
Kelas 1-5.
Jam Pelajaran Fisika oleh Mr. Aldrick. Suasana kelas hening. Hanya terdengar suara kapur yang tegah bergesekan dengan papan berwarna hitam yang membentang di depan kelas. Emma menggoyangkan pensilnya di atas buku sambil sesekali menghela nafas. Entah kenapa ia merasa ada yang aneh pada dirinya. Keringat dingin mulai bercucuran di pelipis gadis bersurai pirang tersebut. Emma berusaha memfokuskan matanya, tapi terasa sangat sulit. Ia menghela nafas. Gerak-gerik aneh Emma dirasakan oleh sahabat barunya, Mugi. Mugi menaikkan satu alisnya. Pasalnya temannya itu sudah kesekian kali menghela nafas, Mugi merasa ada yang tak beres dengan Emma.
"Kau baik-baik saja, Em?" tanya Mugi sembari menolehkan kepalanya.
Emma hanya mengangguk. Mugi kembali menghadap ke depan. Tak hanya Mugi, rupanya Jack juga tak luput untuk tidak memperhatikan gadis yang sangat dibencinya itu. Bukannya bersimpati, Jack malas berdecak. Ditatapnya punggung Emma dengan tatapan tajam dari mata emeraldnya. Mr. Aldrick menulis beberapa soal untuk dikerjakan. Tiba-tiba ia memanggil nama Emma untuk mengerjakan soal pertama.
Emma berdiri. Kepalanya terasa berat dan pusing. Pandangannya tidak fokus. Ia berusaha fokus dan berjalan ke depan, tapi baru beberapa langkah saja, tiba-tiba.
BRUK
Emma pingsan. Seketika kelas panik tak terkecuali Brian, ia membulatkan matanya dengan sempurna. Sedangkan Luke, ia ternganga dan nyawanya seakan keluar dari tubuhnya melihat sang pujaan hati tergeletak tak berdaya.
...******...
Emma terbaring lemah di ruang kesehatan. Mugi dan sang ketua kelas, Brian Petrenkov menemani di sampingnya. Tentu setelah mereka berdua mengusir paksa Luke yang bersikeras ingin menemani Emma.
"Bagaimana ini? Apa karena hantaman bola tadi?" tanya Mugi khawatir.
"Tenanglah Mugi. Miss Alice kan bilang, dia hanya terlalu lelah dan banyak pikiran saja" kata Brian berusaha menenangkan Mugi.
"Tapi Emma tidak akan begini kalau bola Jack tidak mengenainya" kata Mugi.
"Jack tidak sengaja" jawab Brian.
"Memang, tapi setidaknya ia meminta maaf, kan?" tanya Mugi lagi, ia mulai naik darah.
"Maafkan saja dia. Daripada ia meminta maaf tapi tidak tulus" jawab Brian.
Mugi hanya mendengus kesal. Apa yang dikatakan Brian memang ada benarnya. Bisa saja Mugi memaksa Jack untuk meminta maaf pada Emma. tapi bagaimana kalau permintaan maaf Jack malah melukai Emma. karena Mugi tahu kalau Jack tidak menyukai temannya itu.
"Mugi, apa tidak sebaiknya kau kembali ke kelas?" tanya Brian.
"Kenapa? Jangan bilang kau ingin mencari kesempatan di balik kesempitan?" tanya Mugi dengan tatapan curiga.
"Ehh? Apa wajahku terlihat seperti itu?" tanya Brian gelagapan.
"Hah? Apa aku benar?" tanya Mugi balik.
"Aku kan bukan Luke hingga harus dicuragi seperti itu" gerutu Brian.
"Hmm? Apa kau ingin menjadi sepertinya?" goda Mugi.
"APA? Jangan bercanda!" kata Brian dan ia tak sadar kalau nada suaranya meninggi.
Brian mendekap mulutnya dan mengerutuki dirinya sendiri. Sekarang wajah tampannya mengeluarkan semburat tipis di kedua belah pipi. Emma tak bereaksi, yang artinya ia tidak terusik dengan suara keras Brian barusan. Mugi dan Brian menghela nafas bersamaan. Tapi setelah itu, Brian menatap tajam teman sekelasnya yang tergolong anak pintar dengan tatapan membunuh.
"Mugi Gardenia" panggil Brian dengan menekankan setiap katanya.
Mugi diam menelan ludah. Ia segera berdiri dan angkat kaki dari ruang kesehatan.
"Hahaha, kurasa aku belum selesai mencatat, aku kembali ke kelas dulu. Dah, Brian. Tolong jaga Emma" kata Mugi dan segera pergi.
Brian menghela nafas. Sepeninggalan Mugi, mata Brian berubah. Kini tatapannya sayu menatap gadis pirang yang tengah terbaring lemas.
"Emma, apa kau merasa tersiksa? Apa sikap Jack menyakitimu? Seharusnya kau membalasnya. Kalau kau tidak terima katakan saja, tidak. maksudku kau bisa menulisnya dan memberitahu Jack untuk tidak memperlakukanmu seperti itu. Kau tidak melakukan hal yang salah, jadi menurutku Jack tak pantas bersikap seperti itu padamu" kata Brian dalam hati.
"Emma" panggil Brian pelan.
Bel berbunyi menandakan kelas telah berakhir. Emma mulai membuka matanya, walau terasa berat, tapi sudah tidak seburuk tadi. Ia menatap langit-langit yang berwarna putih. Diedarkan pandangannya ke samping dan didapati seorang siswa bersurai amber tengah duduk dengan raut muka yang khawatir.
"Kau sudah bangun? Kau baik-baik saja? apa yang kau rasakan sekarang?" tanya Brian bertubi-tubi.
Emma mengernyitkan dahinya. Otaknya memproses untuk beberapa detik, akhirnya ia ingat kalau siswa di sampingnya adalah Brian, teman sekelasnya. Emma mencari note miliknya untuk menjawab Brian, tapi ia tak menemukannya. Ya, karena Emma tadi pingsan dan tidak mungkin membawa note-nya. Brian mengeluarkan benda dari sakunya. Benda yang tak asing bagi Emma. itu adalah note milik Emma beserta penanya. Emma menulis sesuatu.
"Tenanglah, aku baik-baik saja. hanya merasa sedikit pusing saja" tulis Emma.
"Syukurlah. Oh ya, ini obatmu. Minumlah, ini air untukmu" kata Brian menyodorkan obat pemberian Miss Alice beserta segelas air.
Emma menerimanya dan meminum obatnya.
"Apa kau bisa pulang sendiri?" tanya Brian.
"Tentu saja" tulis Emma.
"Benarkah? Aku tak yakin" kata Brian mengerutkan dahinya sembari memandang Emma.
Emma menutupi wajahnya dengan note. Ia malu ditatap Brian, ini pertama kalinya ada laki-laki yang menatapnya seperti itu. semburat tipis mulai muncul di pipi Emma. namun Emma segera sadar dan menulis kembali di note.
"Ini kan tubuhku. Aku yang tahu aku bagaimana dan seperti apa" tulis Emma.
Brian tersedak. Ia mulai batuk-batuk karena membaca note Emma. ia tak habis pikir kalau Emma akan menjawabnya demikian. Karena tak ada yang akan menolak seorang Brian Petrenkov. Melihat Brian, Emma jadi khawatir. Di sentuhnya bahu pemuda itu dengan tangan lembutnya. Brian tersentak, batuknya tiba-tiba menghilang dan digantikan sensasi aneh yang menjalar di sekujur tubuhnya. Jantungnya mulai berdegup kencang, badannya mulai memanas dan tentu wajahnya memunculkan rona merah yang sangat menawan. Emma mengulurkan catatannya.
"Kau baik-baik saja?" tulis Emma.
"Aku baik-baik saja, Emma" jawab Brian salah tingkah.
Emma menarik tangannya dan Brian mulai bisa bernafas lega. Emma menuliskan sesuatu lagi dan kembali menyodorkannya pada Brian.
