The Little Consort

The Little Consort
Eps. 25: Merasa Kecewa


__ADS_3

“Mengapa kau membawaku ke sini?”


Long Ji Man mengibaskan lengan bajunya dengan kasar hingga pegangan tangan Li Anlan terlepas. Dia heran mengapa ada wanita yang memiliki keberanian yang sangat besar seperti Li Anlan, mungkin keberanian berdebatnya juga lebih hebat daripada para pejabat.


Kumis tipis yang digunakan Li Anlan mungkin sudah jatuh saat keduanya berjalan tadi. Sekarang, wajah Li Anlan kembali cantik seperti seorang wanita. Rambutnya juga setengah terurai karena gulungan rambutnya mengendur ikatannya.


Saat Long Ji Man menatap sekeliling, dia baru menyadari bahwa dia tidak ada di pusat kota. Tempat ini, tempat asing yang belum pernah dilihatnya. Pohon-pohon hijau, semak-semak belukar, dan harum rerumputan yang tertiup angin membuat Long Ji Man bertanya-tanya di manakah ia berada.


“Kau hanya bisa menggertakku tanpa mau menyadari kesalahan dirimu sendiri!”


Lihat, Li Anlan bahkan menyalahkannya lagi. Nada bicara wanita itu mengisyaratkan bahwa dia benar-benar kesal dan marah.


“Kenapa kau menyalahkanku? Seharusnya aku yang marah!”


“Begitukah?”


Li Anlan begitu berapi-api. Kemarahan yang sejak beberapa waktu lalu berusaha ditahan seperti akan meledak. Long Ji Man selalu menyengsarakannya, selalu membuatnya kesal, dan selalu membuatnya seperti seorang wanita lemah yang tidak berdaya. Long Ji Man selalu menindasnya secara tidak langsung. Meskipun dia seorang raja, dia tidak punya hak untuk menginjak-injak Li Anlan.


Hah, pria itu hanya bisa merendahkan dan melihat kekurangannya saja!


Apakah tidak cukup membuatnya menderita? Long Ji Man memberikan gaji kecil, istana kecil, mengurungnya, bahkan menyita barang kesayangannya! Saat Li Anlan hendak melakukan sesuatu untuk menjamin hidupnya di masa mendatang, pria itu juga malah datang dan mengacaukan mood-nya!


“Siapa mereka?” tanya Long Ji Man pada sekumpulan anak-anak kumuh berbaju jelek dan dekil yang sedang bermain di halaman rumah tua.


“Rakyatmu.”


“Apa?”


“Mereka anak-anak terlantar dan yatim piatu. Tidak punya orang tua, tidak punya tempat tinggal, lalu memilih menjauh dari pusat kota dan hidup sengsara dan terasing.”


Long Ji Man memperhatikan setiap wajah dari anak-anak kumuh itu. Kulit mereka sedikit hitam. Ada beberapa bekas luka di kaki dan tangan serta wajah beberapa anak. Ada yang kurus, ada pula yang sedikit gendut. Laki-laki dan perempuan semuanya seperti sama, sorot mata mereka jernih penuh pengharapan. Otak polos mereka pasti tidak tercemar kotoran ibukota.


“Yang Mulia, beginikah caramu mengurus rakyatmu?”


Pertanyaan Li Anlan seperti sebuah panah yang menusuk jantung hatinya. Sekarang, dia tahu tujuan wanita itu membawanya kemari. Li Anlan ingin dia tahu bahwa tidak semua rakyatnya hidup sejahtera. Masih banyak anak-anak yang terlantar dan terlunta-lunta karena kehilangan orang tua. Pertanyaan itu menampar keras ulu hatinya.


Long Ji Man malu pada dirinya sendiri. Dia kecewa karena tidak teliti, hingga tidak tahu bahwa rakyatnya ada yang hidup seperti ini. Apalagi mereka anak-anak yang masih memerlukan bimbingan agar menjadi orang berguna di masa depan, baik untuk Dongling maupun untuk diri mereka sendiri. Selama ini dia berpikir semua rakyatnya baik-baik saja.


