
Permukaan Danau Houchi memantulkan cahaya senja yang tengah membayang hari itu. Musim semi baru saja tiba. Bunga-bunga, persik, magnolia, lili, geranium, krisan, mekar di taman sekitar danau dengan indah, seakan mencemburui musim semi yang telah memekarkan mereka.
Musim semi tahun ini adalah musim semi terindah sepanjang masa. Pada hari ini, genap tujuh tahun sudah berlalu seperti ulasan buku bagi Li Anlan. Sudah tujuh tahun sejak pengangkatannya sebagai Ratu Agung Dongling, dia berdiri menduduki kursi wanita tertinggi negeri. Tujuh tahun pula dia telah melewati hidup bersama orang yang dia cintai, suaminya sendiri.
Selama tujuh tahun ini, atau mungkin lebih lama dari itu, tidak pernah ada ungkapan cinta yang terlontar secara langsung dari mulut Li Anlan dan Long Ji Man.
Bagi Li Anlan dan Long Ji Man, cinta yang tulus tidak dinilai dari perkataan semata. Mereka mewujudkan cinta sejati mereka ke dalam tindakan saling memperhatikan, saling menyayangi, saling mengkhawatirkan, saling merindu, dan terkadang saling memarahi satu sama lain.
Bahkan tanpa dikatakan pun, semua orang akan tahu kalau kedua orang itu saling mencintai. Cinta mereka begitu dalam dan murni.
Dahulu, ketika Li Anlan masih hidup di masa depan, dia tidak pernah mengenal cinta. Dia hanya tahu berteman saja, tanpa tahu rasa suka yang asalnya dari lubuk hati terdalam. Li Anlan tidak pernah berpikir lebih jauh.
Hidup sebagai pewaris tunggal konglomerat yang sengaja melarat sudah cukup baginya. Asal dia tidak kekurangan uang dan punya banyak teman, hidupnya sudah sangat menyenangkan.
Akan tetapi, setelah dia terjatuh ke jurang saat mendaki gunung dan terbangun di dunia lain, setelah dia bertemu dan mengenal Long Ji Man, memahami pria itu, melalui hidup dan mati bersama pria itu, Li Anlan mulai merasakan cinta.
Hatinya menjadi tergerak dan jantungnya berdebar kencang. Di hadapan pria itu, dia menjadi dirinya sendiri sekaligus berusaha menjalankan perannya hingga tanpa sadar telah jatuh cinta.
Hanya Long Ji Man yang selalu menjadi bunga tidurnya setiap malam. Hanya pria itu yang mampu membuatnya bersikap bodoh dan tidak karuan, kekanak-kanakan dan selalu ingin menang sendiri, terutama ketika dia memperjuangkan keinginannya.
Long Ji Man telah membuatnya memilih pilihan yang paling sulit. Pria itu telah membuat dia mengambil keputusan mengorbankan kehidupan di masa depan, tempat tinggal asalnya, untuk kehidupan di zaman dan di negeri yang tidak tercatat dalam sejarah ini.
Keputusan besarnya tidak membuatnya kecewa, karena berada di samping pria itu adalah keinginannya sendiri. Dia bisa tertawa dan menangis sesuka hati. Setiap hari, Li Anlan mendapatkan cinta yang tidak terbatas dari Long Ji Man.
Apalagi, pria itu juga menepati janjinya untuk tidak beristri lagi dan menjadikan dia satu-satunya wanita miliknya.
"Yang Mulia," panggil Li Anlan dengan pelan. Kepalanya bersandar di bahu Long Ji Man. Cahaya senja yang merah menambah suasana romantis pada sore itu.
"Ya?" jawab Long Ji Man.
"Sejak kapan kau mencintaiku?"
"Kau ingin tahu?"
Li Anlan mengangguk.
"Aku bisa menjawab pertanyaanku jika kau bersedia menjawabku juga."
__ADS_1
"Kau bernegosiasi denganku?"
"Mau atau tidak?"
"Baiklah. Ayo jawab pertanyaanku dulu!"
Long Ji Man tersenyum manis. Dia memeluk Li Anlan dari samping, kemudian mencium keningnya sembari menyesap aroma bunga dari rambut istrinya itu.
"Kapan ya? Aku tidak tahu. Mungkin saat kita bertemu pertama kali pada malam itu, atau saat kau membalut lukaku, atau saat kau memarahiku, ah, apa itu penting? Yang jelas, aku mencintaimu lebih dari yang kau tahu."
"Benarkah? Kalau begitu, apa Yang Mulia bersedia berkorban untukku?"
"Tentu saja! Bahkan jika aku harus mengeluarkan jantungku, aku juga bersedia."
"Wah, kau bisa bermulut manis juga rupanya."
"Kalau aku tidak bermulut manis, bagaimana mungkin kau bisa kudapatkan?"
Li Anlan hanya tersenyum. Dia akui, dia memang sangat mencintai Long Ji Man. Itulah satu-satunya hal terindah yang dia punya. Dia punya cinta terbalas yang kuat, yang mampu mengalahkan segala macam ego dalam dirinya.
