THE LEGEND OF KING EDWARD

THE LEGEND OF KING EDWARD
Ch 6 : Malam didesa marcheseri


__ADS_3

Hari yang mulai beranjak malam, tak mungkin...bagi mereka untuk melanjutkan perjalanan. Satu-satunya pilihan mereka tak lain adalah bermalam disebuah reruntuhan bangunan desa ini.


Keadaan desa yang sebelumnya kental akan bau darah, kini telah memudar seiring waktu berjalan. Sisa-sisa mayat para penduduk desa telah Edward dan thalia makamkan sebagai penghormatan terakhir kepada mereka.


"Hosh...hosh... tampaknya ini yang terakhir, kini aku bisa naik dan menutup lubang ini" ujar Edward yang bersiap untuk naik dari lubang ini.


"Itu memang yang terakhir Ward...Mari aku bantu" ujar thalia sembari mengulurkan tangannya kearah Edward.


"Baiklah, tolong tarik aku..." Ujar Edward yang menerima uluran tangan thalia.


Setelah Edward dapat naik...mereka bergegas menutup lubang itu, karena obor yang menerangi mereka sudah hampir padam. Dengan alat seadanya perlahan-lahan lubang itu tertutup.


Tumpukan tanah dan batu terus menutupi seluruh bagian lubang, yang dipenuhi mayat para penduduk desa.


"Fyuh... Untunglah secepatnya kita dapat menyelesaikan semua ini, sebelum obor itu padam.... Sekarang ayok kita ke reruntuhan rumah itu" ujar Edward dengan ekspresi yang tampak letih.


"Pastinya kamu lelah setelah semua ini...nanti biar aku saja yang menyiapkan makanan, kau cukup beristirahat dan melihat seorang putri yang menyiapkan semuanya hehehe"


Ujar thalia dengan tawa yang lembut.


"Hm... Boleh juga, aku penasaran masakan apa yang akan tuan putri nanti sajikan" ujar Edward dengan senyum yang sumeringah.


Dengan ditemani sebuah obor yang hampir padam sebelumnya, mereka menyusuri desa ini guna sampai di reruntuhan rumah yang didalamnya sudah ada kakek yang terbaring sakit.


Sepanjang perjalanan... Yang dapat dilihat hanyalah , rumah-rumah yang telah hancur akibat keganasan axeler dan singa putih miliknya.


"Andai saja... aku datang lebih cepat lagi, pastinya tak akan terjadi keadaan yang seburuk ini" ujar thalia dengan nada lirih.


"Sudahlah... Semua ini tak sepenuhnya salahmu...terkadang kau memang tak dapat menyelamatkan Semua orang akan tetapi, Usaha yang kau lakukan demi menyelamatkan merekalah yang terpenting. Sekarang aku dapat melihat sesosok putri yang hebat dalam dirimu" ujar Edward dengan senyum tipis.


Mendengar apa yang Edward katakan, thalia hanya tersipu malu tanpa sepatah kata. Reruntuhan rumah yang akan mereka gunakan untuk bermalam sudah terlihat, kakek yang terbaring di sana dengan ditemani sebuah api unggun yang menyala.


"Ward... Aku akan menyiapkan makanan terlebih dahulu... Kau beristirahatlah sejenak" ujar thalia yang langsung bergegas kearah kereta kuda untuk menyiapkan maka malam.

__ADS_1


"Yup... Jika kau perlu bantuan jangan sungkan memanggil ku" ujar Edward yang bergerak mendekati Kakek.


Sesuai dengan apa yang thalia ucapkan sebelumnya, ia mulai menyiapkan bahan-bahan yang akan ia buat untuk makan malam nantinya. Sementara itu Edward duduk disebelah kakek dengan tatapan yang sedih.


"Kek... Kakek harus bertahan sebentar lagi, karena kau pasti bisa diselamatkan... Setelah itu kita kembali ke desa bernia dan melanjutkan hidup seperti biasa" gumam Edward sembari meneteskan air mata.


Sementara itu... Aroma sup yang lezat memenuhi seluruh ruangan, memang tak terduga seorang putri dari kerajaan besar sangat pandai dalam memasak.


"Semoga, dengan sup ku kali ini... Rasa lelahnya dapat sirna" gumam thalia yang tampak menyiapkan dua mangkuk sup.


Terdengar derap langkah thalia yang sangat hati-hati, karena tak ingin menjatuhkan sup yang sudah susah payah ia buat.


"Nih... Sup yang aku buat sendiri, semoga kamu menyukainya dan jangan ragu jika ingin tambah" ujar thalia sembari memberikan semangkuk sup untuk Edward.


"Wah... Aku tidak tahu kalau kau pandai memasak, mungkin dengan sup mu kali ini rasa lapar ku akan sirna untuk tiga hari ke depan" ujar Edward sembari menerima sup yang thalia berikan.


"Uhuk..." Terdengar suara batuk Edward yang tersedak.