"Apa mau kuantar pulang?" tulis Emma.
Brian lagi-lagi batuk. Kini batuknya mulai menjadi-jadi. Tentu bukan karena sakit, melainkan ia diserang oleh vius yang disebut pesona dari seorang Emma Michelle yang berhasil menyerangnya dengan dua kali serangan.
...******...
Sementara Jack, ia berjalan pulang bersama Chloe. Kali ini ia memilih untuk tidak dijemput Hendy. Kalau tidak, Hendy akan tahu kalau Emma pingsan, dan Jack pasti kena marah terlebih kalau tahu Jack-lah penyebabnya. Sepanjang Perjalanan, Chloe bercerita dengan gembira apa saja yang dialaminya di sekolah hari ini, tapi Jack hanya menanggapinya dengan senyuman. Jack memikirkan Emma. bukan memikirkan dalam arti karena efek falling in love tapi dalam arti lain.
"Gadis itu, merepotkan sekali. Berlagak keren, sok tegar, tapi dia sangat lemah. Apa dia pikir semua orang akan mengasihaninya? Bersimpati padanya? Dan akan menanyakan 'apa kau baik-baik saja?' kau kira aku tidak tahu, taktikmu itu? dasar PARASIT" batin Jack.
"Hei, Jack. Kudengar kau tadi tidak sengaja melempar bola pada anak baru, hmm . . . maksudku Emma" kata Chloe.
"Hn? Itu tidak sengaja" jawab Jack innocent.
"Kau sudah meminta maaf padanya?" tanya Chloe dengan wajah khawatir.
"Apa? Tentu saja…" Jack menghentikan perkatannya.
"Tentu saja?" tanya Chloe menaikkan satu alisnya.
"Tentu saja tidak. dan tidak akan pernah" jawab Jack pasti.
"JACK!" pekik Chloe keras dan menghentikan langkahnya.
Jack yang semula berjalan, ikut menghentikan langkahnya dikarenakan suara sang kekasih. Panggilan dengan suara keras, sebelumnya belum pernah ia dengar dari Chloe. Jack menoleh, Chloe menatapnya tajam.
"Jack, aku tak suka dengan sikapmu. Bisakah kau sedikit lebih lembut padanya?" tanya Chloe dengan nada tajam.
"Aku sudah mengatakan padamu sebelumnya kan. Kalau aku tidak menyukainya" jawab Jack datar.
"Dan aku juga sudah mengatakan padamu untuk tidak membencinya kan?" tanya Chloe balik dengan nada yang meninggi, matanya mulai berkaca-kaca.
Jack terdiam.
"Jack, kau tahu? Kalau kau seperti ini terus aku jadi khawatir" kata Chloe.
"Sudah kubilang, itu tidak akan terjadi. Aku hanya mencintaimu, Chlo" kata Jack serius dengan suara baritonnya.
Chloe menundukkan kepalanya. Badannya mulai bergetar, cairan bening mengalir dari matanya. Jack tentu tahu kalau kekasihnya ini tengah menangis. Dengan perhatian, didekatinya Chloe dan di dekapnya gadis bersurai silver itu. Chloe terisak di dekapan Jack.
"Jangan khawatir, apa yang kau khawatirkan tak akan terjadi. Aku tak akan meninggalkanmu" kata Jack.
"Jack. Aku tahu, tapi aku tak bisa berhenti untuk khawatir. Maafkan aku, maafkan aku" kata Chloe disela-sela tangisannya.
Jack hanya mengelus rambut kekasihnya dan mempererat pelukannya hingga sang kekasih tenang. Ia melepaskan pelukannya.
"Tenanglah. Lagipula akhir bulan ini kita akan bertunangan kan" kata Jack seraya tersenyum dan mengusap air mata diujung mata Chloe.
"Hmm" Chloe mengangguk.
"Aku menerima kabar kalau ayah akan segera pulang untuk menyiapkan acara pertunangan putranya yang tampan" kata Jack.
Chloe tertawa mendengar Jack menyebut dirinya sendiri tampan.
"Kurasa lebih tampan ayahku daripada kau, Jack" kata Chloe.
"APA? Tampan darimananya? Jelas-jelas aku ini lebih tampan, dilihat dari jauh dan dekat pun tetap tampan. Walau aku tak mencuci muka pun tetap tampan. Pokoknya aku lebih-lebih tampan. Kau mengerti?" kata Jack menyombongkan dirinya.
Chloe hanya mengangguk seraya tersenyum.
"Tapi . . ." kata Chloe.
"Hn?" Jack memiringkan kepalanya.
"Tapi aku ingin kau berjanji padaku. Kalau kau akan memperbaiki sikapmu" kata Chloe.
Jack mendengus. Akhirnya ia mengangguk daripada melihat Chloe menangis karena khawatir.
"Janji?" tanya Chloe lagi, ia mengangkat kelingkingnya.
Dengan enggan Jack mengaitkan kelingkingnya pada kelingking Chloe.
Di tempat lain, Brian cemberut. Karena, Emma berjalan di sampingnya. Bukan berarti ia tak suka, melainkan ia malu karena dirinya yang notabane seorang laki-laki diantar perempuan yang tengah sakit untuk pulang. Harusnya ia yang mengantar Emma. Emma menyadari sikap Brian dan menulis note.
"Kau baik-baik saja?" tulis Emma.
"Aku baik-baik saja, Emma. kau tak usah mengantarku" kata Brian datar.
"Kau yakin? Batukmu tadi sangat parah" tulis Emma lagi, ia khawatir.
"Aku baik-baik saja Emma, hiks" Brian mulai menangis, sudah kesekian kali Emma bertanya apa dia baik-baik saja.
"Apa kau membalasku karena tidak mengantarmu ke ruang kesehatan tadi saat jam istirahat?" tanya Brian.
Emma menggeleng.
"Lalu?" Brian menyipitkan matanya dan mendekatkan wajahnya ke Emma, Emma spontan menjauhkan wajahnya dari Brian, semburat merah kembali menghiasi pipi Emma. dengan segera Emma menulis sesuatu dan ditunjukkannya pada Brian.
"Kurasa arah rumah kita searah" tulis Emma mengalihkan perhatian.
"Darimana kau tahu rumahku?" tanya Brian tanpa menjauhkan wajahnya
"Hanya menebak" tulis Emma.
Tiba-tiba Brian tertawa terbahak-bahak. Emma mengernyitkan dahinya, tak mengerti apa yang ditertawakan Brian.
"Kau lucu, Emma. hahaha" tawa Brian.
Emma memerah. Ia mulai sadar apa yang ditertawakan Brian. Ia menutupi wajahnya dengan note. Emma kesal dengan Brian.
"Ih, bisakah kau berhenti tertawa?" pinta Emma dalam hati.
Mereka kembali berjalan dan Brian menghentikan langkahnya.
"Berhenti" kata Brian.
"Rumahku ke arah sana. Kurasa kita sebaiknya berpisah disini" kata Brian.
"Aku akan mengantarmu pulang" tulis Emma.
Brian mengambil ponsel di sakunya dan berbicara pada seseorang. Tak lama kemudian, sebuah taksi datang.
"Nah, Emma. masuklah, terima kasih sudah mengantarku" kata Brian dan membukakan pintu taksi.
Emma hanya diam. Brian menarik Emma dan mendudukkan gadis itu. dilemparkannya sebuah senyuman pada Emma dan ia menutup pintu.
"Tolong antar dia ya, pak" kata Brian.
"Kau yakin sudah baik-baik saja?" tanya Emma di note yang kembali ia acungkan.
"Hmm . . . tentu. Terimakasih. Sampai bertemu besok" kata Brian.
Taksi berlalu. Meninggalkan Brian yang tak henti-hentinya tersenyum seraya melambaikan tangan pada Emma.
...******...
Pukul 6.00 PM di kediaman William.