Tidak disangka, seorang wanita lemah seperti Li Anlan justru memberinya kesadaran dan membuat dirinya sedikit tersudut. Sebagai seorang pemimpin dan seorang raja, Long Ji Man seharusnya lebih tahu kondisi rakyatnya yang sebenarnya.

__ADS_1


“Bagaimana kau menemukan mereka?”


“Em… Itu, tidak sengaja,” jawab Li Anlan. Gugup, karena secara tidak langsung dia telah memberitahu Long Ji Man bahwa dia pernah keluar istana.


“Ini bukan kali pertamamu menyelinap keluar bukan?”


Oh tidak, aku ketahuan!


Li Anlan berteriak dalam hati.


Li Anlan tidak tahu harus menjawab apa. Perkataannya hanya akan menjadi pembuang tenaga. Long Ji Man akan tahu dia berbohong. Daripada membuat rajanya marah lagi, lebih baik Li Anlan diam dan menutup mulutnya. Dia yakin Long Ji Man sudah mengetahui kebenarannya.


“Ck.. Itu bukan hal yang penting untuk dibahas sekarang. Lebih baik pikirkan cara bagaimana kau akan membereskan mereka.”


“Lalu apa yang harus aku lakukan?”


“Buatkan saja panti asuhan.”


“Panti asuhan?”


“Bangunlah atau belilah sebuah bangunan di pusat kota. Buatlah mereka memiliki rumah yang layak dan tidak terisolasi dari dunia luar.”


“Dia!”


Li Anlan menunjuk seorang pria yang pernah berdebat dengannya beberapa hari lalu. Ya, Si Pencuri itu. Dia baru kembali sepertinya. Di tangannya ada beberapa kantong makanan dan minuman. Saat Si Pencuri itu datang, anak-anak itu langsung berlari menyambutnya dengan gembira. Si Pencuri itu membagikan makanannya sedikit demi sedikit hingga semua anak mendapatkan bagiannya.


Hati Long Ji Man tercubit. Di sini, hanya dengan sedikit makanan yang sederhana, mereka sudah segembira itu, seolah mendapatkan sebuah harta yang berharga. Sangat jauh berbeda dengan dirinya di istana. Dia seorang anak yang lahir dengan sendok emas, seumur hidup selalu dimanja dan dilayani. Makanannya bergizi tinggi, dan teratur selama tiga kali sehari. Pakaiannya mewah dan bagus, terbuat dari kain sutera dan satin berkualitas tinggi.


Tapi di sini, anak-anak itu nasibnya sungguh tidak beruntung. Tidak punya rumah, tidak punya pakaian yang layak, tidak punya uang, dan hidup terpisah jauh dari pusat kota yang ramai. Makan satu kali sehari pun sepertinya sudah sangat beruntung.


Mereka yang terisolasi seperti ini mungkin tidak jauh berbeda dengan Li Anlan. Dia, meskipun seorang wanita bangsawan kaya raya, tapi karena tidak memiliki bakat dan kecerdasan, dibuang begitu saja seperti sampah oleh masyarakat, dan rela masuk istana untuk menyelamatkan reputasi dirinya dan keluarganya. Dia tinggal di istana kecil yang terpencil dan jauh dari komplek istana selir yang mewah dan berdekatan. Hidup menyendiri seperti orang mati, tidak pernah menginjakkan kaki di tanah selain Istana Xingyue dan taman Danau Houchi. Li Anlan adalah orang benasib malang yang takdirnya terbungkus citra sebagai wanita raja, yang terlihat mewah dan tinggi, padahal sebenarnya tidak.


“Ayo!”