"Sekarang giliranku. Apa yang membuatmu rela mengorbankan hidupmu di duniamu dan memilih tinggal di sini, di sisiku, bersamaku?" tanya Long Ji Man.
"Oh?"
"Ah, betapa sulitnya mengambil keputusan pada saat itu. Aku berada di ambang kematian, di dua buah jurang yang sangat dalam antara hidup di masa depan atau masa kini."
"Apa yang kau alami saat itu?"
"Jiwaku kembali ke tubuhku di masa depan. Aku bisa melihat dan mendengar orang-orang di sekitarku, tetapi tidak bisa bergerak atau melakukan apapun."
"Selanjutnya apa yang terjadi?"
"Mereka bilang aku bisa sembuh namun aku akan menjadi orang yang cacat seumur hidup. Menjadi cacat, meskipun punya banyak uang, tidak lebih dari seorang tahanan rumah. Aku tidak mau."
"Lalu kau memilih kembali ke sini?"
"Saat itu, aku tidak bisa mengambil keputusan. Kemudian, aku teringat padamu, pada semua kenanganku di sini. Jika aku memilih hidup di dunia asalku, aku tidak akan pernah bertemu lagi denganmu dan semua kenangan itu hanya akan terasa seperti sebuah mimpi yang akan menyakitiku terus menerus. Kau hanya akan menjadi bayangan dalam kegelapan yang menghilang tanpa jejak, tidak tersentuh, imajiner."
__ADS_1
Long Ji Man mendengarkan istrinya dengan serius.
"Jika hidup seperti itu, apa bedanya dengan kematian? Aku bisa menjadi gila. Apalagi, masih ada hal yang belum kuselesaikan di sini. Jadi, aku memilih kembali saja."
"Kau memang penuh perhitungan."
"Tapi pada akhirnya aku tetap memilihmu bukan?"
Long Ji Man mengeratkan pelukannya. Sungguh, wanita ini telah merebut semua hatinya, semua dunianya.
"Apa kau tidak menyesal?"
Li Anlan menggelengkan kepala.
"Aku justru merasa beruntung. Kalau aku memilih masa depan, aku tidak akan sebahagia ini."
Long Ji Man sungguh tidak akan melepaskan Li Anlan. Jika ada kehidupan berikutnya, yang kedua kali, ketiga, keempat, atau bahkan kesejuta kali, dia akan tetap memilih Li Anlan sebagai pasangan hidupnya.
Li Anlan dan Long Ji Man menjadi pasangan paling bahagia di dunia ini. Tidak hanya serasi dan saling mencintai, mereka bahkan sudah dikaruniai dua anak yang sangat cerdas dan tidak tertandingi. Mempunyai kedudukan sangat tinggi, mempunyai pasangan yang setia, mempunyai keluarga yang bahagia, apalagi yang harus mereka khawatirkan?
"Li Anlan, aku mencintaimu."
"Long Ji Man, aku juga mencintaimu."
Di jembatan Danau Houchi yang melengkung, dalam pelukan seorang pria yang begitu hebat, Li Anlan memejamkan matanya. Long Ji Man menengadahkan kepala Li Anlan, menarik dagunya dengan lembut.
Pria itu mengikis jarak di antara keduanya. Mata mereka bertemu pandang, menyelami kedalaman hati masing-masing. Jantung keduanya selalu berdebar kencang meskipun mereka sudah hidup bersama selama lebih dari tujuh tahun.
Pada senja yang mulai menghilang, pada bintang-bintang yang mulai bermunculan, Long Ji Man menautkan bibirnya di bibir Li Anlan, melahapnya seperti permen yang sangat manis. Li Anlan tersenyum sesaat, kemudian membalas Long Ji Man, hanyut dalam romantika penghujung senja yang begitu indah.
Kedua mata mereka terpejam, menyesap cinta yang begitu murni dari sepasang suami istri yang telah berikrar untuk bersama di setiap kehidupan. Napas mereka berhembus menerpa wajah satu sama lain.
Di jembatan Danau Houchi, Li Anlan dan Long Ji Man adalah merpati paling bahagia dan paling setia sepanjang masa. Mereka mengusir semua pelayan yang biasa mengikuti keduanya ke manapun.
Hanya pada saat-saat tertentu, mereka bisa melepaskan semua atribut kerajaan dan menjadi sepasang suami istri biasa, untuk menikmati waktu berdua dan menyelami perasaan masing-masing.
Senja yang begitu romantis, mengantarkan Li Anlan dan Long Ji Man kembali ke kebahagiaan yang tiada tandingannya.
__ADS_1
...***...
...Halo pembaca kesayangan Author! Ada yang kangen nggak sama Li Anlan & Long Ji Man? Kalau Author sih, kangen pake banget. Author sengaja kasih extra part lain, yang cuma menampilkan sudut pandang mereka berdua. Kan jarang-jarang ya mereka bisa menikmati waktu tanpa diganggu orang lain, apapagi sama si kembar Long Ji San dan Long Ji Shi. Semoga episode ini bisa menjadi pengobat rindu kalian sama pasangan fenomenal satu ini! ...