The Missing Voice

The Missing Voice
| Chapter 4 : I Don't Know |


__ADS_3

Di tengah hujan yang mengguyur kota Fiens malam itu. Jack menggenggam erat tangan Emma. Erat dan sangat erat. Benak Emma berkecambuk. Hatinya terasa sakit ketika mendengarkan semua perkataan Jack, tapi sikap Jack yang berubah tiba-tiba, memeluknya dan memintanya untuk pulang walaupun itu tetap dengan kasar membuat benak seorang Emma Michelle serasa diserang meriam yang seakan meledak seketika. Dadanya mulai panas dan panas tersebut lama kelamaan menjalar ke pipinya. Ia yang berusaha melepaskan diri mulai tenang dan membiarkan Jack menyeretnya. Sepanjang perjalanan, tak ada sepatah katapun yang keluar dari keduanya. Sementara Jack? ia juga sedang berkutat dengan batinnya.


"Menggenggam tanganmu seperti ini sungguh tidak pernah aku bayangkan. Jika aku boleh mengatakannya, aku benci keadaan ini" kata Jack dalam hati.


"Tapi, apa ini tangan yang telah menepisku waktu itu?" tanya Jack lagi dalam hati.


"Apa ini, Jack? Jack yang selalu membenciku? Dan apa ini tangan Jack yang selalu melukaiku? Kenapa rasanya berbeda?" tanya Emma dalam hati.


"Tangannya besar, dan juga . . . hangat" lanjut Emma dalam hati.


Mereka melalui ramainya jalan dan gemerlapnya kota. Entah kenapa waktu seakan bergerak lambat membiarkan dua insan yang tengah dilanda badai di dalam hati mereka.


Tak terasa Jack dan Emma sudah sampai di depan rumah kediaman William. Rumah mewah dengan halaman dan pekarangan luas, yang melihatnya saja membuat Emma kembali bergetar. Ia mengingat form yang tadi ia sobek. Emma menghentikan langkahnya, Jack menoleh.


"Kenapa?" tanya Jack datar.


Emma menggeleng yang Jack artikan sebagai tidak mau masuk. Jack menghela nafas, ia sudah cukup banyak mengeluarkan tenaga untuk marah-marah pada gadis dihadapannya itu. kali ini ia mencoba bicara dengan sabar, walaupun egonya bergejolak dan menolak bahkan berteriak berkata tidak.


"Yang lain khawatir. Kau pasti tidak ingin melihat ibuku jantungan kan?" tanya Jack dengan kata-kata pedasnya tapi nada suaranya terkesan datar


Emma kembali menggeleng. Ia menggenggam tangan Jack erat. Jack kembali menghela nafas.


"Kita masuk, kau tak mau aku menyeretmu lebih dari tadi kan?" ancam Jack masih dengan nada datar.


Akhirnya Emma mau masuk rumah. Ketika pintu terbuka, semua orang seketika menoleh, dan betapa terkejutnya mereka, Emma pulang bersama Jack atau lebih tepatnya Jack membawa pulang Emma. Dan keadaan mereka? Tangan Jack menggenggam tangan Emma dan tubuh mereka basah kuyup.


"Emma!" teriak nyonya Azzury dan segera memeluk Emma.


Pelukan nyonya Azzury membuat genggaman tangan Jack terlepas. Jack menaikkan satu alisnya, melihat tangannya yang beberapa saat tadi menggenggam tangan gadis yang sangat ia benci. Hendy memandang Jack penuh arti, Jack hanya tertawa sinis lewat hidung dan berlalu meninggalkan ibunya yang masih sibuk memeluk Emma tanpa mengkhawatirkan keadaannya.


"Kamu tidak apa-apa kan? Tidak ada yang terluka kan?" tanya nonya Azzury.


Emma menggeleng. Nyonya Azzury menghela nafas lega. Virginia tak kuasa menahan air matanya. Pemandangan itu tak luput dari Emma, dilihatnya Virginia yang meneteskan air mata melihat kepulangannya dengan keadaaan seperti itu. didekatinya Virginia sang pelayan yang selalu setia pada dirinya. Ditulisnya sebuah note.


"Aku pulang, Virginia. Maafkan aku, aku baik-baik saja kok" tulis Emma dalam note.


"Nona" panggil Virginia.


Emma memeluk Virginia. Menenangkan sang pelayan. Melihat adegan bak melodrama tersebut, Nathalie tersenyum. Ia tidak menyangka kakaknya akan membawa pulang Emma. padahal ia sendiri tahu kalau sebenarnya kakaknya senang kalau Emma pergi dari rumah.


"Kurasa kakak tidak sejahat yang aku kira" kata Nathalie dalam hati.


"Hei, kak Emma bagaimana kalau kau mandi dan mengeringkan badan. kau kan masih demam" kata Nathalie.


"Iya Nona, saya akan menyiapkan air hangat untuk anda" kata Virginia.


Jack mandi, air keluar dari shower membasahi kepala hingga badannya yang tergolong tegap dan berotot. Ia tertunduk sembari melihat pantulan dirinya di cermin. Diingatnya kembali saat dirinya hendak berlalu dari kamar Emma setelah melihat ibunya menatap Virginia dengan pandangan serius.


~ Flashback ~


Jack melihat dari luar kamar, ia ingat tali yang menjulur dari balkonnya. Jack terhenyak, tapi kemudian ia tersenyum sinis.


"Apa ini akhirnya? Baguslah, aku tak perlu repot-repot menyiksanya lagi" gumam Jack dan pergi masuk ke kamarnya.


Namun ketika dirinya baru menyentuh knop pintu, suara seseorang menginterupsinya.


"Tuan Jack, saya ingin bicara pada anda sebentar" kata Hendy.


Nathalie melihatnya, tapi ia memilih untuk tidak ikut campur dan turun ke bawah. Sementara Jack meminta Hendy untuk bicara di kamarnya saja, sepertinya ia tahu kalau Hendy akan mengatakan sesuatu yang serius."Tuan Jack, maafkan atas kelancangan saya. Tapi saya ingin bertanya dan saya mohon anda menjawab dengan jujur" kata Hendy.


Dengan malas, Jack mengiyakan.


"Tuan Jack, apa anda yang membuat Nona Emma demam?" tanya Hendy.


"Hn? Apa maksudmu?" tanya Jack memasang wajah innocent.


"Semalam, saya melihat anda masuk kamar Nona Emma" kata Hendy.


Jack terhenyak sesaat, namun kemudian ia berhasil mengontrol dirinya untuk tetap tenang.


"Lalu?" tanya Jack


"Haruskah saya menjelaskannya?" tanya Hendy.


"Kalau iya, memangnya kenapa? Kau ada masalah?" tanya Jack balik, tak ada raut bersalah sedikit pun di wajahnya.


Hendy naik darah, ia menenangkan diri dengan menghela nafas. Berusaha bersabar dengan tuan muda yang menyandang marga William tersebut.


"Bagaimana kalau nyonya dan tuan besar tahu?" tanya Hendy lagi.


"Biarkan saja. toh ini juga salah mereka, aku kan sudah menolak dia tinggal disini, ayah dan ibu saja yang bersikeras" jawab Jack.


