The Little Consort

The Little Consort
Eps. 54: Fotografer Zaman Kuno


__ADS_3

Genap sudah dua bulan sejak penobatan Permaisuri Bangsawan. Pergolakan politik di istana yang diakibatkan oleh perdebatan para pejabat sudah mulai membaik sejak Long Ji Man mengeluarkan dekret hukuman bagi siapapun yang menentang dan mencampuri urusan Permaisuri Bangsawan. Rakyat yang tadinya membicarakan dan menggunakan nama Permaisuri Bangsawan sebagai bahan taruhan dan perjudian juga tidak berani melakukannya lagi. Mereka benar-benar takut atas ancaman hukuman yang dikeluarkan raja mereka.


Hari itu, saat Long Ji Man mengeluarkan dekretnya, Wang Tianshi menghancurkan seluruh rumah judi yang ada di ibukota. Mereka yang tertangkap basah sedang berjudi kemudian dibawa ke Biro Keamanan ibukota. Sebagian besar dipenjara dan dihukum pukulan papan, keluarganya turun status. Pelaku pelanggaran berat dibawa ke Biro Penyelidikan Departemen Kehakiman Istana untuk diadili.


Sedangkan orang yang diperjuangkan oleh raja justru malah menjalani hidup yang tenang dan santai di Istana Xingyue. Long Ji Man mengikuti saran Xiao Biqi untuk melepaskan Li Anlan dari pelajaran etika dan tatakrama. Bibi Yang dipulangkan ke kampung halamannya di ujung utara Kerajaan Dongling untuk mengistirahatkan diri, karena Long Ji Man tahu guru istana tersebut sedang tidak baik kesehatan fisik dan mentalnya. Jika dibiarkan terus berada di istana, bisa-bisa Kerajaan Dongling kehilangan guru etika terhebat.


Li Anlan punya banyak waktu luang, sama seperti sebelum ia diangkat menjadi Permaisuri Bangsawan. Long Ji Man belum memberinya tugas apapun. Pria itu selalu mengatakan bahwa ia akan memberikan waktu pada wanita itu untuk mempersiapkan diri dan menyesuaikan diri dengan status barunya. Li Anlan berasumsi bahwa setelah dua bulan ini, dia akan benar-benar kehilangan waktu luangnya. Jadi, selama tugas dari Long Ji Man belum ada, dia menggunakan waktunya untuk bersantai dan bersenang-senang seharian.


Charger ponsel tenaga surya miliknya ternyata dapat digunakan untuk mengisi baterai kamera DSLR miliknya. Li Anlan baru mengetahuinya setelah ia mencoba menghubungkan baterai kameranya dengan alat tersebut, dengan meletakkannya di atas charger tenaga surya. Li Anlan terkejut karena ternyata berfungsi. Kameranya kembali hidup. Dengan begini, dia bisa memotret apapun yang ia suka.


Pagi-pagi saat Li Anlan baru membuka matanya, Xiao Biqi membuat keributan dengan memaksa masuk ke dalam Istana Xingyue. Xie Roulan yang berusaha menahannya berkali-kali mengatakan bahwa nyonyanya masih tidur. Tetapi, kasim kecil itu tetap memaksa hingga ia melihat sendiri kebenarannya.


“Kau, kasim kecil. Mengapa membuat keributan di istanaku?” tanya Li Anlan setengah sadar.


“Nyonya Huang, aku datang menyampaikan perintah Yang Mulia. Yang Mulia memintamu datang ke Istana Hongwu sekarang.”


“Sekarang?”


“Benar.”


“Detik ini juga?”


“Benar. Tidak, setelah nyonya membersihkan diri.”


“Ah, bisakah dia tidak menggangguku sehari saja?”


“Maaf, Nyonya. Aku tidak tahu jawabannya.”


“Katakan. Apa yang diinginkan rajamu itu?”


Xiao Biqi lalu keluar tanpa menjawab pertanyaan Li Anlan. Kasim itu menunggu di pekarangan Istana Xingyue, di bawah pohon persik yang bunga-bunganya mulai berguguran. Musim semi sudah sampai di penghujung, sebentar lagi akan datang musim panas, lalu berselang ke musim gugur dan musim dingin.


