
Seorang gadis berparas cantik dengan rambut pirang dan berkulit putih berada di sebuah Taksi yang sedang menuju ke suatu tempat. Ia bersama seorang pelayan wanita yang usianya 5 tahun lebih tua darinya.
Mereka tiba di sebuah rumah mewah. Pelayan tersebut keluar dari taksi dan membukakan pintu sang majikan. Gadis pirang itu keluar dan memandang rumah mewah di hadapannya dengan tatapan nanar. Tidak ada rasa bahagia sedikit pun yang tersirat dari wajahnya.
"Nona Emma, tunggu sebentar saya akan mengambil koper" kata Virginia si pelayan.
Emma hanya diam. Virginia mengambil semua koper mereka dan mengajak Emma untuk masuk ke rumah tersebut.
"Nona, kita akan tinggal disini. Mereka sudah menunggu kedatangan kita" lanjut Virginia.
Lagi-lagi Emma hanya diam. Ia mengikuti langkah Virginia. Di depan rumah, para pelayan menyambut mereka ramah. Di ujung mereka ada seorang Pria paruh baya yang mengenakan pakaian pelayan namun kelihatan elegan. Ia tak lain adalah kepala pelayan rumah tersebut. Hendy.
"Selamat datang, Nona Emma, Virginia" sapa Hendy.
"Senang bisa bertemu anda kembali, Hendy" Jawab Virginia.
Lagi-lagi Emma diam. Hendy tersenyum melihat Emma.
"Silahkan masuk, Nyonya Azzury sudah menunggu" kata Hendy mempersilahkan.
Koper yang dibawa Virginia diambil alih oleh para pelayan. Virginia menggandeng lengan Majikan-nya dan mengajaknya untuk masuk.
Ruang Tengah. Seorang Nyonya cantik nan elegan duduk dengan gelisah. Di sampingnya ada seorang anak laki-laki yang kiranya seumuran dengan Emma. Anak Laki-laki dengan rambut karamel dan mengenakan wristband hitam. Di samping anak laki-laki ada seorang gadis kecil berambut toska menunggu dengan gelisah seperti Nyonya cantik yang tak lain adalah ibunya.
Hendy datang. Seketika membuat Nyonya Azzury dan Nathalie anak perempuannya berdiri.
"Emma Michelle dan Virginia disini, nyonya" kata Hendy kemudian memutar badannya untuk memperlihatkan kedua orang yang dimaksud.
Virginia menunduk dengan sopan. Kemudian perlahan Emma ikut menunduk tanpa ekspresi.
Nyonya Azzury mendekati Emma dan memeluknya. Emma terkejut. Mata Nyonya Azzury berkaca-kaca.
"Emma sekarang sudah baik-baik saja. Tante ada untukmu. Kami akan menjaga dan melindungimu. Dan Tante pastikan kau tidak akan menangis atau bersedih lagi" kata Tante Azzury.
"Terima kasih" Jawab Emma dalam hati.
"Jack, Nathalie, perkenalkan dia Emma Michelle. Putri Lyla Michelle teman ibu" kata Nyonya Azzury.
Dengan senang dan mata berbinar Nathalie memperkenalkan diri.
"Aku Nathalie. Nathalie William. Senang bertemu denganmu, kak Emma" sapa Nathalie.
"Senang bertemu denganmu, gadis kecil" jawab Emma dalam hati.
"Jack William" sapa Jack ketus.
Nyonya Azzury melirik tajam putranya. Hingga Jack mengulangi sapaannya.
"Aku Jack William. Aku benci jika daerahku dijajaki oleh seseorang yang tak dikenal" sapa Jack dengan datar tapi penuh singgungan.
Emma tersinggung.
"JACK!" pekik Nyonya Azzury.
"Aku sudah melakukannya, aku bisa pergi kan, ma?" kata Jack dan pergi.
Ketika Jack berada di samping Emma, ia berhenti sejenak, ia membisikkan sesuatu yang membuat Emma terhenyak.
"Lupakan Emma, dia memang seperti itu bahkan dengan adiknya. Oh ya, tante sudah siapkan kamar untukmu. Nathalie akan mengantarmu, jadi mandi dan beristirahatlah. Bagaimana?" bujuk Nyonya Azzury.
"Terima kasih tante" jawab Emma dalam hati.
"Hei hei ... Kak Emma, ayo ikut aku" ajak Nathalie dan menggandeng lengan Emma.
Sepeninggalan Emma dan Nathalie. Nyonya Azzury menghela nafas.
“Separah itukah keadaannya? Virginia?" tanya Nyonya Azzury.
"Iya, Nyonya" jawab Virginia.
"Kau bilang sebelumnya sudah 2 tahun dia tidak bicara bahkan kehilangan senyum dan ekspresinya. Aku tidak menyangka kalau Sebastian akan melakukan hal se-ekstrim itu pada putri semata wayangnya" kata Nyonya Azzury.
"Terima kasih atas pertolongannya, Nyonya. Kalau tidak kami bisa jadi gelandangan dan kedinginan di luar sana" kata Virginia.
"Tidak apa, keluargaku memang berhutang pada Lyla. Kalian akan aman disini, aku pastikan Sebastian tidak akan berani mendekati Emma" kata Nyonya Azzury.
Nathalie mengantar Emma ke sebuah Kamar. Kamar luas dan cantik. Emma hanya diam.
"Kak Emma . . . pakaianmu ada di lemari, pakailah yang kau suka. Ibu menyiapkannya untukmu. Kami akan menunggumu di meja makan" kata Nathalie seraya tersenyum.
"Terima kasih, Nathalie" jawab Emma dalam hati.
"Sama-sama, kak Emma" kata Nathalie seraya pergi.
Emma terhenyak. Ini kali pertama ada orang selain Virginia yang bisa berkomunikasi dengan dirinya.
Emma membuka lemari yang Nathalie maksud. Dia melihat banyak pakaian cantik disana. Dan semua barang-barangnya sudah tersusun rapi disana. Emma mengambil handuk dan pergi mandi.
...******...
Kamar Jack.
Jack membuka loker mejanya. Diambilnya sebuah kotak kecil dan membukanya. Sebuah kalung cantik berhias permata. Dipandanginya kalung itu dengan tatapan sayu. Mata sipitnya seperti sedang mengkhawatirkan sesuatu.
...******...
Meja makan.
Virginia dan Hendy menyiapkan makan malam. Nyonya Azzury dan Nathalie sudah menunggu. Jack datang dengan malas dan meneguk segelas air.
"Jack, jaga sikapmu. Jika kau berkata kasar padanya atau melukai perasaanya. Ibu tidak akan tinggal diam" kata sang Ibu memberi peringatan.
"Aku biasa saja, bukan salahku kalau ia tersinggung dan merasa terluka, bukan karena aku yang kasar, tapi dia yang terlalu sensitif" jawab Jack santai tapi menusuk.
"Jack, tidak bisakah kau bersikap sedikit lembut? Kau juga seperti itu bahkan pada adikmu sendiri" kata Nyonya Azzury menasihati dengan lembut.
"Tenang saja ibu, aku sudah memberi kekebalan untuk Nathalie, iya kan? Nathalie?" kata Jack dengan riang.
Nathalie hanya menghela nafas menanggapi sikap kakaknya itu.
"Apa maksudmu menghela nafas seperti itu? Aku ini kakakmu lo" protes Jack.
"Dengan sikap kakak yang seperti itu, semua orang bahkan tidak percaya kalau aku ini adik kakak" jawab Nathalie lembut persis seperti ibunya.
