
Pasangan suami istri – raja dan selir itu membopong wanita hamil ke sebuah bangunan bertuliskan “Balai Pengobatan” di pinggir jalan, tidak jauh dari lokasi kejadian. Semua orang langsung menyingkir memberi jalan. Wanita hamil itu mengaduh kembali, pakaian bawahnya sudah basah.
“Gawat! Air ketubannya pecah!”
Li Anlan meminta Long Ji Man untuk sedikit lebih cepat. Air ketuban wanita hamil itu sudah pecah, sangat berbahaya jika dibiarkan terlalu lama. Bayi di dalam kandungannya akan berada dalam bahaya jika tidak segera dikeluarkan. Para petugas Balai Pengobatan langsung menyambut, membantu mereka agar wanita hamil itu segera mendapatkan penanganan.
Di sebuah kamar yang mirip seperti ruang bersalin, Li Anlan membantu membaringkan wanita hamil tersebut. Beberapa petugas perempuan datang membawa baskom-baskom berisi lap dan air hangat. Suasana dalam ruangan kecil itu benar-benar seperti suasana sebuah rumah bersalin di zaman modern. Bedanya, tidak ada selang infusan atau brankar pasien dan peralatan medis modern lainnya.
“Di mana bidannya?”
“Nona, petugas persalinan sedang membantu persalinan seorang nyonya di tempat lain,” ujar salah seorang wanita, mungkin seorang perawat.
Di balik tirai, Long Ji Man berdiri. Raja Dongling yang sedang menyamar itu ikut panik, khawatir terjadi sesuatu pada si wanita hamil. Apalagi wanita itu sudah terjatuh. Proses persalinannya pasti akan sedikit lebih sulit.
“Lalu bagaimana sekarang?” tanya Long Ji Man dari balik tirai.
“Bagaimana apanya?” Li Anlan balik bertanya.
“Anlan, kau tidak bisa menolongnya?”
“Tuan Muda, aku bukan tabib, aku bukan dokter kandungan!”
Gawat. Petugas persalinan tidak ada, para perawat ini juga sepertinya belum terampil. Li Anlan kebingungan. Dia belum pernah menghadapi situasi seserius ini. Menolong wanita hamil memang wajar, tapi membantu persalinan, sepertinya Li Anlan tidak bisa melakukannya. Dia takut melakukan kesalahan, dia takut membahayakan si ibu dan anak. Li Anlan benar-benar bingung.
“Aaaaaaaaaaa……”
Si wanita hamil mulai mengejan. Kedua tangan wanita itu mencengkram kuat kain putih yang menggantung, yang fungsinya sebagai pegangan. Seluruh wajah wanita itu dipenuhi keringat. Li Anlan tersentak. Keadaannya sudah seperti ini. Dia tidak bisa membiarkannya lebih lama lagi.
Li Anlan membulatkan tekad. Dia mengambil baskom air hangat, lalu mulai membantu si wanita hamil. Li Anlan sempat memejamkan mata saat melihat begitu banyak darah keluar dari jalan lahir. Namun, dia ingat bahwa dia tidak boleh ragu atau takut. Darah itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dua nyawa yang sedang berusaha dia selamatkan.
“Nyonya, keluarkan tenagamu!”
“Aaaaaa….”
Sementara itu, di balik tirai, Long Ji Man tetap gelisah. Entah kenapa perasaannya jadi tidak menentu. Suara teriakan penuh perjuangan yang mengandung kesakitan itu begitu mendengung di telinganya, seperti suara teriakan ribuan prajurit di medan perang. Long Ji Man tidak tahu kalau melahirkan akan sesulit itu.
“Buat dia tetap sadar!” seru Li Anlan. Beberapa wanita petugas itu lalu berusaha membuat si wanita hamil tetap sadar. Mendengar seruan Li Anlan, Long Ji Man tiba-tiba terdiam. Suasana di balik tirai pasti sedang kacau.
Saat kepala si bayi mulai terlihat, si wanita hamil itu sempat pingsan. Akibatnya, proses persalinan sedikit terhambat. Hal baiknya adalah si bayi tidak mati meskipun masih terjebak di jalan lahir, karena kepalanya sudah menyembul hingga dia bisa bernapas. Ketika si wanita sadar dan mulai mengejan, Li Anlan terkejut. Kepala bayi itu masuk kembali ke dalam jalan lahir. Sesuatu yang berbahaya sepertinya akan terjadi. Bayi ini tidak akan bisa keluar dalam waktu yang cepat.