Masih dalam kondisi setengah sadar, Li Anlan berjalan perlahan ke bak mandi. Matanya yang masih terpejam terasa sangat rapat dan sulit untuk dibuka. Saat kakinya sampai di depan bak, Li Anlan tidak bisa mempertahankan keseimbangannya. Wanita itu langsung jatuh ke dalam air di dalam bak yang dingin. Seketika, mata Li Anlan langsung terbuka karena kulitnya bersentuhan dengan air dingin yang merasuk ke dalam syaraf-syarafnya.


Menyadari bahwa dirinya tercebur ke dalam bak, Li Anlan mendengus. Dia juga kesal karena Xiao Biqi datang terlalu pagi hingga Xie Roulan tidak sempat menyediakan air hangat untuknya. Di zaman modern, Li Anlan jarang memakai air hangat untuk mandi, karena di apartemennya, tombol air panas dalam showernya rusak dan belum sempat diperbaiki, hingga setiap ia mandi, dia selalu menggunakan air dingin.


Tetapi, di zaman ini, Xie Roulan selalu menggunakan air hangat untuk mandinya, sehingga lambat laun Li Anlan mulai terbiasa mandi dengan air hangat. Dia tahu ini tidak sehat, tetapi apa boleh buat. Li Anlan tidak bisa menolak kebaikan yang diberikan oleh orang lain.


Li Anlan segera menyelesaikan ritual mandinya. Dia tidak bisa berlama-lama karena Xiao Biqi sedang menunggunya. Setelah selesai, Li Anlan langsung berganti baju. Hari ini, dia menggunakan hanfu berwarna cream yang terbuat dari satin, hadiah dari Ibu Suri Han Yuemei atas penobatannya sebagai Permaisuri Bangsawan. Meskipun mereka tidak saling mengenal, tapi sepertinya Ibu Suri Han Yuemei tidak bisa mengabaikan tradisi mengenai pemberian hadiah pada para wanita milik raja. Itu berarti ini adalah hadiah pertama yang ia terima sejak ia datang ke tempat ini.


Li Anlan dan Xiao Biqi kemudian pergi ke Istana Hongwu. Saat keduanya melintasi jembatan Danau Houchi, Li Anlan melihat pantulan wajahnya di permukaan air sejenak. Entah mengapa hari ini wajahnya terasa lebih kencang dari biasanya. Mungkin, itu adalah efek yang ditimbulkan oleh air dingin yang ia gunakan untuk mandi tadi.


Li Anlan juga melihat ke sekeliling. Pemandangan dari atas jembatan Danau Houchi sungguh indah. Matahari yang bersinar terang menyapa pagi, terasa hangat menyentuh kulitnya. Inilah jam-jam terbaik untuk berjemur. Matahari pagi sangat bagus untuk kesehatan tulang. Jika Long Ji Man tidak memanggilnya, Li Anlan pasti sudah berbaring di atas tikar sambil menikmati cahaya matahari pagi. Sayang sekali hari ini dia harus melewatkannya.


Xiao Biqi mempersilahkan Li Anlan untuk masuk ke dalam setelah keduanya sampai di teras depan Istana Hongwu. Long Ji Man tampak sedang duduk di kursi kebesarannya sambil menghadapi tumpukan dokumen yang sangat banyak, hampir memenuhi seluruh bagian mejanya. Dia menoleh sesaat saat merasakan kehadiran Li Anlan.

__ADS_1


“Yang Mulia, ada keperluan apa?” tanya wanita itu tanpa basa-basi.


“Hari ini kau keluar istana.”


Mendengar kata “keluar istana”, Li Anlan bukan main senangnya. Wajah wanita itu berubah sumringah.


“Untuk menghadiri pesta pernikahan keluarga Penasihat Negara.”


Wajah senang Li Anlan berubah masam. Ternyata masih ada kalimat selanjutnya.


“Kupikir kau memberiku tugas.”


“Itu adalah salah satu tugasmu.”


“Mengapa tidak kau saja yang pergi?”