Rumah agak sepi, Nyonya Azzury dan Nathalie pergi keluar untuk shopping diantar oleh Hendy. Sedangkan Virginia tengah sibuk memasak di dapur untuk makan malam, karena Nyonya Azzury mengatakan akan pulang sebelum makan malam. Emma turun dari kamarnya, dicarinya sang pelayan yang sangat setia padanya. Emma mengedarkan pandangannya. Diciumnya aroma yang menggiurkan dari dapur.
"Tidak salah lagi, pasti Virginia" kata Emma dalam hati.
Emma melangkahkan kakinya menuju dapur. Ya, Virginia tengah memasak sendirian. Didekatinya Virginia.
"Oh, Nona. apa anda perlu sesuatu? Akan saya ambilkan" tanya Virginia.
Emma menggeleng, matanya beralih ke sayuran yang tengah dipotong oleh Virginia.
"Ah, anda lapar? Tapi mohon tunggu, makan malam belum siap" kata Virginia lagi.
"Perlu bantuan?" tanya Emma di notenya.
"Hn? Tidak Nona. Dapur adalah salah satu tempat berbahaya. Jadi kumohon untuk tidak dekat-dekat dan menunggu" jawab Virginia melarang keras.
Emma mengernyitkan dahinya.
"Nona, maaf. Tapi selama ini anda tidak pernah ke dapur kan? Saya hanya khawatir saja" lanjut Virginia.
"Aku hanya akan membantu" tulis Emma.
"Nona" kata Virginia.
"Aku juga menumpang di rumah ini, jadi biarkan aku melakukan sesuatu untuk berterima kasih" tulis Emma lagi.
Virginia terdiam. Kata-kata Nona-nya itu seakan membungkam mulutnya. Ia sadar kalau Emma mungkin merasa terbebani karena bagaimana pun mereka tinggal secara gratis. Akhirnya Virginia mengizinkan Emma untuk membantunya. Ia mengajarkan Emma memotong sayuran. Emma menganggukkan kepalanya tanda ia paham. Virginia meninggalkannya dan menyiapkan bumbu. Tapi, ia kehabisan kecap. Virginia menghela nafas.
"Nona, aku akan keluar sebentar. tidak lama. Tolong potong sayuran-sayuran ini dan kalau airnya mendidih masukkan sayurannya. Dan ingat! hati-hati! Panas!" kata Virginia berpesan.
Emma hanya mengangguk. Sepeninggalan Virginia, Emma mulai memotong sayuran seperti yang diajarkan Virginia. Namun, tiba-tiba ia teringat saat dimana mamanya memasak.
~ Flashback ~
Mama Emma, Lyla Michelle tengah memasak di dapur. Emma kecil yang baru bangun tidur mencari mamanya. Ia berdiri mematung saat melihat mamanya dengan cekatan memotong sayuran dan memasukkan sayuran ke dalam panci. Dan yang membuatnya kagum adalah bau masakannya, harum dan mampu mengocok perut tak terkecuali perut Emma kecil. Mamanya mendengar dan menoleh. Emma sadar dan tersipu malu.
"Eh, kau sudah bangun, sayang. Duduklah, sebentar lagi makanan siap" kata Lyla seraya tersenyum manis pada putrinya.
~ Flashback End ~
Tak terasa, Emma meneteskan air mata mengingat memori itu. dadanya mulai sesak. Tangannya yang masih memotong sayuran, tak sengaja mengiris jari telunjuk tangan kirinya. Emma sadar, ia merasakan perih di jari dan memegang jarinya. Ia tak bergeming, hanya menatap jari telunjuknya yang mengeluarkan darah kental dan tak berusaha untuk menghentikan pendarahannya.
"Kalau tak becus memasak, jangan memasak. Apa kau mau membuat seisi rumah merasakan makanan yang bercampur darah?" celetuk seseorang dengan suara baritone yang sangat dikenal Emma.
Emma menoleh. Didapatinya Jack tengah berdiri di depan freezer dengan segelas air di tangannya. Melihat wajah Jack, Emma kembali mengingat kejadian siang tadi. Saat dimana bola Jack menghantam kepalanya. Dan bukannya meminta maaf, Jack malah mencacinya dengan kata-kata pedasnya. Emma diam saja dan kembali melanjutkan aktivitas memotongnya.
"Hei, apa kau tak dengar? Apa kau tak punya telinga? aku kan mengatakan kalau kami tak mau merasakan masakan yang bercampur darah. Kenapa kau melanjutkannya? Huh?" tanya Jack dengan tajam.
Emma tak mengindahkan perkataan Jack. Jack yang merasa diacuhkan pun naik darah. Didekatinya gadis pirang tersebut.
"Berhenti. Jangan potong sayurannya!" kata Jack datar tapi menusuk.
Emma tetap tak bergeming, hingga Jack emosi dan menarik tangan kanan Emma yang memegang pisau. Emma menoleh. Mereka bertatapan untuk beberapa saat. Jack mendengus, ia menarik Pisau di tangan Emma dengan kasar, yang membuat telapak tangan gadis itu tersayat pisau. Emma meringis kesakitan. Darah segar pun keluar. Emma memegangi tangan kanannya, matanya mulai berkaca-kaca merasakan perih yang menyerang. Jack diam, melihat Emma yang kesakitan, entah kenapa bibirnya menyunggingkan senyuman penuh arti.
"Sudah kubilang kan? Itu akibatnya kalau kau bersikeras" kata Jack dan pergi meninggalkan dapur dengan membanting pisau yang berada di tangannya.
__ADS_1
Emma tersentak. Kali ini, cairan bening yang ditahannya mengalir keluar. Rasanya sangat sakit dan perih, bukan hanya di tangannya melainkan hatinya. Setiap perkataan Jack selalu melukainya. Emma tenduduk lemas.
"Kenapa? Dimana pun aku berada, aku selalu dibenci. Dulu apa yang aku katakan itu salah. Sekarang, apa yang aku lakukan juga salah. Apa hidupku ini juga adalah suatu kesalahan? Mama, kenapa kau meninggalkanku seperti ini? Harusnya waktu itu aku segera menyusulmu daripada harus menghadapi semua ini. Mama, sayatan di tanganku ini tak ada apa-apanya dibanding dengan sakit di hatiku ini. Mama, tidak bisakah kau menjemputku sekarang juga?" tanya Emma dalam hati.
Virginia kembali. Dilihatnya Jack yang keluar dari dapur. Perasaanya tidak enak, ia segera berlari ke dapur dan mendapati Emma yang terduduk lemas sambil memegangi tangannya yang tak henti-hentinya mengeluarkan darah. Virginia panik.
"Nona, Kenapa tangan anda? Sudah saya bilang kan untuk hati-hati? Lihatlah, oh Nona. Tunggu sebentar, akan saya ambilkan obat" kata Virginia.
Virginia mematikan kompor dan mengambil kotak obat. Ia mengusap telapak tangan Emma dan memberinya obat merah kemudian memperbannya. Virginia memandang tangan Nonanya itu, sepertinya ada yang tidak beres.
"Nona. Luka ini bukan karena memotong sayuran. Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Virginia serius.
Emma menggelengkan kepalanya.
"Tidak, aku hanya tidak berhati-hati" jawab Emma dalam hati.
"Nona. Kau tahu? Kau tidak pernah bisa membohongiku" kata Virginia lagi, matanya menatap dalam mata sapphire Emma, mencari kebohongan disana dan ya, Emma memang berbohong.
"Tuan Jack yang melakukannya?" selidik Virginia.
Emma terdiam, ia tertunduk dan menggeleng lemah. Virginia merasa darahnya naik ke ubun-ubun. Ia ingin meledak saat itu juga. Tapi Emma mencengkeram tangannya.
"Sudahlah, Virginia. Ia tidak sengaja" kata Emma dalam hati.