"Hei... Jangan buru-buru makanya, tunggu disini biar aku yang ambilkan minumannya" ujar thalia.


"Nih... minum agar kau lebih baik" ujar thalia.


"Glek...glek...glek...ah... Makasih deh, sup yang kau buat sangatlah enak sampai-sampai aku terburu-buru memakannya" ujar Edward yang masih melanjutkan makannya.


Setiap sesendok sup yang melayang menuju mulut Edward, sangat nikmat hingga Edward dapat menghabiskan tiga mangkuk sup sekaligus


"Uuukkk..." Terdengar suara sendawa Edward.


"Hush... Jorok, mulai sekarang aku akan memanggil mu raja sendawa... Karena sendawa mu itu" ujar thalia yang terus menutup hidungnya.


"Hoam... Baiklah, raja sendawa akan keluar untuk melihat bintang-bintang. Apa kau ingin ikut dengan ku putri" ujar Edward keluar dari reruntuhan rumah, diikuti thalia dibelakangnya.


Melihat sebuah kursi yang masih layak diduduki, ia bergegas menuju kursi itu.

__ADS_1


dari kursi itu terlihat sepanjang mata memandang.... hamparan langit tampak begitu indah, ditemani bintang-bintang dan bulan berbentuk sabit. serta hembusan angin yang menerpa lembut,namun di keadaan yang begitu indah ini derai air mata membasahi pipi Edward seakan ada yang kurang dalam hidupnya saat ini.


"hei...raja sendawa apa ejekan ku sebelumnya sangat menyakitkan sampai kau berderai air mata seperti ini" ujar thalia yang menyadari Edward yang bersedih.


"hm...tidak kok, hanya saja... saat menyantap sup yang kau buat tadi, mengingatkan ku akan sup yang biasa ibuku buat dan kehangatan atas kasih sayang kedua orang tua" ujar Edward sembari mengelap air matanya.


"aku memang... tak sebijak dirimu, akan tetapi jika ada hal yang ingin kau ceritakan aku akan mendengar semua hal itu" ujar thalia dengan senyum tipis.


"baiklah, kau satu-satunya orang yang akan ku ceritakan tentang masa lalu ku, sebenarnya... saat aku masih anak-anak aku tinggal bersama ayah dan ibu, Ayah ku seorang yang pandai dalam berpedang, ibuku ahli dalam berbagai teknik sihir... hari-hari ku dipenuhi latihan dan latihan berpedang, serta membantu ibuku memasak. namun... semua itu sirna tepatnya Sepuluh tahun yang lalu, saat keluarga ku makan malam. pasukan Berkuda yang sangat ramai, menyerang rumah kami dengan berbagai teknik sihir...


ayah dan ibuku yang kalah jumlah dengan mereka, serta... setiap orang itu memiliki kekuatan yang sangat besar, kedua orang tua ku harus menelan kekalahan... dan terpaksa meminta ku untuk pergi sementara mereka menahan para prajurit itu... saat itu aku hanya mengiyakan perkataan mereka, dan berlari tanpa rasa bersalah sedikitpun... kurang lebih satu hari lamanya aku terus berlari, akhirnya aku sampai didesa bernia dan di selamatkan kakek Morgan hingga tumbuh dewasa seperti sekarang... hehehe maaf jika cerita ku tadi membuat mu bosan bukan?" ujar Edward sembari menghela nafas panjang.


mendengar hal itu... thalia terdiam sejenak, karena ia tak ingin salah berkata dalam situasi seperti ini.


"mulai sekarang... aku akan terus menemani mu seperti kakek, dan bersama-sama kita balas dendam kedua orang tua mu" ujar thalia dengan senyum tipis.


Edward hanya tersenyum lebar mendengar apa yang thalia katakan, ia berharap akan terus bertemu orang-orang yang mendukungnya seperti Kakek dan thalia.


hari sudah semakin malam, bintang-bintang dan bulan mulai tertutup awan... mereka pun sudah tampak mengantuk.


"hm... sebaiknya kita tidur sekarang... agar kita besok bisa melanjutkan perjalanan" ujar Edward yang sudah mengantuk.


"iya... aku juga sudah sangat ingin tidur, kalau begitu ayok kita kembali ke reruntuhan rumah dan kau tak boleh bersedih lagi" ujar thalia.


"ya... aku akan berusaha..." sahut Edward.


mereka berdua pun berdiri dan mulai melangkahkan kaki, untuk ke reruntuhan rumah yang akan dijadikan tempat bermalam.


hangatnya api unggun itu thalia dan Edward rasakan setelah sampai di sana, mereka berdua mengucapkan selamat tidur... dan menuju tempat yang bagi mereka ternyaman.


thalia bergegas untuk tidur di kereta kuda sedangkan Edward memilih tidur bersama kakeknya.


"grok...grok..." terdengar suara dengkuran Edward yang baru saja tidur.

__ADS_1


dilain tempat thalia pun sudah tidur dengan pulas, dan perjalanan mereka sudah menunggu di hari esok.


__ADS_2