“Kau tidak lihat berapa banyak dokumen yang harus kuperiksa?”


“Baiklah, kali ini aku setuju. Tapi, Yang Mulia, aku tidak tahu di mana rumah Penasihat Negaramu.”


“Para pengawal akan mengantarmu.”


Meskipun keluar dengan tugas, itu masih lebih baik. Yang terpenting adalah Li Anlan bisa keluar istana untuk menghirup udara segar sejenak. Sudah lama rasanya sejak insiden percobaan pembunuhan di hari kepulangan dari panti asuhan, Li Anlan belum menginjak tanah di balik tembok besar ini. Li Anlan hampir mati kebosanan karena stress dan jemu.


Saat semuanya sudah siap, kereta raja yang didampingi tiga orang pengawal dan satu kusir datang untuk menjemput Li Anlan. Di gerbang luar Istana Hongwu, Long Ji Man memberikan plakat khusus Permaisuri Bangsawan yang bisa digunakan untuk keluar istana tanpa izin raja. Dia juga memberikan sebuah kartu undangan dari keluarga Penasihat Kerajaan jika suatu waktu diperlukan.


“Ingat, jangan membuat keributan atau masalah apapun!”


“Baik, rajaku yang cerewet.”


Kereta kuda kemudian meninggalkan Istana Hongwu, menuju gerbang keluar istana. Para penjaga pintu gerbang menghentikan kereta, tetapi saat mereka melihat lambang raja di kereta dan Li Anlan menunjukkan plakat Permaisuri Bangsawan, para penjaga itu menunduk, dan mempersilahkan iringan Li Anlan melewati gerbang.


Cukup merepotkan, memang. Para penjaga gerbang itu seperti satpam penjaga gedung atau perkantoran. Tanpa izin dari atasan atau perusahaan, seseorang tidak bisa keluar masuk dengan sembarangan.


Kereta kuda melaju kembali. Jalan yang dilalui Li Anlan cukup lancar karena tidak banyak penduduk yang berlalu lalang. Mungkin masih terlalu pagi. Li Anlan menghitung waktu perjalanan dari Istana Kerajaan Dongling ke kediaman keluarga Penasihat Negara dengan timer ponselnya. Ia juga membawa kamera dan tripod yang belum pernah ia keluarkan selama ia di Dongling. Rencananya setelah tugasnya selesai, Li Anlan ingin berjalan-jalan sebentar di sekitar kota, lalu mengabadikan setiap momennya dengan jepretan gambar dan video.


Hari sudah beranjak siang saat Li Anlan sampai di kediaman keluarga besar Penasihat Negara. Dari papan yang tertera di pintu gerbang kediaman tersebut, Li Anlan bisa tahu kalau keluarga Penasihat Negara ini bermarga Yao. Sejarah mencatat bahwa keluarga Yao adalah keluarga besar ketiga setelah keluarga Long dan Han yang mempunyai kekuasaan dan pengaruh yang besar di Kerajaan Dongling.


Iring-iringan pengantin wanita tiba bersamaan dengan rombongan kerajaan yang dipimpin Li Anlan. Karena begitu banyak orang hadir dan berkerumun, Li Anlan terpisah dari para pengawalnya. Dia berhambur masuk ke dalam kediaman bersama rombongan pengantin, lalu membaur bersama mereka. Para pengawal yang kehilangan majikan mereka berpikir kalau Li Anlan sudah masuk duluan. Jadi, mereka menunggu di luar kediaman sambil menjaga kereta.


Li Anlan yang tidak menggunakan jubah resmi Permaisuri Bangsawan ditarik oleh seorang wanita setengah baya dari kerumunan. Dia dibawa ke altar tempat upacara, hingga penglihatannya menjadi jelas. Li Anlan bisa melihat sepasang pengantin keluarga Yao yang sedang bersiap melakukan upacara pernikahan.


“Kenapa kau menarikku?” tanya Li Anlan pada wanita itu.


“Bukankah kau petugas pernikahan? Cepat, berikan kain ini pada pengantinnya!”