“Nona, ada apa?” tanya salah seorang petugas wanita.
“Distosia bahu!” seru Li Anlan panik.
__ADS_1
Para wanita petugas yang menjadi perawat itu saling pandang. Mereka sama sekali tidak mengerti perkataan yang dilontarkan oleh Li Anlan. Wanita hamil yang sedang bersalin kembali berteriak.
“Nyonya, tolong lebarkan lutut Anda!”
Wanita itu menuruti perkataan Li Anlan, lalu mulai mengejan kembali. Kepala si bayi mulai menyembul kembali. Li Anlan mulai merasa tenang. Dia lalu menyuruh si wanita untuk mengejan kembali agar si bayi bisa segera keluar. Setelah berjuang keras dalam waktu yang cukup lama, suara tangisan bayi terdengar dari ruang bersalin sederhana itu. Si wanita hamil yang sekarang sudah menjadi ibu mendesah lega, lalu menyandarkan kepalanya ke bantal dengan tenaga yang masih tersisa.
“Tolong bantu nyonya itu untuk membuka bajunya.”
Meskipun bingung, namun para perawat itu tetap menuruti Li Anlan. Mereka membuka baju si ibu yang sedang terkulai lemas, lalu menutupinya dengan kain.
Dengan tangan bergetar, Li Anlan membawa bayi merah yang baru lahir itu, lalu menyerahkannya kepada sang ibu setelah memotong plasentanya. Bayi itu diletakkan di atas dada sang ibu, lalu dibiarkan bergerak mencari sumber makanannya. Para wanita perawat saling pandang, bingung dengan sesuatu yang terjadi di depan mereka. Meletakkan bayi baru lahir di dada sang ibu? Ini pertama kalinya mereka melihatnya.
Li Anlan mengisyaratkan kalau semua akan baik-baik saja. Meletakkan bayi baru lahir di dada sang ibu dapat memperkuat imun dan stabilitas tubuh sang bayi, juga merekatkan tali batin antara ibu dan anak. Li Anlan pernah melihat hal seperti ini saat bibinya yang baik hati melahirkan anak bungsunya lima tahun yang lalu.
Darah bekas persalinan lalu dibersihkan. Para wanita perawat silih berganti membawa baskom berisi air hangat dan air bersih. Mereka juga membantu si ibu yang baru melahirkan untuk membersihkan diri. Li Anlan, setelah membereskan semuanya, langsung keluar dari dalam ruangan. Peluhnya masih menetes di dahi. Kedua tangannya sudah bersih dari darah.
“Anlan…” panggil Long Ji Man. Rupanya, pria itu masih berdiri di sana.
“Tuan Muda. Kita berhasil! Bayinya… Bayinya laki-laki.”
Li Anlan hampir terjatuh. Tubuhnya tiba-tiba lemas seperti tidak bertenaga. Untung saja Long Ji Man berhasil menahannya.
“Kau kenapa?”
Bohong jika Li Anlan baik-baik saja. Wanita itu hanya sedang berusaha tetap kuat setelah semua yang baru saja ia alami. Dia, seorang gadis yatim piatu kaya raya yang bebas, baru saja membantu seorang wanita melahirkan. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya jika ia akan mengalami hal seperti ini.
Tadi itu sangat menegangkan! Li Anlan benar-benar kehabisan kata-kata. Tubuhnya masih bergetar karena takut. Dia sama sekali tidak percaya pada apa yang baru dialaminya. Tidak pernah terbayang dalam benaknya kalau proses melahirkan akan sesulit itu.
Li Anlan memandangi kedua tangannya yang baru saja dibersihkan. Dia masih belum bisa percaya, bahwa tangan yang sering digunakan untuk menarik akar atau dahan di gunung ini sudah menyentuh seorang bayi merah yang baru keluar dari perut ibunya. Dia belum bisa percaya kalau tangan yang sering dipakai untuk melesatkan anak panah ini sudah memotong sesuatu yang datang bersama si bayi.
“Anlan?”
“Ya?”
“Kau baik-baik saja?”
“Ya, Tuan Muda.”
