
Dua bersaudara itu keluar dari Paviliun Lanxin dengan perut kenyang. Makanan di dalam gedung ini ternyata lebih enak dan lebih lezat daripada makanan yang setiap hari ia santap di Istana Xingyue. Sayurannya terasa lebih gurih dan bumbunya banyak. Lauk pauknya juga hangat dan isinya sedap. Tidak seperti makanan di Istana Xingyue yang kebanyakan hambar dan terlalu sehat.
Baru kali ini, Li Anlan merasakan definisi “makan” yang sesungguhnya sejak kedatangannya ke dunia ini. Lidah Li Anlan serasa hidup kembali, syaraf-syarafnya terasa meremaja kembali. Memang, yang paling menyenangkan di dunia ini adalah makan makanan lezat. Dengan makan, kondisi mood yang buruk bisa membaik.
“Kakak, kau kenal mereka?” tanya Li Anlan sambil melirik dua penjaga Paviliun Lanxin.
“Memangnya kenapa?”
“Tatapan mereka tidak setajam seperti pada orang-orang itu saat kita berdua masuk.”
Li Afan mengernyitkan kening tanda bingung. Sepertinya, adik semata wayangnya ini melupakan sesuatu.
“Kau lupa? Paviliun Lanxin ini salah satu usaha milik keluarga Li kita.”
Li Anlan sedikit terkejut. Paviliun yang besar dan ramai dikunjungi orang ini adalah bisnis milik keluarganya? Di tengah kota seperti ini? Wah, Li Anlan berpikir harga jual dan keuntungannya pasti sangat besar. Apalagi, jika dilihat lebih dekat, Paviliun Lanxin ini termasuk yang paling mewah dibanding bangunan serupa di sisi kanan dan kirinya. Orang-orang yang masuk ke gedung itu pasti bukan orang miskin biasa. Mereka pasti punya banyak uang.
Pantas saja dua penjaga itu menunduk padanya dan pada Li Afan. Ternyata, mereka mengenali pemilik Paviliun Lanxin tempat mereka bekerja. Pantas pula Li Afan memiliki akses keluar masuk gedung itu, apalagi sampai menyuruhnya berganti baju dan makan makanan mewah nan lezat tanpa bayaran.
“Salah satu? Kalau begitu masih ada yang lainnya?”
Li Afan mengangguk. Sambil berjalan, pelan-pelan Li Afan mulai menjelaskan,
“Ayah memiliki empat gedung seperti Paviliun Lanxin dan dua buah toko perhiasan, serta satu toko alat tulis.”
Empat gedung mewah seperti Paviliun Lanxin, dua toko perhiasan, dan satu toko alat tulis, benar-benar tidak bisa dipercaya! Mata Li Anlan berbinar cerah. Bayangan uang melayang di depan matanya. Di masa ini, dia ternyata masih terlahir sebagai seorang anak orang kaya! Pantas saja Li Afan memberinya sekantong uang emas saat itu. Ternyata, sumbernya berasal dari usaha peninggalan keluarga!
“Dua gedung berada di luar kota. Semuanya dikelola oleh orang kepercayaan, jadi kita hanya perlu duduk diam dan menerima hasil.”
“Bukan kau yang mengurusnya?”
Li Afan menggeleng.
“Aku hanya mengawasi.”
“Mengapa?”
“Ayah takut aku diperdaya orang. Setelah ayah tiada, banyak orang yang mengincar bisnis kita. Jadi, sebelum itu, ayah mengubah nama kepemilikan menjadi nama samaran. Rahasia itu, hanya aku, kau, orang-orang itu, dan beberapa penjaga kepercayaan ayah yang tahu. Orang-orang di sini tidak tahu kalau pemiliknya adalah keluarga Li.”
Rupanya, saudaranya ini berperan seperti mandor jika dalam perkebunan teh. Bisnis keluarga yang begitu maju dan besar hanya perlu diawasi saja tanpa harus bekerja keras menjalankannya. Jika diterjemahkan ke istilah modern, Li Afan ini sama perannya seperti seorang presiden direktur, yang hanya perlu mengawasi laporan pengelolaan dan laba dari usaha yang dipegangnya. Jika terjadi masalah yang serius, barulah dia akan turun tangan. Jika tidak, ya tidak ada yang bisa dilakukan selain mengawasi.
“Mengapa orang bilang keluarga Bangsawan Li hanya tinggal aku seorang?”
“Kau lupa?”
“Kakak, kepalaku tenggelam, ingatanku hilang dalam air.”
“Aku tidak pernah menetap. Orang tidak tahu kalau ayah punya anak laki-laki.”