"Kenapa anda melakukannya?" tanya Hendy.


"Karena aku membencinya" jawab Jack tegas."Tidak masalah anda membencinya, tapi memperlakukan Nona Emma seperti itu salah. Bagaimana kalau keluarga Nona Chloe tahu? Anda yang menjadi calon tunangan putri mereka ternyata tega pada seorang gadis" jelas Hendy.


"Dan bagaimana kalau mereka membatalkan pertunangannya?" lanjut Hendy.


Jack terhenyak. ia mengerti maksud perkataan Hendy barusan. Itu bukan tidak mungkin, tapi sangat mungkin mengingat Chloe yang selalu mengatakan tidak setuju dengan sikap Jack pada Emma.


~ Flashback End ~


Jack memukul kaca di depannya hingga membuat kaca tersebut retak. Matanya berkilat, amarah yang amat sangat menghampirinya. Ia menyeringai.


"Emma Michelle. Kau benar-benar mengusik ketentramanku. Sudah berapa kali aku menyiksamu tapi kau bagai penyakit yang tak tersembuhkan. Selalu berdiri seolah tak terjadi apa-apa. Cih! Harusnya tadi aku membiarkanmu saja! tapi tangan ini dengan seenaknya menggenggammu dan menarikmu pulang. Dan juga, kalau tidak karena Hendy, mungkin aku tidak akan melakukannya. Jangan senang dulu karena aku bersikap baik padamu sekali. esok dan esoknya mungkin akan lebih kejam, Emm" kata Jack dengan tajam.


******


Malam semakin larut. Hujan terus mengguyur kota Fiens. Di sebuah kamar yang hanya diterangi cahaya remang-remang, Emma mengeringkan badan kemudian membuka buku hariannya. Ia mengambil sebuah pena dan mulai menulis. Denting jam pun terus berputar menghiasi suasana kamar Emma. Sang gadis bersurai pirang tersebut menyudahi acara menulisnya dan mulai membaringkan diri di ranjang. Emma menarik selimut hingga menutupi sebagian wajahnya. Angin masuk melalui celah-celah pintu seolah menyapa sang pemilik kamar yang baru saja kembali dari aksi kaburnya yang tentu saja gagal karena seseorang. Ia pun meringkuk memikirkan apa yang baru saja terjadi dan dialaminya.


"Jack membawaku pulang? Apa ini tidak salah? Bukankah Jack membenciku?" tanya Emma dalam hati.


"Mama, aku sungguh tidak mengerti. Hari ini aku melihat sisi lain darinya" kata Emma dalam hati kemudian terpejam.


******


2 hari kemudian. Seperti biasa, Jack turun sebelum sampai di sekolah. Nathalie dan Hendy tidak ambil pusing dengan hal tersebut. Tapi berbeda dengan Emma, entah kenapa ia merasa kecewa? Tapi kenapa? Ia hanya memandang punggung Jack yang mulai menjauh.


Emma turun dari mobil diikuti Nathalie. Mereka berpisah dikarenakan Nathalie masih berada di bangku SMP. Nathalie meminta Emma untuk berhati-hati dan menjaga diri mengingat Emma baru sembuh dari demam. Emma hanya tersenyum datar seolah menjawab iya. Emma melangkah menuju sekolah yang sudah beberapa hari ini tidak ia kunjungi. Ketika di koridor sekolah, Emma dihadang oleh para fansnya. Siapa lagi kalau bukan Jason, Nate dan Gabriel.


"Emma! Dari mana saja kau?" tanya Jason seraya meraih tangan kanan Emma yang masih terperban.


Nate meraih tangan kiri Emma. diperlakukan layaknya tuan putri, Emma jadi canggung dan malu. Wajahnya sudah memerah.


"Kami merindukanmu" kata Nate.


"Apakah kau baik-baik saja? Emma?" tanya Gabriel.


Emma mengangguk. Kemudian Gabriel mengeluarkan sebuah kotak besar yang entah ia dapat dari mana, dan disodorkannya pada Emma. Emma tercengang, ia heran apa isi kotak tersebut.


"Kami mendengar kau sakit, jadi kami sengaja membuatkan makanan bergizi untukmu" kata Jason.


"Kami juga menekankan empat sehat lima sempurna" lanjut Nate.


Emma melepaskan tangannya dari genggaman dua orang fans anehnya itu dan mengambil kotak bekal tersebut.


UKH!


Sangat berat. Emma mengernyitkan keningnya, ia ingin bertanya pada ketiga laki-laki ini tapi tidak memungkinkan untuk dirinya menulis note. Sementara ketiga laki-laki dihadapannya hanya meringis tidak jelas kemudian pamit.


"Mereka memintaku membawa ini sendirian?" tanya Emma dalam hati.


Dengan susah payah Emma membawa kotak bekal yang super duper besar tersebut. Emma mengeluh dalam hati. Di depan kelas, ia berusaha membuka pintu dengan menggunakan kakinya, tapi seseorang tiba-tiba membukanya. Dan itu adalah Brian. ia terkejut, dan diam. Emma yang merasa dihalangi mengerutkan dirinya. Ia membentak-bentak Brian dalam hati, meminta Brian untuk segera menyingkir, namun entah apa yang sedang menyambar diri seorang Brian Petrenkov, ia tidak bergeming. Emma menghela nafas dan menendang kaki Brian membuat pemuda itu mengaduh kesakitan.


"Apa yang kau lakukan Emma? sakit tahu!" kata Brian sembari mengelus-elus tulang keringnya.


"Kau tidak lihat?" tanya Emma dalam hati.


Brian sadar dan segera mengambil alih kotak besar di tangan Emma. ia mengantarkan kotak tersebut ke meja Emma.


"Emma, apa ini?" tanya Brian.


"Bekal" jawab Emma dalam notenya.


"EM!" teriak seorang gadis dengan suara yang melengking.


Emma menoleh, Mugi datang dan langsung memeluknya. Ia heran tak alang kepalang kenapa temannya itu memeluknya. Emma menautkan kedua alisnya.


"Em, kau baik-baik saja? aku khawatir. Aku tidak tahu bagaimana menghubungimu dan tidak tahu dimana kau tinggal. Aku sangat khawatir sampai berpikir kau pindah sekolah" rengek Mugi.


"Aku baik-baik saja, Mugi" tulis Emma.


"Sepertinya kau terlalu banyak menonton drama, Mugi. Pagi-pagi sudah sedramatis ini, ya ampun." kata seseorang ikut nimbrung.


"Luke! Sejak kapan kau datang?" tanya Mugi kesal.


"Baru saja" jawab Luke dengan tampang innocent.


"Oh ya, Emma, apa itu. baunya sangat menggoda. Apa ini bekal buatanmu?" tanya Luke.


"Aku mendapatkannya dari Jason dan kawan kawan" jawab Emma dalam note.


"APA? Jangan dimakan!" cegah Luke dan segera memeluk kotak bekal, mencegah Emma untuk memakannya.


"Hei, Luke. Menyingkirlah atau bekal itu akan bercampur dengan keringatmu" ledek Mugi membalas Luke.


Luke memicingkan matanya. Menatap Mugi tajam, ia kesal. Mugi hanya tersenyum dan memberi kode untuk menyingkir.


