
Setibanya di Istana Hongwu, Long Ji Man dan Li Anlan disambut oleh wajah khawatir Xiao Biqi dan Ibu Suri. Sejak sang ibu tahu putranya pergi ke Hutan Linghua untuk menyelamatkan istrinya, dia tidak bisa tenang. Long Ji Man yang selama ini ia kenal adalah laki-laki yang dingin terhadap wanita dan cenderung mengabaikan mereka. Dia tidak peduli pada urusan harem. Tetapi, sejak dia tahu kalau putranya berhubungan baik dengan seorang selir rendah bernama Li Anlan, Ibu Suri Han Yuemei mulai merasakan keanehan. Wanita di gendongan Long Ji Man ini seperti peri yang menyihir putranya. Bahkan Long Ji Man mengangkatnya menjadi Permaisuri Bangsawan.
Sebagai seorang ibu, Ibu Suri Han Yuemei merasa bahagia dan khawatir di waktu yang bersamaan. Dia bahagia karena putranya sepertinya mulai memiliki ketertarikan terhadap wanita. Di sisi lain, dia juga khawatir kalau-kalau Li Anlan hanya memanfaatkan hati putranya untuk meraih posisi tinggi di Kerajaan Dongling. Tapi, melihat interaksi antar keduanya yang ia selidiki diam-diam, kekhawatiran itu perlahan hilang. Li Anlan sepertinya tidak memiliki motif dan niatan buruk pada putranya.
“Yang Mulia, apa yang terjadi pada Permaisuri Bangsawan?” tanya Xiao Biqi.
“Dia hanya tertidur.”
Long Ji Man membaringkan Li Anlan yang tertidur dalam gendongannya ke ranjang dengan perlahan. Sepanjang perjalanan dari Benteng Duanrou menuju istana, wanita ini terus tertidur. Di kereta kuda juga begitu. Bahu Long Ji Man sudah sangat pegal menahan kepala Li Anlan. Li Anlan sedikit menggeliat saat seluruh tubuhnya dibaringkan.
Ibu Suri yang ada di ruang tidur putranya tampak sedikit khawatir. Hampir dua hari ini dia menunggu. Saat Xiao Biqi mengatakan kalau Long Ji Man pergi mencari Li Anlan, dia kembali ke Istana Harem untuk mengantarkan Permaisuri Jin ke kediamannya. Lalu saat malam hari, dia kembali ke Istana Hongwu menunggu putranya pulang.
Wajah damai Li Anlan membangunkan rasa hangat di hati Ibu Suri Han Yuemei. Melihat wajah cantik tertidur, Ibu Suri Han Yuemei seolah melihat putri kandungnya sendiri, adik kandung Long Ji Man yang meninggal dalam kandungan beberapa tahun lalu. Wanita ini memang agak berbeda dari yang lain. Bahkan cara tidurnya pun sangat berbeda. Wanita biasanya tidur dengan anggun, tetapi Li Anlan justru jauh dari kata tersebut. Dia menggeliat lalu membalikkan tubuhnya, membelakangi ketiga orang tersebut.
“Apa menantuku baik-baik saja?” tanya Ibu Suri, yang membuat Long Ji Man dan Xiao Biqi terkejut bukan main.
“Me..Menantu?” ucap Xiao Biqi pelan.
“Man’er, apa dia baik-baik saja?”
“Ya, Ibunda. Permaisuri Bangsawan hanya kelelahan.”
“Biqi, cepat panggilkan Tabib Tao!” perintah Ibu Suri. Long Ji Man belum menghabiskan keterkejutannya, tetapi ibunya malah membuatnya semakin terkejut.
Indra pendengaran Li Anlan tidak ikut tertidur. Wanita itu menggeliat, lalu menggumamkan sesuatu yang sangat pelan.
“Ja…Jangan.”
Long Ji Man mendekatkan kepalanya ke Li Anlan, mencoba mendengarkan kembali gumaman yang dirasa kurang jelas tersebut.
“Jangan panggil dukun itu…”
Giliran Ibu Suri Han Yuemei yang terkejut. Apa wanita ini baru saja memanggil Tabib Tao yang hebat dengan sebutan dukun? Dia tidak salah mendengar, kan? Wah, luar biasa! Sejak kapan tabib hebat itu beralih profesi menjadi seorang dukun? Sejak kapan pula wanita ini berinteraksi dengan tabib kerajaan tersebut?
__ADS_1
“Tidak apa-apa. Tidak perlu memanggil Tao Zhun.”
Ibu Suri Han Yuemei, Long Ji Man, dan Xiao Biqi kemudian keluar dari ruangan tidur. Pasangan ibu-anak tersebut duduk di kursi kebesaran, sedangkan Xiao Biqi berdiri tak jauh dari keduanya. Ibu Suri Han Yuemei meneguk secangkir teh hangat, kemudian menuangkan teh ke cangkir lain dan menyodorkannya pada putranya.
“Putraku, apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Ibu Suri.
Sebelum menjawab pertanyaan ibunya, Long Ji Man menarik napas sejenak, lalu menghembuskannnya dengan pelan.
“Bandit Benteng Duanrou menculiknya dan membawanya ke markas.”
“Bandit? Maksudmu yang membangun markas di lereng Gunung Feiyun?”
Long Ji Man mengangguk. Sekujur tubuhnya terasa pegal setelah perjalanan jauh. Selama hampir dua hari ini, dia tidak beristirahat sama sekali.
“Mereka hampir saja menikahkan Permaisuri Bangsawan dengan putra ketua bandit yang buruk rupa.”
“Apa? Beraninya mereka memaksa menantuku menjadi menantu mereka?”
