THE LEGEND OF KING EDWARD

THE LEGEND OF KING EDWARD
Ch 7 : Desa nercheseri


__ADS_3

matahari yang mulai menampakkan wujudnya, serta terdengar kicauan burung-burung untuk mengawali pagi pada hari ini. thalia yang bangun lebih dulu beranjak dari kereta kuda tempat ia tidur, guna membangunkan Edward yang masih tertidur pulas.


"sudah pagi begini ia masih saja tidur... suara dengkurannya pun terdengar Dengan jelas, pasti ia sangat lelah" gumam thalia.


terlihat sisa-sisa api unggun yang telah tak menyala lagi, Edward yang tertidur didekat kakek masih belum bangun jua.


"hei... bangun kita harus melanjutkan perjalanan, agar sampai dikerajaan tepat tengah hari nanti" ujar thalia untuk membangunkan Edward.


"hm... baiklah,aku akan bangun tapi... tolong berikan aku waktu untuk tidur sebentar lagi" sahut Edward sembari terus melanjutkan tidurnya.


"jika itu mau mu, aku akan membiarkan kau tidur sebentar lagi..dan itu artinya kau juga akan menunda pengobatan kakek bukan?" ujar thalia dengan senyum tipis.


"tidak thalia... aku akan bangun sekarang juga dan melanjutkan perjalanan...ayok kita bersiap-siap tuan putri" ujar Edward yang langsung mengambil posisi berdiri.


keduanya langsung bersiap untuk melakukan perjalanan, desa selanjutnya yang mereka tuju adalah desa nercheseri. setelah memindahkan kakek keatas kereta kuda, ia dan thalia bersiap diposisi masing-masing...


Edward sebagai juru kemudi mulai memacu kuda untuk terus berlari.


derap langkah kereta kuda mereka terus menggema sepanjang perjalanan, diikuti debu-debu yang berterbangan... ditemani hembusan angin yang kencang serta cuaca yang tak terlalu panas, tak terasa sudah tiga jam lamanya mereka melakukan perjalanan. Edward berharap didesa nercheseri nantinya tak ada yang akan menjadi penghalang bagi mereka seperti axeler dan singa putih miliknya didesa marcheseri.


namun... Dewi keberuntungan tak berpihak padanya, dari jarak yang tak jauh dari desa sudah terlihat gerombolan digler yang jumlahnya dua kali lipat lebih banyak dari pada didesa sebelumnya... keadaan di pergawat dengan adanya lima orang penyihir kerajaan protonium, yang tak jauh dari gerombolan digler itu sendiri.


"thalia didepan sana sudah ada gerombolan digler, dan lima orang penyihir yang akan menyambut kedatangan kita... sebaiknya kau bersiap untuk hal ini" teriak Edward untuk memberi tahu thalia.


"aku juga dapat merasakan aura kehidupan yang sangat banyak dari desa nercheseri, serta kita tak boleh meremehkan para penyihir itu" sahut thalia.


"jika itu memang benar, aku akan bertarung dengan sekuat tenaga nantinya" ujar Edward.


kuda yang mereka kendarai terus dipacu guna


sampai lebih cepat, serta para digler dan penyihir sudah dalam posisi siap bertarung.


seketika Edward menghentikan kereta kudanya, karena para penyihir itu telah melancarkan berbagai teknik sihir sebagai serangan pembuka.


"hahaha... kalian mau mati ya, mendatangi kami hanya dengan kereta kuda butut tanpa penjagaan prajurit sedikit pun" ujar salah seorang penyihir.


"thalia kita kita sudah sampai, sekarang... saatnya menghabisi mereka Dengan cepat"


ujar Edward sembari menciptakan pedang sihirnya.


"aku sudah tak sabar meladeni mereka, dan sebagai latihan untuk mu... sebaiknya kau menghadapi para penyihir, serta digler itu biar aku yang aku habisi" ujar thalia sembari menghampiri Edward yang dalam posisi siap bertarung.


"aku setuju dengan mu, ayok kita serang mereka tanpa memberi celah untuk kabur" ujar Edward yang melesat kearah para penyihir.

__ADS_1


sama seperti halnya Edward, thalia langsung membuka pertarungan dengan serangan yang cepat. bersenjatakan sebuah tongkat sihir... perlahan area pertempurannya dilapisi teknik manipulasi es miliknya.


"ghya.... manipulasi sihir, kloning..." ujar thalia sembari terus melempar kloning dirinya kearah para digler.


hampir seperempat dari gerombolan Digler, sudah lenyap akibat keganasan teknik sihir thalia... hal yang sama juga berlaku pada Edward kelima penyihir itu dibuat terpojok oleh Edward dengan teknik berpedangnya.


"matilah kalian... teknik berpedang tarian pembunuh naga" ujar Edward sembari terus melancarkan serangan.


"pemuda ini sangat terampil dalam teknik berpedang, serta pedang yang ia pegang memancarkan energi sihir yang amat besar.


pastinya ia akan sangat berbahaya jika membantu kerajaan byzantium" ujar seorang penyihir yang terus terkena serangan Edward.


karena terus menerima serangan Edward, dua dari lima penyihir kerajaan Protonium tumbang dengan mudahnya... tak terima akan kematian temannya, sisa dari para penyihir itu pun bersiap melancarkan serangan gabungan kearah Edward.


"manipulasi sihir... api kematian" teriak ketiga penyihir itu.