"Nathalie?" Jack geram.
"Iya, kenapa, kak?" jawab Nathalie lembut, dan membuat Jack mengalah.
Nyonya Azzury tersenyum. Nathalie selalu punya cara untuk menghadapi sifat kakaknya. Emma turun, ia menuju meja makan. Ekspresi Jack berubah. Ia membuang muka. Nyonya Azzury mempersilahkan. Emma duduk di depan Jack. Sedangkan Nathalie ada di sampingnya.
"Selamat Makan" kata Nyonya Azzury dan Nathalie.
Jack mengambil sendoknya dan makan begitu saja. Nyonya Azzury tentu sadar kalau putranya tidak suka dengan kehadiran Emma. Ia melihat Emma yang tidak menyentuh makanannya sama sekali. Emma teringat saat ia, mama dan papanya makan bersama. Ia tertunduk, matanya mulai berkaca-kaca. Melihat Emma yang tidak bersemangat. Nyonya Azzury mengambilkan lauk untuk Emma dan meletakkannya di piringnya. Emma menatap tante Azzury.
"Tante?" kata Emma dalam Hati.
"Makanlah" kata Tante Azzury.
Emma mengangkat sendoknya dengan ragu.
"Berapa usiamu hingga kau diperlakukan seperti anak seumuran Nathalie?" singgung Jack.
"Jack" pekik Nyonya Azzury.
Emma menurunkan sendoknya.
"Emma, hiraukan Jack. Anggap dia angin lalu saja. Suaranya memang bising" kata Nyonya Azzury menenangkan.
"Cih" kata Jack.
"Aku memang pengganggu. Aku tidak sepantasnya berada disini" kata Emma dalam Hati.
Emma teringat perkataan Jack beberapa waktu sebelumnya. Saat Jack membisikkan sesuatu padanya. Perkataan singkat dan penuh makna.
"PARASIT"
Emma berdiri. Namun perkataan Nathalie menghentikannya.
Kakak, dia bukan pengganggu. Kakak lah yang mengganggu orang yang ingin makan. Jika aku mengganggu Kakak makan, Kakak akan marah kan?" kata Nathalie.
HENING. Jack diam. Dia menyalahkan dirinya yang tidak hati-hati dalam bicara dan terkena marah Nathalie. Dia memang membangkang perkataan ibunya. Tapi tidak dengan Nathalie adiknya.
"Kak Emma, duduklah. Kak Jack akan diam sejenak sampai kau selesai makan" kata Nathalie seraya tersenyum pada Emma.
Emma ragu. Dengan Lembut Nathalie menarik lengan Emma dan membantunya duduk.
"Kakak, makanlah dengan tenang atau aku akan menaburi makananmu dengan . . ." kata Nathalie yang langsung dipotong oleh Jack.
"Iya… iya, ngerti" gerutu Jack.
...******...
Makan malam selesai. Emma kembali ke kamarnya. Ia merebahkan diri di kasur. Diingatnya kembali saat dimana Ayahnya mengusirnya. Sungguh Ironis. Ia juga teringat saat dimana dirinya sendirian di kamar yang gelap. Tanpa secercah cahaya sedikit pun. Makan sendirian, dan menangis sendirian. Tiba-tiba seseorang mengetuk kamarnya. Nyonya Azzury masuk. Emma langsung duduk.
"Emma, tante ingin bicara padamu" kata Nyonya Azzury.
Nyonya Azzury duduk di samping Emma. ia memberikan Emma sebuah seragam SMA.
"Apa ini?" Tanya Emma dalam Hati.
"Emma, kembalilah sekolah" pinta Nyonya Azzury lembut.
"Tidak tante, aku tidak mau" jawab Emma dalam hati.
Emma gemetaran. Nyonya Azzury melihatnya, ia menggenggam tangan Emma.
"Tidak Tante, jika aku ke sekolah, ayah akan menghukumku" kata Emma dalam hati.
"Apa kau takut?" tanya Nyonya Azzury perhatian.
"Sangat takut, aku sangat takut" jawab Emma.
Emma mulai menangis.
"Sebenarnya, apa yang Sebastian lakukan hingga kau setersiksa ini? Tidak cukupkah ia mengurungmu di rumah? Apa mungkin dia juga menyiksamu?" tanya Nyonya Azzury dalam hati.
"Dia tidak akan kesana. Lebih tepatnya dia tidak akan berani kesana" kata Nyonya Azzury pasti.
"Chorea Academy tidak akan membiarkan siapapun menemui salah satu murid mereka jika sang murid memang tidak ingin menemuinya. Executive Osis disana ketat. Mereka akan melindungimu" papar Nyonya Azzury.
Tangis Emma mereda.
"Benarkah?" Tanya Emma dalam hati.
"Jangan khawatir. Ada Jack disana" lanjut Nyonya Azzury, membuat harapan Emma musnah seketika.
Emma meletakkan seragam itu.
"Aku tidak mau satu sekolah dengannya" protes Emma dalam hati.
"Kenapa? Apa kau masih kesal dengan Jack?" tanya Nyonya Azzury.
"Apa ada orang yang tidak kesal setelah diperlakukan seperti itu?" tanya Emma dalam hati.
"Tenang saja, di sekolah Jack tidak akan menyentuhmu, tante kan sudah katakan, Executive Osis disana sangat ketat. Jika mereka tahu Jack mem-bully mu atau semacamnya, Jack akan berada dalam masalah" jelas Nyonya Azzury.
"Bukan itu masalahnya, perkataannya itu yang bermasalah. Setiap kata yang keluar dari mulutnya selalu melukaiku" jawab Emma dalam hati.
"Jack memang awalnya begitu, dia butuh waktu untuk menyesuaikan diri. Mungkin dia hanya merasa aneh saja harus tinggal dengan gadis yang sebaya dengannya" kata Nyonya Azzury.
"Aku yang harusnya merasa aneh harus tinggal dengan laki-laki seperti dirinya" jawab Emma dalam hati.
"Siapkan dirimu, besok hari pertamamu" kata Nyonya Azzury berdiri.
Nyonya Azzury pergi. Ia menutup pintu setelah mengucapkan selamat malam pada Emma. namun tiba-tiba ia membuka kembali pintu kamar Emma.
"Oh ya Emma, kuharap kau rukun-rukun dengan tetangga kamarmu ya" kata Nyonya Azzury serius lalu pergi lagi.
"Tetangga Kamar? Tunggu, maksudnya, Jack?" Emma terbelalak.
...******...
Matahari terbit di ufuk timur. Kediaman William mulai ramai. Para Pelayan sudah sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Virginia menyiapkan perlengkapan sekolah majikannya. Entah kenapa senyum cerah menghiasi wajah Virginia pagi ini. Ya, karena majikannya akan kembali ke sekolah setelah 2 tahun lebih lamanya.
Emma keluar dari kamar mandi dan mengenakan seragam sekolah. Ia melihat cermin lama, rasanya aneh bagi Emma mengenakan seragam sekolah. Virginia memujinya.
"Anda sangat cantik mengenakan seragam, Nona" puji Virginia.
"Tapi, tidakkah bagian dada terlalu sempit?" tanya Virginia lagi.
Pipi Emma memerah, ia menyadarinya, seragamnya agak sempit terutama di bagian dada. Membuat lekuk tubuhnya terlihat. Virginia-pun mendekat, ia meneliti seragam itu.
"Tidak bisakah ini sedikit dibesarkan, Virginia?" Tanya Emma dalam hati.