"Luke, jaga sikapmu" kata Brian dan Luke pun menyingkir.


"Hei, teman-teman. Bagaimana kalau kita makan bekal ini bersama nanti?" tawar Emma dalam note.


"Makan bersama?" kata Luke.


"Dengan Emma?" lanjut Brian.


Seketika kedua pemuda itu menganggukkan kepala dengan mantap.


******


Di kebun belakang sekolah.


Jack tengah melamun sembari merebahkan dirinya di kursi dengan tas sebagai alas bantal. Ia hanya menatap langit pagi dengan pandangan menerawang. Semilir angin pagi berhembus memasuki jas sekolahnya. Jack menghela nafas. Tiba-tiba Chloe muncul di hadapannya.


"Apa yang kau lamunkan pagi-pagi?" tanya Chloe.


"Memikirkanmu" jawab Jack berbohong.


Wajah Chloe bersemu merah.


"Mungkin" gumam Jack lirih hingga tak terdengar oleh gadis bersurai silver yang adalah kekasihnya tersebut


"Ih, Jack. Jangan menggodaku. Tapi sebenarnya apa yang kau lakukan disini?" tanya Chloe.


"Aku sudah menjawabnya kan, Chlo?" tanya Jack balik.


"Bukan itu maksudku" jawab Chloe.


"Lalu? Jawaban apa yang ingin kau dengar?" tanya Jack.


"Eh? Itu . . ." Chloe bingung harus menjawab apa, karena ia tidak menyangka Jack bertanya demikian.


Jack bangun, ia mendudukkan dirinya. Dengan lembut, ia mengulurkan kedua tangannya meraih kedua lengan Chloe. Ditatapnya Chloe dengan tajam, tapi bukan pandangan tajam yang biasa ia lontarkan pada Emma melainkan tatapan tajam seakan penuh kasih sayang.


"Dan apa yang kau lakukan pagi-pagi disini? Apa kau ingin menggodaku?" tanya Jack dengan senyuman tipis di bibirnya.


Lagi-lagi wajah Chloe dibuat memerah oleh Jack. melihat reaksi Chloe, Jack terkekeh, ditariknya Chloe mendekat. Chloe sudah memejamkan mata, menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Tapi . . . tidak terjadi apapun. Hanya terdengar suara Jack yang terkekeh, Chloe membuka mata dan merasa malu karena ketahuan mengharapkan sebuah ciuman dari Jack. Chloe mendorong Jack dengan kesal.


"Sudah kubilang jangan menggodaku!" hardik Chloe.


"Tapi kau tergoda kan?" tanya Jack seraya tersenyum.


"Ih, hentikan itu" gerutu Chloe.


"Padahal aku berniat menawarimu untuk makan siang bersama. Tapi tidak jadi, aku akan membaginya saja dengan Cheryl." kata Chloe cemberut.


"Apa? Kau tega padaku, Chlo?" tanya Jack.


"Kenapa tidak?" tantang Chloe.


"Heh? Begitu ya?" kata Jack tersenyum penuh arti, kali ini ia segera menarik Chloe dan . . .


CUP


Sebuah kecupan manis mendarat di pipi kanan Chloe. Jack sadar dan segera menjauh meninggalkan Chloe yang masih mencerna apa yang baru saja kekasihnya itu lakukan. wajahnya sudah sangat memerah. Pasalnya, Jack tidak pernah menciumnya, ia selalu menjaga dan tidak mau menyentuh seorang gadis yang belum menjadi haknya. Tapi entah apa yang sedang menyambar hati seorang Jack William hingga berbuat seperti itu.


******


Jam terus berputar hingga tak terasa sudah menunjukkan pukul 12.00 siang waktu setempat. jam istirahat telah tiba. Seperti yang dijanjikan Emma pada ketiga temannya, ia membuka bekalnya dan memberi kode untuk mendekat. Brian yang posisinya paling jauh harus mengeluarkan sedikit tenaga agar tidak tertinggal dengan Luke yang sudah berhasil merebut makanan pertama di kotak bekal Emma. Nick tak tinggal diam, ia tentu mengekori sepupunya dan ikut makan. Darren yang melihat ramai-ramai di meja Emma, tertarik. Ketika ia mendekat dan melihat makanan super mewah, matanya berbinar-binar, air liur seakan menetes dari mulutnya. Emma menyodorkan makanan dan tanpa ragu Darren langsung menyambarnya.


Sedangkan Jack? ia hanya memandang kesal kearah teman-temannya yang tengah tertawa riang sembari makan bekal milik Emma, yang menurutnya entah Emma dapat dari mana. Dengan malas ia pun berdiri, melewati mereka. Darren memanggilnya dengan mulut yang penuh dengan makanan.


"Kau mau kemana? Kau tidak ikut makan? Ini enak" kata Darren.


"Makan? Lebih baik aku kelaparan dari pada harus makan bersama dia" jawab Jack ketus dan pergi.


Semua yang semula mengunyah makanan, menghentikan aktivitas mereka untuk sejenak. dilihatnya Emma, gadis itu tertunduk mendengar penuturan Jack berusan. Lagi-lagi Emma merasa kecewa. Ia bingung kenapa ia merasakan hal yang sama lagi. Tapi kenapa? Tidak tega melihat Emma yang seperti itu, Brian berusaha menghiburnya.


"Tenanglah, Jack tidak bermaksud. Dia hanya malu saja. benar kan?" kata Brian.


"Hmm . . . Jack memang seperti itu. biarkan saja" kata Luke.


Emma mengangkat kepalanya, memaksakan diri untuk tersenyum. Tapi ia tidak yakin senyuman seperti apa yang diperlihatkannya. Walau terkesan hambar, tapi entah kenapa semua ikut tersenyum. Mereka merasa lega.


"Aku senang, walaupun hambar Emma mulai tersenyum sekarang" kata Brian dalam hati.


Jack berjalan menuju kantin. Tapi suara seseorang menghentikan langkahnya. Siapa lagi kalau bukan Chloe Valentine. Dengan wajah yang berbinar, bak mentari di pagi hari, Chloe mendekat dengan mengacungkan kotak bekalnya. Seakan memberi kode untuk meminta Jack makan siang bersamanya.


Mereka makan siang di atap sekolah. Terik matahari dan hembusan angin menghiasi moment kedua pasangan muda ini. Awan putih berarah mengikuti arah angin dan bergejolak di atas sana. Jack melirik kotak bekal yang dibawa kekasihnya dan mendengus.


"Bukankah kau bilang ingin membaginya dengan Cheryl?" tanya Jack.


"Ih, aku kan hanya bercanda. Ini aku buat khusus untukmu, kau tahu!" kata Chloe menggembungkan pipinya.


Jack meraih sumpit dan mengambil telur gulung.

__ADS_1


"Lumayan" fikir Jack


"Kita sudah lama tidak makan bekal bersama kan, fiuh. Aku sangat merindukan suasana ini" kata Chloe.


"Hmm" jawab Jack masih mengunyah telur gulungnya.


Beberapa saat kemudian.


"Hei, Jack. bagaimana kalau suatu saat tiba-tiba kau tidak mencintaiku?" tanya Chloe.


