
Beberapa hari sejak Raja dan Permaisuri Bangsawan berjalan di bawah hujan dalam waktu yang cukup lama, Li Anlan dikurung di Istana Xingyue karena sakit. Wanita berfisik kuat itu akhirnya tumbang juga, kalah oleh air hujan yang tidak seberapa. Mungkin karena air hujan di sini berbeda dengan di masa depan. Air hujan di masa depan tidak terlalu dingin karena suhu udara cukup panas akibat pemanasan global, ditambah lagi dengan polusi dan kabut asap yang sering menghalangi jarak pandang. Di zaman modern, angin yang berhembus dihalau oleh beton dari gedung-gedung pencakar langit, hingga tidak terlalu terasa dan tidak terlalu berdampak.
Tetapi di sini, di Dongling, angin dan suhu udara terasa lebih dingin saat terjadi hujan. Meskipun ini adalah ibukota kerajaan, tetapi yang disebut pusat kota tidak benar-benar tampak seperti pusat kota, tidak benar-benar tampak seperti ibukota yang metropolitan. Alamnya masih terjaga, hutannya masih lebat, dan beberapa kawasan pegunungan dan perbukitan masih terpelihara.
Li Anlan yang berbaring seharian menjadi bosan karena tubuhnya tidak dapat bergerak dengan bebas. Kedua tangan dan kakinya diikat oleh simpul kain sutra biru muda hingga tidak bisa digerakkan. Mungkin kalian akan bertanya mengapa ia yang sakit malah diikat seperti seorang tawanan atau sandera penculikan.
Perlu diketahui bahwa Li Anlan adalah gadis liar yang tidak bisa diatur. Saat Long Ji Man mengetahui kalau Permaisuri Bangsawannya sakit, dia segera mengirimkan Tao Zhun untuk memeriksa kondisinya. Kejadian beberapa bulan lalu terulang lagi. Li Anlan menolak mati-matian untuk diperiksa tabib muda itu. Pintu istananya dikunci dan Long Ji Man beserta Tao Zhun, didampingi Xiao Biqi dan Wang Tianshi tidak bisa masuk. Kali ini, Li Anlan tidak bersembunyi di balik layar lipat, tetapi di dalam bak mandinya yang besar.
Wanita itu baru menjadi penurut setelah Wang Tianshi membobol jendela. Long Ji Man juga melompat dari sana, lalu terjadi adegan kejar-kejaran antara Li Anlan dan Long Ji Man di ruangan dalam Istana Xingyue. Li Anlan tertangkap karena dia kalah cepat, ditambah kondisinya yang sedikit demam hingga pergerakannya sedikit lambat. Long Ji Man mengunci titik akupuntur Li Anlan hingga wanita itu tidak bisa bergerak.
“Yang Mulia, lepaskan aku!”
“Kalau kulepaskan, kau akan kabur.”
“Dari mana kau tahu?”
“Aku bukan orang bodoh.”
“Aku baik-baik saja. Siapa bilang aku sakit? Kau tidak lihat bagaimana aku berlari tadi?”
“Lalu mengapa kau menolak kedatangan Tao Zhun?”
“Itu karena aku punya dendam pribadi dengan dukun itu!”
“Huang An, berhenti bicara omong kosong. Kau lupa, siapa yang telah menyebabkan kesalahpahaman tempo hari?”
Ah, Long Ji Man mengungkit hari ketika burung elangnya mati di tangan Li Anlan. Kejadian tersebut mengapa masih diingat Long Ji Man, padahal sudah berlalu selama beberapa bulan? Entahlah. Ingatan seorang raja lebih panjang dari ingatan orang biasa. Tetapi di sini, Li Anlan juga bukan orang biasa. Dia orang luar biasa dari dimensi yang berbeda. Tentu saja dia juga tidak melupakannya.
“Yang Mulia, mengapa kau begitu pendendam?”
“Kau sendiri juga pendendam. Apa gunanya mengatai orang lain?”