"Percuma Nona, sepertinya modelnya memang seperti ini" jawab Virginia.
Nathalie masuk.
"Kak Emma, waktunya sarapan" panggil Nathalie nyelonong masuk.
Nathalie melihat Emma yang bingung dengan seragam yang ia pakai. Mata Nathalie-pun berbinar.
"Kak Emma, kau cantik" puji Nathalie.
"Berhenti mengagumiku dan cepat besarkan seragam ini" protes Emma dalam hati.
"Ah! Kak Emma, ibu pasti lupa mengatakannya. Chorea Academy memang memiliki seragam yang unik. Seragam siswi perempuan memang dirancang seperti itu. Sedikit sempit dari ukuran normal" papar Nathalie.
"Benarkah itu, Nathalie?" tanya Virginia takjub.
"Hmmp" Nathalie menganggukkan kepala.
"Itu bagus, Nona. Sudah lama saya tidak melihat Nona seperti ini. Dengan penampilan seperti itu anda pasti bisa menggaet 3 Pria sekaligus" kata Virginia.
Emma meninggikan sebelah alisnya, yang artinya ia marah.
"Jangan sembarangan kau, Virginia!" teriak Emma dalam hati.
...******...
Emma, Nathalie dan Virginia turun. Nyonya Azzury, Jack dan kepala pelayan mereka sudah menunggu untuk sarapan. Jack mengeluh.
"Lama, aku bisa mati kelaparan gara-gara dia" keluh Jack.
"Kau tidak akan mati hanya karena tidak sarapan, Jack" jawab Nyonya Azzury sukses membuat Jack diam.
Jack mendengar langkah Emma, ie menoleh seraya mengomeli Emma.
"Tidak bisakah kau lebih lama lagi, huh? Dasar Nona . . ." kata Jack dan terhenti.
Jack tertegun sejenak. Dilihatnya Emma dari atas sampai bawah. Emma berusaha menarik roknya yang terlalu pendek. Wajahnya memunculkan semburat merah yang menawan. Lekuk tubuh indah Emma sangat kelihatan jelas. Jack menelah ludah.
Jack sadar. Ia membuang muka dan mengerutuki dirinya sendiri.
"Sial! Apa yang aku lakukan? Dia hanyalah seorang parasit yang hinggap di pohon keluargaku" kata Jack dalam hati.
...******...
Depan rumah kediaman William.
Hendy meminta Jack untuk naik ke mobil, namun Jack menolak.
"Aku tidak mau satu mobil dengannya, aku akan naik taksi saja" kata Jack sinis.
Emma yang hendak membuka pintu mobil, mengurungkan niatnya itu.
"Kau benar, harusnya aku yang naik taksi. Tidak, itu juga tidak benar, sejak awal aku memang tidak diperbolehkan ke sekolah" batin Emma.
"Tuan Jack, anda tidak akan sesak nafas hanya karena satu mobil dengan Nona Emma kan?" tanya Hendy tajam.
"Tentu aku akan sesak nafas, aku tidak suka berbagi apa yang kupunya pada seseorang sepertinya. Satu atap dengannya saja sudah membuatku gerah, apalagi harus satu mobil dengannya, aku bisa mati karena sesak nafas, Hendy" Jelas Jack.
Emma gemetaran. Perkataan Jack, membuatnya teringat kembali perkataan ayahnya.
"Emma, kau adalah satu-satunya putri keluarga Michelle. Kau tidak pantas bergaul dengan mereka. Itu hanya akan membuat ayahmu ini gerah dan sesak. Bagaimanapun jaga sikapmu atau kau ingin melihat ayah cepat tua"
Nathalie keluar, dan merasa suasana tegang sedang mengalir.
"Ada apa? Ayo kita cepat berangkat, Hendy. Aku tidak ingin terlambat" kata Nathalie dan masuk ke kursi depan mobil.
"Kakak, kenapa? Kau juga akan terlambat.
Jack masuk, ia sempat melirik tajam Emma seolah mengatakan ‘mati kau kalau masuk’.
Emma diam. Sudah biasa ia diperlakukan tidak manusiawi, bahkan oleh ayahnya sendiri, maka ia bisa mengerti kalau orang lain bersikap seperti itu padanya. Tapi bagaimanapun juga, hatinya terasa sakit.
Hendy masuk mobil, ia menyalakan mobil tapi tak kunjung berangkat. Nathalie keluar dan membukakan pintu untuk Emma. ia mendorong Emma hingga membuat tubuh Emma mendesak Jack yang duduk di kursi belakang. Jack risih. Emma segera membenahi duduknya. Jack membersihkan lengannya seolah takut ada bakteri yang hinggap di seragamnya. Emma hanya diam, matanya memancarkan kesedihan. Ia berpaling.
Di perjalanan, Nathalie bercerita panjang lebar tentang Chorea Academy pada Emma, tak ingin melihat Nathalie sedih, ia menatap Nathalie dan mendengarkan semua ceritanya. Tiba-tiba Jack meminta Hendy menghentikan mobil. Ia keluar dari mobil.
"Kakak, kenapa?" tanya Nathalie.
"Aku tidak ingin semua orang tahu aku tinggal serumah dengannya. Itu memalukan" jawab Jack dan berlalu.
__ADS_1
"Tapi Kak" protes Nathalie.
"Nona Nathalie, biarkan saja. Percuma anda berdebat. Lebih baik kita segera ke sekolah sebelum terlambat" potong Hendy.
Hendy melajukan mobilnya kembali. Nathalie menoleh ke arah belakang dan tidak dengan Emma. Emma hanya menunjukkan wajah kalau ia baik-baik saja.
...******...
Chorea Academy. Salah satu sekolah Elite di Fiens. Hanya anak orang penting atau pewaris perusahaan yang bisa masuk. Mobil Hendy berhenti. Nathalie turun. Emma terbongong melihat sekolahnya. Benar cerita Nathalie, Chorea Academy memang menakjubkan. Hendy membukakan pintu, Emma masih diam, ia takut.
"Nona Emma, jika anda melangkah keluar, dunia baru akan terbuka untuk anda" kata Hendy.
Emma terhenyak.
"Dunia baru? Untukku?" tanya Emma dalam hati.
"Apa yang seperti itu ada?" tanya Emma lagi dalam hati.
"Nona Emma, tak ada salahnya anda mencoba" kata Hendy.
Emma turun. Nathalie segera mendekati Emma.
"Benar kan, Kak Emma?" tanya Nathalie.
Emma hanya memandang Nathalie seolah mengiyakan. Nathalie-pun tersenyum.
"Sekolahku ada di sebelah. Jika ada sesuatu kau bisa menghubungiku. Kalau Kakak membuat masalah, akan aku nasihati dia" kata Nathalie menggebu-gebu.
Emma hanya menatap Nathalie. Begitu pun Nathalie sudah senang, ia melihat jam dan segera berlari ke sekolahnya. Emma melihat Nathalie sampai gadis itu tak terlihat lagi.
Kini, ia menatap sekolah yang disebut Chorea Academy.
...******...
Kelas 1-5. Kelas Jack.
Jack datang dan melempar tasnya. Temannya, Darren dan Luke heran.
"Tak biasanya kau semarah ini, apa kau salah minum obat?" tanya Luke.
"Bukan obat, tapi racun" jawab Jack.
"Apa ada sesuatu antara kau dan Chloe?" tanya Darren.
"Tidak" jawab Jack.
"Lalu?" tanya Darren penasaran.
"Ada Parasit hinggap di rumahku dan ibuku membiarkannya. Tidakkah menurut kalian itu mengganggu?" tanya Jack.