Bukan hanya Li Anlan yang tidak percaya, tapi Long Ji Man juga mengalami hal serupa. Dia, seorang Raja Dongling, tidak pernah membayangkan akan membantu seorang wanita yang berada jauh di bawah statusnya melahirkan anak. Long Ji Man lebih tidak percaya pada Li Anlan. Dia tidak percaya kalau Li Anlan benar-benar bisa menolong seorang wanita dalam proses persalinan, apalagi memiliki tanggapan yang cepat ketika terjadi suatu masalah selama proses tersebut.
“Apa itu distosia bahu?” tanya Long Ji Man setelah beberapa saat.
“Keadaan ketika bahu bayi tersangkut di jalan lahir.”
__ADS_1
“Apa penyebabnya?”
“Mungkin karena ukuran bayi itu terlalu besar.”
Long Ji Man masih ingin bertanya, tapi melihat kondisi Li Anlan yang kelelahan, dia mengurungkan niatnya. Seorang pria berusia dua puluh delapan tahunan tiba-tiba masuk dan menanyakan wanita yang baru melahirkan. Li Anlan menebak kalau pria itu pastilah suami si wanita.
Pria itu masuk ke dalam ruang bersalin. Tidak lama setelah itu, dia keluar dengan raut wajah gembira. Seorang perawat wanita kemudian membawanya kepada Li Anlan dan Long Ji Man. Pria itu menunduk memberi hormat.
“Terima kasih karena Tuan Muda dan Nona sudah menolong istriku,” ujar pria itu dengan tulus.
“Tidak apa-apa. Selamat karena kau sudah menjadi seorang ayah,” balas Li Anlan.
Pria itu mengucapkan terima kasih berkali-kali hingga Li Anlan mulai merasa kesal. Berterima kasih ya berterima kasih saja, cukup sekali, tidak perlu diulang-ulang seperti itu. Melihat wajah Li Anlan yang mulai berubah, Long Ji Man segera mencari cara untuk membuat si pria itu pergi dari hadapannya.
“Apa pekerjaanmu?” tanyanya pada si pria.
“Aku hanya seorang pekerja di kedai teh, Tuan Muda.”
“Datanglah ke kantor Kementrian Kesejahteraan. Katakan bahwa seorang pria bermarga Long yang menyuruhmu.”
Setelah mengatakan itu, Long Ji Man langsung menarik tangan Li Anlan, membawa wanita itu keluar dari Balai Pengobatan. Suasana kota semakin ramai. Ekspresi Li Anlan langsung berubah senang. Akhirnya, dia bisa keluar dari Balai Pengobatan dan menghindar dari pria yang hendak membalas budi itu.
“Dari mana kau belajar hal seperti itu?” tanya Long Ji Man.
“Aku tidak pernah mempelajarinya.”
“Lalu mengapa kau bisa melakukannya dengan baik?”
“Entahlah. Mungkin keyakinan diri yang besar yang sudah membantuku.”
Tidak lama kemudian, Wang Tianshi datang menghampiri keduanya. Pengawal pribadi itu kelimpungan, bingung karena Long Ji Man dan Li Anlan menghilang tanpa jejak saat di kerumunan tadi. Pria itu menyesal karena kewaspadaannya kurang hingga ia tidak bisa menemukan tuannya. Setelah berputar-putar, barulah Wang Tianshi mengetahui keberadaan Long Ji Man dan Li Anlan. Kebetulan saat dia hendak menuju ke Balai Pengobatan, Long Ji Man dan Li Anlan keluar dari tempat itu.
“Yang Mulia, ampuni aku karena kurang waspada.”
“Tidak apa-apa. Ayo pergi.”
Long Ji Man dan Li Anlan kembali menaiki kereta kuda. Long Ji Man hampir saja melupakan tujuan utamanya keluar dari istana secara diam-diam akibat kejadian tadi. Sekarang, dia akan langsung membawa Li Anlan ke suatu tempat yang selama ini sudah dipersiapkan.
Sementara itu, Li Anlan justru malah berkutat dengan pemikirannya sendiri. Li Anlan tiba-tiba menjadi kesal karena kepergiannya ke luar istana kali ini juga tidak bisa memberinya kebebasan. Dengan suara pelan, dia bergumam,
“Bukannya jalan-jalan enak, malah menjadi dukun beranak!”
...***...
__ADS_1