Tarikan pada lengan bajunya menyadarkan kembali Long Ji Man. Dia diseret kembali oleh Li Anlan. Kali ini, keduanya sampai di depan rumah tua. Seorang anak yang agak gendut melihat mereka, lalu berteriak,


“Bukankah itu kakak cantik yang waktu itu?”


Si Pencuri ikut menoleh. Sesaat kemudian, dia menjadi kesal. Hatinya bertanya-tanya mengapa wanita yang tempo hari dirampoknya datang lagi. Sekarang bahkan membawa laki-laki asing.

__ADS_1


“Bukankah kita sudah sepakat tidak akan bertemu lagi?” tanya Si Pencuri.


“Aku juga tidak mau!”


Dua orang itu terlibat adu mulut lagi. Long Ji Man menatap pria yang berdebat dengan selirnya dengan tajam. Tidak ada yang tahu apa arti tatapan tajam itu. Saat Si Pencuri tidak sengaja menatap matanya, pria itu langsung tersadar. Pria yang datang bersama wanita yang dirampoknya bukan pria biasa. Aura dinginnya sangat kental. Postur tubuhnya yang tinggi, tegap, dan berotot menandakan bahwa pria ini seorang yang terampil dan terlatih.


Si Pencuri melihat kipas di tangan Long Ji Man. Kipas itu bermotif naga, memiliki gantungan giok hijau dengan bentuk unik di ujungnya. Kipas langka seperti itu tidak bisa ditemui di manapun karena hanya dibuat satu kali setiap ada sesi pergantian raja dan upacara abiseka untuk menobatkan raja baru. Saat dia memikirkan itu, Si Pencuri langsung menunduk.


“Yang Mulia, apa dia mengenalimu?” bisik Li Anlan, heran dengan perubahan perilaku Si Pencuri arogan yang tiba-tiba menunduk seperti seekor pungguk.


“Sepertinya begitu.”


“Baguslah. Dia tidak akan berani mencuri uangku lagi.”


“Dia merampokmu?”


Li Anlan mengangguk. Long Ji Man kembali menatap tajam Si Pencuri.


“Yang Mulia, bisakah kau melupakannya? Dia yang mengurus anak-anak itu.”


Tatapan Long Ji Man sedikit melembut. Jadi, pencuri ini mencuri uang orang lain untuk menghidupi anak-anak terlantar ini. Ya, tujuannya memang mulia, tapi caranya salah. Merampas hak orang lain untuk menghidupi orang yang lain lagi adalah perbuatan tidak terpuji. Jika pencuri itu tertangkap, dia bisa dihukum pukul dan dipenjara karena panjang tangan.


“Yang Mulia, pertimbangkan saranku baik-baik.”


Long Ji Man membalikkan badan. Li Anlan mengikutinya dari belakang. Saat pria itu mencapai pintu pagar halaman rumah tua, dia menjeda langkahnya. Kepalanya menoleh sedikit, lalu berkata pada Si Pencuri.


“Anggap saja kau tidak pernah bertemu denganku hari ini.”


Si Pencuri mengangguk tanpa suara.


“Kau memaafkannya?”


“Aku melupakan kesalahannya.”


Li Anlan mengangguk mengerti. Wanita itu berjalan mengekori Long Ji Man, takut lupa pada jalan yang ia lalui dan tersesat lagi seperti tempo hari. Aneh memang, dia hapal jalan ke sini saat berangkat, tapi lupa jalan untuk kembali ke pusat kota.


...***...


Halo, para pembaca kesayangan Author! Author mau minta maaf karena kemarin telat update dan cuma dua bab publikasinya, karena akhir-akhir ini Author lagi sibuk sama kegiatan dan tugas lain. Tetap stay tune ya, nantikan episode selanjutnya, karena episode-episode yang akan datang akan menunjukkan bahwa Li Anlan bukan wanita biasa! Jangan lupa like & komen di bawah ya! See you👋

__ADS_1


__ADS_2