Jack terbelalak. Ia menghentikan kunyahannya. Ditelannya telur gulung yang belum sempurna di kunyah itu.


"Apa yang kau bicarakan? Tentu itu tidak mungkin" jawab Jack pasti.


"Benarkah? Tapi kenapa aku merasa seperti itu?" tanya Chloe dengan raut wajah sedih.


"Itu karena kau yang terlalu banyak berpikir" kata Jack.


"Tapi akhir-akhir ini perasaaku tidak enak. Seakan akan terjadi sesuatu pada hubungan kita" kata Chloe.


Jack mendaratkan tangannya ke kepala Chloe, diusapnya kepala sang gadis dengan lembut guna menenangkannya. Wajah Chloe memerah, matanya berkaca-kaca. Angin bertiup menyapa keduanya. Seakan sudah tenang, Chloe menurunkan tangan Jack dan menggenggamnya erat.


"Ya, kau sudah berjanji sebelumnya Jack, bahwa kau tidak akan meninggalkanku" kata Chloe dalam hati.


******


Pulang sekolah. Emma kembali mengikuti klub bersama Darren setelah berpisah dengan Mugi dan Luke yang ikut klub sastra. Kenapa Luke ke klub Sastra? Karena dari awal dia memang anggota mereka dan ia hanya menjadi anggota tidak tetap klub taekwondo. Di perjalanan menuju klub, Darren bertanya pada Emma.


"Hei, Emma. kenapa Jack membencimu?" tanya Darren.


Emma terhenyak. ia bingung harus menjawab apa, karena tidak mungkin Emma mengatakan kalau Jack membencinya karena tinggal menumpang di keluarganya dan sudah mengusik ketentramannya. Darren mengulangi pertanyaannya.


"Kenapa?" tanya Darren.


"Itu, aku tidak tahu" tulis Emma.


"Apa karena kau tinggal di rumahnya?" tanya Darren lagi.


Emma tentu terkejut. Ia berhenti berjalan dan menoleh menatap pemuda berambut raven tersebut. Darren yang menyadari perubahan ekspresi Emma, menghela nafas.


"Begitu ya . . ." kata Darren pasrah, sepertinya ia tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan.


"Dari mana kau tahu?" selidik Emma dengan tulisan di note.


"Jack yang mengatakannya" jawab Darren singkat.


"Jack mengatakannya?" tanya Emma dalam hati.


Darren hanya mengangguk.


******


Klub Basket.


Brian membagi dua tim untuk berlatih. timnya dan tim Jack. Entah kenapa kali ini, Jack terlihat bersemangat atau bisa dikatakan melampiaskan emosinya? Ia bahkan tidak mengoper bola ke teman satu timnya dan hanya bermain sendiri berhadapan dengan sang ketua. Brian tak gentar, ia menghadang Jack dan . . . berhasil merebut bola di tangan Jack. mereka bermain sengit, tapi pada akhirnya tim Jack kalah dengan selisih 2 skor."Permainanmu bagus, Jack" kata Brian mengulurkan tangannya.


Jack menjabat tangan Brian.


"Kau juga, Ketua" kata Jack menatap Brian penuh arti.


"Istirahat!" perintah Brian.


Semua merebahkan diri. Sementara Jack dan Brian duduk berdua di kursi. Brian memberikan sebotol air pada Jack dan diterima. Air mengalir melewati rongga tenggorokan dan berhasil melepas dahaganya pemuda bersurai karamel itu.


"Ketua, kurasa kau dekat dengan anak baru itu" tanya Jack datar tapi setengah mencibir.


"Begitukah?" jawab Brian setengah bertanya.


"Kenapa kau baik sekali padanya?" tanya Jack.


"Entahlah" jawab Brian berbohong "Dan kenapa kau terlihat membencinya?" tanya Brian.


Jack terdiam untuk sesaat.


"Karena aku memang tidak suka" jawab Jack singkat.


Brian mengernyitkan dahinya. Tanda ia kurang mengerti, karena alasan Jack terkesan klise. Tapi Brian bisa mengerti karena di dunia ini tidak perlu alasan untuk membenci seseorang begitu pula dengan mencintai.


******


Klub Taekwondo.


Lagi-lagi Jason dan kawan kawan menempel pada Emma. melihat tingkah para anggotanya, Earlene tak ambil pusing. Karena ia juga sedang tidak mood latihan, ia lebih memilih menikmati Strawberry cake yang dibawanya hari ini.


Di luar pagar sekolah, sebuah mobil mewah terparkir. Seorang pria paruh baya dengan rambut berwarna ivory memandang lekat bangunan sekolah berlabel Chorea Academy tersebut. Sang supir yang berwajah sedikit menyeramkan dengan tindik di hidungnya melirik kaca spion.


"Dia ada disana, Tuan" kata sang supir.


"Begitukah?" kata sang majikan dengan nada pertanyaan semi penyataan.


******


Para siswa yang sudah selesai menghadiri klub keluar dari gerbang sekolah. sekolah sudah sepi. Sang pria paruh baya tersebut melihat wajah mereka dari balik kaca, seolah mencari seseorang.


Emma keluar bersama Earlene, Darren, Jason dan kawan-kawan. Tapi mereka berpisah karena arah rumah yang berlawanan. Sedangkan Darren ia mengatakan akan mampir dulu ke rumah Mugi untuk membahas cookies yang akan mereka buat dipelajaran Miss Marie minggu depan. Emma melihat teman-temannya itu hingga tak terlihat. Emma berbalik arah dan mulai berjalan ke arah menuju rumah kediaman William.


Pria paruh baya melihat Emma tajam. Ia bahkan memicingkan mata guna meyakinkan dirinya kalau penglihatannya adalah benar. Ia terhenyak dan membuka pintu mobil tepat saat Emma lewat di samping mobilnya. Dan betapa terkejutnya Emma melihat siapa sosok yang kini berada di hadapannya.


"Emma?" panggil pria paruh baya.


"Ayah?" jawab Emma dalam hati yang bergetar.


"Emma, itu kau?" tanya sang ayah berusaha mengulurkan tangannya, namun Emma menepisnya.


Sang ayah terlihat tidak terkejut.


"Emma, pulanglah bersama ayah" pinta sang ayah tiba-tiba.


Emma menatap ayahnya tajam dengan pandangan seolah membunuh. Kali ini, sang ayah terhenyak melihatnya. Pasalnya ia tidak pernah melihat Emma menatapnya seperti itu.


"Emma" panggil Sebastian.


Emma menyingkir, ia tidak mau tangan ayahnya menyentuhnya. Karena itu mengingatkannya pada memori yang tidak ingin ia ingat. Sang ayah mendekat dan mendekat, Emma yang semula mencoba untuk kuat, lama kelamaaan menjadi takut, ia merasa ayahnya akan menyeretnya kemudian menyiksanya. Emma gemetaran, hingga tinggal beberapa centi lagi tangan Sebastian menyentuh Emma, seseorang berteriak.


"Hentikan!" kata seseorang.


Seseorang itu adalah Brian. Ia datang tepat waktu layaknya seorang pangeran yang menyelamatkan sang putri dari mara bahaya. Brian mendekat dan menghalangi Sebastian untuk menyentuh Emma. Emma berlindung di balik punggung Brian dan memegangi lengan jas sekolah pemuda itu. Brian dapat merasakan Emma yang gemetar.