Virginia menghela nafas. Ia heran kenapa Jack tidak menyukai Emma. padahal Emma tidak pernah mengganggunya. Virginia menatap Emma sayu, ia prihatin dengan Nonanya. Emma sudah mendapatkan perlakuan tidak baik bahkan oleh ayahnya. Tapi ketika nyonya Azzury menawarkan tempat tinggal pada mereka, Virginia berfikir Emma akan aman. Tapi kenyatannya lepas dari mulut harimau masuk ke lubang buaya. Virginia hanya bisa mendekap tangan Emma yang kini sudah terperban.
Makan malam. Ketegangan mengalir di meja makan keluarga William. Nyonya Azzury heran. Tak ada yang bicara bahkan Virginia sekali pun.
"Ehem? Apa ada sesuatu?" tanya Nyonya Azzury.
Jack memakan makanannya dengan tidak nafsu. Ia melirik Emma dengan tajam seolah mengatakan mati kau kalau mengatakannya.
"Tidak ada Nyonya, mungkin hanya perasaan anda saja" kata Virginia menutupi.
"Hei, Kak Emma. Makanannya enak? Apa kau mau tambah?" tanya Nathalie.
Emma hanya mengangguk. Tapi ia tak mengambil makanan lebih.
"Jack, apa kau sakit? Tidak biasanya kau makan sedikit" tanya Nyonya Azzury pada putranya.
"Tidak, aku baik-baik saja. hanya sedang tidak nafsu saja" jawab Jack dengan menatap tajam Emma.
Nathalie yang menyadari arah tatapan kakaknya itu, mengerutkan alisnya.
"Tak mungkin kan?" tanya Nathalie dalam hati.
"Hei, kak Virginia. Apa Kak Emma yang memasak masakan ini?" celetuk Nathalie.
"Iya, nona Nathalie. Nona membantu saya membuatnya" jawab Virginia.
Nathalie seperti mendapat klik diotaknya. Ia mengerti kenapa suasana menjadi tegang dan kakaknya yang tidak nafsu makan. Nathalie juga sadar ada yang berbeda dengan tangan kanan Emma.
"Kak Emma. Ada apa dengan tanganmu? Apa kau terluka saat memasak?" tanya Nathalie khawatir dan ingin tahu.
Emma hanya mengangguk.
"Emma, jangan memaksakan dirimu. Tante tidak menuntutmu melakukan pekerjaan rumah kan, jadi jangan melakukan sesuatu yang membebani atau melukaimu" kata Nyonya Azzury perhatian.
Jack yang mendengarnya mendengus. Ia tak habis pikir dengan ibu dan adiknya yang sangat baik pada gadis yang menurutnya PARASIT.
"Oh ya, Jack. Setelah ini, ibu ingin bicara padamu. Ada sesuatu yang ingin ibu sampaikan. Ini mengenai pertunanganmu" kata sang ibu.
Emma menghentikan acara makannya. Ia terpaku untuk sejenak mendengar karta pertunangan. Dan entah kenapa perasaannya tidak enak.
...******...
Sementara di tempat lain. Brian tengah mengobrak-abrik buku yang ada di ruang kerja ayahnya. Disana, banyak buku kedokteran dari berbagai penerbit dan penulis. Ayah Brian, Mikhailo Petrenkov adalah seorang kepala rumah sakit Petrenkov Hospital.
"Sebenarnya, penyiksaan seperti apa yang Emma dapat hingga ia tak bicara? kenapa? Dan apa mungkin Emma mengalami depresi? Aku sungguh tidak mengerti" kata Brian dalam hati.
Brian terus mencari hingga ia menemukan sebuah buku yang berjudul 'Apa itu Depresi?'
Brian membaca buku tersebut.
"Depresi adalah kondisi serius dalam dunia medis yang mempengaruhi pikiran, mood, perasaan, kebiasaan dan kesehatan fisik. Jenis depresi yang paling umum adalah gangguan depresi mayor (GDM) atau Major Depressive Disorder yang merupakan gangguan depresi berat" kata Brian membaca buku yang diambilnya.
Tangan Brian seketika lemas. Dan buku yang semula di tangannya terjatuh ke lantai begitu saja.
...******...
Nyonya Azzury tengah bicara dengan Jack di ruang kerja suaminya, Mark.
"Jack, sebelumnya ibu bilang kalau akhir bulan ini setelah kepulangan ayahmu acara pertunanganmu dengan Chloe akan dilaksanakan. Tapi ternyata orang tua Chloe tidak setuju" kata Nyonya Azzury.
"Apa? Yang benar saja" protes Jack.
"Ya, karena keluarganya mendadak ada perjalanan bisnis ke Singapore selama 1 bulan. Jadi mereka meminta untuk kembali ke rencana awal" jelas Nyonya Azzury.
"Oh, baiklah. Mau bagaimana lagi" keluh Jack.
"Jack, ibu ingin tanya. Kau jawab jujur ya?" tanya sang ibu.
"Apa, bu?" tanya Jack.
"Kau tidak menyakiti Emma kan? Di sekolah atau saat ibu dan Nathalie tidak ada?" tanya Nyonya Azzury dengan menatap tajam putranya.
"Apa ibu pikir aku sekejam itu hingga menyakiti seorang perempuan?" tanya Jack balik.
"Tapi perkataan dan sikapmu padanya terlalu kasar" kata Nyonya Azzury mengkoreksi.
"Dia saja yang terlalu sensitif" kata Jack membela diri.
Nyonya Azzury menghela nafas panjang.
"Jack. Emma, dia sudah sangat terluka, jadi kau jangan memperbesar lukanya atau dia akan . . ." kata Nyonya Azzury.
"Mati?"lanjut Jack dengan santai.
"JACK!" pekik Nyonya Azzury, ia tak habis pikir perkataan sekejam itu yang keluar dari mulut putra tercintanya.
"Mana mungkin, bu, aku hanya bercanda. Memangnya dia akan apa?" tanya Jack dengan tampang innocent.
"Emma, dia mengalami Major Depressive Disorder. Kau tahu? Depresi akut yang membuatnya berhenti bicara" jelas Nyonya Azzury dengan suara serak.
Badan Jack bergetar. Ia menggenggam erat tangannya untuk menenangkan dirinya karena mendengar fakta yang mengejutkan.
"Itukah alasannya?" tanya Jack dalam hati "Jadi, aku hanya perlu sedikit mendorongnya kemudian menendangnya dari rumah ini" kata Jack lagi di dalam hati.
Malam semakin larut. Sang angin berhembus menerpa pepohonan untuk mengajaknya berdendang ditengah malam yang mencekam. Tak terdengar suara manusia atau bising kendaraan yang biasanya menghiasi jalan di kompleks perumahan tersebut. Tak puas hanya mengajak pepohonan, angin-pun berhembus semakin kencang membuat jendela seorang gadis pirang seperti diketuk. Seakan ingin mengatakan.
Keluarlah dan temani kami.
Emma tak menyahut ajakan tersebut, karena ia sedang berada di dunia mimpi yang tengah membuainya. Emma bermimpi, ketika dirinya berusia 7 tahun. Mama dan papanya mengajaknya pergi tamasya ke gunung pada liburan musim panas. Emma kecil sangat gembira. Sepanjang perjalanan, mereka berdendang menikmati suasana dan momen kebersamaan mereka. Tapi tiba-tiba, mimpi itu hancur bagaikan kaca yang dihantam sebuah palu besar. Kini, Emma tengah bermimpi saat dirinya terisak-isak di makam sang mama yang sudah tertidur untuk selamanya. Mimpi tersebut membuat Emma yang tengah tertidur menitikkan air mata.
Mimpi Emma berlanjut. Mimpi yang sama dengan mimpi sebelumnya. Mimpi yang bagaikan sihir, selalu menghantuinya dan teringat terus dikepalanya. Mimpi dimana sang ayah melarangnya untuk menjadi idol. Mimpi dimana ayahnya melarangnya pergi ke sekolah.
~ Emma's Dream ~
"Emma! berhenti menangis! Apa kau pikir dengan menangis ayah akan mengizinkanmu pergi ke sekolah?" hardik ayah Emma, Sebastian Michelle.
