
Keesokan harinya Edward dan thalia bersiap untuk melakukan perjalanan ke dunia peri, Dengan menggunakan kereta kuda yang kakeknya miliki.
Sebelum pergi Edward menyarankan, agar seluruh penduduk desa mengungsi ke desa terdekat karena dia khawatir akan terjadi lagi serangan hewan buas itu.
"Maaf...saya akan berkelana ke desa yang sangat jauh dari sini, untuk mengobati kakek. apa sebaiknya anda semua juga mengungsi dari desa ini karena disini tak ada seorang pun kesatria kerajaan ataupun penyihir" ujar Edward kepada seseorang yang dituakan di desa ini.
"tak perlu khawatir nak, kami semua akan selalu menjaga desa ini...kau berhati-hatilah
dalam perjalanan nantinya dan semoga tuhan selalu menyertai mu" ujar seorang tetua desa.
Penduduk desa yang sangat cinta akan tempat kelahiran mereka, menolak saran Edward dan berkata selagi Edward dan kakeknya pergi, seluruh penduduk desa akan mempertaruhkan nyawa demi desa ini,seperti yang dilakukan Edward dan kakeknya.
Edward tak memberikan banyak komentar, Karena dia pun tahu semua penduduk disini sangat mencintai desa ini, seperti dia dan Kakeknya.
Edward dan thalia berpamitan dengan seluruh penduduk desa, dan mengatakan tujuan mereka adalah mencari thabib didesa yang sangat jauh.
"Baiklah kalau begitu...kalian semua harus berhati-hati, mungkin perjalanan ini membutuhkan waktu yang lama tapi setelah kakek telah sembuh total aku akan kembali ke desa ini" ujar Edward sebagai salam perpisahan sembari melontarkan senyum selebar yang ia bisa.
Sebelum mereka pergi penduduk desa memberikan persediaan makanan yang cukup untuk seminggu, sebagai rasa terima kasih mereka.
Kakek yang sedang terbaring sakit diletakkan di kereta kuda,dan thalia pun di sana untuk selalu mengawasi kondisi kakek Edward.
Mereka berdua mulai bergegas menuju Dunia peri, thalia mengatakan kepada Edward bahwa gerbang menuju dunia peri adalah tempat pertama kali mereka bertemu.tak butuh waktu lama untuk sampai dihutan ini, Alangkah terkejutnya thalia dia merasakan hawa keberadaan penyihir arcane disekitar hutan.
__ADS_1
"Hei...bodoh apa kau tidak merasa kan kehadiran penyihir arcane disekitar hutan ini... percepat jalan kuda lekong ini jika tidak... Kita akan tertangkap penyihir tersebut..." thalia meminta Edward mempercepat laju kuda yang mereka tunggangi.
Edward pun mempercepat laju kuda dan tak jauh dihadapan mereka merupakan tempat pertama kali mereka bertemu, dan menurut thalia disitulah letak gerbang menuju dunia peri, namun sepanjang jalan hanya hutan rimbun yang dapat Edward lihat.
"Cih... sekarang bukan waktunya untuk meragukan wanita itu, keselamatan kakek berada pada ujung tanduk" gumam Edward.
Tak meragukan sedikit pun perkataan thalia dia terus mempercepat laju kuda nya dan akhirnya mereka bertiga sampai di sebuah negeri yang tak terjamah manusia.suasana yang sangat asri dirasakan Edward saat pertama kali kesini, banyak pula hewan yang tak pernah ia lihat sebelumnya, Dan sekarang tak ada lagi penyihir yang mengikuti mereka.
"Wahh... ternyata inilah negri peri itu, lebih indah jika dilihat sendiri" gumam Edward mengagumi keindahan alam di dunia peri.
Sepanjang perjalanan Edward takjub akan indah nya negeri ini, hutan dinegri ini menyimpan energi positif yang sangat besar. Karena sedari pagi mereka belum sarapan, Edwar memutuskan untuk sarapan dihutan ini.
"Hei...desa selanjutnya masih lumayan jauh, terletak di ujung hutan ini, lantas kenapa kau menghentikan kereta kudanya" ujar thalia sembari melirik Edward melalui celah di kereta kuda itu.