"Mungkin ibumu menyukainya" jawab Luke.
"Mana mungkin, ibu hanya kasihan saja" kata Jack mengkoreksi.
"Rasa suka diawali dari rasa mengasihani" kata Luke menanggapi.
Jack menatap tajam Luke. Luke diam dan mengalihkan pandangan.
Mr. Richard masuk. Seorang laki-laki dengan rambut berwarna sienna, dari tampangnya semua orang pasti tahu kalau ia galak. Ia masuk diikuti seorang siswi cantik berambut pirang. Semua siswa dikelas 1-5 terbengong-bengong. Terutama Luke, ia yang paling shock melihat siapa yang datang.
"Perhatian, kita mendapat teman baru. Dia adalah Emma Michelle. Sebelumnya dia melakukan home schooling dan tidak begitu mengenal sekolah. Jadi, jangan macam-macam dengannya" kata Mr. Richard.
Emma menunduk, ia tak mengatakan sepatah kata pun.
"EMMA MICHELLE?" pekik Luke tak percaya.
Semua otomatis menoleh ke arah Luke.
"Luke! JANGAN BERTERIAK!" kata Mr. Richard, suaranya menggelegar seantero kelas.
"Akhirnya aku bisa bertemu denganmu. Aku fans-mu, Emma. aku mengoleksi semua majalahmu" kata Luke dengan semangat.
Semua tentu heran, kecuali Jack. Darren sadar. Emma yang berdiri di depan kelas adalah Emma Michelle, sang model cilik yang terkenal saat mereka masih kecil.
"Luke, tidak bisakah kau singkirkan pikiranmu itu, lakukan nanti diluar jam sekolah, atau aku akan menggantungmu di tiang bendera, HUH?" Pekik Mr. Richard marah.
Semua baru sadar. Emma Michelle memang adalah model cilik waktu itu.
~ Flashback ~
Emma kecil tersenyum riang di depan camera. Ibunya, Lyla Michelle tersenyum dan menyemangatinya dari jauh.
Pemotretan selesai dan sang ibu memberikan air minum pada putrinya. Emma tersenyum senang dan memeluk ibunya.
"Kelak aku akan menjadi model semenawan ibu" kata Emma.
~ Flashback End ~
"Emma, duduklah disana. Di dekat Mugi" kata Mr. Richard.
Emma duduk di belakang Mugi. Mugi langsung menoleh ke arah Emma dan memperkenalkan diri.
"Hai, aku Mugi Gardenia. Senang bertemu denganmu. Emma" sapa Mugi dengan senyumnya.
Emma hanya diam. Mugi tak mempermasalahkan Emma mau menjawabnya atau tidak, ia tetap tersenyum. Tapi tidak dengan yang lain, mereka melirik Emma aneh, karena tidak bicara sedikit pun bahkan Mr. Richard yang memperkenalkan dirinya.
Jack tentu menatap punggung Emma dengan tatapan membunuh.
"Kenapa harus satu kelas denganku?" protes Jack dalam hati.
"Kau terlihat tidak suka dengannya" sindir Darren.
"Baguslah kalau Jack tidak suka, Emma hanya untukku" kata Luke.
"Hei, sudah berapa gadis yang kau kencani dalam sebulan ini? Aku bahkan tak bisa menghitungnya" kata Darren.
"Aku tidak akan begitu lagi kalau Emma jadi pacarku" kata Luke penuh semangat.
"Sayang sekali dia terlihat tidak menyukaimu" kata Darren.
"Tidak akan tahu kalau tidak dicoba" kata Luke masih dengan semangatnya.
Darren menghela nafas. Sepertinya hanya ia yang waras diantara mereka bertiga. Ia melihat Jack – Emma bergantian. Ia mengerutkan keningnya. Tanda ia berfikir apa hubungan mereka hingga membuat Jack sebenci itu pada gadis pirang berparas cantik seperti Emma.
...******...
Matematika. Selama Jam pelajaran, Emma tidak mencatat sama sekali. Ia hanya memperhatikan Mr. Richard. Mr. Richard menulis soal di papan tulis, ia melihat Jack yang lesu dan tidak memperhatikan pelajaran.
"Jack, kerjakan soal nomor satu" pinta Mr. Richard.
Dengan malas Jack maju. Ia mengambil kapur. Dan . . . 1 menit, 2 menit, 5 menit. Tak ada satu pun angka yang Jack tulis, Mr. Richard memukul kepala Jack.
"Kau ini. Makanya jangan melamun di jam pelajaran! Duduk sana. Dasar memalukan" kata Mr. Richard.
Mugi membawa bukunya menghadap ke Emma.
"Em, . ini bagaimana? Aku tidak bisa melanjutkannya" tanya Mugi sepertinya ia tidak begitu mengerti.
Emma mengambil pensilnya dan melanjutkan jawaban Mugi di buku Mugi. Ketemu. X\=4.
Mugi terperangah. Ia memuji Emma dan melihat buku Emma. Mugi diam. Tak ada satu pun catatan di buku Emma. Emma tidak mencatat sama sekali.
"Mugi?" panggil Mr. Richard dan mendekati Mugi.
Mugi segera membenahi duduknya dan menarik bukunya. Mr. Richard curiga. Dilihatnya Mugi – Emma. Mugi hanya meringis dan memperlihatkan catatannya. Mr. Richard melihat Emma. tak ada satupun catatan di buku Emma.
"Emma, kau tidak mencatat? Kau tidak mengerjakan?" tanya Mr. Richard, aura hitam menguak dari tubuhnya, membuat para siswa yang lain merinding.
Semua menoleh. Ketegangan mengalir si ruang kelas 1-5. Emma mengambil pensilnya dan mulai menulis jawaban dari soal di papan tulis. Hanya dalam waktu kurang dari 5 menit, Emma bisa menyelesaikan jawabannya. Ia-pun menyodorkan jawabannya pada guru berambut stenna itu.
Mr. Richard mengambilnya. Ia mengecek jawaban Emma. dan ia-pun terbelalak. Semua jawaban sangat rapi dan detail. Ia menatap Emma seakan tak percaya. Mr. Richard penasaran, ia mengambil pensil dan menulis soal lain dengan tingkatan lebih sulit dan meminta Emma megerjakannya. Lagi-lagi dalam waktu singkat Emma bisa menyelesaikannya. Mr. Richard memberi soal untuk taraf kelas 2 dan Emma juga dapat menyelesaikannya. Soal taraf kelas 3 dan Emma juga dapat menyelesaikannya. Mr. Richard mundur selangkah, entah takjup atau takut dengan kemampuan murid barunya.
Semua heran. Karena Mr. Richard mendekati Emma lama. Mr. Richard sadar. Ia mengembalikan buku Emma dan kembali ke depan kelas.
"Fiuh, Brian. Kurasa kau punya saingan sekarang" kata Mr. Richard pada salah satu muridnya di kelas itu, Brian.
Brian terhenyak. Ia menoleh ke arah murid baru, Emma. Emma masih tertunduk. Menyadari seseorang menatapnya, ia mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah Brian. Mata mereka bertemu. Dalam sekejap pipi Brian langsung merona. Ia membuang muka. Emma heran dengan sikap Brian.
"Eh?" tanya Emma dalam hati.
"Dia melihatku" kata Brian dalam hati.
...******...
Bel berbunyi. Jam istirahat. Luke langsung menyambar ke arah Emma.
"Emma, kenalkan, aku Luke. Senang bertemu denganmu" sapa Emma.