Li Anlan memalingkan wajahnya ke samping. Kesal karena tubuhnya terkunci, Li Anlan beberapa kali berusaha menggerakkan tubuh hingga kain spreinya berantakan.
“Tao Zhun, cepat periksa dia!”
“Baik, Yang Mulia.”
Tao Zhun maju, lalu membuka kotak medisnya. Dia mengeluarkan sebuah jarum akupuntur yang besar untuk membuka blokiran aliran darah Li Anlan. Li Anlan memberontak. Dia berteriak kencang memaki Tao Zhun. Sementara itu, Long Ji Man menahan tubuh Li Anlan agar titik kunci tubuhnya tidak terlepas.
“Hei dukun, kalau kau berani menyentuh kulitku, aku akan membakar kotak obatmu!”
“Nyonya, tenanglah. Aku bukan berniat untuk membunuhmu.”
“Tidak! Kau dukun berandal, jangan melangkah lagi! Cepat pergi! Aku muak melihat wajahmu!”
Tao Zhun tidak gentar. Tabib muda itu sudah sampai di depan tempat Li Anlan berbaring. Setelah dipersilahkan oleh Long Ji Man, dia menancapkan jarum akupuntur di tangan Li Anlan yang putih nan bersih. Sontak saja Li Anlan berteriak merasakan sesuatu yang tajam menembus kulit mulusnya yang bersih tanpa bekas luka.
“Dukun jadi-jadian, cepat singkirkan benda mengerikan itu dari tanganku! Jarum milikmu tidak higienis, pasti banyak kumannya! Sudah kubilang pengobatan barat jauh lebih bekerja! Cepat singkirkan benda itu sebelum aku membakarmu!”
“Nyonya, tolong diamlah.”
__ADS_1
“Aku akan melaporkanmu pada WHO karena tidak mematuhi prosedur pengobatan yang sesuai! Kau menindasku dan menjadikanku kelinci percobaan!”
Long Ji Man menggelengkan kepalanya. Li Anlan sungguh sangat liar dan keras kepala. Sudah seperti ini pun, mulutnya masih bisa berbicara omong kosong dan berkata sembarangan. Bahkan anak kecil pun tidak akan seribut ini saat takut diperiksa. Long Ji Man benar-benar gemas.
Akhirnya, untuk meredam suara Li Anlan, Long Ji Man mengambil sepotong apel merah dan menyumpalkannya pada mulut Li Anlan. Wanita itu tentu saja semakin marah. Dia dipermainkan dua pria brengsek di depannya. Li Anlan semakin marah karena Long Ji Man sungguh tidak mempunyai rasa bersalah sedikitpun. Sungguh, Li Anlan ingin sekali melaporkan dua pria ini pada Lembaga Perlindungan Anak dan Perempuan.
Selain itu, pria itu juga tidak melepaskannya saat Tao Zhun selesai mengobatinya. Long Ji Man meminta Xie Roulan untuk mengawasi nyonyanya dan menyuruhnya melaporkan segala sesuatunya ke Istana Hongwu. Long Ji Man tahu kalau Li Anlan tidak akan bisa diam. Jadi, dia mengikat kaki dan tangannya dengan kain sutra agar wanita itu tetap berbaring di tempat tidur sampai sembuh.
Kejadian itu sudah berlangsung dua hari lalu. Hari ini adalah hari ketiga Li Anlan disandera. Dia selalu menolak meminum ramuan herba yang dibawa Xie Roulan dengan alasan sangat pahit dan tidak enak, padahal hanya semangkuk kecil yang tampak seperti seduhan teh saja. Xie Roulan tidak bisa berbuat apa-apa karena ia tak kuasa melawan kehendak majikan kesayangannya.
Gadis pelayan itu kembali masuk membawa semangkuk herba yang sama. Otak cerdas Li Anlan berputar memikirkan cara untuk melepaskan simpul sutra yang sangat menyebalkan ini. Wanita itu berusaha bangkit, untung saja Xie Roulan segera membantunya. Posisinya sekarang setengah tertidur dengan kepala bersandar di hulu ranjang.