"Sudah ayah katakan berhenti menangis! Sekarang diam dan masuk ke kamarmu!" kata sang ayah dengan suara yang menggelegar.
Dengan lemas Emma masuk ke kamarnya.
...******...
"Emma! kenapa kau melindunginya? Gara-gara dia kau bisa kabur dari rumah! Dia, adalah pelayan yang tidak tahu diuntung! Jadi, menyingkir atau kau akan menyesalinya" perintah Sebastian dengan nada tinggi.
Emma melindungi Virginia yang sudah ia anggap seperti kakak kandungnya. Ayahnya mengayunkan cambuk. Dan,
Sebastian mencambuk punggung Emma. Virginia menangis, meminta Nona-nya untuk menghentikan tindakannya tersebut. Tapi Emma tetap tidak mau menyingkir walau ayahnya sudah meneriakinya untuk menyingkir. Dan, betapa kejamnya Sebastian, ia tidak segan-segan atau bergetar hanya karena Emma yang menangis. Ia tetap mencambuk hingga baju Emma sobek-sobek.
~ End of Emma's Dream ~
Emma seketika terbangun. Ia melihat sekeliling dengan ketakutan. Didengarnya jendela yang diketuk oleh angin malam. Ia menggigil, mengingat rasa cambukan di mimpinya. Cambukan yang seakan-akan nyata. Ia mendekap tubuh mungilnya dan terisak.
"Mama. Aku takut. Aku takut. Setiap kali aku memejamkan mataku, aku selalu mengingatnya. Rasa sakit itu, kembali menyayatku. Aku, aku sangat takut, mama" kata Emma dalam hati.
Sementara di sebelah, Jack belum memejamkan matanya. Seberapa keras ia berusaha untuk tidur, namun matanya tak mau diajak kompromi dan selalu menentangnya. Jack hanya menatap langit-langit kamarnya. Pikirannya kosong. Tapi kemudian, samar-samar ia mendengar isakan tangis. Jack langsung bangun dan mendudukkan dirinya. Ia menoleh ke tembok yang membatasi kamarnya dengan kamar Emma. Jack berdiri dan mendekati tembok tersebut.
"Dia menangis?" tanya Jack penasaran.
Suara isakan semakin menjadi-jadi. Jack mulai mengernyitkan satu alisnya, ia merasa terganggu.
"Ada apa dengannya? Apa dia gila menangis malam-malam seperti ini? Apa dia ingin menakutiku?" tanya Jack dengan kesal.
Sudah sekitar 1 jam Emma menangis. Dan Jack juga tak kunjung tidur. Jack sudah tak bisa menahan amarahnya. Ia keluar dari kamar dan diketuknya kamar Emma dengan keras.
"Hoi! Kau belum tidur? Kalau belum, jangan menangis seperti hantu di tengah malam seperti ini!" kata Jack.
Emma hanya menangis tak memperdulikan perkataan Jack. Jack geram dan membuka pintu kamar Emma yang tidak terkunci. Dihidupkannya lampu di kamar tersebut. Ia mendapati Emma yang terisak sembari mendekap dirinya di sudut tempat tidur. Jack mendekatinya.
"Hoi! Sadarlah! Kau mengganggu tidurku!" kata Jack ketus.
Emma yang menyadari seseorang berada di dekatnya, menjauhkan diri dan tambah menyudutkan dirinya. Ia mulai membenamkan wajah di lengan. Melihat respon Emma, Jack tersinggung. Ditariknya lengan kiri Emma. tapi Emma menepisnya. Jack habis kesabaran, ditariknya Emma dengan kasar.
"Sudah kubilang sadarlah! PARASIT!" hardik Jack.
Emma terbelalak. Ia mulai menatap nanar Jack, Jack terhenyak untuk beberapa saat. Ia berdecak.
"Sadarlah atau aku yang menyadarkanmu!" ancam Jack.
Emma kembali menepis tangan Jack. Namun Jack benar-benar serius dengan ucapannya barusan. Ia menarik paksa Emma dan mengajaknya ke kamar mandi. Ia mendorong Emma atau lebih tepatnya menghempaskan tubuh Emma ke lantai. Emma terjatuh, kakinya bergetar, Jack tak bersimpati sedikit pun dan menghidupkan shower. Tubuh Emma mulai basah akibat shower yang mengguyur dirinya. Emma sesenggukkan.
"Kau pikir dengan menangis menyelesaikan segalanya? Sadarlah! Walaupun semua orang bahkan dunia bersimpati padamu, tapi aku. Jack William tidak akan melakukannya. Karena tidak semua orang berpikir kalau kau ini pantas dikasihani. Jadi, sadarkan dirimu dan dinginkan kepalamu itu, dasar PARASIT!" kata Jack dengan dingin dan meninggalkan Emma yang tak bergeming dari tempatnya.
Sementara Perban yang menutup luka di tangan kanan Emma, mulai memunculkan rona merah. Warna yang semakin nyata dan nyata. Ya, darah Emma menyeruak keluar dari perban dan mengalir diikuti aliran air yang tengah mengguyur tubuhnya.
"Mama, apa aku juga salah karena menangis? Aku sudah berusaha untuk tidak menangis, tapi air mataku selalu keluar begitu saja. mama, kupikir aku bisa lepas dari penderitaan setelah keluar dari rumah. Tapi, nyatanya aku selalu seperti ini. Bahkan aku dianggap sebagai parasit. Dunia ini sungguh tidak adil!" kata Emma dalam hati.
******
Esoknya. Nyonya Azzury menerima telfon dari suaminya.
Nyonya Azzury : ya, sayang. Dia baik-baik saja disini.
Tuan Mark : kau yakin? Kurasa Jack tidak menyukainya. Mengingat ia menentang Emma untuk tinggal bersama kita.
Nyonya Azzury : Jack pasti akan menerimanya perlahan, jangan khawatir.
Tuan Mark : bagaimana tidak khawatir! Aku bahkan tidak tahu apa yang mungkin Jack lakukan padanya.
Nyonya Azzury : Jack tidak seburuk itu, sayang.
Tuan Mark : kau tidak tahu, sayang. Aku ayahnya, aku tahu seperti apa dia, jika ia tidak menyukai sesuatu, maka ia akan berusaha menyingkirkannya entah bagaimanapun caranya.
Nyonya Azzury : aku juga ibunya. Walaupun Jack memang demikian, tapi tidak mungkin ia melakukannya pada seorang perempuan.
Tuan Mark : awasi saja dia. Tiap hari perasaanku selalu tidak enak, jika Jack melakukan hal yang membahayakannya, aku tidak akan segan-segan walaupun dia putraku.
Nyonya Azzury : ya, bagiku Emma lebih diprioritaskan sekarang, mengingat kondisinya yang terbilang membahayakan.
Tuan Mark : tolong sayang, jaga dia. Bagaimanapun Emma adalah putri Lyla dan Sebastian.
Nyonya Azzury menyudahi telfonnya. Ia menghela nafas panjang. Berusaha menguatkan hatinya untuk menghadapi kemungkinan yang terjadi jika apa yang dikhawatirkan ia dan suaminya benar terjadi. Terlebih setiap perkataan yang terlontar dari bibir Jack adalah kata-kata yang menyayat bagi Emma.
...******...
Chorea Academy.
Emma melangkahkan kakinya melalui gerbang sekolah yang menjulang tinggi. Lagi-lagi banyak siswa yang mencibirnya, ia hanya menundukkan kepala. Tiba-tiba Luke menghadangnya.
"Pagi Emma" sapa Luke.
Emma mengangkat kepalanya, ia hendak menulis sesuatu menjawab sapaan dari Luke. Ada yang aneh dengan Emma. telapak tangan kanannya di perban. Seketika Luke langsung meraih tangan Emma.
"Ohh, Emma, apa yang terjadi? Kau terluka? Apa sudah diobati dengan benar? Pasti sakit ya? Apa mau aku menyembuhkannya dengan cinta?" tanya Luke.
