
Di sebuah aula berbintang tujuh di Stream Hotel. Kedua pasangan yang baru saja menikah tampak bahagia dengan saling bergandengan dan bercengkerama bahkan sesekali bercanda dan saling menyikut. Seorang wanita bersurai perak sebahu, beriris biru mendekat ditemani anak balita berusia 3 tahun. Ia menjabat tangan Jack dan Emma bergantian. Betapa sangat senangnya ia melihat keduanya.
"Hei, kalian harus segera menyusul agar Bill punya teman" goda Chloe.
"Aku sih tidak keberatan" jawab Jack.
"Hei, bagaimana kalau malam ini kita mulai projeknya?" canda Jack pada Emma yang dihadiahi pukulan maut pada tulang keringnya. Jack mengaduh kesakitan, Chloe tertawa sedangkan putra Chloe, Bill ketakutan. Jack senang merasa ada yang mendukung meski itu anak kecil.
"Kau lihat Emma? kau menakuti Bill" kata Jack.
"Kalau aku punya anak akan kupastikan tidak menuruni sifatmu satu ini" kata Jack dan menggendong Bill.
Brad, suami Chloe datang mendekat, ia bertanya pada istrinya apa yang terjadi. Chloe tak menjawab dan hanya menunjuk Jack yang meledek Emma. ia ikut tertawa menyaksikan betapa uniknya pasangan itu. Mark, Azzury dan sang besan Sebastian memandang dari jauh. Mereka turut bahagia karena Jack dan Emma berhasil bersatu setelah melewati proses yang panjang. Brian datang bersama keluarganya. Ia menjabat tangan Emma lama, begitu pula dengan Emma. Jack tak suka, ia memberikan Bill pada ayahnya dan memisahkan keduanya.
__ADS_1
"Dia istriku, jangan menyentuhnya tanpa izinku, pirang" kata Jack.
"Jangan menyebutku pirang kalau istrimu juga pirang" balas Brian.
"Bilang saja kau iri" kata Jack dan mengaitkan lengannya pada leher Emma.
"Malam ini kami akan memulai project membuat Victor William" kata Jack.
Seketika muncul perempatan siku di dahi Brian. Ia menghela nafas menyikapi sikap Jack yang berubah overprotektif. Darren bersama Cheryl mendekat diikuti Mugi dan Axel.
"Kan kau yang malu, bukan aku" jawab Emma dan Cheryl menggembungkan pipinya.
"Kau benar-benar hampir membuatku jantungan Emma, tak kusangka Louie Heart adalah kau terlebih tiba-tiba kau menikah dengan Jack. sungguh, aku hampir saja melabrakmu karena mengambil seseorang yang berharga dari sahabatku" kata Mugi dan Emma hanya tersenyum malu.
__ADS_1
Luke sang kepala kejaksaan Fiens datang bersama kedua anak buahnya. Jason dan Gabriel. Mereka mengucapkan selamat. Tak lupa Luke, Jason, dan Gabriel menangis karena tak rela Emma menikah. Jack menahan kekesalannya, Emma istrinya. Masih bisa-bisanya mereka bercanda seperti itu. Dari jauh Nathalie mengamati bersama gadis bernama Viola. Gadis seusia kakaknya yang entah kenapa bisa akrab dengannya. Mata Viola tak lepas dari Brian, Nathalie menyeringai melihatnya. Sedangkan kakek-nenek Jack, menyambut tamu yang tak henti-hentinya datang. Mereka turut bahagia karena Jack kecilnya sudah dewasa dan mendapatkan istri yang diidamkannya sejak kecil.
Setelah pesta usai . . .
Jack duduk berdua dengan Emma saling membelakangi di Apartemen Jack. Mereka saling canggung, Emma meneguk ludahnya kasar. Jack merasa kepanasan.
"Ehm, Emma. Bagaimana kalau kau menoleh. Aku tak suka melihat punggungmu. Kau terlihat jelek dari belakang" canda Jack dan dihadiahi lemparan bantal oleh Emma.
"Dasar menyebalkan!" teriak Emma.
Alhasil mereka bermain lempar bantal hingga Emma terkena lemparan bantal dan hampir jatuh terjengkang dari kasur. Namun Jack Berhasil menangkapnya membuat wajah keduanya sangat dekat. Jack menyeringai, Emma tahu apa yang Jack pikirkan . . .
"KYAA!" teriak Emma.
__ADS_1
Paginya . . .
Emma terbangun dari tidur nyenyaknya, bisa ia rasakan kulit hangat milik sang suami yang baru dinikahinya kemarin. Ia mendongakkan kepala melihat betapa polosnya wajah Jack jika tengah tertidur. Ia tersenyum mengingat apa yang sudah terjadi. Sungguh ia tidak menyangka bahwa jimat keberuntungan pemberian Jack kecil akan menghantarkannya ke dalam kebahagiaan. Dulu, ia memang berharap bahagia tapi ia tidak tahu kebahagiaan apa itu, tapi ia mengerti sekarang. Kebahagiaan yang sangat ia harapkan adalah terus dicintai oleh orang yang ia cintai. Ia kembali membenamkan diri kedalam dada bidang nan hangat sang suami, Jack yang merasakan pergerakan Emma memeluknya hangat. Emma kembali tidur dengan senyum yang tak luntur sedangkan diam-diam Jack yang sebenarnya sudah bangun ikut tersenyum. Ia berterimakasih karena dipertemukan dengan tulang rusuknya yang akan selalu menemaninya sampai ajal menjemputnya.