rubah itu.
"manipulasi sihir... Phoenix kematian" ujar thalia.
beberapa burung Phoenix yang ia buat, mengenai keempat kaki rubah itu... seketika membuatnya tak mampu bergerak.
melihat celah yang sudah susah payah thalia ciptakan, Edward pun tak menyia-nyiakan kesempatan ini.
"hiya... terimalah ini... teknik berpedang, tarian pembunuh naga..." teriak Edward sembari berlari kearah dada rubah itu.
dengan Terus menghindari serangan rubah itu, Edward mendekati dada sang rubah... limpahan energi sihir yang Terus dipadatkan Edward di pedang yang ia pegang, tentunya mampu memberikan luka yang serius pada rubah itu.
"matilah kau... rubah sialan" ujar Edward bersamaan dengan pedangnya yang mampu menghantam dada sang rubah.
serangan yang dilancarkan Edward yang tepat mengenai sasarannya, menciptakan sebuah luka yang serius di dada sang rubah... serta rubah itu langsung pingsan tak sadarkan diri.
"fyuh... akhirnya rubah itu tumbang juga... sekarang tinggal mengalahkan putri Angelica"
__ADS_1
gumam Edward.
rubah yang sebelumnya pingsan... kini kembali berdiri sembari mengayunkan cakar tajamnya kearah Edward... untungnya ia mampu menangkis serangan ini, walaupun tangan kirinya harus terluka parah.