"Sama-sama" jawab Emma dalam hati.
"Jack?" panggil Emma.
"Em, jangan dekat-dekat dengan Luke. Dia itu playboy, banyak gadis di sekolah ini yang jadi korbannya. Jangan sampai kau jadi korban berikutnya" kata Mugi.
"Sudah kuduga" jawab Emma dalam hati.
"Hei, Em. Bisakah aku bertanya sesuatu?" tanya Mugi.
"Silahkan: jawab Emma dalam hati.
"Kenapa kau tidak bicara?" tanya Mugi.
Emma diam sejenak. Kemudian dia mengambil bukunya dan menuliskan sesuatu.
[Karena aku tak bisa]
Mugi diam sejenak. Ia sepertinya mengerti apa maksud dari jawaban Emma. dan tidak bertanya lagi.
"Hei, Em. Aku punya sesuatu untukmu" kata Mugi.
Mugi mengeluarkan sebuah buku kecil beserta pena kecil yang merupakan pasangannya dan diberikannya pada Emma.
"Kau bisa bicara sekarang. Orang lain akan salah paham jika kau hanya diam saja. Dengan ini kau bisa membuat dunia baru. Dunia yang bisa memahamimu" kata Mugi.
Emma terhenyak. Ia tidak menyangka ada orang lain lagi yang mengerti akan keadaannya dan tidak banyak bertanya.
"Kau lapar kan, ayo ke kantin dan setelah itu aku akan mengajakmu berkeliling sekolah, dan melihat-lihat klub" ajak Mugi dan menarik tangan Emma.
Emma mengikuti Mugi keluar kelas. Brian melihat Emma sampai Emma pergi.
"Wah, Brian tertarik pada murid pindahan?" sindir Nick.
"Diam kau! Aku tidak meminta pendapatmu" kata Brian kesal.
"Kuakui Emma sangat cantik. Tapi sayang sepertinya ia tipe yang suka menutup diri, ia bahkan tidak bicara" kata Nick.
"Apa semua orang harus bicara? Jika disuruh memilih, aku lebih memilih kau tidak bicara. Telingaku mungkin akan lebih rileks" kata Brian datar tapi menohok bagi Nick.
Nick tersindir. Tapi ia tersenyum menggoda dan meyikut sepupunya itu.
"Kau melindunginya? Apa kau mau jadi pangeran tak berkuda?" sindir Nick.
"DIAM KAU!" bentak Brian.
...******...
Sementara Jack. Ia pergi makan di kantin bersama Luke dan Darren. Luke terus membahas bagaimana mendekati dan bicara pada Emma.
"Dia tidak akan bicara" kata Jack tiba-tiba.
"Dia hanya pemalu saja" kata Luke.
"Dia memang tidak bicara" kata Jack lagi.
"Bagaimana kau tahu?" tanya Darren.
"Karena dia parasit" jawab Jack pasti sambil memakan makan siangnya.
"PA-RA-SIT?" Luke mengeja kata yang Jack ucapkan.
"Dia orang yang kau maksud?" Darren dan Luke meninggikan suaranya.
"Tidak bisakah ekspresi kalian itu biasa saja?" pinta Jack dingin.
"Jadi, kenapa dia bisa tinggal di rumahmu?" tanya Luke penasaran.
"Entahlah, tanyakan saja padanya" jawab Jack.
Luke diam. Ia berfikir.
"Jadi gosip itu benar. Emma menghilang dari dunia peridolan selama 2,5 tahun. Dia bahkan berhenti bersekolah. Tidak ada berita tentangnya. Semua berita miring mungkin sudah dihentikan ayahnya. Kurasa itu semua bukan cuma isapan Jempol belaka" kata Luke.
"Mungkin dia sekolah keluar negeri?" kata Darren cuek.
"Tidak ada nama Emma Michelle di catatan warga negara yang keluar negeri" jawab Luke.
"Kau menguntitnya?" tanya Darren.
"Aku kan fansnya" jawab Luke pasti.
Darren hanya meringis.
Tiba-tiba seseorang memanggil Jack dengan akrab.
"Jack" panggil Chloe.
Jack menoleh. Chloe dan temannya Cheryl tersenyum.
"Boleh bergabung?" tanya Chloe.
Jack sumringah, ia megizinkan pacarnya itu untuk bergabung. Melihat Cheryl, Darren kesal.
"Kenapa kau kesini? Jack mempersilahkanmu, bukan berarti aku megizinkanmu duduk disini, Cheryl" kata Darren.
Cheryl tak jadi duduk. Ia sedih.
"Maafkan aku, Darren" kata Cheryl.
"Darren, hanya makan siang kan, aku jamin Cheryl tidak akan mengganggumu" kata Chloe.
Darren mengalah.
...******...
Mugi mengajak Emma berkeliling sekolah. Mugi sangat antusias, Emma hanya memasang wajah datarnya. Tiap kali melangkah, semua siswa tertegun akan keanggunan dan kecantikan Emma. tapi ada beberapa dari mereka yang mencibir Emma karena tak berbicara.
"Nah, Em, selanjutnya kantin sekolah" kata Mugi.
Mereka pergi ke kantin tepat saat Jack dan yang lain selesai makan. Ketika Emma melangkahkan kaki memasuki kantin, Jack DKK keluar. Jack melirik sinis Emma. Emma tentu sadar lirikan Jack, ia tertunduk. Tanpa Jack sadari Chloe ternyata memperhatikannya.
Emma tak selera makan. Di sekolah baru, ia mendapat teman baru yang baik seperti Mugi, tapi ia juga banyak dibenci karena tak bicara.
"Emma, makanlah. Pulang sekolah nanti kita lihat-lihat Klub ya, kau pasti akan senang" kata Mugi.
******
Pulang Sekolah. Para siswa bersiap melakukan kegiatan Klub mereka. Dengan segera kelas 1-5 kosong. Jack DKK pergi keluar kelas, dan lagi-lagi Jack melirik Emma dengan sinis. Emma tentu sadar dan berusaha memalingkan mukanya. Brian melihat hal itu, ia heran kenapa Jack bersikap seperti itu, padahal Emma tak melakukan apapun yang menurut Brian mengganggu Jack.
"Brian, ayo pergi. Jack sudah pergi. Dia bisa mengomel kalau kau datang terlambat" ajak Nick.
"Ok" jawab Brian dan mengikuti Nick keluar.
Tapi di pintu kelas, ia menoleh, melihat kembali Emma Michelle yang terlihat mempesona di matanya.
Kelas sudah sepi dan hanya Mugi dan Emma yang tertinggal.
"Kau mau pergi?" tanya Mugi.
Emma menulis sesuatu.
[Ayo]
Mugi tentu senang dan menggandeng tangan Emma.
Mugi mengajak Emma berkeliling melihat-lihat klub. Tidak hanya melihat-lihat, tapi menikmati beberapa klub untuk sesaat. Klub Teh, Klub Botani, Klub Sastra, Klub Baseball, Klub Musik.
Di Klub Musik, Ketua Club, Axel meminta Emma memainkan salah satu alat musik yang ada. Dengan ragu Emma mendekati piano. Ia duduk dengan anggunnya bak pianis berbakat. Di tekannya beberapa tuts nada. Dan perlahan jarinya diletakkan di atas tuts. Ia mulai memainkan sebuah lagu. Chopin's Etude Op.25 No.5.
Klub musik yang awalnya tidak suka atas kedatangan Emma, terperangah. Emma benar-benar menari dengan jari-jari manisnya. Semua diam, hanyut dalam Chopin's Etude Op.25 No.5.