“Ibunda, tenanglah. Huang An pintar, dia bisa mengulur waktu hingga aku datang menyelamatkannya. Juga…”
“Juga apa?”
“Dia, dia memecahkan telur ketua bandit.”
Ibu Suri tidak bisa menahan tawanya. Hanya seorang wanita yang berjiwa bebas yang berani menendang daerah terlarang seorang pria. Long Ji Man kemudian menceritakan bagaimana ekspresi Li Anlan saat dia datang, bagaimana reaksi para bandit, dan bagaimana Li Anlan bersikap saat sebilah pedang menempel di lehernya. Dalam situasi terdesak seperti itu, wanita itu masih bersikap tenang, bahkan bernegosiasi dengan ketua bandit agar melepaskannya.
Long Ji Man juga menceritakan ketika Li Anlan menggeser pedang tersebut dari lehernya, berbalik kemudian menendang daerah terlarang si ketua bandit dan lari ke arahnya. Saat bertarung bersama para bandit pun wanita itu masih bersikap santai seolah itu adalah sebuah pertunjukan opera.
“Lalu bagaimana dengan para bandit itu?”
“Aku sudah memerintahkan Wang Tianshi untuk menangkap mereka semua dan menghancurkan markasnya.”
“Syukurlah.”
__ADS_1
Merasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi, Ibu Suri Han Yuemei kemudian berpamitan. Wanita setengah baya yang masih cantik itu menghilang di kegelapan malam bersama para dayangnya. Hatinya sudah tidak sempit lagi seperti kemarin. Putranya sepertinya sudah benar-benar dewasa sekarang.
Sepeninggal Ibu Suri Han Yuemei, Long Ji Man kembali ke ruang tidur untuk melihat Li Anlan. Wajah cantik nan rupawan yang Li Anlan miliki menjadi lebih indah saat wanita itu tertidur. Li Anlan mungkin tidak tahu betapa khawatirnya dia saat mendengar kalau ia hilang dan seluruh pengawalnya tewas di Hutan Linghua.
Long Ji Man tidak bisa menunggu lagi saat tahu upacara pernikahannya dimulai. Raja Dongling itu berlari menyusuri hutan menuju Benteng Duanrou secepat yang ia bisa. Saat berada di depan benteng tersebut, Long Ji Man sengaja berteriak sekeras mungkin agar ia bisa menunda waktu upacara. Long Ji Man bisa menghela napas lega saat tahu kalau upacara yang hampir selesai itu tertunda karena keributan kecil yang diciptakannya.
Dia tidak berbohong saat dia mengatakan bahwa dia tidak suka melihat Li Anlan bersanding dengan pria lain saat memakai baju pengantin. Seluruh tubuhnya terasa terbakar saat ia melihat adegan demi adegan dari upacara pernikahan di sarang bandit. Entahlah, Long Ji Man sendiri bingung dengan hatinya. Dia hanya tidak suka dan tidak senang saat Li Anlan menghilang dari pandangannya. Dia lebih tidak suka dan lebih tidak tenang saat wanita itu tidak muncul sehari saja.
“Mengapa aku selalu merasa kau bukan berasal dari dunia ini?”
Long Ji Man menyentuh kening Li Anlan yang berkeringat. Baju merah pengantinnya masih belum diganti. Warna merah ini sekarang dibenci Long Ji Man. Dia ingin sekali merobek baju kotor yang hampir membuat Li Anlan menjadi istri orang lain dan membakarnya kemudian melemparkan abunya ke Danau Houchi agar larut dalam air. Tetapi, dia sadar dia seorang pria. Pria dan wanita tidak boleh melihat tubuh satu sama lain.
Long Ji Man mungkin belum sepenuhnya sadar kalau dia sudal legal untuk menyentuh Li Anlan.
Dia akan menunggu sampai wanita ini bangun dan pulih sepenuhnya. Li Anlan bukan gadis bodoh. Long Ji Man yakin dia mengetahui sesuatu saat berada di Benteng Duanrou. Li Anlan biasanya menggunakan kesempatan dalam kesempitan untuk menggali informasi sedalam-dalamnya.
Malam menjadi semakin larut. Angin penghujung musim semi berhembus. Di luar, para prajurit penjaga tengah berdiri mengawal Istana Hongwu dengan ketat. Xiao Biqi menahan kantuk yang menyerang matanya.
“Biqi!” panggil Long Ji Man. Xiao Biqi yang hampir tertidur kembali terjaga.
“Ya, Yang Mulia.”
“Minta Xie Roulan untuk membawa pakaian dan mengganti baju Permaisuri Bangsawan!”
“Baik, Yang Mulia.”
Xiao Biqi melangkah cepat, meninggalkan Istana Hongwu. Dia menyebari jembatan Danau Houchi yang indah di malam hari. Di bawah cahaya bulan, Xiao Biqi terus berjalan tanpa henti. Saat kasim itu sampai di depan gerbang Istana Xingyue, dia langsung masuk. Xie Roulan yang sedang tertidur di sisi ranjang majikannya seketika bangun saat mendengar suara pintu dibuka.
“Kasim Bi, aku kira Nyonya.”
“Ambil pakaian ganti dan bawalah ke Istana Hongwu!”
“Nyonyaku sudah kembali?”
__ADS_1
Xiao Biqi mengangguk. Xie Roulan bersorak gembira. Gadis pelayan itu berlari ke lemari, kemudian mengambil satu set hanfu sederhana yang biasa dipakai majikannya. Dia bahagia, sangat bahagia karena majikan kesayangannya sudah kembali dengan selamat. Semua kekhawatirannya selama dua hari ini menghilang seketika.
...***...