“Nyonya, obatmu sudah datang.”
Li Anlan menyenggol sikut Xie Roulan hingga tangan pelayan itu goyah. Kemudian, mangkuk herba yang dibawanya terjatuh, pecah, dan semua isinya tumpah ke lantai. Xie Roulan terpekik, sebagian percikan airnya mengenai ujung pakaian yang dikenakannya.
“Oh tidak, obat yang sangat berharga sudah jatuh!” Xie Roulan meratap.
“Ups… Roulan, karena obatnya sudah jatuh, bagaimana jika kau membantuku mencari obat lain?”
“Nyonya punya obat lain?”
Li Anlan mengangguk.
“Di sana. Ambilkan kotak berwarna putih berlambang merah itu, bawa padaku!” pinta Li Anlan sambil menunjuk kotak P3K dengan dagunya.
“Nyonya, obat mana yang akan kau makan?”
“Nyonya, kau mau ke mana?” tanya Xie Roulan saat tahu majikannya tidak berniat minum obat.
“Menagih utang.”
“Sejak kapan kau berutang pada orang?”
“Hei, dia yang punya utang padaku.”
Sang Permaisuri Bangsawan yang baru terbebas seperti seekor singa betina yang baru keluar dari kandang setelah lama terkurung. Dia berlari keluar dari Istana Xingyue. Tujuan utamanya tentu Istana Hongwu. Membiarkan kekesalannya terus tersimpan di dalam hati bukan hal yang baik untuk kesehatan mental. Li Anlan perlu melampiaskannya pada si sumber masalah, Long Ji Man.
Istana Hongwu sedang lengang di siang hari. Para penjaga masih berdiri, tetapi nyawa mereka sudah tidak ada di titik pusat sepenuhnya. Lapar, haus, panas, gerah, gatal, harus mereka tahan hingga pergantian jaga satu jam lagi. Li Anlan melewati para penjaga itu dengan tenang.
“Yang Mulia, aku datang untuk membalas dendam!” seru Li Anlan sambil mendobrak pintu Istana Hongwu.
Tetapi, orang yang ia panggil justru sedang duduk di kursi kerjanya sambil memegang kepala. Wajahnya suram seperti awan yang hendak menurunkan hujan. Xiao Biqi menghela napas, dia tahu betul kalau Permaisuri Bangsawan rajanya datang dengan niat yang tidak baik. Suasana di dalam Istana Hongwu tiba-tiba berubah mencekam.
“Hei, kasim kecil, ada apa dengan rajamu? Mengapa wajahnya seperti bos yang kehilangan perusahannya?”
Sebelum menjawab, Xiao Biwi menghela napas lagi.
“Yang Mulia tidak bisa mengingat dengan baik nama para pejabatnya, terutama para pejabat kecil. Yang Mulia hanya hafal nama-nama pejabat besar dan pejabat utama,” terang Xiao Biqi.
“Lalu kenapa dia bereaksi seperti itu?”
__ADS_1
“Hari ini Yang Mulia salah memberikan dekret karena dia lupa nama penerima anugerahnya. Yang Mulia menjadi kesal dan menghukum Kepala Administrasi Negara.”
“Pppfftt…. Yang Mulia, kau tidak bisa menghapal dengan baik?” tanya Li Anlan, setengah mengejek.
“Kalau kau ke sini untuk menertawakanku, kau pergi saja. Juga, mengapa kau bisa kemari?”
Saat Long Ji Man mengatakan itu, kekesalannya bertambah parah. Salah memberi dekret karena tidak hapal nama adalah sesuatu yang sangat memalukan. Long Ji Man yakin, sekarang oposisinya sedang menertawakan dirinya habis-habisan.
“Hah, simpul sutra seperti itu tidak akan bisa mengikatku. Yang Mulia, aku mungkin punya sesuatu yang bisa menghilangkan kekesalanmu dan membantu memecahkan permasalahanmu.”