Emma selesai memainkannya dan tiba-tiba Axel bertepuk tangan. Semua bertepuk tangan. Takjup akan penampilan Emma. Emma terdiam, matanya mulai meneteskan air mata. Ia teringat saat dimana ibunya bertepuk tangan ketika ia memainkan lagu Chopin's Etude Op.25 No.5. Emma sadar dan mengusap cairan bening dipipinya, ia berdiri dan pergi begitu saja.
"Hah? Dia mau kemana?" tanya Axel pada Mugi.
"Tunggu Axel, mungkin dia akan mempertimbangkannya" sahut Mugi.
Axel menggenggam tangan Mugi. Mugi tentu terkejut, ia berdegup.
"Kumohon, Mugi" kata Axel memohon.
Mugi menarik tangannya dan pergi menyusul Emma. Mugi kehilangan Emma. yang dicari ternyata sedang berada di bangku di luar gedung dekat ruang Klub Musik. Butuh waktu beberapa menit untuk menemukan Emma. didekatinya Emma.
"Em, kau baik-baik saja?" tanya Mugi.
__ADS_1
Emma mengangguk. Ia berdiri dan menuliskan sesuatu di note-nya.
[Jadi, kemana selanjutnya]
Mugi menghela nafas, itu artinya Emma benar-benar baik-baik saja.
Mugi tidak yakin dengan Klub yang tersisa. Emma heran dan menarik-narik lengan seragam Mugi.
"Tinggal Klub Basket, Sepak Bola, Taekwondo, dan Klub Kimia" kata Mugi.
Emma memiringkan kepalanya tanda tak paham maksud Mugi.
"Begini, Em, kurasa lebih baik kau masuk ke Klub Musik. Axel mau menerimamu" kata Mugi menasihati.
Emma menulis note.
[Kau janji mengajakku melihat semua klub kan?]
Mugi hanya bisa pasrah. Klub basket. Sebuah lapangan indoor. Mugi dan Emma masuk. Emma mendengar suara sepatu yang berdecit karena efek gesekan dengan lantai. Dan suara dribble bola. Emma dan Mugi mendekat. Dilihatnya sosok yang sangat familiar, Jack. Emma tercengang, ia langsung mundur beberapa langkah. Mugi menyadari arah pandangan Emma baru saja. Mugi-pun mendekati Emma.
"Em, sebaiknya kita pergi" ajak Mugi perhatian.
Klub Taekwondo.
"Permisi, kami ingin melihat-lihat Klub" kata Mugi.
Seorang gadis berambut marun mendekati mereka. Ia cantik dan terlihat garang. Tapi…
"Mugi, tumben sekali. Kenapa?" sapa Earlene.
"Earlene, ini teman baruku, Emma Michelle. Dia baru pindah pagi ini. Aku ingin memperkenalkannya denganmu" kata Mugi.
"Earlene Carmine. Senang bertemu denganmu" sapa Earlene mengulurkan tangan.
Emma menjabat tangan , di bibirnya seakan akan terucap sebuah kata. Namun Emma tidak bisa mengatakannya. Suaranya serasa tersangkut di ujung tenggorokan. Earlene diam sejenak, dan tidak mempermasalahkannya.
"Jadi, Emma, apa kau ingin bergabung?" tanya Earlene.
"Tunggu Earlene, dia hanya ingin melihat-lihat" kata Mugi.
"AKU TAK BERTANYA PADAMU" kata Earlene pada Mugi, yang langsung membuat Mugi mengecil.
"Emma, kami akan sangat senang jika kau bergabung. Kau tidak harus memakai seragam Taekwondo dan mengenakan sabuk. tapi Kau bisa membantu kami" bujuk Earlene ramah.
Emma diam. Ia menuliskan sesuatu.
[Baiklah, Earlene. Aku akan bergabung]
Mugi terbelalak.
"Emma, kau meng-iyakan hanya dengan bujukannya? Kau tidak tahu apa, yang berada disini itu otot kuat tulang besi semua" kata Mugi SHOCK berat.
Emma hanya menatap Mugi seakan tanpa dosa, yang membuat Mugi langsung lemas dengan keputusan temannya itu.
Darren mendekat.
"Emma, tak kusangka kau tertarik dengan Taekwondo. Padahal kelihatannya kau itu pintar, apa kau tak memilih menyumbangkan kejeniusanmu itu ke Klub Kimia atau Klub Sastra?" tanya Darren.
Emma mengerutkan alisnya. Ia mulai ber-ekspresi. Ia berfikir dan menulis.
[Aku tidak jenius]
Darren seperti tersedak membacanya. Ia menghela nafas. Lewin mendekat.
"Earlene. Kau tidak bisa sembarangan memasukkan anggota. Kalau hanya bantu-bantu saja semua orang juga bisa. Aku menolaknya" kata Lewin.
"Lewin. Kita tidak punya manager. Dia bisa menjadi manager kita" kata Earlene membela.
"Kalau gitu aku saja yang jadi manager. Beres kan?" tolak Lewin lagi "Tapi… jika kau bisa mengalahkanku, mungkin aku akan menerima keputusan Earlene" lanjut Lewin dengan tampang sinisnya.
Anggota yang lain mendukung Lewin. Earlene menghela nafas.
"Dia harus belajar dasarnya dulu. Lewin, apa kau sebegitu pengecutnya hingga menantang perang orang yang tidak memiliki pedang?" tanya Earlene.
Emma menulis sesuatu dan menunjukkannya.
[Jika tidak punya pedang, masih ada lengan dan kaki]
Earlene terhenyak. Ia heran dengan sikap berani Emma.
"Emma, kau bisa terluka nanti. Lagipula kau itu perempuan" bujuk Earlene.
"Kalau kau sebegitu khawatir padanya, maka jangan buat keputusan yang main-main, Earlene" komen Lewin.
Emma menulis lagi.
[Aku akan melawan Lewin. Tapi jika aku menang, kalian harus menerimaku tanpa syarat]
Lewin nyengir. Ia berfikir gadis di hadapannya yang tak tahu diri. Semua meremehkan Emma. tapi Darren tampak tak setuju dengan tindakan teman barunya dan juga Lewin.
"Emma, aku tak tanggung jawab jika kau terluka" kata Lewin.
"Emma, ganti bajumu" pinta Earlene dan mengulurkan pakaian Taekwondo.
Emma menolaknya.
Lewin dan Emma berada di atas matras. Lewin dengan pakaian Tekwondonya dan Emma dengan seragam sekolahnya.
"Aku sudah lama tidak meregangkan ototku, tapi aku tidak lupa dengan apa yang Daniel ajarkan padaku" kata Emma dalam hati.
Lewin menyerang duluan, dan dengan sigap, Emma menangkis serangannya dan meraih lengan Lewin. Emma membanting Lewin dan mengunci gerakannya. Earlene SHOCK. Semua terbengong menyaksikan kejadian langka ini. Lewin seorang yang telah menjadi Juara Nasional kalah oleh seorang gadis yang mengenakan seragam dengan rok pendeknya. Lewin meronta, tapi cengkraman Emma tak kalah dengan Atlit Taekwondo Senior.
"Lepaskan aku, pirang" kata Lewin kesal, ia benar-benar malu.
"Kau mengaku kalah?" tanya Emma dalam hati.
"Apa kau mengaku kalah? Lewin?" tanya Earlene kemudian.