"Maaf. Tapi Emma tidak ingin anda mendekat. Jadi saya sarankan jangan mendekatinya" kata Brian memperingatkan.


"Kau tidak tahu siapa aku, nak?" tanya Sebastian datar.


"Haruskah saya tahu? Yang saya tahu Emma tidak ingin anda mendekat dan melihat anda. Jadi jangan mendekat dan saya harap anda pergi" kata Brian mengusir ayah Emma.


Parameter kemarahan Sebastian naik seketika.


"AKU AYAHNYA!" bentak Sebastian.


"DAN SAYA TEMANNYA!" bentak Brian tak mau kalah.


"Emma, apa ini temanmu? Sungguh mengecewakan. Dari dulu kau selalu memilih teman yang salah. Lihatlah! Dia bahkan tidak memiliki sopan santun!" kata Sebastian.


Emma tambah bergetar, ia mengelengkan kepala. Menidakkan perkataan sang ayah.


"Kumohon hentikan tuan, atau saya bisa mengadukan anda atas tuduhan ketidaknyamanan?" ancam Brian.


Sebastian menghela nafas, ia menjauh dan masuk ke mobilnya. Meninggalkan Emma dan temannya. Sepeninggalan Sebastian, Emma tidak kuat berdiri dan terduduk, Brian tentu terkejut, ia segera berjongkok dan menanyakan apakah Emma baik-baik saja. namun tak ada jawaban, mata Emma tengah menerawang, sekujur tubuhnya bergetar hebat, bahkan matanya mulai berkaca-kaca. Tiba-tiba . . .


TAP


Brian mendekap Emma, seolah mengisyaratkan untuk tenang. Emma tak bergeming, Brian mempererat dekapannya, hingga Emma merasa rileks dan membenamkan wajahnya di dada bidang milik Brian. Sedangkan tangan Brian yang satunya membelai lembut rambut Emma.


"Emma, tenanglah. Semua sudah baik-baik saja. aku ada disini" kata Brian.


Jack keluar dari gerbang, ketika ia berbelok. Ia melihat Brian yang tengah mendekap Emma. Mata Jack mengkilat, kebencian kembali mendatanginya. Ia menggenggam erat tangannya dan ingin sekali rasanya mendorong Emma ke jalanan dan meninju wajah Brian.


"Apa yang mereka lakukan? apa gadis itu berakting lagi? bersikap sok lemah dan mengeluarkan air mata buaya? Sungguh akting yang luar biasa. Tapi kau tidak bisa menipuku. Sekarang nikmatilah simpati yang kau dapat selagi bisa" kata Jack dalam hati.


******


Matahari bergerak menuju ufuk barat. Langit berwarna jingga, sebuah pemandangan yang sangat indah di sore itu. di pinggir sungai, duduklah kedua SMA Chorea Academy. Disana lah sekarang Emma dan Brian berada. Emma duduk sembari memeluk lutut, matanya menatap air yang beriak di sungai dengan pandangan sendu. Ia kembali mengingat peristiwa yang baru saja terjadi hingga perlahan sorot jingga menyinari wajahnya. Wajah cantik yang sangat terluka, membuat siapapun yang melihatnya ingin menyentuh dan mendekapnya erat. Setidaknya itu lah sekarang yang dirasakan Brian. Tak tahu harus mengatakan apa atau bertanya bagaimana, ia hanya mampu menatap dari samping wajah gadis yang akhir-ahir ini masuk ke kehidupannya. Mereka tetap seperti itu selama beberapa waktu. Perlahan, terdengar suara hembusan nafas yang berat dari Emma. Emma mengambil note dan menuliskan sesuatu.


"Terima kasih" tulis Emma.


"Tidak apa, aku ikhlas" jawab Brian.


"Maaf, selalu merepotkanmu" kata Emma lagi dalam note.


"Jangan dipikirkan, aku tidak merasa direpotkan kok" jawab Brian seraya tersenyum.


"Terima kasih, aku tak tahu harus berterima kasih dengan cara bagaimana" tulis Emma.


"Hanya jangan pernah menahan apa yang kau rasakan di hadapanku" jawab Brian seraya mengalihkan pandangannya ke sungai "Menangislah kalau kau ingin menangis, marahlah kalau kau ingin marah atau kau bisa memukulku. Kalau kau butuh sandaran, aku akan dengan senang hati meminjamkan bahuku padamu" lanjut Brian dengan mulus.


Kata-kata itu seakan mengguyur hati seorang Emma Michelle. Hatinya yang baru saja diterpa awan mendung, menjadi terang seketika. Mata Emma berkaca-kaca, wajahnya mulai memerah dan dengan perlahan diraihnya tangan Brian. Membuat sang pemuda spike amber itu terkejut.


"Terima kasih telah mau berada disampingku, Brian. Aku merasa beruntung bisa bertemu denganmu" kata Emma dalam hati.


"Emma" kata Brian pelan.


******


Di kediaman William.


Nathalie pulang dengan wajah lesu, ia berjalan sembari menyeret tasnya. Dengan sigap, Hendy menawarkan diri untuk membawa tas nona mudanya itu, Nathalie melemparnya dan sang pelayan pun menangkapnya. Kalau seperti ini, jelas sekali ia adik Jack William. Tapi walaupun demikian, ia tetap menyapa sang kakak yang tengah asyik membaca sebuah buku sambil merebahkan diri di sofa.


"Kak tidak baik membaca buku sambil tiduran" kata sang adik dan melangkahkan kakinya menuju lantai atas.


"Berisik!" kata Jack.


"Kakak yang berisik" balas Nathalie dengan lesu.


Jack mengernyitkan alisnya. Ia menghela nafas berusaha bersabar. Tiba-tiba, pintu terbuka dan seseorang masuk. Itu adalah Emma. merasakan kehadiran seseorang yang sangat ia benci, mata Jack sedikit menyipit. Diliriknya jam dan sudah menunjukkan pukul 06.00 PM waktu setempat. Sudah hampir menjelang malam.


"Kalau tidak niat pulang tidak usah pulang" sindir Jack.


Emma berhenti sejenak. matanya yang semula sudah baik-baik saja, berubah menjadi sendu lagi. Dengan berat, Emma melangkahkan kakinya, berusaha tidak memperdulikan perkataan Jack barusan.


"Dasar pencari kambing hitam" kata Jack lagi.Mendengar penuturan Jack lagi, hati Emma serasa tersayat. Giginya bergetar.


"Masuk sana. Kau mengganggu udara yang kuhirup" kata Jack dengan dingin.


Emma menuruti apa yang Jack katakan. Sepeninggalan Emma, Jack meletakkan bukunya, dipandanginya langit-langit rumahnya. Bola matanya berputar dan ia menautkan kedua alisnya.


"Persiapkan dirimu, parasit!" kata Jack dalam hati.


Malamnya, setelah makan malam, Emma kembali ke kamar. Ia menghidupkan komputer dan mencari resep membuat cookies. Melihatnya saja entah kenapa membuat Emma bersemangat, seolah ia melupakan kejadian hari ini. Dengan segera ia mencatatnya.