Emma hanya memandang Luke datar. Ia menarik tangannya dan meninggalkan Luke begitu saja. sementara Luke, ia shock karena rayuannya tidak mempan. Emma terus berjalan sepanjang koridor, ia menghela nafas tak habis pikir dengan sikap Luke.
Kelass 1-5.
Nick tengah berbicara dengan sepupunya, Brian. Namun yang diajak bicara, pikirannya tak ada di tempat. Brian tengah terbuai dengan momen bersama Emma kemarin. Nick yang menyadari Brian tak menanggapi perkataannya, mengayunkan tangannya di depan wajah sang empunya nama. Namun Brian tak bereaksi.
"Ehem, Brian, ini masih pagi. Kau tidak berpikir yang aneh-aneh kan?" tanya Nick.
Mendengar kata aneh-aneh Brian-pun sadar. Ia mengelak.
"Apa? Tidak! Apa yang kau bicarakan! Aku ini bukan Luke!" kata Brian.
"Eh? Dari tadi kau bahkan tak mendengarku. Apa kau baik-baik saja?" tanya Nick menyentuh dahi Brian, otomatis Brian menepisnya.
"Aku baik-baik saja, dan aku ini masih sangat normal untuk menerima perlakuanmu itu, Nick" kata Brian.
Nick berdecak. Brian memang seperti itu, ia tidak suka diperlakukan manis. Karena ia merasa terganggu, tapi tentu ia tidak menunjukkan sifatnya yang satu ini pada semua orang. Hanya keluarganya dan Nick yang tahu. Tapi tidak menutup kemungkinan Brian mau menerima perlakuan manis, seperti menerima perlakuan Emma padanya.
Emma masuk kelas. Ketika ia membuka pintu, ia menoleh ke sosok yang berada di dekat pintu. Sosok seorang siswa yang memiliki warna rambut amber. Siapa lagi kalau bukan Brian Petrenkov. Mereka berdua terdiam untuk sejenak, hingga suara Nick memecah keheningan.
"Pagi, Emma" sapa Nick.
"Pagi, ehm . . . siapa ya?" sapa Emma di notenya.
"Aku? Nick. Nick Lawrence. Sepupu Brian" jawab Nick sembari menepuk pelan punggung Brian.
"Kau tidak harus mengatakan hal yang tidak perlu. Emma tidak ingin tahu kau itu siapaku" kata Brian menanggapi.
"Apa? Kejamnya Brian. Emma, lihatlah! Brian melukai perasaanku" kata Nick mengadu pada Emma seolah ia adalah anak kecil.
"Kau bukan anak kecil kan?" tulis Emma.
"APA? Kau membelanya?" protes Nick.
Brian terkekeh. Ia benar-benar tak paham dengan sikap gadis di hadapannya. Semua orang beranggapan kalau Emma itu pendiam. Ya, karena ia tak bicara. tapi menurutnya, walaupun ia sendiri baru mengenal Emma beberapa hari, ia merasa Emma adalah pribadi yang unik dan menarik. Sangat menarik hingga membuat seorang Brian Petrenkov berdebar. Brian mengacungkan dua jempol pada Emma. Emma menutupi wajahnya dengan note, entah kenapa setiap melihat senyuman Brian, ia merasa ada yang berbeda. Brian melihat perban yang melilit telapak tangan Emma. diraihnya tangan Emma.
"Kenapa?" tanya Brian tajam.
"Eeh?" Nick heran.
Emma menggeleng. Yang artinya ia baik-baik saja.
"Siapa yang melakukannya?" tanya Brian lagi.
Emma menarik tangannya dan menulis jawaban.
"Aku sendiri. Aku tidak sengaja melukai diriku, tidak apa-apa" jawab Emma.
Brian tentu tidak percaya begitu saja. Baginya, walaupun Emma mengidap Major Depressive Disorder,
Emma tak mungkin melakukannya kalau tidak ada yang menekannya. Walaupun ada kemungkinan Emma melakukannya dengan sengaja.
"Aku tanya, siapa?" tanya Brian tajam.
Tiba-tiba Jack masuk kelas. Ia berhenti ketika kakinya mendapati Emma berada di depannya. Brian tengah menatap tajam Emma, tentu bukan tatapan kebencian seperti Jack. Tapi tatapan menyelidik. Emma hanya diam, ia tak menulis apapun untuk menjawab Brian. Brian melihat Jack yang berdiri di belakang Emma dan menatapnya. Brian mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
"Tidak mungkin kan?" tanya Brian dalam hati.
"Kenapa kau menatapku seperti itu? Ketua?" tanya Jack.
"Aku? Tidak. maafkan aku" jawab Brian berusaha menjernihkan pikirannya.
Jack berlalu, ia sedikit melirik ke belakang. Melihat Emma yang masih tak menjawab apa yang ditanyakan oleh sang ketua kelas berparas tampan tersebut. Jack berdecak, tak habis pikir dengan Brian yang sudah masuk ke dalam jaring parasit Emma Michelle. Sementara Brian, melihat Emma yang tak bereaksi, ia jadi tidak enak hati.
"Oh, Emma. maafkan aku. Sepertinya aku terlalu khawatir" kata Brian mengalihkan perhatian.
"Kau membalasku karena kemarin?" tulis Emma kembali.
Nick terperangah. Matanya membulat.
"Apa? Kemarin?" tanya Nick berusaha mencerna apa yang Emma tulis.
"Hei, Brian? Apa yang kau lakukan kemarin dengan Emma?" pekik Nick dengan suara keras, membuat para siswa yang baru datang menoleh seketika melihat sang Ketua kelas yang wajahnya sudah memerah bak kepiting rebus.
"Jangan bicara yang tidak-tidak! NICK" bentak Brian.
Emma sedikit menarik bibirnya. Brian melihatnya, ia tertegun.
"Emma, tersenyum? Dia bisa tersenyum?" tanya Brian dalam hati.
Emma berlalu begitu saja. meninggalkan Nick yang masih heboh sendiri. Sedangkan Brian? Ia yang kembali diserang oleh virus pesona Emma Michelle. Hanya terdiam, tak mengindahkan Nick yang terus menerus memberondonginya dengan banyak pertanyaan.
Jam pelajaran Miss Marie. Sang guru bersurai silver panjang dengan poni yang menutupi dahinya. Paras cantiknya mampu membuat banyak pria rela bersujud padanya hanya demi kencan sehari. Miss Marie juga ramah dan baik hati, ia juga pandai memasak. Tak heran ia adalah guru memasak.
Kini, Miss Marie mengajar di kelas 1-5. Diakhir kelasnya, ia meminta para siswa untuk menyiapkan bahan untuk membuat cookies. Ia akan mengajak mereka untuk praktek di kelas berikutnya.
"Jadi, perhatian. Aku akan membagi kelompok. Satu kelompok 2 orang" kata Miss Marie.
Miss Marie mulai menulis nama masing-masing kelompok di papan diantara mereka adalah Mugi dan Darren. Brian dan Nick, Luke dan Jeannette, Jack dan Emma.
"Nah, untuk cookies apa yang ingin kalian buat, silahkan diskusikan dengan kelompok masing-masing. Minggu depan kalian harus siap praktek. Mengerti? Ada yang kurang paham?" tanya Miss Marie dengan senyum malaikatnya.
Jack mengangkat tangannya.
"Miss, aku tak paham. Kenapa aku harus satu kelompok dengannya?" tanya Jack sembari melirik tajam punggung Emma.
"Eh? Kau sedang protes denganku, Jack?" tanya Miss Marie dengan aura hitam yang menyeruak keluar dari tubuhnya. Kini, sosok sang malaikat berubah menjadi iblis yang siap menerkam mangsanya.
Jack menelan ludah. Kalau sudah seperti ini, Jack tidak punya cara lain selain membunuh ketakutannya demi menghadapi sang guru.
"Bukankah kelompok tidak akan berjalan dengan baik tanpa adanya komunikasi? Bagaimana aku bisa berkomunikasi dengannya? Dia bahkan tidak bicara" kata Jack ketus.