"Serangan yang lumayan dahsyat... namun itu belum cukup untuk mengalahkan ku, karena energi sihir ku yang sangat melimpah begini...


aku dapat memaksimalkan setiap teknik berpedang yang ayahku ajarkan" gumam Edward sembari mematahkan serangan gabungan ketiga penyihir itu.


dilain tempat pertarungan thalia sudah sampai pada klimaksnya, hampir setengah dari gerombolan digler sudah ia musnahkan


tak menyerah dengan hal itu, sisa dari para digler mengubah formasi serangannya,alhasil


seluruh digler menyerang thalia dengan serentak.


"dasar mahluk rendahan, kalian pikir dengan menyerang bersama begitu dapat mengalahkan ku... rasakanla ini, manipulasi sihir... Phoenix kematian" ujar thalia sembari memanipulasi energi sihirnya menjadi seekor burung Phoenix yang sangat besar.


"duar..." terdengar sebuah ledakan besar, akibat serangan Phoenix kematian menghantam para digler.


sekali lagi... yang dapat dilihat dari tempat pertempuran thalia hanyalah elemen es miliknya, satu serangan dahsyat itu tak menyisakan satu pun lagi digler yang hidup.


"hoam... melawan para digler itu hanya membuat ku mengantuk, sekarang aku harus segera ketempat pertarungan Edward mungkin ia membutuhkan pertolongan ku..."


ujar thalia sembari melesat ke arah Edward.


dengan mudahnya... Edward mengatasi serangan dari ketiga penyihir itu, serta bersiap memberikan serangan penutup untuk mereka... dengan mengubah kuda-kudanya yang berbeda saat menggunakan teknik tarian pembunuh naga, ia melesat guna menghujam mereka.


"hura... akan ku akhiri ini, teknik berpedang... tarian pedang pembelahan langit" ujar Edward yang memfokuskan energi sihirnya di satu titik, yaitu pedang yang akan menghujam para penyihir kerajaan protonium.


"semuanya... bentuk sebuah dinding sihir, jangan sampai serangannya kali ini mengenai kita..." ujar penyihir itu.


seketika, ketiga penyihir kerajaan protonium

__ADS_1


dilindungi sebuah dinding sihir transparan, namun Edward sama sekali tak memperdulikan apa yang dilakukan para penyihir... ia terus mengayunkan pedangnya kearah dinding sihir itu. akhirnya, dinding sihir


itu hancur menyebabkan sebuah ledakan sihir yang besar... kepulan asap menyelubungi ketiga penyihir.


"hei... thalia ayo kita melanjutkan perjalanan, mereka semua sudah ku habisi" ujar edward yang melambai-lambaikan tangannya kearah thalia, yang datang untuk menghampirinya.


namun... aura yang sangat jahat keluar dari salah satu Mayat penyihir itu, dengan aura membunuh yang sangat kuat... perlahan mayat penyihir itu kembali bangkit.


"gwahahaha.... hei bocah teknik berpedang itu sangatlah aku kenal, karena teknik itulah kaumku kalah dalam perang di era kegelapan tiga ratus tahun yang lalu... rasakanla amarah yang selama ini ku pendam dari kaum iblis"


ujar mayat hidup itu sembari menyerang dengan membabi-buta.


Edward hanya bertahan dari serangkaian serangan yang mengarah ke dirinya, karena tak ada celah sedikitpun baginya untuk menyerang balik. sementara itu thalia merasa ada yang aneh dengan tubuh penyihir yang dapat bangkit dari kematiannya.


"cih... tampaknya kerajaan protonium akan menghidupkan kaum dark elf lagi, ini harus segera aku laporkan ke ayah" gumam thalia sembari menggunakan Phoenix kematiannya,


agar sampai lebih cepat ditempat Edward.


walaupun belum berubah dengan sempurna, iblis itu sudah mampu memojokkan Edward dengan serangan-serangannya.


"hahahaha... ternyata hanya segini, kemampuan orang yang mewarisi teknik berpedang legendaris ini" ujar manusia setengah iblis.


dengan melemparkan Phoenix kematiannya kearah manusia setengah iblis, thalia dapat menjauhkan Edward dari mahluk itu.


"terimakasih atas bantuan mu... mahluk ini butuh waktu untuk menyempurnakan perubahannya, disaat ia belum berubah sempurna, kita harus sudah mengalahkannya


dengan serangan bersama-sama" ujar Edward sembari memusatkan energi sihirnya di pedang yang ia pegang.


"baiklah, aku setuju dengan mu... ayok kalahkan dia dengan satu serangan" sahut thalia yang memusatkan energi sihirnya, di tongkat sihir yang ia pegang.


"hahaha... kalian pikir dapat dengan mudah untuk membunuh ku, sebaliknya dengan serangan ini tamatlah riwayat kalian" ujar mahluk setengah iblis itu.


mahluk itu memadatkan energi sihir yang sangat jahat disatu titik, guna menghasilkan satu serangan yang amat mematikan... alhasil


sebuah bola berwarna hitam pekat, berukuran sangat besar dapat makhluk itu ciptakan dan siap menghantam apa pun.


"teknik berpedang... tarian pembelah langit"


ujar Edward.


"manipulasi sihir... amukan Phoenix kematian"


ujar thalia.

__ADS_1


"ledakan api kegelapan..." ujar mahluk setengah iblis itu.


hantaman dari ketiga energi sihir yang sangat kuat ini, menciptakan sebuah ledakan sihir yang sangat besar... serta kepulan asap menutupi mereka bertiga.


__ADS_2