"Baiklah, dengan ini aku bisa berterima kasih pada Brian, berjuanglah! Emma!" kata Emma menyemangati dirinya yang tiba-tiba bersemangat.


******


Seminggu kemudian.


Kelas 1-5 pelajaran Miss Marie. Semua siswa sudah bersiap menuju ruang praktek tak terkecuali Jack yang satu tim dengan Emma. Miss Marie memberi pengarahan bagaimana cara menggunakan alat dan sebagainya, kemudian meminta semuanya mengeluarkan bahan yang dibawa. Setelah selesai memberi pengarahan, sang guru cantik bersurai silver tersebut meminta semuanya mulai.


Emma mengambil celemek dan mengenakannya. Sementara Jack, dengan enggan ia mengenakan celemek yang menurutnya sangat tidak cocok dengan dirinya. Melihat Jack, tiba-tiba bibir Emma sedikit tertarik, ia pun tersenyum. Jack tentu tidak suka, ia mendengus. Emma mulai bersiap dan sang partner hanya melihat saja tanpa berusaha membantu. Dari jauh, Brian melihatnya.


"Apa? Kenapa?" tanya Nick melihat kemana Brian melihat.


"Tidak ada" elak Brian.


Nick hanya mengangkat bahunya. Tak mau ambil pusing dengan sikap sang sepupu.


"Apa itu?" tanya Jack "Apa yang kau masukkan?" tanya Jack lagi.


"Telur" jawab Emma dalam hati.


"Apa itu? bukan kacang kan?" tanya Jack memastikan, ia sedikit mengernyitkan dahi seraya mendekati Emma dengan menyilangkan kedua tangan di dada, memperhatikan campuran bahan di mangkuk.Emma menoleh menatap Jack, namun kemudian ia menggeleng. Jack menghela nafas, tiba-tiba . . .


PLAK


"Hoi! Jangan pukul kepalaku!" pekik Jack seraya menoleh, tapi didapatinya sang guru yang kini tengah dalam mode iblisnya. Aura hitam mengelilingi Miss Marie, membuat orang yang berada di sekitarnya bergidik ngeri. Jack menelan ludah.


"Jack. Ini tim, bukan individu. Kalau seperti ini aku tidak akan segan-segan untuk memberi nol besar pada nilai praktekmu" kata Miss Marie dengan menekankan setiap katanya.


"Baiklah. Baiklah" jawab Jack dengan terpaksa atau kalau tidak, ia bisa mendapat pukulan setara dengan Earlene.


Mendengar itu, Miss Marie kembali ke mode normal. Ia tersenyum ramah sambil menepuk kedua tangannya.


"Nah. Itu baru muridku" kata Miss Marie kemudian meninggalkan tim Jack.


"Hei, apa yang bisa kubantu?" tanya Jack.


Emma mempraktekkan cara mengaduk, dengan setengah mood Jack mengiyakan dan mengambil alih pekerjaaan mengaduk adonan. Awalnya Jack kesal, tapi pekerjaan mengaduk ternyata menyenangkan, ia memutar-mutar adonan layaknya mainan, kedua alisnya bertaut, ia semakin serius dan serius hingga Emma menepuk bahunya. Sang empunya tersentak dan menyudahi acara main-mainnya.


"Apa?" tanya Jack kesal.


Emma mengambil kembali adonan yang telah Jack aduk. Emma sedikit berpikir, rasanya ada yang kurang. Dicicipinya adonan. Melihat itu, Jack penasaran, ia mendekati Emma lagi dan semakin dekat, matanya tak lepas untuk tidak memperhatikan gadis bersurai pirang itu.


"Garam" kata Emma dalam hati dan memasukkan sedikit garam pada adonan kemudian diaduknya lagi.


Jack tak melepaskan pandangannya, segala gerak-gerik Emma benar-benar ia perhatikan secara detail.


"Apakah ini si parasit?" tanya Jack dalam hati.Emma mencolek sedikit adonan dengan jari telunjuknya. Dipandanginya adonan itu dengan sesaat, melihat itu Jack menaikkan satu alisnya. namun tiba-tiba dengan perlahan Jack meraih tangan Emma dan mencicipi adonan di jari Emma. ia mengernyitkan dahi, merasakan apa yang kurang dari adonan mereka. sementara Emma tentu terkejut, matanya membulat, sedikit rona tipis muncul di kedua belah pipinya.


"Hmm . . . ini enak" kata Jack dengan wajah innocent.


Bibir Emma sedikit terbuka saking terkejutnya. Jack belum sadar dengan apa yang tengah ia lakukan. dengan segera Emma menarik tangannya dan Jack terdiam. Ia mengerutuki dirinya yang bisa-bisanya terbuai dengan suasana. Sementara Emma, dengan gemetar ia mencuci tangannya, dipandanginya jari telunjuk yang baru saja disentuh oleh bibir Jack. Wajahnya memanas, ia menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha menyadarkan diri.


"Cih! Sialan!" gumam Jack seraya menyeka bibirnya.


Jack membuang muka, berusaha mengalihkan dirinya untuk tidak melihat sang gadis bersurai pirang yang sangat ia benci. Tak sengaja matanya melihat tim lain, tim Luke dan Jeannette. Mereka terus berdebat karena Jeannette yang sebentar-sebentar membuka ponsel, membuat Luke harus bekerja sendirian, mereka terlibat adu mulut. Jack hanya tersenyum melalui hidung, menertawakan tingkah temannya itu. sekilas matanya melihat ponsel milik Jeannette, dan seperti mendapat klik di otaknya, Jack menyeringai.


Cookies sudah matang. Semua siswa membungkusnya dan maju satu persatu guna menilaikan hasil masakan mereka. Emma maju diikuti Mugi dan yang lain. Darren mendekati Jack.

__ADS_1


"Oi! **** Head. Bagaimana timmu?" tanya Darren.


"Apanya?" tanya Jack pura-pura bodoh "Dan jangan menyebutku seperti itu, Princess." lanjut Jack.


"Baiklah, Jack" kata Darren membenahi.


"Bagaimana bekerja satu tim dengan Emma?" tanya Darren.


"Tidak buruk" jawab Jack ketus.


"Itu artinya kau menyukai satu tim dengannya?" selidik Darren.


"Aku tidak bilang suka kan, hanya tidak buruk saja" jawab Jack.


"Hoh? Begitukah?" goda Darren.


Jack emosi, ia sedang dalam mood tidak baik gara-gara aksi mencicipi adonan di tangan Emma tadi dan sekarang dengan tidak tahu dirinya Darren menggodanya. Hal itu sudah cukup untuk menaikkan parameter kemarahan Jack, ditariknya dasi Darren.


"Tutup mulutmu" kata Jack dengan mata yang menajam, membuat Darren mati kutu seketika dan melepaskan cengkraman Jack.


"Eh? Kenapa kalian?" tanya Mugi yang datang tiba-tiba. Ia heran melihat Darren yang merapikan dasi dan empat siku-siku muncul di dahi Jack. Emma datang, ia memandang Mugi seolah bertanya apa yang terjadi, sang sahabat hanya mengangkat bahunya tanda ia tak mengerti.