Li Anlan ternyata masih terlahir dengan sendok perak. Dia masih tetap menjadi anak konglomerat. Hanya saja, nasibnya hampir sama dengan dirinya di dunia modern. Baik di sini maupun di dunia modern, Li Anlan sama-sama sudah tidak punya orang tua. Bisnis keluarga juga dijalankan oleh orang lain. Sama seperti bisnis pabrik tekstil dan sutra hingga toko emasnya yang dikelola oleh bibinya. Di sana, Li Anlan juga hanya harus duduk diam dan menerima laba masuk ke dalam rekeningnya hingga gendut.
__ADS_1
“Tapi, mengapa ayah mengirimku ke istana Raja?”
Pertanyaan yang sedari tadi akhirnya meluncur dari mulut Li Anlan. Wanita itu sangat penasaran mengapa dia dikirim ke istana, padahal orang tuanya kaya raya dan tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Meskipun sudah diberitahu Xie Roulan, Li Anlan masih ingin mendengar alasan yang menurutnya masuk akal.
“Meskipun kita kaya, orang-orang di kota ini tidak bodoh. Mereka mana mungkin tega membiarkan putra mereka menikahi gadis tidak berbakat dan tidak tahu apa-apa sepertimu.”
Wajah Li Anlan berubah kusut. Alasan itu masih sama dengan alasan yang dilontarkan Xie Roulan. Bahkan kakaknya sendiri mengatakannya seolah itu adalah sebuah lelucon. Kalau begitu, kenapa dia tidak dikirim ke hutan saja agar tidak menyusahkan orang? Apa benar ia di dunia ini benar-benar bodoh dan dungu?
Ejekan itu sebenarnya berbekas di hati Li Anlan. Dia tidak pernah suka dipanggil bodoh, tolol, dungu, atau kata apapun yang bermakna sama dengan kata-kata itu. Di masa depan, Li Anlan adalah wanita paling cerdas dan pintar, meskipun terkadang otaknya agak bergeser ketika sering membolos dan berdemo atau saat tidak mengerjakan tugas. Jika ada orang yang mengatainya, dia akan langsung menghajar orang itu dengan menjambak rambutnya jika orang itu adalah wanita, dan menendang selangkangannya jika orang itu adalah pria. Begitulah cara Li Anlan bertahan di dunia yang keras itu.
“Apa aku juga punya bagian?”
“Wanita itu sebaiknya diam di rumah saja.”
“Apa yang salah dengan seorang wanita pekerja?”
“Menyalahi takdir.”
“Takdir? Takdir seperti apa?”
“Takdir seperti mengikuti dan menjaga nama baik suami dengan menjadi istri yang patuh dan baik-baik mengurus rumah tangga.”
Berdasarkan perkataan Li Afan, Li Anlan sudah mengerti situasi yang terjadi di masa ini. Ideologi patriarki ternyata masih sangat kental dan murni. Wanita hanya boleh pandai mengurus suami, anak, rumah, dan keluarga. Di zaman modern, wanita manapun bebas memilih, apakah ia ingin menjadi wanita rumahan atau menjadi seorang wanita karir, karena emansipasi membuat kaum wanita menjadi setara dengan laki-laki. Di sini, hak-hak wanita pasti dieksploitasi dan dibatasi, hingga tidak diizinkan memiliki pandangan, pendapat, dan tidak bisa menentukan pilihan hidupnya sendiri.
Tapi, Li Anlan juga tidak bisa berbuat apa-apa. Mengubah kultur yang sudah mendarah daging bukan perkara mudah, bahkan terbilang sangat sulit. Butuh waktu ratusan tahun agar pemahaman masyarakat menjadi terbuka, tidak terpaku pada budaya lama.
“Apa yang salah dengan wanita karir?”
“Wanita yang bisa bebas bekerja sesuai pilihan dan prinsip hidupnya masing-masing. Ah, wanita karir itu wanita yang bekerja sesuai dengan kemampuan dan bakat yang dimilikinya.”
“Kau seorang wanita karir?”
Li Anlan mengangguk.
“Lalu apa bakatmu?”
“Kau menjebakku!”
Melihat adiknya merajuk, Li Afan malah tertawa. Wajah bulat Li Anlan sangat lucu dan menggemaskan saat marah. Sudah lama dia tidak melihat wajah merajuk Li Anlan.
“Maaf-maaf.”
“Aku tidak mau bicara denganmu lagi!”
“Aku hanya bercanda.”
“Aku tidak peduli.”
