The Little Consort

The Little Consort
Eps. 31: Teringat Kembali


__ADS_3

"Yang Mulia, kembalikan ponselku!"


"Tidak. Pergi sana!"


Li Anlan berusaha merebut ponsel yang sedang dipegang Long Ji Man. Alih-alih memberikannya, Long Ji Man malah menyembunyikannya di balik jubahnya, tepat di bagian ketiaknya. Saat gerakan Li Anlan mulai melambat, dia baru mengeluarkannya kembali.


Di pinggirnya, Li Anlan berdiri sambil melipat kedua tangannya di dada. Wanita itu datang pagi-pagi sekali untuk melayani keperluan Long Ji Man. Saat dia masuk, dia mendengar bunyi yang tidak asing. Setelah ditelusuri, ternyata bunyi itu adalah dering alarm dari ponselnya yang disimpan di samping Long Ji Man.


Ide cemerlang langsung muncul dalam otaknya. Li Anlan berniat membalas kekesalannya pada pria yang sedang tertidur itu. Diam-diam, Li Anlan mengambil ponselnya, lalu menaikkan volumenya hingga suara deringnya lebih keras dari sebelumnya. Dia mendekatkan ponsel itu ke samping Long Ji Man, tepat di dekat telinganya.


Sontak saja Long Ji Man terperanjat, lalu buru-buru bangkit. Kesadarannya saat itu belum berkumpul semua, jadi dia tidak menyadari kalau seseorang sudah mengerjainya. Dia baru tersadar setelah beberapa saat.


Akibat perbuatannya, Li Anlan disuruh berjongkok di depan meja kerja Long Ji Man sambil memegang kedua daun telinganya dengan tangan. Di atas kepalanya, tersimpan sebuah piring porselen. Jika piring itu jatuh dan pecah, maka hukuman Li Anlan akan ditambah lagi.


"Benda ini bekerja lebih baik dari teriakan Xiao Biqi."


"Tentu saja. Ponselku adalah yang tercanggih dari benda apapun di dunia ini."


"Saat benda ini mati, bagaimana caramu menghidupkannya?"


"Ponsel canggihku ini menggunakan charger bertenaga surya untuk membuatnya hidup kembali."


Long Ji Man mulai penasaran.


"Tenaga surya?"


"Ya. Tenaga matahari yang bisa diubah ke dalam bentuk lain."


"Apa matahari punya kemampuan seperti itu?"


"Energi matahari adalah energi yang dapat diperbarui. Aku menggunakan panel surya untuk menangkap panasnya, menyimpannya, lalu mengubahnya menjadi energi lain."


"Apa maksud dari energi yang dapat diperbarui?"


Seperti seorang guru yang sedang mengajarkan muridnya, Li Anlan mulai menjelaskan teori energi, jenis, serta konsep dan penggunaan panel surya. Li Anlan juga menjelaskan konsep perubahan energi dan cara pemanfaatannya.


"Energi yang dapat diperbarui adalah energi yang tidak akan pernah habis digunakan dan akan selalu tersedia di alam. Energi matahari masuk dalam kategori itu. Jadi, sepanjang matahari bersinar, maka energinya akan tetap ada dan akan tetap bisa digunakan."


"Lalu apa yang lainnya lagi?"


"Angin dan air."


"Bagaimana cara mengubahnya dengan benda yang kau sebut tadi?"


"Berikan aku ponselnya dulu, baru kujelaskan."


"Tidak. Jika kuberikan, kau akan menipuku."


"Aku janji tidak akan menipumu."


Long Ji Man masih tidak yakin. Dia masih menatap curiga pada Li Anlan. Tangannya terulur perlahan, menyerahkan ponsel itu pada pemilik aslinya.


"Tepati janjimu!"

__ADS_1


Dalam hati, Li Anlan berteriak "Tentu saja aku akan melanggarnya."


Niat awal Li Anlan adalah ingin bermain games. Selama beberapa minggu ini, pikirannya dipenuhi dengan segala sesuatu yang memusingkan. Dia butuh ponselnya untuk menghibur dirinya.


Wanita itu duduk di lantai. Long Ji Man berdiri di belakangnya, mengintip apa yang sedang dilakukan oleh selir terbuangnya. Tanpa sengaja, jari Li Anlan tiba-tiba menekan aplikasi galeri, hingga gambar-gambar yang ia potret muncul semuanya.


Li Anlan mengernyit saat lima puluh foto pria asing tersimpan di memori ponselnya. Otaknya berputar kembali mencari kepingan ingatan, barangkali ia mengenal orang-orang asing itu. Sekeras apapun ia berpikir, dia tetap tidak bisa mengingatnya.


Li Anlan melihat detail waktu dan tanggal pengambilan foto-foto itu. Tring, sebuah bel ingatan berbunyi dalam otaknya. Pusat memori otaknya mengenal pria-pria asing ini.


"Yang Mulia, lihat yang kutemukan!"


Li Anlan menyodorkan ponselnya yang berisi foto-foto para pria asing pada Long Ji Man. Long Ji Man mengernyitkan dahi, melihat dengan saksama, barangkali dia pernah melihat orang-orang asing ini.


"Siapa mereka?"


"Mereka para penjahat yang mengejarku!"


Long Ji Man tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Sebisa mungkin, wajahnya tetap setenang biasanya.


"Kau yakin?"


"100% yakin!"


"Benarkah?"


"Bagaimana bisa aku melupakan orang yang hampir membuatku kehilangan nyawa?"


Perkataan Li Anlan ada benarnya. Long Ji Man juga berpikir, jika dia hampir dibunuh, dia juga pasti tidak akan melupakan wajah penjahat yang biadab. Sekalipun pergi ke neraka, dia pasti akan terus mengingatnya dan terus membawa dendamnya.