"Oh ya, Mugi. Bagaimana nilainya?" tanya Darren kemudian mencairkan suasana.


"85" jawab Mugi.


"Kau lihat Jack, tim kami mendapat 85" ledek Darren.


"Cih!" kata Jack kesal.


"Nilai tim Emma lebih tinggi" lanjut Mugi yang membuat Darren langsung Down.


Jack melipat kedua tangan di dada, dengan bangga ia tersenyum jahat pada Darren.


"Tim Emma mendapat nilai 92" kata Mugi.


"APA?" Darren melotot.


"Hoh? Kurasa aku yang menang, Darren" kata Jack dengan sombongnya.


Melihat hal yang jarang dilihat, Emma sedikit tersenyum. Ia tidak pernah melihat Jack seperti itu, selama ini Jack yang selalu dilihatnya adalah Jack yang selalu bicara kasar dan berwajah menyeramkan seolah ingin membunuhnya dalam sekali tatapan. Namun, tiba-tiba Emma ingat. Minggu lalu Brian sudah mengantarkannya ke dokter dan sudah menghiburnya. Dan semalam ia sudah berjanji pada dirinya sendiri akan memberikan cookies pada Brian. Walaupun yah . . . walaupun ada sedikit bantuan Jack.


Emma mendekati Brian.


"Ya Emma, ada yang bisa aku bantu?" tanya Brian.


Emma mengeluarkan notenya.


"Aku ingin memberikan ini padamu. Anggap ini sebagai tanda terima kasihku" tulis Emma."Tidak apa Emma, aku sudah bilang aku ikhlas" kata Brian.


"Kau tidak mau menerima cookiesku?" tanya Emma dalam note.


Tentu Brian salah tingkah, ia tidak ingin membuat gadis di hadapannya itu kecewa. Sebenarnya ia tidak enak hati dengan Jack, karena itu buatan tim mereka. Dan lagi, sepertinya Emma hanya membuat sedikit. Melihat tak ada sisa cookies di meja Emma. Mata Emma berubah sendu, melihat itu dengan segera Brian mengambil cookies dari tangan Emma.


"Terima kasih" kata Brian.


Nick menyikut Brian.


"Hoh, kau menerimanya" goda Nick.


"Berisik" gumam Brian.


Tiba-tiba . . .


"TIDAK!" teriak Luke kemudian segera menghambur ke arah Brian dan merebut bingkisan cookies dari tangannya. Teriakan Luke tentu sukses membuat semua teman satu kelasnya menoleh padanya, tak terkecuali Jeannette yang sangat kesal bercampur malu dengan rekan satu timnya itu.


"Ini untukku, boleh kan Emma?" kata Luke dengan wajah memohon.


"Kembalikan Luke, itu milikku. Lagipula, kalau kau meminta setidaknya sopanlah sedikit" kata Brian dengan sabar.


"Tidak, mana boleh ketua saja yang untung. Aku juga ingin" jawab Luke seperti anak kecil.


"Baiklah, kembalikan. Aku akan membaginya separuh padamu" kata Brian bijak menanggapi sikap Luke.


"Aku ingin bagian ¾" pinta Luke.


"Itu terlalu banyak Luke" kata Brian tertawa renyah.


"Kalau tidak mau ya sudah" kata Luke.


"Kembalikan atau kau akan menyesalinya, Luke!" kata Brian melempar tatapan mautnya.


Luke langsung memberikan bingkisan cookies, Brian mengulurkan tangannya guna merih bungkusan tersebut. Tiba-tiba . . .


TAP


"Ini milikku!" kata Jack yang muncul tiba-tiba.


Spontan Brian dan Luke menoleh. Didapatinya Jack yang sudah berdiri dengan genggaman bingkisan cookies di tangannya. Tanpa mengindahkan keduanya, Jack berlalu meninggalkan kelas yang sudah berakhir. Luke meneriakinya.


"Jack! kembalikan!" teriak Luke.


Di ambang pintu, Jack berhenti. Ia menoleh dan menatap tajam Luke seakan ingin membunuhnya.


"Kau mengatakan sesuatu? Luke?" tanya Jack.


"Tidak Jack, tidak" elak Luke dan Jack-pun pergi.


Sepeninggalan pemuda bersurai karamel itu, Brian menghela nafas. Menahan amarah yang mungkin bisa meledak saat ini juga. Berdebat dengan Luke gara-gara sebungkus cookies dan berujung tidak mendapatkan satu pun. Sungguh kurang beruntung dirinya.


"Maaf Brian. Aku akan membuatkanmu lain kali" kata Emma dengan note.


"Tidak apa, Emma. jangan dipikirkan" jawab Brian menenangkan, padahal ia merasa kecewa.


Jack terus berjalan di koridor sekolah dengan menggenggam cookies hasil buatan timnya. Ia berhenti dan memandangi bingkisan di tangannya.


"Cih! Apa yang aku lakukan!" keluh Jack kemudian membuang bingkisan itu ketempat sampah yang berada tak jauh darinya.


Tak lama kemudian, seseorang berdiri di dekat tempat sampah dimana cookies Emma dibuang. Seseorang itu memungutnya.


******


Esoknya setelah jam pelajaran Mr. James, jam pelajaran Mr. Tedd. Kelas 1-5 mulai bersiap, mereka pergi ke ruang ganti guna mengganti seragam mereka. Emma membuka tasnya, namun ia tidak menemukan baju olahraganya. "Ketinggalan" kata Emma dalam hati.


"Em? Ada apa?" tanya Mugi.


"Bagaimana ini? Bajuku ketinggalan" tulis Emma.


"APA? Yang benar saja! Mr. Tedd tidak akan mengizinkanmu ikut pelajarannya kalau tidak membawanya. Cepat pinjam dikelas 1-1. Aku tunggu di ruang ganti" kata Mugi.


Kelas sudah sepi, Emma keluar kelas dan menuju kelas 1-1. Ya, jam sebelumnya kelas itu mengikuti jam olahraga. Tapi Emma ragu untuk masuk, karena ia tak mengenal satu pun siswa di kelas itu, belum sempat ia mengetuk pintu kelas, suara seseorang menginterupsinya.


"Apa yang kau lakukan? dari kelas berapa kau?" tanya seorang guru dengan bola voli di tangannya.


Emma tersentak, ia ketahuan.


"Kelas 1-5" tulis Emma


"Huh? Kenapa kau tidak segera ganti baju?" tanya sang guru dengan galak, ia tak lain adalah Mr. Tedd.


"Maaf, aku lupa membawanya" jawab Emma dengan notenya.


"Kau bilang apa?" teriak Mr. Tedd.


"Pergi! Jangan ikut jam pelajaranku! Aku tidak memiliki murid yang tidak disiplin" kata Mr. Tedd mengusir Emma.


Dengan lemas, Emma menuruti perkataan sang guru.


"Tunggu. Setelah ini, aku akan menghukummu. Jadi jangan pergi kemana-mana dan berdiamlah di kelas" kata sang guru.