"Edward tampak nya kita harus cepat keluar dari hutan ini, karena ada yang aneh Dengan desa didepan sana.." ujar thalia.
"Baiklah kalau itu yang kau mau tuan putri..." Sahut Edward.
mereka melanjutkan perjalanan menuju Desa diujung hutan ini, pemandangan yang sangat tidak mengenakkan terjadi didesa itu. Cakar hewan buas yang sangat besar terukir di setiap rumah didesa itu. Bau mayat semakin tercium serentak dengan berhembusnya angin kearah mereka. Edward memberi tahu kan hal ini kepada thalia, thalia pun turun untuk memastikan kebenaran yang Edward katakan.
Seketika thalia terdiam melihat kondisi desa yang memprihatinkan ini, bagaimana tidak desa ini salah satu wilayah kekuasaan kerajaan ayah nya. Perlahan thalia tak kuasa menahan air matanya, ia pun memeluk Edward untuk menenangkan diri. Dari kejauhan tampak seratus ekor digler, yaitu hewan buas yang menyerang Edward dihutan bernia.
"Maaf tuan putri... sebaiknya kau melanjutkan tangis mu nanti setelah membunuh kurang lebih seratus digler itu..." Ujar Edward untuk menenangkan thalia.
__ADS_1
"Hiks...hiks...akan ku bunuh kalian semua digler brengsek..." Sahut thalia.kekuatan sihir yang kuat terpancar dari tubuh thalia dan Edward. Dengan cara yang sama Edward memusatkan kekuatan sihir yang berlimpah pada dirinya,dan terciptalah Pedang yang amat besar.
sementara itu thalia memanipulasi energi sihir yang ia miliki menjadi sebuah tongkat es, tongkat es tersebut dapat membekukan apa saja yang ia kehendaki. Satu persatu digler menyerang mereka berdua, walaupun tak memiliki kekuatan sebesar bicorn ke seratus digler ini bergerak dengan terorganisir tentunya hal ini dapat merepotkan mereka berdua.
serangan demi serangan dilancarkan mereka berdua, thalia memperlihatkan penguasaan sihir yang sangat terlatih, tampak dari serangan yang ia lancarkan memancarkan energi sihir yang kuat. Satu per satu digler yang menyerang dapat ia kalahkan.
Berbeda dengan thalia yang memiliki sihir yang lebih dominan untuk bertahan, sihir yang dimiliki Edward cenderung bertipe menyerang, dengan mempertunjukkan tarian pedang yang sangat indah Edward langsung menyerang kerumunan digler. Ke seratus digler ini bukanlah tandingan yang setara dengan mereka berdua dan tak butuh waktu lama untuk mengalahkan mereka.
Setelah mengalahkan ke Seratus digler itu, thalia melanjutkan cerita tentang mengapa byzantium bisa diambang kekalahan saat melawan protonium.
" Apa kamu nggak ngerasain kalau digler-digler ini bergerak dengan sangat terorganisir" thalia mengajukan pertanyaan kepada Edward.
"Aku juga ngerasain kalau gerakan mereka sangat la terorganisir...apa semua hewan buas didunia ini sepintar digler-digler ini.." Edward balik bertanya kepada thalia.
"Sebenarnya bukan para digler ini yang pintar... melainkan kekuatan peri protonium la yang dapat bmengendalikan mereka...dan karena kekuatan sihir yang mampu mengendalikan para hewan buas inilah yang membuat kerajaan byzantium diambang kekalahan..." ujar thalia sembari menahan tangisnya.
Dari yang dikatakan thalia, terlihat sebuah sihir yang sangat menakutkan dimiliki kerajaan protonium. Namun mengendalikan digler merupakan sebuah sihir kelas menengah yang dimiliki prajurit protonium.
"Bwahahaha... Ternyata hanya kroco-kroco yang telah mengalahkan ke seratus digler yang sudah susah payah aku besar kan".
tampak seorang penyihir kerajaan protonium yang mengendalikan para Digler, keluar dari sebuah reruntuhan rumah.
Melihat keberadaan penyihir protonium itu Amarah thalia semakin menjadi-jadi.
__ADS_1