Emma memperkuat lagi mengunci tubuh Lewin. Lewin berteriak kesakitan. Semua anggota Klub bergidik karena seperti melihat Earlene kedua.
"Ukkh, lenganku" umpat Lewin dalam hati.
Emma hendak memperkuatnya lagi, hingga sang ketua menghentikan tindakakannya dengan memintanya menghentikan pertandingan. Ditariknya Emma. sedangkan Darren membantu Lewin untuk berdiri, ketika Darren menyentuh lengan Lewin, sang empunya lengan meringis kesakitan. Ya, tangan Lewin terkilir. Darren tercengat untuk sesaat.
Earlene memeriksa tubuh Emma, apakah teman barunya itu baik-baik saja.
"Bukankah kau salah mengkhawatirkan seseorang, ketua?" tanya Lewin tak suka.
Earlene melirik Lewin dan memicingkan matanya. Lewin yang dihadiahi tatapan maut sang ketua langsung diam. Keringat dingin mulai bercucuran dari dahinya. Tiba-tiba….
Plok plok plok
Suara riuh membahana menggelegar bak halilintar yang menyambar-nyambar di langit hitam kelam di hari mendung. Begitulah suasana di klub taekwondo sekarang. Semua anggota berdiri dan mendekati Emma. mereka menatap Emma takjup dan mata mereka telah berubah menjadi takjub. Mereka bergantian menjabat tangan sang Primadona mereka.
"Emma. Kau hebat!" kata para anggota bergantian.
"Tanganmu bahkan selembut ini, aku rela kalau kau membanting indah tubuhku ini" kata Jason.
Lewin yang mendengar pujian demi pujian hanya membuang muka. Semburat merah menghiasi pipinya. Darren tentu menyadarinya.
...******...
Malam hari di kediaman William. Jack habis mandi, ia mendengar ponselnya berdering. Dengan enggan diraihnya ponsel bergaya touchscreen. Ia langsung bersemangat ketika mendapati siapa penelfonnya.
Jack : Halo, Chlo. Ada apa?
Chloe : Tidak, hanya ingin menelfon saja. Apa tidak boleh?
Jack : Tentu saja boleh.
Chloe : Umm, Jack, boleh aku bertanya sesuatu padamu. Kau harus menjawab jujur ya?
Jack : Tentu, apa itu?
Chloe : Apa kau membenci anak baru itu? Hn. Emma maksudku.
Jack : Kenapa kau tanyakan itu?
Chloe : Tidak, aku hanya heran. Setahuku kau tidak pernah membenci siapa pun kecuali Darren.
Jack : Aku hanya tidak suka saja. Yah, seperti kau tahu. Dia tidak bicara. Aku hanya risih saja melihat orang seperti itu.
Chloe : Jack, kau tidak boleh seperti itu. Bagaimana pun dia seorang perempuan. Salah kalau kau membencinya hanya karena alasan itu.
Di seberang telfon, Jack mengumpat. Chloe bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Jack : Terserah, Chlo. Kalau aku tidak suka ya tidak suka.
Chloe : Kalau kau berkata begitu aku jadi khawatir, Jack.
Jack : Kenapa?
Chloe : Kau tahu? Cinta dan Benci itu beda tipis. Tidak sedikit dari orang yang membenci orang lain kemudian jatuh cinta.
Jack : APA? MUSTAHIL! AKU BAHKAN TIDAK MEMANDANGNYA SEBAGAI PEREMPUAN.
Chloe : Hhhh, kau lucu Jack. Dilihat dari manapun dia perempuan. Dia tidak memiliki jakun seperti laki-laki kan?
Jack : Cih, Iya… iya. Ngerti.
Di ujung telfon. Seseorang memanggil Chloe, meminta Chloe segera turun untuk makan malam. Chloe menyudahi tefonnya.
Setelah perbincangannya dengan Chloe di telfon, Jack menunduk. Digenggamnya ponsel miliknya dengan erat. Ia seperti menahan marah. Jack tidak habis pikir dengan Chloe. Benci jadi Cinta? Tidak mungkin. Itu sangat mustahil. Tidak ada yang seperti itu di kamus seorang Jack William.
...******...
Esoknya di Chorea Academy. Emma berjalan di koridor menuju kelasnya. Dan tentunya ia sendirian. Pemuda bersurai karamel tak tampak. Sepanjang koridor, semua siswa berbisik. Kali ini bisikan yang berbeda.
{Hei, hei, kalian dengar? Anak baru itu berhasil mengalahkan Lewin dengan sekali serang loh.}
{Benarkah Dengan badannya itu? Tak mungkin.}
{Aku mendengar sendiri dari sang Ketua.}
{Earlene?}
{Iya, kemarin kudengar Earlene tertawa terbahak-bahak menertawakan Lewin yang kalah oleh perempuan berparas lembut seperti Emma.}
{Bukankah anak itu terlalu lembut untuk bermain Taekwondo.}
{Kalau kau tidak percaya, kau bisa mendatangi Jason. Dia merekam semua kejadiannya.}
{Wuah. Benarkah?}
{Dan kau tahu? Saat itu juga Jason menyatakan diri sebagai fans Emma dan membuat FanClub}
{APA?}
Tentu Emma mendengar semuanya. Ia mengernyitkan alisnya. Dan tak terasa sampailah ia di kelas 1-5. Ketika Emma masuk, kelas yang semula gaduh, menjadi hening. Emma tak ambil pusing dan melanggang dengan cueknya ke kursinya. Dan….
Teman-teman sekelasnya langsung mengerumuninya. Menatapnya takjup.
"Emma, Apa benar kau mengalahkan Lewin?" tanya salah seorang siswa perempuan dengan rambut coklatnya.
"Emma, kudengar kau mengalahkannya dengan satu serangan, apa itu benar?" tanya siswa yang lain.
"Emma, Emma. dimana kau mempelajari itu?"
Berbagai macam pertanyaan terlontar. Hingga Emma tak sanggup berkata-kata.
Emma menuliskan sesuatu di note yang didapatnya dari Mugi.
[Aku pernah mempelajarinya dulu. Tapi aku benar-benar tidak menyangka bisa mengalahkannya dengan sekali serang]
Semua menatap Emma cengo. Dan belum sadar dari alam mereka, suara seseorang membuyarkan semuanya.
"Minggir! Kalian menghalangiku" pekik seseorang denga suara baritone-nya, siapa lagi kalau bukan Jack.
Semua langsung minggir. Jack duduk dan ditatapnya teman-teman sekelasnya dengan manik emeraldnya. Tatapan membunuh, yang bisa melubangi dinding tebal bahkan hanya dengan sekali tatap. Semua tentu mengerti arti pandangan Jack dan bubar. Emma melirik Jack yang berada di belakangnya.
"Dia menyelamatkanku?" tanya Emma.
Brian dan Nick masuk kelas. Brian merasakan suasana yang sedikit aneh di kelas. Dan ia mengalihkan pandangannya pada Gadis bersurai pirang. Sepercik senyum menghiasi sang Ketua klub basket itu.
"Kau dengar, Brian. Gadis pirang itu telah mengalahkan Lewin dengan sekali serang. Tak hanya itu, bahkan lengan Lewin terkilir karenanya. Dan kudengar juga, kalau Earlene tak melerainya, mungkin lengan Lewin sudah patah" kata Nick "Aku tak menyangka dibalik sikap lembut dan penyendirinya itu ia memiliki sisi semenyeramkan Earlene" lanjut Nick.
"Tidakkah itu menarik?" kata Brian dan langsung duduk di bangkunya yang berada di dekat pintu depan kelasnya.