__ADS_1


Wanita yang menarik tangan Li Anlan menyerahkan kain pernikahan berbentuk bunga berwarna merah terang, untuk diserahkan kepada kedua mempelai. Karena dia tidak ingin menarik perhatian banyak orang, Li Anlan lalu menyerahkan kain itu kepada kedua mempelai. Dua mempelai itu maju ke depan, lalu melakukan upacara pernikahan yang dipimpin oleh tetua keluarga.


Li Anlan kembali ditarik oleh wanita lainnya. Kali ini, dia diberikan sebuah kertas dan kuas, lalu disuruh duduk di tempat khusus. Li Anlan semakin kebingungan. Mengapa orang-orang ini menganggapnya petugas pernikahan dan menyuruhnya melakukan ini itu tanpa bertanya?


“Kau pelukis bukan? Cepat, abadikan momen bahagia mereka!”


“Aku?”


“What’s wrong with this confusing situation?” teriak Li Anlan dalam hati.


Li Anlan mendorong peralatan lukis di depannya hingga terjatuh. Suasana di sana cukup ribut hingga tidak ada yang mendengar suara benda jatuh tersebut. Sudah kepalang tercebur, mengapa tidak sekalian menyelam saja. Li Anlan membuka ranselnya, lalu mengambil kameranya. Dia mulai membidik semua seisi ruangan pernikahan ini, mulai dari para tamu undangan, kain pernikahan, altar persembahan, hidangan makanan, hingga sepasang pengantin yang baru selesai melakukan upacara.


“Wah, benda apa itu? Mengapa lukisannya terlihat sangat nyata?” tanya seseorang di samping Li Anlan. Rupanya, orang itu melihat hasil jepretan kamera Li Anlan tanpa disadari.


“Semuanya, lihat! Wanita ini mempunyai sebuah alat lukis aneh yang sangat hebat! Gambar-gambarnya terlihat sangat nyata!” teriak orang itu. Tak ayal, semua orang yang ada di sana langsung tertuju perhatiannya pada Li Anlan.


“Petugas pernikahan, cepat abadikan momen pernikahan putra-putri kami!” seru tetua keluarga Yao.


“Tapi, aku bukan-”


“Cepat, jangan membuang waktu yang berharga!”


Mau tidak mau Li Anlan menurutinya, dia berharap orang-orang di sini tidak mengeluarkan seluruh rasa penasaran hingga menyulitkannya.


Dia mengatur posisi semua orang hingga dapat tertangkap kamera. Setelah itu, Li Anlan mulai membidikkan kameranya. Dia juga mengarahkan orang-orang itu untuk berpose dalam berbagai gaya. Bukan main senangnya orang-orang itu. Mereka merasa inilah pertama kalinya mereka dilukis dengan indah di hari pernikahan seseorang. Li Anlan terus memotret. Dia juga meminta kedua mempelai untuk berpose berdua saja.


“Hari ini aku menjadi fotografer pernikahan orang. Lain kali, aku jadi wedding organizer saja!” gerutu Li Anlan dalam hati. Tangannya sudah pegal memegang kamera. Udara panas yang diakibatkan banyaknya orang-orang di sini membuat tangannya berkeringat dan licin.


“Utusan kerajaan sudah tiba!” seseorang berteriak dari arah depan. Li Anlan menoleh, dia melihat Xiao Biqi datang bersama beberapa orang bawahannya. Xiao Biqi terkejut melihat Li Anlan yang tampak kelelahan.


“Apa yang sudah kalian lakukan pada wanita ini?”


“Kasim Bi, ada apa? Bukankah wanita itu hanyalah seorang petugas pernikahan?” tetua keluarga Yao balik bertanya.


“Hanya seorang petugas pernikahan? Beraninya kalian! Kalian tidak tahu siapa dia?”


“Memangnya siapa wanita ini?”


“Dia adalah Nyonya Huang, Permaisuri Bangsawan Yang Mulia Raja!”


Bagai disambar petir di siang bolong, tetua keluarga Yao dan semua orang yang ada di sana langsung terdiam. Mereka saling berpandangan sejenak.


“Pe…Permaisuri Bangsawan?”


...***...

__ADS_1


__ADS_2