Melihat adiknya semakin merajuk, Li Afan mengeluarkan jurus pamungkasnya. Dari balik lengan bajunya, dia mengeluarkan sebuah kantong kain berwarna biru muda bermotif bunga plum yang lucu. Kantong itu berisi uang sebanyak tiga ratus tael perak. Li Afan menyodorkan kantong itu kepada Li Anlan, lalu menggoyang-goyangkannya di depan wajahnya. Dia berkata sambil menggoda,
__ADS_1
“Kau yakin tidak peduli dengan ini?”
Li Anlan mencium bau uang dari kantong itu. Tangannya refleks terulur hendak meraih kantong itu, tapi Li Afan justru menjauhkannya dan menariknya ke belakang tubuhnya.
“Uangku!”
“Apa Yang Mulia Raja tidak memberimu nafkah? Kulihat kau seperti kesetanan setiap kali melihat uang.”
“Jangan membahasnya. Aku benci raja arogan itu!”
“Kau sudah bertemu dengannya?”
“Tidak sengaja.”
Li Afan bertepuk tangan.
“Apa yang kau soraki?”
“Pencapaian luar biasa! Kukira kau tidak akan pernah bertemu dengan suamimu selamanya.”
“Aku memang berharap begitu.”
Mendengar kata ‘raja’, Li Anlan selalu diingatkan pada sikap menyebalkan Long Ji Man yang sombong dan arogan. Wajah batu es itu tidak hanya mempersulitnya, tapi juga membuatnya tersiksa hingga dikurung di Istana Xingyue. Padahal, Li Anlan pikir, alasan dia mengerjai Long Ji Man adalah karena kesalahan pria itu sendiri.
Jika Long Ji Man tidak menyuruhnya menolong Xu Lingshu hingga ia terkena racun dan demam, Li Anlan tidak akan berkomentar apa-apa. Jika saja Long Ji Man tidak datang ke istananya dan mengambil ponselnya, Li Anlan akan tetap diam. Tapi, pria itu justru malah mengurungnya selama berhari-hari. Ini tentu sudah melewati batas dan sudah masuk hitungan. Li Anlan sudah pasti akan membalasnya suatu saat.
“Kenapa?”
“Dia mengunciku. Aku benci dibatasi!”
Li Afan mengangguk tanda mengerti. Sepertinya, ada sedikit perubahan dalam kejiwaan adiknya. Dulu, Li Anlan selalu nyaman berada di dalam rumah dan tidak masalah saat ruang geraknya dipersempit. Sekarang, adik semata wayangnya ini tampaknya sudah berubah menjadi wanita yang bebas, persis seperti seekor burung yang terbang setelah lama terkurung dalam sangkar.
“Kuberitahu kau, mei-mei. Kau tidak boleh menjadi kesayangan Raja!”
“Tentu saja tidak boleh! Jika itu terjadi, aku akan mati.”
“Tapi, sepertinya tidak buruk juga menjadi kesayangan, kau bisa mendapat banyak uang.”
“Kau ini mendukungku atau menjatuhkanku?”
Melihat adiknya yang sekarang, Li Afan jadi menyesalkan keputusan ayahnya dua tahun lalu. Seharusnya Li Afan memohon pada Bangsawan Li Han agar Li Anlan tetap tingggal di kediaman. Tidak apa-apa jika tidak ada yang melamarnya dan dia tidak menikah. Li Afan pasti akan menjaganya dan melindunginya. Li Afan akan memastikan kehidupan Li Anlan berjalan sangat baik meskipun tidak memiliki suami. Li Afan pasti akan membuat Li Anlan tetap bahagia, karena dia tahu bahwa adiknya itu masih memiliki seorang kakak seperti dia yang bisa dijadikan sandaran dan tempat berlindung.
“Anlan, berjanjilah padaku kau akan hidup dengan baik!”
“Tentu saja!”
Dua bersaudara itu berjalan menyusuri keramaian ibukota. Tangan Li Anlan sibuk melempar-lemparkan kantong uangnya ke atas, lalu menangkapnya kembali. Namun, secara tidak terduga, seseorang mengambil kantong uang itu saat Li Anlan sedikit lengah. Saat dia menyadari kantong uangnya hilang, dia melihat orang itu berlari menjauh.
“Pencuri!”
__ADS_1
Tanpa mempedulikan saudaranya, Li Anlan langsung berlari sekencang mungkin untuk mengejar orang yang merampas kantong uang miliknya. Jalanan ibukota menjadi lebih ramai. Li Anlan terus berlari, berusaha memperpendek jaraknya dengan pencuri itu agar dia bisa meraihnya dan menghajarnya. Orang-orang yang tidak menyingkir beberapa kali terjatuh ditubruk Li Anlan. Di belakangnya, Li Afan juga berlari, berusaha menyusulnya.
“Mei-mei, tunggu!”