"Eh?" Nick menatap sepupunya itu cengo.
...******...
Jam Istirahat.
Mugi dan Emma tengah berjalan melewati koridor luar ruangan. Mereka membawa setumpuk buku yang tentunya buku tugas kelas 1-5. mereka berjalan melewati lapangan Outdoor. Di lapangan, terdapat siswa laki-laki tengah bermain basket, di antara mereka tentu ada Brian, Nick, Darren, dan Jack. Bola ditangan Jack, ia memberi operan ke Darren namun operannya cukup tinggi untuk Darren raih, dan… bola itu melambung tinggi.
"Emma, kau jadi sangat terkenal. Kau bahkan memiliki Fanclub. Aku sungguh tidak menyangka ya" kata Mugi "Oh ya, Earlene bahkan ikut bergabung, hahaha" tawa Mugi.
Mugi terus merocos dan Emma hanya manggut-manggut. Dan tiba-tiba.
BUK
Sebuah bola basket menghantam Kepala Emma dengan keras, membuat sang empunya tak seimbang dan terjatuh. Buku yang dibawanya berserakan dimana-mana. Mugi tentu Shock. Tak terkecuali para siswa yang tengah berada di sekitar mereka.
Brian menoleh, dilihatnya Emma yang terjatuh dengan buku yang berserakan. Ia terkejut dan segera berlari ke arah gadis pirang bermata sapphire itu.
"Kau baik-baik saja?" tanya Brian berjongkok.
Emma memegangi kepalanya. Ia pusing, dilihatnya sosok pria berambut Spike berwarna amber. Wajah Brian serius, ia benar-benar merasa bersalah. Dipungutinya buku yang berserakan dan Mugi membantunya.
"Maaf, temanku tak sengaja" kata Brian.
Jack melihatnya dari jauh, ia tak bergeming sedikit pun.
"Oi! Jack! Kau yang salah, jadi kenapa Brian yang kesana?" tanya Darren.
"Kau mengajak berkelahi?" sahut Jack ketus.
"Oi! Aku serius! Kau tidak merasa bersalah sedikit pun?" tanya Darren mulai emosi.
"Di lubuk hatiku aku bersyukur karena dia yang kena, bukan Chloe" jawab Jack.
Darren menggertakkan giginya, tak habis pikir kalau rival sekaligus sahabatnya bisa sekejam itu. Kemudian ia menghela nafas.
"Terserah kau, Jack. Benci dan Cinta itu beda tipis" kata Darren dan berlalu mengikuti Brian.
Brian membantu Emma berdiri. Lagi-lagi Brian meminta maaf. Emma menuliskan sesuatu di notenya yang mengatakan ia baik-baik saja. Namun tepat saat Brian selesai membaca note itu, darah segar mengalir dari hidung Emma. ya, Emma mimisan. Brian terkejut dan otomatis panik.
"Hidungmu!" kata Brian.
Emma mengusap hidungnya dan betapa terkejutnya ia kalau itu adalah darah. Brian mengambil sapu tangan dari sakunya dan tanpa berlama-lama ia langsung menutup hidung Emma dan meminta gadis itu menaikkan kepalanya.
"Brian, apa yang terjadi?" tanya Darren.
"Dia mimisan, mungkin pukulannya terlalu keras" kata Brian.
"Emma, aku akan mengantarkanmu ke ruang kesehatan" kata Mugi ikut panik.
"Baiklah, aku yang akan mengantarkan buku-buku ini ke meja guru. Bukan begitu, Mugi?" kata Darren.
"Eh?" Mugi tak paham, tapi sedetik kemudian ia mengerti maksud perkataan Darren.
"Brian, aku dan Darren akan mengantarkan buku ini, kau antarkan Emma ke ruang kesehatan ya?" pinta Mugi.
Brian hanya mengangguk dan memapah Emma yang ternyata sedikit gemetar. Brian hanya tersenyum. Gadis pirang itu, bisa mengalahkan Lewin tapi dengan hantaman bola basket, ia juga bisa ambruk. Walaupun ia bisa kuat, tapi ia tetaplah perempuan lembut yang mungkin rapuh.
"Apa kau tidak berlebihan, Ketua? Mendengar betapa hebatnya dia membekuk Lewin. Kurasa mimisan seperti itu tidak ada apa-apanya" sahut Jack.
Seketika Brian dan Emma berhenti. Sedangkan Mugi dan Darren sudah tidak tampak. Brian menoleh diikuti Emma. perkataan Jack seperti sebilah panah yang menancap di dada kiri Emma. walaupun kecil, tapi sangat sakit.
"Apa maksudmu? Jack? Kurasa bicaramu berlebihan" jawab Brian menanggapi dengan bijak.
"Tanpa diobati sudah pasti dia akan sembuh" lanjut Jack.
Emma tertunduk. Apa yang dikatakan Jack ada benarnya. Selama 2.5 tahun ini, Emma bahkan sering menerima pukulan yang melebihi hantaman bola basket itu. Ia juga sering terluka dan membiarkan lukanya sembuh sendiri, jadi mimisan bukan hal yang serius. Emma menurunkan tangan Brian yang merengkuh pundaknya. Ditulisnya sebuah note dan disobeknya note itu kemudian diberikan kepada Brian. Brian menerimanya dengan wajah bingung bercampur khawatir. Pasalnya, perkataan Jack sangat kasar, bahkan walaupun itu bukan ditujukan untuk dirinya, ia bisa merasakan nyeri di hati ketika mendengarnya. Emma berbalik dan berlari meninggalkan kedua orang tersebut.
"Kau lihat? Dia baik-baik saja. Dia bahkan bisa berlari" kata Jack kemudian.
Brian hanya mengela nafas. Percuma ia bicara pada orang yang tidak pernah mendengarkan orang lain. Dibukanya note pemberian Emma.
[Terima kasih telah mengkhawarkanku. Benar, luka seperti ini tak ada apa-apanya dibanding apa yang pernah kudapat]
Brian mengerutkan keningnya. 'yang pernah ia dapat'. Adalah kata-kata yang tabu menurut Brian. Brian berfikir tidak mungkin Emma mendapat hal seperti itu. Tapi tulisan di akhir kalimat itu berbeda. Seakan Emma menulisnya dengan tangan gemetar. Brian terbelalak mendapati kemungkinan Emma pernah mengalami suatu penyiksaan yang ia sendiri bahkan tidak bisa membayangkannya. Dan, fakta kalau Emma diam-diam menyimpan keahliannya sebagai professional taekwondo.
"Apa itu alasannya ia belajar taekwondo? Untuk mempertahankan dirinya yang dia pikir lemah?" gumam Brian.
Brian pun meremas kertas ditangannya.
"Jack William" umpat Brian.
"Kenapa? Kau ingin marah? Atau memukulku?" tanya Jack.
Brian mendengus dan berlalu begitu saja. Sementara Jack, ia tetap berdiri di tempatnya, tanpa Brian sadari, Jack menggenggam tangannya. Jack merasakan perasaan aneh di dirinya. Ia merasa tidak suka ketika Brian mendekati Emma, mengkhawatirkan Emma bahkan ketika Brian menyentuh pundak Emma. tapi bukan perasaan yang biasa orang sebut cinta.
__ADS_1
"Emma sialan. kau benar-benar sudah mengusik ketentramanku. Bahkan sekarang dia sudah mulai mengusik Brian. Betapa bodohnya dia mau dekat-dekat dengan parasit sepertinya. Tak akan kubiarkan" kata Jack dalam hati.