"Yang Mulia, ini bukan lukisan. Ini namanya foto."


Li Anlan tiba-tiba berdiri. Karena gerakannya yang tiba-tiba, Long Ji Man tidak bersiap. Akibatnya, tubuh pria itu terjengkang ke belakang dengan kaki lebar. Kedua tangannya bertumpu di sisi kanan dan kiri tubuhnya. Long Ji Man menatap tajam Li Anlan, kesal karena wanita itu bergerak mendadak.


"Yang Mulia, berikan keadilan padaku!"


Seakan mengerti maksud perkataannya, Long Ji Man menarik lengan baju Li Anlan, meminta wanita itu untuk membantunya berdiri. Dalam satu tarikan, posisi tubuh Long Ji Man sudah tegak, berdiri tegap di depan Li Anlan.


Long Ji Man merebut kembali ponsel Li Anlan. Kali ini, dia memasukannya ke dalam celah baju di dadanya.


"Aku akan mencari keparat-keparat itu."


"Benar. Mereka harus ditangkap karena menganiaya seorang selir."


"Mereka sangat berani!"


"Benar. Mereka sangat kurang ajar."


"Mengapa kau terus menyertai perkataanku?"


"Karena aku harus melakukannya."


"Berhenti bicara atau aku akan mengukummu?"

__ADS_1


"Aku memang sudah dihukum."


"Kau!"


Kalimat yang akan dilontarkan Li Anlan tertahan karena suara Xiao Biqi menggema dari teras depan, pertanda bahwa seseorang sudah datang ke istana ini. Xiao Biqi kembali berteriak seolah mengingatkan sesuatu.


"Yang Mulia Ibu Suri tiba!"


Dua orang yang sedang berdebat di dalam Istana Hongwu seketika panik. Keduanya dilanda kebingungan, kehabisan cara agar bisa menghindar dari bencana mendadak ini.


"Sembunyi di bawah meja saja!" Li Anlan melompat ke bawah meja kerja Long Ji Man. Bagian belakang kepalanya sempat terantuk saking terburu-buru.


"Mengapa harus di sana?" tanya Long Ji Man tidak percaya.


"Tidak ada tempat lain lagi! Aku kehabisan waktu untuk berpikir!"


"Tunggu! Kau sedang menjadi pelayan, mengapa harus bersembunyi?"


"Yang Mulia, kau tidak lihat pakaianku?"


Ah, Long Ji Man baru ingat kalau hari ini Li Anlan tidak memakai seragam pelayan. Wanita itu mengenakan hanfu biru muda dengan aksen merah di bagian atas dan sisi pinggangnya.


Pintu Istana Hongwu tiba-tiba terbuka. Ibu Suri Han Yuemei masuk bersama seorang wanita cantik bermahkota bunga, didampingi dua pelayan pribadi. Sisa pelayan lainnya berdiri di teras depan bersama Xiao Biqi.


Long Ji Man menyambut ibu beserta wanita yang dibawanya dengan membungkukkan badan. Saat kedua wanita itu duduk, Long Ji Man juga duduk di kursi kebesarannya. Jarak tubuhnya agak sedikit menjauh, memberikan sedikit ruang untuk seorang wanita yang berjongkok di bawah mejanya.


"Da wang, bagaimana kabarmu?" tanya Han Yuemei pada putranya. Seulas senyum yang sangat manis tersungging di bibir tipis wanita itu.


"Aku baik-baik saja, Ibu. Jika aku boleh bertanya, apa gerangan yang membuatmu datang ke istana kecilku yang jauh ini?"


Orang ini tetap bermulut manis, ucap Li Anlan dalam hatinya.


"Aku hanya ingin bertanya, mengapa kau memotong gaji sebelas menteri?"


"Tidak disangka, beritanya sudah sampai ke telinga Ibu. Aku hanya menghukum mereka atas kesalahannya. Aku tidak berbakti, mohon maafkan aku."


Han Yuemei tersenyum tipis.


"Tapi, kau harus berhati-hati. Mereka bisa berbalik menggigitmu sewaktu-waktu."


Jika mereka menggigit Long Ji Man, aku akan balik menggigit mereka, ucap Li Anlan dalam hati untuk yang kedua kalinya.


"Aku berterima kasih atas nasihat Ibu."


Mereka yang baru bersua melanjutkan pembicaraan dengan santai, mulai dari masalah istana hingga hal-hal kecil yang sepertinya kurang pantas dibahas di istana raja yang suci ini. Han Yuemei menyinggung soal kelahiran putra mahkota, namun segera dialihkan topik pembicaraannya oleh Long Ji Man. Dari nada bicaranya, sangat jelas sekali kalau Raja Dongling ini tidak senang dengan sesuatu yang sensitif seperti itu.


Wanita cantik yang duduk di samping Han Yuemei tidak banyak bicara. Dia hanya tersenyum, lalu sesekali menanggapi dengan candaan. Wanita itu duduk menjaga keanggunannya, berusaha agar tampilannya tetap sempurna.


Di bawah meja, Li Anlan mulai kebosanan. Orang-orang ini berbicara terlalu banyak. Rasa yang aneh tiba-tiba muncul. Tanpa sadar, Li Anlan bergumam,


"Mengapa aku merasa seperi de javu?"


...***...

__ADS_1


Halo, pembaca kesayangan Author! Kira-kira, ada yang tahu atau bisa nebak nggak siapa wanita cantik nan anggun yang datang bersama Ibu Suri? Kalau ada, tulis di kolom komentar ya! Stay tune terus, sampai jumpa di episode selanjutnya!


__ADS_2