Miss Marie sadar. Ia kembali ke sosok malaikatnya.
"Benar. Tapi kau bisa belajar berkomunikasi dengannya kan sampai pertemuan selanjutnya? Tidakkah ini hanya alasan pribadimu saja?" tanya Miss Marie.
"Kalau aku jawab iya, memang kenapa? Yang jelas aku tidak mau satu kelompok denganya" protes Jack lagi.
"Jadi kau ingin tukar anggota?" tanya Miss Marie.
"Siapapun asal jangan dia!" kata Jack ketus.
Emma yang mendengar acara protes Jack, kembali tertunduk. Ia teringat kejadian semalam, saat Jack menyayat telapak tangannya, saat Jack mendorongnya di kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan air di tengah malam. Emma mulai gemetar. Ia mulai ketakutan. Perasaan bersalah mulai menghantuinya.
"Aku yang salah. Aku yang salah, harusnya aku tidak disini. Kalau aku tidak disini, kejadian semalam tidak akan tejadi. Dan saat ini, Jack tidak akan protes dan bicara seperti itu pada Miss Marie" kata Emma dalam hati dengan menyalahkan dirinya.
Mugi menoleh. Ia melihat Emma yang bergetar.
"Kau baik-baik saja? Em?" tanya Mugi.
Emma tak berusaha menulis sesuatu. Mugi semakin khawatir. Ia mengulurkan tangannya dan mendekap tangan Emma.
"Jangan disini, Em." kata Mugi menyadari sesuatu.
"Miss, Emma ingin pergi ke toilet" kata Mugi.
Mugi berbisik pada Emma. meminta sang empunya nama untuk mengikuti kebohongannya. Emma menuruti kebohongan tersebut, ia berdiri.
"Ini belum selesai, Emma" kata Jack.
"Jangan pergi sebelum Ibu memutuskan kau satu kelompok dengan siapa" lanjut Jack.
Miss Marie menghela nafas.
"Baiklah, Brian. Kau satu kelompok dengan Emma. Nick dengan Jack" kata Miss Marie memberi keputusan.
"TIDAK! aku yang satu kelompok dengan Emma!" kata Luke seraya berdiri kemudian menunjuk Brian.
"Ketua, aku tidak akan membiarkanmu dekat-dekat dengan Emma" lanjut Luke.
Brian menaikkan satu alisnya, kesal bercampur marah. Ia menggenggam tangannya dan berdiri.
"Jaga sikapmu, Luke!" kata Brian.
"Ketua, sebenarnya aku tidak bermaksud. Tapi, sebagai seorang laki-laki, aku tidak akan membiarkan Emma berdekat-dekatan dengan laki-laki lain" jawab Luke.
Luke menatap tajam Brian, sedangkan Brian termakan amarah dan menatap Luke dengan tajam pula. Petir seakan menyambar dari kedua siswa Chorea Academy tersebut. Hingga seuara seseorang menginterupsi keduanya.
"Kalian berdua" kata Jack menekankan setiap katanya.
Brian dan Luke pun menatap Jack. Mereka mengernyitkan dahinya. Antara kesal karena perdebatan mereka disela dan marah karena sudah menyakiti Emma dengan penolakannya.
"Hentikan!" kata Jack kemudian.
"Emma akan satu kelompok denganku" kata Jack datar dengan suara baritonenya.
"Eh?" Brian dan Luke loading.
"Satu" kata Luke.
"Kelompok?" lanjut Brian.
"HEHHHH?" Serempak seisi kelas terbelalak, tak terkecuali Emma yang masih berdiri.
Yang membuat Emma heran adalah, Jack menyebut namanya. Sebelumnya Jack hanya akan meneriakkan kau! Kau! Ini pertama kalinya Jack menyebut namanya.
"Sebentar, Jack" panggil Miss Marie.
"Bukankah tadi kau menolaknya?" tanya Miss Marie bingung.
"Aku? Aku berubah pikiran" jawab Jack singkat.
"Jack! Tidak bisa begitu!" protes Luke menuding-nuding temannya.
Jack menatap Luke dengan tatapan tajamnya. Mata Emerald-nya menyipit, menandakan kalau ia serius.
"Berisik!" kata Jack.
Luke bungkam. Kalau Jack seperti itu, ia sudah tak bisa berkata-kata lagi. Inilah pesona seorang Jack William. Ia mampu membungkam seseorang hanya dengan tatapannya. Tak heran, banyak siswi perempuan yang tergila-gila padanya. Dan Brian? Ia menghela nafas.
"Harusnya kau lebih bijak lagi, Jack. Kita bukanlah siswa SMP yang dengan egoisnya tidak mau satu kelompok dengan seseorang yang kurang kita senangi" kata Brian seraya duduk kembali.
"Cih! Kau juga berisik, ketua!" jawab Jack.
Jam pelajaran terakhir pun berbunyi. Miss Marie menepuk kedua tangannya.
"Oke oke, sudah selesai. Perhatian, jangan lupa ya, kuharap kalian bisa bekerja sama dengan baik nantinya. Sampai berjumpa di pertemuan berikutnya" kata Miss Marie mengakhiri kelasnya.
Emma merapikan buku-bukunya. Entah kenapa wajah Emma memerah. Disekanya keringat yang muncul di dahi putihnya. Jack berlalu begitu saja diikuti Luke. Sedangkan Darren, ia mendekati Emma. mengajak teman pirangnya untuk pergi ke ruang klub.
Emma, Mugi dan Darren berjalan di koridor. Tanpa mereka sadari, seorang siswi berambut gelombang dan bersurai beryl mengikuti mereka. Ia menatap penuh kebencian pada Emma. digigitnya ujung kemejanya. Darren merasakan hawa dingin dari belakang, ia menoleh. Tak ada siapa pun. Siswi yang mengikuti mereka tersebut adalah Cheryl, fans berat Darren. Mereka kembali berjalan, hingga tiba-tiba seorang siswa berambut raisin berkacamata menghadang mereka.
"Mugi Gardenia" panggil siswa berkacamata.
"Axel?" kata Mugi.
Axel mendekati mereka. Ia mengernyitkan dahinya.
"Mugi, sudah kubilang kan untuk membujuknya masuk klubku. Tapi kenapa dia masuk ke klub taekwondo?" tanya Axel.
"Eh? Itu, Emma yang membuat keputusan kan?" jawab Mugi berkeringat dingin.
"Kenapa Emma harus masuk klubmu?" tanya Darren.
"Aku yang harusnya tanya padamu, kenapa Emma harus masuk klubmu?" tanya Axel balik, ia memicingkan matanya.
Darren tak mau kalah. Ia ikut memicingkan matanya. Alhasil kedua siswa ini beradu dahi. Mereka menatap tajam satu sama lain.
"Emma lebih cocok masuk klub taekwondo, dasar maniak musik!" kata sekaligus ledek Darren.
"Apa katamu?" sahut Axel.
"Kau mengajak berkelahi? Huh?" tantang Darren.
"Siapa takut!" jawab Axel.
Mereka membuka jas sekolah mereka dan mulai menaikkan lengan kemeja mereka. Axel tak getar menghadapi salah satu atlet taekwondo. Mereka sudah memasang kuda-kuda, tiba-tiba.
"HENTIKAN!" teriak seseorang dengan suara khasnya membuat Darren dan Axel seketika menoleh. Earlene sudah berdiri dengan aura membunuhnya. Keringat dingin keluar dari dahi kedua siswa tersebut.
"Axel? Kalau mau protes, jangan pada Darren. Keputusan ada ditangan Emma. kau tidak berhak ikut campur! Dan kalau kau memaksa Emma, aku tak akan segan-segan menghadapimu diatas matras!" kata Earlene dengan suara wibawanya yang penuh ancaman.
Axel mati kutu. Darren tersenyum puas. Tapi sungguh sialnya Darren, telinganya ditarik oleh Earlene. Ia meringis kesakitan.