“Kau punya ide?”
Li Anlan mengangguk,
“Asalkan kau bersedia, aku bisa memberitahumu.”
“Katakan.”
Li Anlan menerangkan perihal pembuatan kartu nama. Dia bilang kalau benda ini akan sangat berguna dan sangat membantu. Jika tidak bisa menghapal dengan baik, dengan adanya benda ini, maka seseorang akan mudah mengenali orang. Kartu nama yang Li Anla terangkan adalah kartu nama untuk dibawa dan kartu nama yang melekat pada pakaian dinas, seperti yang sering digunakan oleh para pegawai negeri, anak sekolah, hingga pegawai swasta.
Dia meminta Xiao Biqi membawakan satu jubah kerajaan atau pakaian pejabat untuk membuat sampel, lengkap dengan satu set jarum dan benang. Dia juga meminta sebuah papan kayu, alat ukir, cat, dan penghalus beserta si pengrajin kayu. Setelah semuanya tersedia, Li Anlan keluar, pindah tempat menuju halaman Istana Hongwu diikuti Long Ji Man, Xiao Biqi, Xie Roulan, dan pengrajin kayu istana.
“Yang Mulia, apa ada pelayan yang bisa menyulam?”
“Kau tidak bisa melakukannya?”
“Aku tidak bisa menyulam atau menjahit.”
Long Ji Man melirik Xiao Biqi. Hanya dengan isyarat mata, kasim itu langsung tahu maksud Long Ji Man. Dia segera pergi ke daerah belakang Istana Hongwu, lalu kembali bersama seorang pelayan wanita berumur empat puluh tahunan.
“Kau ikuti arahanku. Kau juga,” perintah Li Anlan pada si pelayan dan pengrajin kayu.
Li Anlan menjelaskan secara perlahan mengenai sesuatu yang harus dikerjakan. Dia memberikan arahan dengan teliti dan mudah dimengerti hingga si pelayan dan pengrajin segera menurutinya. Dua orang itu mulai bekerja sesuai arahan dan instruksi Li Anlan, disaksikan Long Ji Man. Siapa yang tidak akan bersemangat saat disaksikan langsung oleh raja yang sangat dikagumi dan dihormati. Si pelayan dan pengrajin kayu semakin besar semangatnya. Mereka saling beradu kemampuan mencipta, melihat siapakah hasil karya yang paling bagus.
Dua jam kemudian, hasil karya keduanya sudah tampak. Si pelayan sudah selesai menyulam benang di kain jubah pejabat, membentuk sederet aksara kuno yang berarti sebuah nama. Si pengrajin kayu juga sudah selesai mencipta. Dia berhasil memahat sepapan kayu menjadi sangat kecil, dengan ukiran nama di tengahnya. Li Anlan mengecat karya si pengrajin, menghitamkan bagian hurufnya hingga tampak lebih nyata.
“Ini untuk para pejabat kecil,” tunjuk Li Anlan pada sulaman di jubah pejabat.
“Ini untuk pejabat utama dan pejabat besar lainnya,” tunjuk Li Anlan pada ukiran kayu yang baru selesai dicat.
“Keduanya harus berbeda. Pahatan kayu berarti pejabat besar, dan sulaman benang berarti pejabat kecil. Yang Mulia, ini tidak melanggar peraturan perihal status dan kedudukan, bukan?”
Long Ji Man takjub. Li Anlan benar-benar cerdas. Dia yakin, dengan adanya penamaan seperti itu, dia tidak akan keliru lagi. Dia juga bisa memanggil nama pejabatnya dengan benar tanpa harus menghapalnya. Tidak hanya Long Ji Man, semua orang yang ada di halaman tersebut juga ikut terpukau.
“Tentu saja tidak.”
“Kartu nama satunya lagi, dibuat dari kertas anti air saja.”
“Wah…. Anlan, hasil kerjamu sungguh bagus!”
...***...
__ADS_1