Emma melangkahkan diri menuju kelas, sekilas ia melihat Jack keluar dari kelas tapi ia menghiraukannya. Emma sedang tidak mood karena baru seminggu menjadi murid baru, ia sudah mendapat masalah. Ia menghela nafas panjang. Di kelas, ia hanya duduk. Kelas sangat sepi. Di luar sana, terdengar suara teriakan teman-temannya yang tengah berolahraga. Emma mengerutuki dirinya sendiri yang bisa-bisanya menjadi pelupa. Hembusan angin masuk melalui jendela yang terbuka, meniup rambut gadis pirang dan membuatnya menari-menari. Emma menyangga rambutnya di telinga, namun angin kembali meniupnya. Emma mengeluarkan sebuah gantungan berbentuk seperti jimat berwarna merah, ia memandangi gantungan itu.


"Terima kasih, walaupun nanti aku akan dihukum, tapi entah kenapa hatiku bisa tenang" kata Emma dalam hati.


******


Bel berbunyi. Pergantian jam pelajaran. Para siswa kelas 1-5 mulai gaduh masuk kelas. Jeannette dengan segera menuju bangkunya, mencari ponsel untuk segera mengirim pesan pada sang kekasih. Namun, tidak ada. Ponselnya tidak ada.


"Ponselku" kata Jeannette.


"Kenapa?" tanya temannya.


"Ponselku tidak ada. Bagaimana ini? Itu pemberian Bratt, satu-satunya di dunia ini" kata Jeannette mulai panik.


"Kapan terakhir kali kau melihatnya?" tanya temannya lagi.


"Sebelum jam pelajaran Mr. Tedd, aku menaruhnya di tas, tapi tidak ada. Bagaimana mungkin hilang? Ponsel tidak memiliki kaki kan?" jawab Jeannette.


"Kenapa? Kenapa?" tanya yang lain.


"Ponsel Jeannette hilang!" jawab teman Jeannette dengan suara keras.


"Hilang?" semua heran.


"Siapa yang terakhir kali keluar kelas?" tanya yang lain.


Seketika semua mata melihat ke arah Emma. Emma heran, kenapa semuanya menatapnya curiga, ia tidak melakukan apapun hingga harus ditatap seperti itu. salah satu dari mereka mendekati Emma.


"Emma, kau tidak ikut jam olahraga kan? Apa kau melihat seseorang mengambil ponsel Jeannette?" tanya teman sekelas Emma.


Emma menggeleng..


"Benarkah? Jadi hanya kau sendiri di kelas?" tanyanya lagi.


Emma mengangguk.


"Apa kau yang mengambilnya?" tuduhnya.


Emma langsung menggeleng. Ditulisnya sebuah note.


"Aku tidak mengambilnya" tulis Emma.


"Hanya kau yang berada di kelas, jadi siapa lagi? Semua kelas sedang di tengah pelajaran, tidak mungkin mereka masuk kesini" kata teman sekelas Emma berusaha memojokkan Emma, Jeannette mendekat.


"Emma, apa itu benar?" tanya Jeannette.


"Tapi aku sungguh tidak mengambilnya" jawab Emma.


"Aku tidak bermaksud menuduhmu, walaupun kau mengatakan tidak, tapi kau berada di situasi yang salah, jadi maaf kalau aku mencurigaimu" kata Jeannette.


"Sungguh" jawab Emma.


"Bisakah kau tunjukkan tasmu? Dengan begitu aku dan yang lain bisa tahu apa kau benar atau tidak" pinta Jeannette.


Dengan senang hati Emma mengeluarkan tasnya. Jeannette membuka tas Emma, ia memeriksa apa yang berada di dalam tasnya, hanya buku-buku pelajaran, sebuah gantungan kecil berwarna merah berbentuk seperti jimat dan . . . ponsel. Jeannette terbelalak, ia mengambil ponselnya, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Emma, kau mengambilnya?" tanya Jeannette. "Aku tidak tahu kenapa itu ada di dalam tasku, bukan aku, sungguh" elak Emma.


Jack dan kawan-kawannya masuk, kelas terasa tegang. Darren dan Luke mengernyitkan dahi, mereka mendekat ke arah kerumunan. Dari jauh, Jack tersenyum penuh arti.


"Kali ini, aku akan bermain cantik, Emma Michelle" kata Jack dalam hati.


"Kalau kau mengatakan iya, aku akan memaafkanmu dan melupakan hal ini" kata Jeannette lagi.


"Jeannette, aku sungguh tidak mengambilnya. Kumohon percayalah padaku" tulis Emma.


"Apa kau punya bukti?" tanya yang lain.


"Apa kau punya alibi?" tanya yang lain ikut menyudutkan Emma.


"Hoi, Hoi, ada apa ini?" tanya Darren.


"Emma mengambil ponsel Jeannette dan tidak mau mengaku. Jelas-jelas ponsel Jeannette ditemukan di dalam tasnya" jawab salah satu dari mereka.


"Apa itu benar, Emma?" tanya Darren.


"Aku sungguh tidak mengambilnya, Darren" jawab Emma dalam note.


"Emma tidak mungkin mengambilnya!" bela Luke.


"Apa dia punya bukti?" tanya Darren.


"Darren, Emma bukan orang seperti itu" kata Luke.


"Aku tahu. Tapi setidaknya Emma perlu bukti untuk membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah" kata Darren.


Tiba-tiba, Brak. Pintu terbuka, Mr. Tedd masuk. Ia heran melihat kelas yang gaduh dan para muridnya tengah berkumpul mengelilingi seseorang.


"Ada apa ini?" tanya Mr. Tedd.


"Emma mengambil ponsel Jeannette dan tidak mau mengaku" jawab teman Jeannette.


"Emma, yang mana Emma?" tanya Mr. Tedd.


Mereka menyingkir, kini terlihatlah Emma yang tengah berdiri sembari menggenggam erat note di tangannya. Sang guru mengenalinya, itu adalah murid yang tadi tidak membawa baju olahraga.


"Kau! Ikut bapak" kata Mr. Tedd.


Emma mengikuti Mr. Tedd. Sepeninggalan mereka, semua berkasak-kusuk.


{Sungguh tidak dipercaya, tampangnya sangat kalem tapi ternyata sifatnya seperti itu.}


{Dia pendiam pasti karena menutupi keburukannya.}


{Wajah innocentnya itu benar-benar, dia aktris yang baik hingga bisa berakting sok lemah seperti itu.}


{Aku sungguh kecewa, kukira dia adalah pribadi yang baik.}


{Apa dia semiskin itu hingga mencuri?}


{Dasar pencuri!}


Mendengar cibiran teman satu kelasnya, entah kenapa senyuman Jack tambah melebar.


"Kau lihat Emma? tidak ada di dunia ini yang percaya pada seseorang sepenuhnya. Dan manusia, hati mereka rapuh. Jika tidak kuat hanya dengan sekali tiupan saja, mereka bisa tumbang. Seperti layaknya sebuah kepercayaan, mereka mempercayaimu sebagai teman, tapi satu kesalahan kecil saja, mereka bisa membencimu. Lalu bagaimana denganku yang mendapat sebuah pengkhianatan dan penghinaan besar darimu? Jadi aku tidaklah salah disini, kaulah satu-satunya orang yang salah. Kau pantas mendapatkan ini, Emma" kata Jack dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2