"Dan kau juga, Darren. Kau belajar taekwondo bukan untuk berkelahi" kata Earlene.
"Oi, Earlene. Tapi kau juga biasanya menghajar orang kan?" protes Darren dengan polosnya.
Seketika . . .
BUK
Darren tepar. Earlene sudah menghajarnya. Axel yang tak mau jadi sasaran berikutnya, memilih pergi secara diam-diam. Mugi meneriakinya. Dalam hitungan detik, Axel sudah tidak terlihat, ia bagai tertelan bumi. Menghilang dengan sekejap.
"Emma, kau tak apa? Axel tidak melukaimu kan?" tanya Earlene khawatir.
Emma menggeleng. Wajahnya masih merah, keringat kembali menghiasi dahinya.
"Apa kau sakit?" tanya Earlene.
Emma menyeka keringatnya dengan tangan kanan, membuat Earlene melihat perban yang melilit dibtangan temannya itu.
"Emma, kenapa dengan tanganmu?" tanya Earlene.
Emma mengambil note dan mengacungkan jawaban yang digunakannya untuk menjawab Brian dengan pertanyaan yang sama. Earlene menaikkan satu alisnya, ia tak yakin. Emma tak tahu harus bagaimana lagi, Earlene lebih peka daripada Brian. Tidak, lebih tepatnya lebih sulit membohongi Earlene daripada Brian. Raut wajah Earlene serius. Mugi menyadari ketegangan yang mengalir, berusaha memecahkan suasana.
"Hei, Earlene, apa kau akan ke ruang klub?" tanya Mugi.
Earlene sadar.
"Oh ya, aku lupa. Aku harus membeli air minum untuk semua. Emma, apa kau mau membantuku? Maksudku menemaniku? Tenang saja, aku yang akan bawa semua minumannya" pinta Earlene dan melupakan kejadian baru saja.
Emma menghela nafas, ia mengagguk mengiyakan permintaan Earlene. Ditinggalkannya Mugi. Mugi hanya melontar senyuman dan melambai. Sepeninggalan mereka, wajah Mugi berubah.
"Emma, kenapa kau tak mau jujur? Apa kau tidak menganggapku sebagai teman?" tanya Mugi dengan sedih.
Sementara di lapangan indoor. Jack tengah latihan dengan mendribble bola. Brian duduk di kursi dengan tatapan menerawang. Ia memikirkan luka di tangan Emma. ia khawatir.
"Brian, apa kau ada acara nanti? Bagaimana kalau nanti malam main billyar di rumahmu" ajak Nick.
Brian tak merespon. Nick menoleh. Seharian ini sikap Brian benar-benar aneh, ia yang biasanya peka jadi tak peka atau malah acuk tak acuh? Belum sempat Nick melanjutkan ajakannya, Brian tiba-tiba berdiri.
"Kurasa aku ada urusan. Aku pulang duluan ya" kata Brian meninggalkan Nick beserta anggotanya yang terbengong-bengong dengan sikap sang ketua klub mereka.
Jack tak menghiraukannya. Ia kesal dengan Brian karena dengan bodohnya sudah mau terperdaya oleh Emma.
"Dia bahkan tak pernah benar-benar menghiraukan seseorang. Tapi kenapa dengan Emma berbeda? Apa mungkin? Hoh! Tidak mungkin. Brian tak sebodoh itu" kata Jack dalam hati.
Brian berjalan cepat menuju ruang klub taekwondo. Ia sudah berada di depan ruang klub dan mengulurkan tangannya, hendak membuka pintu. Tapi seseorang lebih dahulu membukanya. Emma berada di hadapan Brian. Brian terpaku untuk beberapa saat.
"Ada perlu apa? Brian?" tanya Earlene yang muncul dari belakang Emma.
"Eh? Ya?" Brian loading.
"Apa yang membawamu kesini?" tanya Earlene lagi.
"Itu, aku, aku hanya. Tadi Emma memintaku untuk mengantarnya untuk mengobati luka di tangannya" jawab Brian berbohong, diliriknya Emma. matanya mengisyaratkan permohonan agar Emma menutupi kebohongannya.
"Benarkah begitu? Emma?" selidik Earlene.
Emma mengangguk. Tanpa pikir panjang, digenggamnya lengan Brian dengan tangan kirinya dan Emma permisi pergi. Brian tentu terbelalak. Getaran-getaran aneh mulai ia rasakan di dada. Darah yang seakan mendidih dan wajah yang mengeluarkan rona merah.
Anggota klub taekwondo? Mereka syok! Tak terkecuali Jason. Sang ketua Emma's Fanclub sudah pingsan. Luke datang dan mengipasinya. Darimana Luke datang?
"Hoi! Luke! Sejak kapan kau ada disini?" tanya Darren.
"Aku tak ingat kalau kau anggota kami" lanjut Lewin.
"Aku baru masuk. Earlene menerimaku" jawab Luke.
"Bohong" kata Darren dan Lewin bersamaan.
Earlene hanya mengepalkan tangannya.
"Kalau saja Luke tak mengetahui rahasiaku, maka aku tak akan pernah menerimanya!" kata Earlene dalam hati.
Darren dan Lewin merasakan hawa dingin keluar dari tubuh sang ketua. Seketika mereka pura-pura tidak tahu. Sedangkan Darren, ia tak mau tepar dua kali dalam sehari karena pukulan Earlene.
"Jadi itulah kenapa kau tadi pergi duluan?" selidik Darren.
Luke hanya tertawa. Yang artinya iya.
"Bukankah kau ikut klub sastra? Apa Mugi tidak marah?" tanya Lewin lagi.
"Tentu tidak. siapa yang akan marah pada pria tampan sepertiku" kata Luke dan membuat huruf V di dagunya dengan ibu jari dan telunjuknya.
"Tentu saja ada" jawab suara seseorang yang tak lain adalah Earlene. Kali ini ia sudah tidak bisa menahan untuk menghajar Luke.
Suara Luke melengking seantero sekolah. Bahkan Jack yang berada di ruang olahraga samar-samar bisa mendengarnya. Luke tepar akibat pukulan maut Earlene. Earlene menggibas-gibaskan tangannya, tanda ia puas sudah mengeluarkan unek-uneknya pada Luke.
Emma tetap menggandeng lengan Brian hingga keluar dari gerbang sekolah. ia berhenti dan melepaskan genggamannya. Emma menulis sesuatu.
"Kau berbohong?" tanya Emma.
Brian membaca jawaban Emma dan mulai salah tingkah. Ya, ia memang bodoh dan tak berfikir panjang tentang bagaimana mengajak Emma ke rumah sakit untuk mengobati lukanya.
"Maafkan aku" kata Brian "Tapi Emma" lanjut Brian dengan segera.
"Bagaimana kalau kau mengobati tanganmu?" tanya Brian. "Bagaimana kalau itu infeksi?" tanya Brian lagi.
Emma mengernyitkan dahinya. Memang lukanya sudah diobati dengan seadanya. Itu sudah lebih cukup. Tiba-tiba Brian . . .
TAP
Meraih tangan Emma dan menggenggamnya.
"Eh?" tanya Emma dalam hati.
"Kau tidak boleh protes. Anggap saja ini sebagai rasa terima kasihku karena sudah mengantarku pulang kemarin" kata Brian dan menarik gadis itu untuk mengikutinya.
__ADS_1
Tanpa mereka ketahui, Jack menyaksikan semuanya. Jack berdiri tak jauh dari mereka. Dan menggenggam tangannya.
"Kenapa? Kenapa setelah aku memperlakukannya seperti itu dia malah semakin mendapat simpati? Kenapa? Bukankah harusnya ia dibiarkan? Terutama Brian. Apa yang ada dipikirannya? Dia penerus Petrenkov Hospital. Harusnya ia tak ambil resiko dengan mendekati putri terbuang sepertinya. Apa dia sudah ikut tak waras?" tanya Jack dalam hati.